ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GOSIP TETANGGA


__ADS_3

Pagi-pagi rumah sudah gaduh, keributan terdengar karena banyaknya coretan di pintu kamar Altha Aliya.


Atika dan Al masih tidur berpelukan, Altha mengetuk berkali-kali tidak dihiraukan oleh dua kepo yang masih mengorok tidur.


Alt mencoba menghapus, tapi tidak ada cara untuk menghapusnya.


"Siapa yang mencoretnya? jika bukan Atika, pasti Aliya. Apa kamu Juna?" Alt menatap putranya yang hanya berdiri diam.


"Dia yang melakukannya." Juna menunjukkan rekaman CCTV, langsung menggelengkan kepalanya.


Altha hanya bisa tersenyum, langsung mengabaikan pintu. Istrinya bertingkah kekanakan dan sedang ngambek tanpa Altha tahu penyebabnya.


Tika bangun lebih dulu dari Aliya, mencium wajah Maminya yang sangat disayanginya.


"Good morning Mami." Tika langsung bangun, menyelimuti Aliya dan melangkah ke depan pintu langsung keluar kamar mencari kakaknya.


Tatapan Tika tertuju di depan kamar Papinya, mengeja setiap tulisan dengan wajah serius, dan sesekali mengerutkan keningnya.


"Tika, kenapa tidak membangunkan Mami?" Al berjalan ke arah Atika dan melihat coretan di depan pintu.


"Bukan Tika yang coret Mami, sumpah demi apapun. Di rumah kita sepertinya ada hantu nenek-nenek." Tatapan mata Tika tajam, berlari ke kamarnya mengambil sesuatu.


Al masih melihat coretan dengan wajah binggung, tulisan mirip seperti dirinya, tapi tidak mungkin dia yang melakukannya.


Tika langsung memberikan tanda tangan dirinya di samping tanda tangan Aliya, senyuman Tika terlihat memberikan jempolnya.


Arjuna muncul sambil menatap dingin, Tika juga meminta Juna meninggalkan tanda tangan. Hantu di rumah mereka ingin kenalan.


"Mami yang mencoret itu Tika, bukan hantu." Juna menghela nafasnya.


Aliya langsung menggelengkan kepalanya, menegur Juna agar tidak menuduh sembarang tanpa bukti.


Tika langsung memukul kakaknya, Maminya tidak mungkin salah dan tidak boleh disalahkan.


"Butuh bukti, ini apa?" Juna menunjukkan ponselnya yang berisikan rekaman CCTV.


"Mami hantu neneknya?" Tika menatap kaget.


Aliya memperhatikan rekaman CCTV, masih tidak percaya jika itu dirinya yang mencoret pintu.


"Jangan kasih tahu Papi ya? katakan saja Tika." Al menatap kedua anaknya.

__ADS_1


"Kenapa jadinya fitnah Tika? kak Juna saja." Tika tidak ingin disalahkan.


"Iya kamu saja Juna, jika Papi bertanya katakan saja sedang bermimpi menggambar." Al tersenyum malu menatap putranya yang menghela nafas panjang.


"Papi sudah tahu." Juna meminta Mami dan adiknya segera mandi dan bersiap-siap untuk sarapan.


Aliya tersenyum melihat Atika yang melotot langsung kembali ke kamarnya untuk mandi, Aliya menghentakkan kakinya karena malu.


Di meja makan Altha tersenyum melihat Aliya duduk di sampingnya, Tika muncul memberikan Aliya buku gambar beserta pewarna.


"Mami coret di sini saja, jangan pintu kamar Tika." Senyuman Tika terlihat menunjukkan giginya.


Aliya cemberut, Altha langsung tertawa tidak bisa menahan lagi melihat tingkah Tika yang mengejek Maminya.


"Maafkan Papi ya Mami, jangan tinggalkan Papi tidur sendiri. Maaf untuk perdebatan tadi malam." Alt mencium tangan Aliya setulus hatinya meminta maaf.


Aliya menganggukkan kepalanya, meminta maaf soal pintu yang penuh coretan. Dirinya kekanakan sampai pindah kamar.


"Mami sama Papi memperdebatkan apa?"


"Soal anak, Papi ingin cowok, mami inginnya cewek." Al menatap Tika meminta pembelaan.


Sendok Tika langsung melayang jatuh ke lantai, memarahi Papinya yang tidak mengalah dengan wanita.


Altha hanya diam mendengar kemarahan putrinya, padahal dia tidak mengatakan jika tidak menginginkan anak perempuan, Altha hanya mengatakan jika perempuan menambah lagi sampai ada yang laki-laki.


"Apa yang kamu ributkan Tika? bayi juga belum ada, untuk apa ribut."


"Sebelum ada harus diributkan, jika sudah ada untuk apa lagi." Tatapan mata Tika tajam melihat kakaknya.


Altha pamit pergi kerja langsung mengantar anak-anaknya sekolah, Aliya masih di rumah berpikir untuk kuliah atau lanjut tidur.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Elen menatap kesal sambil meletakkan belanjaannya.


"Ada apa Len?"


"Tidak ada apa-apa kak." Helen tersenyum terpaksa, karena tidak enak jujur kepada Al.


Aliya meminta Helen duduk, menjelaskan penyebab Helen pulang belanja dalam keadaan kesal.


Helen meminta maaf jika menyingung Aliya dan langsung menceritakan jika dari ujung jalan, sampai ke ujung jalan perumahan mewah membicarakan Aliya.

__ADS_1


Seluruh asisten rumah tangga mengetahui jika Aliya pelakor yang merebut suami orang, hanya karena memiliki pangkat dan jabatan tinggi.


Semua orang kasihan melihat Citra, bukan hanya kehilangan anak bungsunya yang akhirnya meninggal, juga kehilangan kedua anaknya dan suaminya.


Istri sah disingkirkan dari rumahnya sendiri, dan digantikan oleh pelakor yang hanya modal muda dan cantik.


Elen merasa kesal, baik kalangan bawah sampai kalangan atas membicarakan Aliya yang merusak rumah tangga orang.


Aliya hanya tersenyum saja, meminta Helen bersantai dan tidak menggubris perkataan orang-orang yang memang penyebaran berita, dari mulut ke mulut lebih cepat dan panas daripada sosial media.


Al langsung melangkah ke kamarnya, mengganti baju dan berdandan lalu melangkah pergi untuk menutup mulut-mulut sampah ibu sosialita.


Beberapa kali Al mendapat undangan soal pertemuan para istri kalangan atas, tapi tidak pernah datang karena hanya membuang-buang waktu.


Al melangkah ke rumah seseorang yang paling terkenal di area perumahannya, dan sudah menyelediki seluruh penghuni kompleks elit.


Bukan hal yang sulit bagi Aliya, semuanya memiliki sisi baik dan buruk yang akan Aliya manfaatnya untuk mengetahui kebusukkan Citra juga soal kasus penganiayaan anak kecil di perumahan yang melibatkan Anggun.


Mobil mewah Aliya melangkah masuk membuat beberapa orang kaget, karena Aliya juga turut hadir di acara mereka yang hanya mengobrol santai.


"Wow, kamu Aliya yang merebut suaminya Citra, bukan maksudnya saya istri kedua Altha." Senyuman mengejek terlihat.


"Iya Bu, maaf karena saya baru bisa bergabung karena keadaan juga baru stabil." Al melangkah masuk bersama ibu-ibu yang lain.


Di dalam rumah ternyata sudah ramai orang membicarakan Aliya, bahkan ada Citra juga di sana.


Seseorang yang masuk bersama Aliya berdehem, melirik ke arah Al yang hanya tersenyum saja.


"OMG pelakor datang ke sini, sekarang sudah merasa kaya ya?" tatapan sinis terlihat, dari ibu anaknya yang baru meninggal.


"Emh, ibu Erna juga ada di sini, saya pikir sibuk di rumah mempersiapkan surat-menyurat untuk mendapatkan bagian soal kekayaan." Al tersenyum langsung duduk tanpa di persilahkan.


Citra tersenyum sinis, menyapa Aliya yang juga tersenyum dengan manis menjabat tangan Citra.


"Kenapa kamu ada di sini Bu dosen? bukannya apartemen lumayan jauh dari sini. Astaga Aliya lupa, kalian semua sahabat meskipun sudah bukan siapa-siapa masih bisa gabung." Al tertawa melihat Citra yang menatap tajam.


Pemilik rumah langsung mengalihkan pembicaraan untuk membahas, barang-barang mewah yang sedang menjadi trend.


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya ditunggu


__ADS_2