ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KABAR DUKA


__ADS_3

Suara Shin sibuk beres-beres di dapur masih terdengar, sisa kue disimpan kembali untuk dibagikan keesokan harinya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, mata Shin belum juga mengantuk.


"Astaga aku melupakannya?" langkah kaki berlarian mengambil satu bungkus kue yang berukuran kecil.


Senyuman Shin terlihat berjalan ke arah belakang rumah meletakkan lilin kecil lalu menghidupkannya, Shin duduk santai menatap bulan yang menyinari.


"Happy birthday to you ... happy birthday, happy birthday to you." Mata Shin terpejam, melakukan make a wish di dalam hatinya.


Mencintai seseorang membuatnya bahagia, jika akhirnya menyakitkan bukan salah cinta, tapi dirinya yang memilih tersakiti.


Cinta memang membutuhkan perjuangan, tapi Shin tidak ingin berjuang. Sejak awal dia hanya mengangumi, kebenaran soal Juna bersaudara dengan Tika sebuah kebetulan yang takdir mainkan.


Shin berpikir hubungannya sedekat magrib isya, tapi faktanya hubungannya sejauh dhuhur ke subuh. Shin yakin takdir sudah mempersiapkan pilihan terbaik untuknya.


Perasaan yang dimiliki tidak akan pernah Shin sesali, dia bahagia mencintai Juna di dalam diam. Jika suatu hari Juna menjadi milik wanita lain, maka Shin sukses menyakiti hatinya.


Lilin yang menyala di kue meleleh hampir habis, tiba-tiba mati tanpa ditiup angin. Shin menatap ke arah kue nya melihat Juna meniup lilin.


"Kenapa belum tidur?"


"Emh ... Ay Jun baru pulang?"


Kepala Juna mengangguk, dia kembali bersama Tika dan Genta. Tika sudah kembali ke rumah, sedangkan Genta ada urusan di apartemennya langsung pergi lagi.


"Kamu juga harus pulang, Kak Juna antar ke rumah." Juna mengambil lilin di atas kue.


"Tidak mau, Shin ingin tidur bersama Mam Citra." Tangan Shin mengambil kue.


"Kue ini bukan untuk aku?"


Kepala Shin menggeleng pelan, Juna sudah mendapatkan kue dari Tika dan Ana yang berukuran besar. Seharusnya Juna menghabiskannya terlebih dahulu, tidak meminta kue Shin.


"Kamu yang membuat kue itu, kenapa memberikan kepada orang lain?" tanpa seizin Shin Juna memakan kue yang ada di tangannya.


Kepala Juna langsung dipukul, Shin menatap kesal melihat kuenya sisa setengah. Shin membuat khusus untuk dirinya yang bahkan belum mencicipi.


"Kurang ajar sekali kamu Shin? ini kepala yang kamu pukul,"


"Salah sendiri mencuri, ini punya Shin tahu." Hentakkan kaki Shin terdengar sangat kesal.

__ADS_1


Juna mengikuti langkah Shin yang terlihat kesal, meletakkan kue di atas meja. Juna mengambilnya kembali langsung menghabiskan.


Melihat Shin yang mudah ngambek mirip dengan Tika, hanya bedanya Shin main tangan suka memukul.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Ay Juna ingin hadiah tidak?"


Juna duduk menunggu hadiah yang Shin katakan, sebuah bungkusan kecil. Juna langsung membukanya melihat sebuah lampu tidur berwarna pink.


"Kamu ingin mengerjai aku?"


"Tidak, lampu ini paling murah makanya Shin beli, Ay Juna harus ingat dibalik kegelapan ada terang." Tawa Shin terdengar, langsung diam menatap kuenya.


Tatapan Juna malas melihat warna hadiah yang Shin berikan, dia laki-laki dibelikan hadiah warna pink.


"Bagaimana hubungan Kak Jun dan Ana?"


Kedua pundak Juna terangkat, dia masih proses pendekatan. Belum tahu pastinya karena Juna ingin fokus merawat Mamanya, dan ingin bicara langsung dengan Ana.


"Kak Ana wanita baik, dia juga sudah dewasa. Jangan menunggu terlalu lama Ay Jun,"


"Emh ... Ay Jun belum yakin karena Ay bukan pria baik,"


Suara Juna batuk terdengar, Juna tidak mengatakan jika dia pria tidak baik yang suka menyakiti hati wanita.


"Kenapa kamu belum menikah?"


"Ay ada calonnya tidak? jika cocok Shin mau." Senyuman mengejek terlihat dari wajah cantik Shin.


Mendengar ucapan Shin sekarang Juna mengerti, wanita seperti Shin dan Tika hanya tahu menikah saja. Tidak paham masalah dalam rumah tangga. Cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua kepala, pernikahan tidak selamanya indah sesuai harapan.


Kedua tangan Shin terlipat di dada, sampai kapanpun Juna tidak akan menikah jika dia selalu ingin menyamakan pikirannya dengan pasangan.


"Tidak ada pasangan yang bisa sempurna sesuai harapan, jika Ay takut dengan masalah dalam rumah tangga jangan menikah." Lidah Shin terjulur mengejek Juna yang mengajaknya berdebat.


Tatapan Juna binggung melihat Shin, pertama kalinya Juna berdebat dengan wanita. Dia bahkan tidak pernah peduli apapun yang orang bicarakan, tapi melihat Shin rasa emosi saja.


"Sebaiknya kamu tidur, pusing kepala Ay melihat kamu." Juna mengusir Shin yang masih mengoceh.

__ADS_1


"Awas nanti jika butuh bantuan Shin, semoga saja Kak Hana dilamar pria lain." Shin berlari kencang ke kamar Citra.


"Arshinta!" Juna teriakan menatapnya tajam.


Di dalam kamar Shin melihat Citra yang wajahnya pucat dan dingin, menyentuh tangan dan kaki yang sudah dingin semua.


"Ay ... Ay Jun, Mama Citra." Shin berlari keluar kamar melihat Juna yang memainkan lampu.


Tangan Juna ditarik paksa, Shin sudah hampir menangis meminta Juna segera mengecek kondisi Mamanya.


Keduanya berlari melihat kondisi Citra yang sudah hampir tidak bisa bergerak lagi, Juna sudah memprediksi dan tahu cepat atau lambat kondisi Mamanya akan drop.


"Ay, ayo kita ke rumah sakit."


"Tidak Shin, percuma saja. Mama ini Juna, bicara sama Juna Ma." Kedua tangan Juna menggenggam erat, mencium tangan Mamanya.


Mata Citra terbuka, melihat Juna sayup-sayup. Citra meminta Juna mendekati, mengusap kepala Putranya.


"Ay, Shin panggil Tika dulu." Shin berlari kencang untuk menuju rumah Tika yang jaraknya tidak jauh.


Air mata Juna menetes, mendengar permintaan terakhir Mamanya agar Juna menikahi Shin, jika Juna tidak bisa setidaknya menjaga Shin sampai menemukan pasangan yang jauh lebih baik dari Juna.


"Ma, kenapa harus Shin? Dia adiknya Genta, adik kandung Ma. Mustahil Juna menikahinya, sama saja menyakiti Tika dan Genta, Mama tahu Juna tidak bisa mengabulkannya." Permintaan maaf Juna terdengar dia tidak bisa mengabulkan keinginan Mamanya.


Jika menjaga Shin mungkin Juna bisa, tapi untuk hidup bersama sungguh mustahil. Mata Citra terpejam, meminta Juna menemaninya untuk tidur.


Mama Citra meminta maaf karena tidak bisa melihat Tika menikah, apalagi melihat Juna. Bisa mendapatkan maaf dari kedua anaknya sudah lebih dari cukup.


"Mama, buka mata Ma." Tangan yang menggenggam Juna terlepas, hanya tangan dingin yang terasa.


Suara Tika berlari terdengar, langsung memeluk Mamanya meminta untuk bangun. Juna menepuk pundak Tika yang sudah menangis meminta Mamanya bangun.


"Tika, Mama sayang kamu. Jaga diri Nak, Mama harap kamu dan Genta berjodoh, begitupun dengan Juna. Jangan seperti Mama yang kehilangan lelaki terbaik, demi keserakahan. Mama mencintai kalian berdua." Air mata Mama Citra menetes, menghembuskan napas terakhirnya.


Secara tiba-tiba Shin jatuh pingsan, begitupun dengan Tika yang tidak sadarkan diri setelah Kakaknya mengatakan Mamanya sudah tidak ada.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2