
Dari kejauhan Juna, Hendrik dan Genta hanya duduk diam melihat tiga wanita yang tertawa bersama. Melihat Rindi bersama Tika dan Shin membuatnya terlihat normal seperti wanita dewasa lainnya.
"Kak, bagaimana kondisi Rindi? dia terlihat baik-baik saja." Juna memperhatikan Rindi, masih belum mengerti dengan hasil penelitian.
"Menurut kamu? tadi malam dia sedang tidur, tapi tiba-tiba muntah darah." Ponsel Hendrik diserahkan kepada Juna untuk melihat foto Rindi yang muntah, tapi bisa langsung tidur lagi.
"Ada pendarahan di dalam tubuhnya?"
"Ya, aku yakin pasti Rindi sudah melakukan operasi berpuluh kali, pada seluruh tubuhnya."
"Emh ... jangan-jangan dia laki-laki?" Genta menatap kaget.
Spontan Hendrik menendang Genta membuat Juna menahan tawa. Juna dan Hendrik membicarakan penyakit, tapi Genta tidak nyambung karena berbeda profesi.
"Katanya operasi semua,"
"Kotor sekali pikiran kamu sampai langsung berpikir ke sana? dia ganti jenis kelamin, operasi dada, bokong, paha, wajah, bahkan operasi suara. Jika bicara pakai logika Genta." Kepala Hendrik geleng-geleng melihat adiknya yang tidak masuk akal.
Juna menundukkan kepalanya menahan tawa, ucapan Genta singkat tapi membuat spot jantung. Secara langsung dia mengatakan Hendrik akan menikahi laki-laki.
"Baiklah Genta diam,"
"Kemungkinan pernikahan tanpa pesta besar karena melihat kondisi Rindi, aku ingin secepatnya mengecek detail tubuhnya." Hendrik menatap Juna yang sepemikiran dengan Hendrik, lebih tepatnya Juna tidak ingin tahu.
Kening Genta berkerut, mengaruk kepalanya menatap Hendrik yang sudah tidak sabar mengecek tubuh Rindi dengan memajukan jadwal pernikahannya.
"Kenapa wajah kamu Genta?"
"Kak Hendrik menikah untuk mengecek detail tubuhnya, berarti jika ada pasien lain harus dicek seluruhnya harus dinikahi juga biar halal, mau berapa banyak Istri?"
Tawa Hendrik langsung terdengar, Juna sudah menutup wajahnya melihat Genta yang salah memikirkan apa yang mereka ucapkan.
"Genta, kamu gila. Bukan seperti yang kamu pikirkan,"
"Kenapa harus menikah? lakukan saja Rontgen."
"Kondisi Rindi berbeda Kak, otaknya bekerja melebihi normal pada waktu tertentu yang tidak bisa diprediksi." Juna menjelaskan apa yang dirinya temukan di bagian otak Rindi.
Kepala Genta mengangguk, melihat ke arah pantai. Mata Genta berkeliling mencari tiga wanita yang sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Di mana mereka?"
Hendrik langsung berdiri, berlari ke arah pantai diikuti oleh Juna dan Genta yang melihat ke sekitar mencari keberadaan.
__ADS_1
Telunjuk Juna terangkat, menatap jauh ke pantai. Tiga jet ski sudah balapan di perairan tanpa pengawasan.
Jantung Hendrik langsung lemas melihat ke laut, kecepatan jet ski di atas rata-rata. Banyak orang yang menyaksikan tiga jet ski yang melakukan atraksi saling menjatuhkan.
Jet ski yang dinaiki Tika terbalik, suasana di pantai tegang. Rindi tidak memberikan ampun sampai Tika tidak bisa mengendalikan jet ski.
"Gen, ini bahaya. Rindi menganggap Tika dan Shin musuh." Hendrik meminta bantuan untuk menghentikan.
Tika berusaha berenang, dan melihat Rindi yang mengarah kepadanya. Shin sudah berteriak mempercepat lajunya, melihat Rindi yang bisa mencelakai Tika.
Tangan Shin langsung terulur, menarik tangan Tika untuk menghindari Rindi. Kecepatan Rindi langsung melambat, melihat ke arah Shin yang berhasil menarik Tika ke atas.
"Rindi, kamu ingin membunuh kamu!" Shin berteriak kuat.
"Bukannya kita lawan, kalahkan aku Shin. Sekarang giliran kamu." Senyuman manis Rindi terlihat.
Tika menelan banyak air, batuk memuntahkan air karena jatuh dan diserang oleh Rindi yang penyakit gilanya kambuh.
"Thank you Shin, Rindi akan membahayakan kita." Tika melihat Rindi yang melaju menghacurkan jet ski milik Tika sampai terbakar lalu tengelam.
Teriakan histeris terdengar di pinggir pantai, banyak orang yang berlarian ketakutan. Tubuh Hendrik melemas melihat Tika yang hampir celaka.
Genta sudah berlari mengambil jet ski lain untuk menghentikan Rindi, dan hati Genta juga sakit melihat Tika hampir celaka.
"Kak Gen, Juna ikut." Juna naik bersama Genta yang langsung menuju ke tempat tiga wanita yang masih memanas.
Kedua tangan Tika memeluk pinggang Shin, tubuh Tika juga sudah lemas, dan kepalanya pusing. Kecepatan Shin dua kali lipat dari Rindi yang juga melaju dengan arah berlawanan.
"Rindi akan menabrak kamu Shin!" Tika berteriak kuat.
"Rindi sialan, Tika ambil alih jet ski." Shin lompat menendang Rindi sampai keduanya jatuh bersamaan ke dalam air.
Tika langsung mengendalikan jet ski, menghindari milik Rindi. Kepala Tika geleng-geleng langsung lompat ke dalam air mencari keberadaan Shin.
"Jun, ambil alih jet ski." Genta langsung lompat ke dalam air, mencoba menghentikan Tika.
Tatapan Juna melihat sekitar, mencari keberadaan Shin dan Rindi. Gelombang air yang mulai tinggi membuatnya kesulitan melihat.
Genta berhasil menarik tangan Tika, naik ke atas jet ski milik Shin. Kedua tangan Genta memeluk erat, mengkhawatirkan kondisi Tika.
"Ayang di mana Shin?" Tika berteriak memanggil Shin meksipun tubuhnya lemas.
Dua kepala muncul, Rindi sudah hampir kehabisan napas. Shin menahan tubuhnya agar bisa bertahan sebelum mereka berdua tenggelam.
__ADS_1
"Shin," Juna menatap Shin yang menyelam kembali.
Jet ski Juna mendekati posisi Shin, menyambut tangan Rindi yang hampir jatuh pingsan.
"Selamat Rindi Ay Jun,"
"Pegang tangan aku ... Shin." Juna tidak bisa melihat keberadaan Shin lagi.
"Arshinta, di mana kamu?"
"Dia berenang ke sana." Tangan Rindi menunjuk ke arah jet ski miliknya.
Tangan Shin memegang jet ski, suara Tika berteriak terdengar. Kepala Shin langsung muncul, mengangkat tangannya memberikan jempol. Tangisan Tika terdengar, meminta Genta mendekati Shin.
Tubuh Shin langsung naik ke jet ski, tubuhnya sangat lemas dan tidak tahu berapa banyak air yang di minum. Kepala Shin terbaring, tersenyum melihat Tika dan Rindi baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja Dek, pindah ke sini sekarang." Genta mengusap kepala Shin.
"Jangan khawatir, berikan Shin waktu beristirahat sebentar." Senyuman Shin terlihat, menggenggam tangan Tika yang juga menggenggam erat.
"Apa kamu terluka?" Juna menatap Shin yang hanya tersenyum manis.
"Maafkan Rindi, aku salah." Kepala Rindi tertunduk.
"Kamu tidak salah, aku hanya membuktikan kepada kamu dan Tika, jika aku pemenangnya. Sudah aku katakan, aku ratu air yang bisa mengendalikan keadaan." Tawa Shin terdengar.
Kepala Tika mengangguk, mengusap punggung Shin memuji kehebatan. Rindi juga bertepuk tangan mengumumkan Shin menang.
Jet ski Shin langsung melaju kembali ke pantai, Juna dan Rindi juga kembali beriringan.
Genta, menggenggam tangan Tika. Satu tangan Tika memeluk erat pinggang Genta, meletakkan kepalanya di punggung.
"Tik, kamu baik-baik saja."
"Iya Ayang, panggil Tika sayang."
"Kamu masih punya waktu bercanda,"
Sampai di pantai, Juna turun dari jet ski meminta Hendrik membawa Rindi. Juna mendekati Shin yang masih diam di jet ski.
"Kamu terluka?" Juna langsung menahan tubuh Shin yang melemas.
"Aku baik-baik saja." Tubuh Shin terangkat, Juna menggendong Shin untuk memeriksanya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira