
Tatapan Tika melihat ke arah Genta yang menyerahkan buku, Juna langsung membuang buku tanpa melihat isinya.
Juna kecewa dengan Genta yang seharusnya bertugas menjaga masyarakat, tapi diam saja saat seorang wanita dipukuli.
Sepenting apapun yang Genta pertahanan, tidak harus mengorbankan nyawa Shin. Pukulan yang menghantam bertubi-tubi bisa membuat masa depannya hancur.
"Aku tidak ingin tahu apa yang kamu selidik, tapi tugas seorang aparat keamanan menjaga, melindungi, menyelamatkan bukan menjadi penonton apalagi berdiam diri." Tatapan Juna tajam, menunjukkan hasil pemeriksaan Shin.
"Kak Juna, tidak seperti itu Kak kebenaran. Kita ingin meyelamatkan Shin, tapi kondisinya Shin yang menahan kita untuk keluar." Atika mengambil buku yang Juna buang.
"Jika kamu ada diposisi Shin, bagaimana perasaannya?"
"Kak Juna tidak tahu masalahnya apa?" Tika memukul meja, tidak ingin banyak berdebat.
Kepala Juna mengangguk, dirinya memang tidak tahu apapun. Apa yang Juna katakan, juga pikiran hanya sesuai kondisi Shin. Apapun yang sebelumnya terjadi, jauh lebih buruk dari dugaan Juna.
"Juna benar Tika, aku salah. Bodohnya aku hanya diam saja, mendengar Shin dipukul. Sebenarnya apa yang sedang aku pertahankan, sampai tega membiarkan dia menahan sakit separah ini." Mata Genta melihat ke arah luar jendela.
Sesaat semuanya diam, Juna memperhatikan komputernya. Ada benturan kuat di bagian tulang belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan.
Luka lama di bagian perut Shin belum sepenuhnya pulih, ditambah benturan tulang belakang. Juna sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Kak, Shin pasti baik-baik saja."
"Tidak tahu Tika, meksipun operasi berhasil belum bisa dipastikan, dunia medis memang sudah canggih, tapi tetap ada resiko." Juna tidak menutupi sedikit kasus Shin, dan kemungkinan buruknya.
Kepala Tika tertunduk, Genta langsung melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Juna hanya menatap pintu yang tertutup sangat kuat.
Juna meminta Tika pulang, dirinya akan memberikan kabar soal perkembangan kondisi Shin.
Senyuman Tika terlihat, meminta Juna benar-benar mengawasi Shin. Tika keluar mengejar Genta yang pastinya sangat terluka.
"Om tua, ini bukan sepenuhnya salah Om. Atika juga salah, kita salah." Tangan Tika menahan Genta yang menganggukkan kepalanya.
Keduanya saling pandang, mencoba menarik napas menghirup udara yang cerah. Genta langsung pamit untuk pergi bekerja.
"Tika, aku titip Shin."
"Om, sebenarnya siapa Shin? kenapa Om tua menyelidiki soal Shin?" Tika menghela napasnya, berharap Genta lebih terbuka.
Tanpa jawaban, Genta pergi meninggalkan Tika. Belum waktunya Genta mengatakan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.
__ADS_1
Ponsel Tika juga mendapatkan panggilan dari Maminya, cepat Tika menjawab. Mata Tika terpejam, langsung terduduk sambil memeluk lututnya.
***
Sudah satu minggu Shin belum sadarkan diri, Juna masih mengawasi dan belum bisa memastikan sebelum Shin sadar.
"Dia terlambat bangun, aku harap ini bukan berita buruk." Juna langsung melangkah keluar dari ruangan Shin.
Beberapa jam Juna sibuk memeriksa pasiennya, seorang suster berlari dengan napas ngos-ngosan.
"Dokter Juna, pasien yang bernama Shin sudah bangun. Sebaiknya Dokter segera ke sana."
Arjuna langsung berlari kencang, membuka pintu kamar Shin. Perlahan Juna mendekat, melihat seorang wanita yang berdiri di depan jendela.
"Bagaimana kondisi kamu Shin?" Juna bersyukur dugaannya salah soal kondisi kaki Shin yang kemungkinan besar lumpuh.
Bisa melihatnya berdiri, dan berjalan setelah satu minggu tertidur dengan keadaan mengkhawatirkan.
"Kembali ke tempat tidur kamu, aku akan memeriksa lebih detail." Tangan Juna memegang tiang infus.
Shin tidak bergerak sama sekali, tangannya menyentuh kaca jendela yang tekena pantulan cahaya.
"Berapa lama Shin tidur?"
Senyuman Shin terlihat, langsung berdiri memunggungi Juna, bisa mencium bau tubuh Juna sangat menenangkan hati Shin.
"Sekarang jam berapa Ay Jun?" Shin mengulurkan tangannya.
Kening Juna berkerut, melangkahkan kakinya satu langkah ke arah Shin, tangan Juna melambai ke depan mata Shin.
Mata Juna terpejam, berdiri di depan Shin yang masih tersenyum manis. Tangan Shin menyentuh lengan Juna, mengulangi pertanyaannya.
"Sekarang jam berapa Ay?"
"Saya bukan Juna, kamu salah orang."
Kepala Shin menggeleng, langsung tertawa lucu menutup wajahnya yang merasa Juna bisa melucu juga.
"Apa ini lucu bagi kamu? katakan apa yang kamu rasakan?"
"Kenapa di sini gelap sekali? apa ini sudah malam? kenapa lampunya tidak dihidupkan?" Shin menundukkan kepalanya, menyentuh matanya.
__ADS_1
Tangan Juna memijit pelipisnya, meminta Shin mengatakan kebenaran. Kepala Shin langsung diangkat, Juna memperhatikan mata Shin.
"Kamu tidak bisa melihat aku?" Dugaan Juna benar, hentakan kuat saat Shin jatuh sudah Juna perkirakan, bisa mengalami kebutaan, juga kelumpuhan.
"Shin buta? Shin tidak bisa melihat apapun?"
"Kita lakukan pemeriksaan lagi, mata kamu bisa disembuhkan." Juna membantu Shin untuk kembali ke tempat tidurnya.
Senyuman Shin terlihat, meminta Juna tenang saja. Dirinya sudah biasa berada dalam kegelapan, menjadi buta bukan sesuatu yang menakutkan.
Meksipun Shin bukan seorang dokter, dia sangat mengetahui soal medis. Kepala Shin mengalami benturan kuat, tubuhnya juga dipukul, bahkan tendangan menghantam tulang belakangnya.
Shin bisa merasakan sakitnya, apapun yang terjadi kepadanya bukan hal yang mengejutkan. Dirinya tahu akibat dari kecelakaan yang di alami.
"Shin lapar Ay, nanti saja melakukan pemeriksaan, aku belum siap mengetahui jika buta permanen." Senyuman Shin terlihat, berusaha terlihat kuat.
"Kamu tidak khawatir sama sekali? kondisi kamu buruk, kebutaan ini tidak bisa dianggap remeh." Juna menjelaskan sejujurnya kondisi Shin yang Juna khawatirkan.
"Memangnya kenapa jika Shin buta? menjadi buta lebih baik sehingga tidak melihat banyak hal yang menyakitkan." Bibir Shin cemberut, lelah mendengar omelan Juna.
"Mati saja, jika kamu terlalu takut dengan dunia ini."
Kepala Shin tertunduk, dirinya tidak takut lumpuh, tidak takut juga buta, Shin hanya takut hilang ingatan.
Dirinya ingin mengingat satu lelaki yang sangat dicintainya, sahabat yang sangat berarti baginya. Beberapa hari yang lalu, dirinya merasa nyaman saat memiliki seorang Kakak.
"Semua terlalu cepat berakhir, baru saja bahagia sudah dirampas. Sekarang Shin tidak bisa masak lagi, karena tidak bisa melihat." Senyuman Shin terlihat, memegang matanya yang tidak bisa melihat sedikitpun cahaya.
Kepala Juna juga tertunduk, menyentuh tangan Shin untuk berpikir positif. Juna akan pastikan, Shin melihat cahaya kembali.
Tawa Shin terdengar, seandainya Juna tahu jika bukan cahaya yang dirinya ingin lihat, tapi Arjuna yang ingin selalu dirinya lihat.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Shin ingin sekali, melihat dia kembali. Pria yang enam tahun lalu membuat aku merasa bahagia."
"Cari saja sendiri, setelah kamu bisa melihat." Juna menatap pintu yang terbuka.
Tangan Shin melambai saat mendengar suara Tika, langkah Tika terhenti. Arah lambaian tangannya, tidak tepat dihadapannya.
"Shin, aku di sini." Tika melambaikan tangannya dihadapan Shin.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira