
Sampai siang hari tidak ada titik terang keberadaan Genta, Tika dan Shin berdiri di atas dermaga melihat mobil Genta tenggelam di pantai. Tim SAR sudah mencari ke beberapa titik untuk menemukan kemungkinan ada korban yang tenggelam bersama mobil.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku Shin?"
"Maksudnya?"
"Kenapa kamu memasang pelacak secara tiba-tiba? aku yakin kamu sedang menyelidiki seseorang." Tika menatap jauh ke depan, melihat gelombang air yang mulai meninggi.
"Ya, aku ingin menceritakan kepada kamu, tapi terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan. Ada seseorang yang aku curigai, dan dia mungkin terlibat dalam kasus Isel." Shin menatap luasnya lautan berharap Kakaknya baik-baik saja.
Tangan Tika memegang dadanya, merasa khawatir dengan Genta yang belum juga memberikan kabar. Dada Tika terasa sesak, dan tidak sanggup melihat Genta terluka.
Pernikahan keduanya hanya menghitung hari, masalah silih berganti datang satu-persatu seakan mempersulit hubungan keduanya.
Hubungan cinta terbilang berjalan lancar, tapi ingin ke jenjang serius banyak hal yang Tika takutkan. Mengetahui Shin dan Kakaknya saling menyukai, banyaknya masalah perusahaan, Genta yang jarang berkabar, pertunangan yang membuat heboh juga kecemasan, dan mendekati hari pernikahan Juna membatalkan lamaran ditambah Genta menghilang.
Tika menghela napasnya, berjalan meninggalkan dermaga diikuti oleh Shin yang masih melacak ulang keberadaan Kakaknya.
"Sekarang kita harus ke mana Tika?"
"Shin, aku tidak bisa berpikir lagi, hati aku sakit dan tidak bersemangat. Dulu ada Om tua yang selalu mengikuti, tapi sekarang dia tidak terlihat. Apa yang harus aku lakukan?" kepala Tika terbentur ke arah setir mobil.
Panggilan masuk Shin langsung menjawab, Diana berhasil mengetahui keberadaan Genta. Dia ada di bangunan tua, berada tidak jauh dari dermaga.
[Tika, konsentrasi. Genta tidak akan mati dengan mudah, kenapa kamu terlihat lemah?] Diana meminta Tika fokus menemukan Genta.
Masa pencarian paling aman untuk orang yang menghilang hanya tujuh jam, sedangkan Genta sudah sepuluh jam tidak berkabar. Jika orang biasanya tujuh jam, maka untuk Genta bisa bertahan lebih lama lagi.
"Tik, bukannya ini area hutan tempat kita lewati bersama Kak Ana?"
"Ya, sialan. Kenapa kita harus balik lagi ke sana?" Tika menjalankan mobilnya ke arah hutan untuk menemukan bangunan tua terbengkalai.
Mobil tidak bisa ikut masuk, Tika dan Shin berlari kencang mencari keberadaan Genta. Langkah keduanya terhenti, menatap seseorang yang sudah tergeletak di tengah hutan.
"Mereka tim Kam Genta." Tika membalik badan, memberitahu Gemal keadaan beberapa anggota kepolisian yang sedang dicari.
Senjata Tika keluar, berjalan mendahului Shin yang masih mengecek kondisi beberapa orang yang terkapar.
__ADS_1
"Ini bangunannya?" Tika menyentuh tumbuhan merambat yang menutupi dinding bangunan, bahkan tidak terlihat lagi ada bangunan karena menghilang ditutupi tumbuhan.
"Tik, ayo kita masuk." Shin menyingkap tumbuhan, Tika berjalan di depan mengarahkan senjatanya ke arah dalam.
Suara pertarungan terdengar, Tika dan Shin bersembunyi melihat Genta yang dipukuli. Tangan Shin dan Tika mencengkram kuat namun masih menahan diri.
"Seharusnya sejak awal kamu tidak ikut campur, jika ingin menikah fokus ke sana saja, tidak harus menghentikan impian orang lain." Am tertawa kuat merangkul tubuh seorang wanita cantik disisinya.
"Ucapan Shin benar, kamu wanita bermuka dua. Kalian pikir sudah menang, tidak akan lama lagi kamu hancur Am." Genta berdiri menarik kedua tangannya melepaskan borgol.
Senjata diarahkan di kepala Genta, sebelum Am meninggalkan negara tempat dirinya memulai bisnis, Genta juga harus membayar mahal sudah merusak rencananya.
"Keluarga mereka semua diisi oleh wanita gila, apalagi Diana dan Aliya. Dia benar-benar gila!" Dina menatap Genta yang tersenyum santai.
"Haruskah aku membunuh dua wanita itu?"
"Kalian tidak akan mampu menyentuhkannya, mereka bukan kejam karena jahat, tapi penjahat seperti kalian yang membuatnya lepas kendali." Genta ditarik paksa menaiki tangga.
Tika dan Shin saling pandang, ucapan Shin benar soal Dina bukan wanita baik. Dia sudah memanfaatkan Ana untuk mendekati keluarga mereka.
"Aku sendiri yang akan menyingkirkan Ana,"
Keduanya tidak percaya, bangunan tua yang tidak terlihat karena tumbuhan menjadi tempat yang luar biasa aman untuk tempat persembunyian. Di lantai atas bisa melihat beberapa orang yang berlarian mendekat.
Shin menunjuk ke arah Gemal dan tim, juga beberapa hewan berbahaya yang masih ada di tengah hutan. Tika juga melihat area tempat mereka ditahan perampok.
Dina mengetahui kedatangan mereka, dan terlihat santai hanya menyaksikan dan merangkak bergabung dengan keluarga mereka.
"Tik, kita harus membangun tempat persembunyian seperti ini." Shin celingak-celinguk mencari Tika yang sudah berlari mencari Genta.
Suara Genta dipukuli masih terdengar, Dina memegang sebuah suntikan untuk menyuntikkan kepada Genta.
"Kamu tahu ini suntikan apa Gen? meskipun kamu dan Tika menikah tidak akan memiliki keturunan. Kamu akan menjadi laki-laki mandul,"
"Kamu yang mandul!" Tika menggulung rambut Dina, membalik tangannya menyuntik leher Dina.
Beberapa bawahan Dina menyadari kedatangan Tika langsung berlari, tapi Shin juga muncul menghentikan.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa ada di sini?" Am melihat Shin yang tersenyum manis.
Senyuman Genta terlihat, berdiri meskipun tubuhnya remuk. Seluruh tubuhnya penuh luka, tapi tidak terlihat rasa ingin menyerah.
"Aku tahu kamu akan menemukan aku." Genta menatap Tika yang memukuli wajah Dina.
Keinginan Am melenyapkan Aliya dan Diana, dia harus melangkahi dulu mayat Tika. Tidak ada yang bisa menyakiti mereka selama Tika bernapas.
Suara pertarungan terdengar, Shin menjatuhkan lawan satu-persatu sampai akhirnya bisa mendekati Am.
"Halo Papi, sekarang kita bertemu bukan sebagai anak dan orang tua, tapi musuh." Shin menatap Am tajam.
"Kamu tidak mungkin besar, jika bukan karena Papi." Am mengeluarkan senjatanya diarahkan kepada Shin.
Langkah Shin semakin mendekat, senjata mainan Shin sejak kecil. Dia tidak takut lagi dengan ancaman, Am tinggal memilih ingin menembak bagian mana?
"Ayo tembak!" Shin berteriak kuat.
Genta berdiri bersama Tika, menatap Shin yang menendang belati, tapi Tika berhasil menangkapnya sebelum menembus dada Am.
"Dia Dina atau Dini?" Tika menunjukkan ke arah Dina yang berusaha untuk bangkit.
Am tersenyum melihat Tika mendorongnya kuat sampai kaki Tika tergelincir jatuh ke bawah bangunan, Genta ikutan lompat menangkap tangan Tika.
Dari bawah Gemal melihat Tika dan Genta jatuh bersamanya menghantam bebatuan. Am hanya tertawa melihat keduanya pasti mati di bawah.
Sebuah belati menebus dada Am, Shin mencengkram kuat kedua tangannya menatap penuh amarah.
"Dini sudah lama mati sejak lahir, kematian tidak terdaftar. Dina ataupun Dini dua orang yang sama." Am langsung berlutut memegang dadanya yang sudah berdarah.
"Kamu bukan hanya mempermainkan Hana, tapi dunia juga kamu permainkan. Kamu memanfaatkan nama saudara kamu untuk mendapatkan perlindungan." Shin menatap Dina yang berusaha melarikan diri.
Mata Shin berkaca-kaca, melangkah ragu melihat ke arah bawah bangunan. Beberapa bawahan Am juga jatuh dan tewas ditempat.
"Kakak, Tika. Kalian mendengarkan aku?"
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira