
Pembicaraan soal keluarga Leondra semakin panjang, Diana sangat penasaran dengan perjuangan mereka untuk menemukan penerus kelima sangat panjang.
Segala cara sudah dilakukan, bahkan sudah dilakukan secara terbuka, siapapun yang bisa membawanya kembali dipastikan akan menjadi orang kaya tujuh turunan.
"Aku harus ikut mencari anak ini agar bisa cepat kaya." Gemal tersenyum melihat wanita yang menyerang Diana sudah bangun.
"Dia sudah menghilang sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, dan saat ini keluarga Leondra masih belum memiliki penerus."
"Kenapa tidak menikahi lagi?" Tatapan Gemal tajam.
Diana mendekati wanita yang terlihat sangat tersakiti lahir dan batin, mengigit jari-jemari sampai berdarah.
"Kenapa kamu memilih tetap hidup? tanggung jawab apa yang ingin kamu bayar?" Senyuman Diana terlihat, memberikan air minum.
Diana menatap Gemal yang memilih keluar lagi, menikmati ayam bakar di dekat api unggun.
"Kenapa kamu membuang bayi yang tidak berdosa? dia hidup sendirian juga kesepian." Di melihat respon wanita dihadapannya.
Diana tahu jika putra yang dibuang ditinggalkan di bawah jembatan, dan sampai saat ini masih hidup, tumbuh sehat, juga sangat baik dan cerdik.
"Dia belum mati?"
"Ya, dia masih hidup, tapi dia tidak ingin tahu soal keluarga kandungannya dan memutuskan hidup sendiri setelah kehilangan ibu angkatnya." Diana menarik nafas panjang, melihat air mata menetes.
Diana mengerti jika wanita dihadapannya tidak mendapatkan keadilan, sebagai pihak ketiga di dalam keluarga yang memiliki nama juga gelar dan kekuasaan tinggi.
Status istri kedua, hadirnya tidak dihargai. Dia hanya dituntut untuk hamil dan melahirkan penerus generasi agar tidak pernah putus.
Perlakuan suami, juga keluarganya tidak menganggapnya ada. Kebenaran soal istri pertama hamil membuat hidupnya semakin sulit.
"Kamu berhasil menghacurkan keluarga Leondra, tapi kenapa kamu terlihat menyesal?"
"Dia hidup menderita, aku membuat anak itu hidup susah. Aku hanya membenci keluarganya, tapi dia juga terkena imbasnya." Air mata terus menetes membasahi pipi, meksipun tanpa ekspresi.
Pikiran Diana kacau, satu sisi dia penasaran dengan keluarga Leondra, tapi satu sisi dia juga takut untuk menerima kebenaran.
Sudah hampir subuh, Diana langsung keluar melihat Gemal yang tidur sambil duduk memejamkan matanya.
Tangan Gemal ditarik oleh Diana untuk mengikutinya naik ke atas bukit, ada sesuatu yang harus Gemal lihat.
"Kita ingin pergi ke mana?"
"Melihat sesuatu, ini pasti sangat kamu sukai." Di menarik tangan untuk berjalan bersama.
__ADS_1
Sesampainya di atas bukit setelah perjuangan cukup meleleh, Diana langsung duduk meminta Gemal duduk disampingnya.
"Apa yang kita lakukan di sini?" Gemal mematikan senter handphone.
Diana hanya diam, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Senyuman Gemal juga terlihat, mengagumi indahnya matahari terbit dari atas bukit.
"Cantik, sangat indah."
"Kenapa kamu menyukai matahari terbenam?" Di melihat Gemal yang mengerutkan keningnya.
"Aku mengantar matahari untuk mengakhiri perjalanan hari ini, baik suka maupun duka. Kamu kenapa menyukai matahari terbit?" Gemal menatap wajah Diana yang sangat cantik terkena sinar matahari.
Diana menggelengkan kepalanya, dia tidak menyukai matahari terbit, karena menerima kenyataan dirinya masih hidup.
"Dulu, aku selalu menanti kematian. Setiap malam hanya penuh pertarungan, dan kematian. Aku buta mata, berlari dalam kegelapan. Dan aku membenci matahari terbit, karena aku harus bertemu lagi dengan malam dan mengulangi kehidupan yang sama." Di tersenyum memejamkan matanya.
Saat ini Diana tidak pernah melihat matahari terbit, karena takut dengan kematian. Dirinya masih haus kasih sayang, haus cinta dan ketulusan.
"Aku takut kehilangan semua itu Gem." Senyuman terlihat dari bibir indah Di membuat Gemal tidak berkedip.
"Apa sekarang kamu menyukainya?"
"Saat bersama kamu terasa lebih indah, aku juga ingin melihat matahari terbenam."
"Aku akan membawa kamu melihat betapa indahnya matahari terbenam." Gemal menyentuh wajah Diana yang bersinar.
"Gem, kamu yakin tidak ingin tahu soal keluarga kamu?"
"Tidak." Tatapan Gemal langsung sinis.
Diana tersenyum menganggukkan kepalanya tidak akan memaksa Gemal untuk mengetahuinya, karena Diana juga tidak percaya jika Gemal putra yang hilang.
"Pertemuan dengan pelaku apa kebetulan atau memang takdir?" Di menghela nafasnya.
"Apa yang takdir? jika kita sampai berjodoh namanya musibah yang direstui takdir." Gemal tertawa diikuti oleh Diana.
"Sebenarnya takdir itu siapa?"
"Bapaknya musibah, suaminya kebetulan, Kakaknya suratan, adiknya cobaan dan mereka keluarga ilahi." Gemal menepuk jidat, dia bisa gila jika bicara dengan Diana.
Di tertawa lucu, Gemal memang pria yang sangat ceria. Tidak ada yang menyangka, jika Gemal memiliki masalah dalam hidupnya.
"Bagaimana menurut kamu soal keluarga Leondra?"
__ADS_1
Gemal mengangkat kedua bahunya, dia tidak sependapat dengan kepercayaan keluarga Leondra yang memiliki keturunan hanya satu.
Sikap mereka yang terlalu yakin, dan berpegang teguh dengan keyakinan membuat mitos seakan nyata.
"Apa kamu juga percaya kutukan? jika satu keluarga hanya bisa memiliki satu keturunan."
"Mungkin saja, karena setiap keturunan sulit memiliki anak sudah menjadi keyakinan keluarga Leondra."
"Keyakinan mereka konyol, kita hidup di zaman modern. Banyak cara untuk memiliki anak, karena terlalu mengikuti ajaran sejarah keluarga sampai meyakininya."
"Bagaimana jika benar?"
"Terserah, bukan keluarga aku." Gemal menatap sinis Diana yang masih memaksa Gemal untuk percaya.
Bagi Gemal dia hanya mempercayai sesuatu yang nyata, bukan turun temurun yang mengikuti aturan keluarga.
Diana hanya merasa kasihan dengan keluarga Leondra yang tidak bisa melanjutkan keturunan, generasi satu dan dua sudah berpulang, hanya tersisa generasi tiga dan empat sedangkan generasi kelima tidak diketahui keberadaannya hidup atau mati.
"Diana mulai gila, kamu ingin menikah dengan keluarga Leondra, agar kamu semakin gila dengan kepercayaan mereka."
Gemal langsung berdiri, mereka harus segera kembali ke kota karena memiliki banyak pekerjaan.
Diana langsung turun diikuti oleh Gemal yang tidak terbiasa naik turun bukit, sudah lelah naik harus lelah turun.
Di bangunan bawah tanah ada keributan, wanita yang sempet menyerang Diana mengamuk.
"Ada apa?"
"Kamu harus menemukan anak itu, dia memiliki kalung sebagai tanda pengenal keluarga, dan dia generasi kelima yang harus kembali ke posisinya. Sudah cukup hukuman untuk keluarga mereka." Mulut langsung berbusa, mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.
Gemal dan Diana saling pandang, melihat tahanan tewas dalam keadaan mengenaskan.
"Kesialan apa lagi ini?" Gemal langsung melangkah keluar bersama Diana.
"Sebaiknya kalian pergi Diana, jangan sampai ada yang melihat keberadaan kalian."
"Baiklah, jaga diri. Aku pergi sekarang."
Diana dan Gemal langsung berlari saling menggenggam tangan menuju motor, dan secepatnya pergi dari hutan.
"Aku trauma dengan hutan, tapi matahari terbit terlalu indah." Gemal menangkap tangan Diana yang hampir jatuh.
"Dan kamu yang terindah." Senyuman Gemal terlihat melepaskan tangan Diana.
__ADS_1
***
maafkan TYPE ya, bab hari ini belum direvisi