ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENGUNGKAP


__ADS_3

Selesai mendapatkan izin dari orangtunya, Helen langsung mengikuti Aliya ke rumah mewah Altha.


Dari luar Elen sudah mengagumi rumah orang kaya, di sekitar rumah Altha juga sudah berderet rumah elit lainnya.


Helen tidak tahu saja, daerah tempat tinggal para orang kaya pernah dimasuki oleh orang gila. Aliya sudah menjadi korban, bahkan ejekan anak-anaknya.


Suara teriakkan Atika sangat besar, Al langsung melangkah masuk menatap putrinya yang sudah mengamuk, karena Maminya lambat pulang.


Mora hanya duduk diam melihat kakaknya yang mengomeli pengasuhnya, Al menarik telinga Tika membuat Mora tertawa.


"Mami, lama sekali." Tika bertolak pinggang, memarahi Aliya yang pulangnya terlambat.


"Kenapa? Mami pergi mencari pacar, kamu selalu menganggu." Al melipat tangannya di dada, meminta pengasuh boleh pergi.


"Benarkah, Mami mencari pacar. Lalu bagaimana nasib Papi dan kita jika Mami punya pacar baru?" wajah Tika berubah sedih, menundukkan kepalanya langsung duduk.


Aliya menatap Helen, senyuman Elen terlihat melihat secara langsung ketulusan Putri tiri Al yang menyayanginya.


Helen hanya perlu mempelajari karakter anak-anak yang ceria, sudah mendengarkan segala penjelasan dari Al soal anak-anak.


"Mami hanya bercanda Tika, Papi kekasih Mami satu-satunya." Al duduk mencium bibir Mora.


"Benarkah, Mami tidak berbohong."


"Tentu, kamu membutuhkan bukti. Haruskan kamu mempunyai adik lagi?" Al menggoda Tika yang menggelengkan kepalanya.


Aliya meminta Helen mendekat, berkenalan dengan Tika yang sangat cerewet, juga Mora yang baru belajar berjalan dan bicara.


Mora anak yang aktif, ceria juga sangat peka. Jika Tika anak yang heboh juga pembuat masalah.


Suara langkah kaki terdengar, Juna baru pulang dari sekolah tambahan. Wajahnya terlihat sangat lelah.


"Juna, perkenalkan dia Aunty Helen pengasuh baru Mora." Al menatap punggung Juna yang berhenti dan berbalik melihatnya.


"Sudah izin Papa belum membawa orang asing?" nada sinis Juna terdengar, tatapannya tajam ke arah Helen yang masih tersenyum.


"Dia sahabat Mami."


"Berarti dia wanita nakal yang selalu membuat masalah, bagaimana Mora bisa aman jika berada di tangan anak muda? jangan menyakiti Mora kedua kalinya." Juna melangkah pergi, langsung menuju kamarnya.


"Begitulah Juna, cara bicaranya menyakiti hati, jantung, ginjal, paru-paru langsung tembus semua." Al tersenyum menatap Helen yang sangat memahami kekhwatiran Juna.


Aliya menjelaskan banyak hal kepada Helen, sambil menemani Tika dan Mora sampai akhirnya terlelap tidur.


Suara mobil Altha tiba terdengar, Al meminta Helen menidurkan Mora, Al akan bicara dengan Tuan Altha.


Dari lantai atas Alt sudah melihat Aliya, melangkah menuruni tangga. Al juga bisa menebak jika Altha sedang banyak pikiran.

__ADS_1


"Aku membawa pengasuh untuk Mora, dia teman saat masih sekolah." Al tersenyum melihat keterkejutan wajah Altha.


"Gila kamu Aliya, wanita yang seumuran kamu menjatuhkan Mora dari lantai atas, sekarang anak umur belasan tahun kamu jadikan pengasuh. Aku menolak." Alt semakin kesal melihat Aliya yang mulai membuat masalah baru.


Aliya mengikuti Altha masuk ke dalam kamar, sekalipun Altha menolak Al akan tetap memperkerjakan Helen.


Dia mungkin anak usia belasan tahun, tapi pikiran di bukan untuk pacaran selain uang. Helen ahli bela diri, dia penyayang, pekerja keras, meskipun nakal Helen yang paling Aliya percaya untuk menjaga Mora.


"Kedewasaan seseorang tidak dilihat dari usia Altha, percaya sama aku Mora aman."


"Aku tidak percaya." Alt membuka bajunya ingin mandi.


"Jangan membuang banyak waktu, kamu ingin kehilangan Mora, jika tidak ingin biarkan aku terlibat." Aliya mulai bicara serius.


Secara hukum Amora memang putri dari Altha, tapi secara biologis dia anaknya pria lain. Citra akan disalahkan karena melakukan perselingkuhan, tapi Altha yang lalai menjaga rumah tangganya.


"Jika Citra dan lelaki itu menikah, mereka pasti memperebutkan hak asuh, bukan hanya Mora mungkin Atika juga, karena Citra ibu kandungnya."


Meskipun Altha bisa mendapatkan hak asuh, maka masa depan Mora tidak terjamin. Dia akan dicap sebagai anak di luar pernikahan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Berpura-pura saja jika kamu tidak mengetahui apapun? jangan pernah katakan kepada Citra, jika kamu mengetahui kebenarannya." Al akan mengikuti permainan Citra.


"Sampai kapan?"


"Selamanya, mungkin juga sampai Citra mengakui untuk melepaskan Amora."


Mengetahui ayah kandung Mora, tanpa tahu penyebab Citra dan Roby bisa memiliki anak dalam keadaan Citra masih sah istrinya.


"Kapan terakhir kamu dan Citra melakukannya?" Al menahan tawa, seharusnya Mora ada campuran sedikit.


Alt terlihat sedang berpikir, dirinya sendiri tidak mengingatnya. Altha pernah pergi selama enam bulan, saat kembali istrinya sudah hamil.


"Citra selingkuh saat aku pergi bekerja?"


"Pak Roby bukan lelaki yang seperti itu, Citra saja yang bodoh." Al menahan tawa.


"Kenapa kamu tertawa? apa ada yang lucu."


"Saat pulang, memangnya kamu tidak ingin ehem-ehem."


"Ehem-ehem, otak kamu kotor sekali Al. Pria dewasa tidak hanya berfokus soal bercinta." Altha langsung masuk kamar mandi.


Aliya tertawa, Altha kebanyakan gaya tidak tertarik palingan Citra menolaknya, karena merasa bersalah hamil anak lelaki lain.


Tanpa dijelaskan Aliya sudah bisa menebak posisi Citra, Altha terlalu baik menerima penolakan istri hanya karena alasan hamil.

__ADS_1


Ponsel Al masuk sebuah pesan, langsung mengeceknya dan menghidupkan komputernya. Melihat sebuah kasus langsung mencari tahu.


"Kasus kecelakaan merenggut tiga nyawa, sedangkan pelaku menghilang. Tidak ada barang bukti yang tertinggal, sungguh konyol." Al mulai bermain di laptopnya, mencari sesuatu yang bisa dia selidiki.


Mata Aliya langsung melotot, senyumannya terlihat mengigat mobil mewah yang pernah ada di hotel saat ulang tahun kekasihnya Tio.


"Aku sudah lama mencari kamu nona, siapa namanya sampai lupa? lumayan malam ini kita pesta lagi." Al langsung mencari baju seksi untuk melangkah pergi.


"Mau ke mana sudah malam?"


"Mencari mangsa, Al ingin dugem."


"Tidak boleh."


Aliya menatap Altha yang mengenakan bajunya, lipstik Al sampai patah melihat dirinya dilarang pergi.


"Ada sesuatu yang harus aku selidiki?" Al menebalkan make up-nya.


"Tidak ada acara dugem dengan alasan apapun." Altha melihat komputer Aliya, Al melakukan hack lagi di kepolisian untuk mendapatkan keterangan soal kecelakaan.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Rahasia." Aliya menutup laptopnya, mencium pipi Altha langsung ingin melarikan diri.


Tangan Altha lebih kuat menahan, tidak mengizinkan Aliya pergi sebelum mejelaskan tujuan Aliya ikut campur untuk kasus kecelakaan yang ditangani oleh tim lain.


"Ini bukan kecelakaan sayang, tapi penganiayaan. Mobil yang ditinggalkan bukan pelaku, tapi korban yang dijadikan kambing hitam. Sudah Aliya katakan, kasus Hariz masih panjang." Hidung Aliya menyentuh hidung suaminya yang sedang berpikir.


"Pelaku yang ditangkap tidak bersalah?"


"Entahlah, Al sedang menyelidikinya."


"Aku ikut." Alt menganti lagi bajunya, meminta Aliya menjelaskan semuanya.


Aliya tidak biasa bekerja sama, tugas Al hanya mencari bukti bukan menangkap pelaku. Altha tidak perduli jika Al menolak maka tidak akan diizinkan untuk pergi.


"Altha, ada banyak kebenaran soal kamu, aku, kita, bahkan mereka yang tidak pernah disangka. Kamu siap melihat kebenaran itu? jujur aku takut."


"Aku akan melindungi kamu." Alt tersenyum memasang jaketnya.


***


DONE 2 BAB


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


VOTE HADIAHNYA DITUNGGU


***


__ADS_2