ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
CEMBURU


__ADS_3

Sebelum pergi Arjuna menyempatkan diri untuk menyapa Diana, pamitan pergi meskipun Di belum bangun.


Keluarga yang lain juga mendoakan Juna agar segera kembali dengan gelar dokternya, menjadi dokter muda dalam keluarga.


Langka kaki Juna berhenti di tempat bayi, ada tiga penjaga yang bertugas mengawasi bayi. Juna tersenyum melihat tiga bayi lucu.


"Kapan kamu berangkat Jun?" Gemal merangkul Juna yang masih menatap kagum ke arah tiga bayi.


"Sebentar lagi kak Gem, jangan sampai bertemu dengan dua wanita bisa kacau. Siapa nama mereka Uncle?" Juna memotret tiga bagi sebagai kenang-kenangan.


"Gheondra Aldirgan Leondra, Ghiandra Altara Leondra, Ghiselin Alina Leondra. Mungkin itu nama mereka, masih menunggu persetujuan Mamanya, meskipun Diana langsung yang mencari nama " Gemal mengusap kaca, tersenyum melihat anak-anaknya.


Juna menganggukkan kepalanya, menyukai nama yang akan digunakan oleh ketiga bayi. Sangat cocok untuk ketiganya, karena masih membawa nama Dirgantara, Alina dan Leondra dan depan nama mereka sama dengan Gemal menggunakan huruf G.


Setelah berbincang sedikit, Juna langsung pamit. Meminta Gemal menyampaikan kepada Diana jika dirinya sudah pulang.


Tangan Juna melambai, langsung melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Selama di perjalanan Juna menatap buku yang ada ditangannya.


Buku yang bukan miliknya, tapi binggung cara mengembalikan meksipun mengetahui alamat rumah.


Juna yakin pemiliknya pasti bukan orang sembarangan, bukunya hanya satu-satunya di dunia. Taksi yang membawa Juna berhenti di sebuah rumah.


Dari kejauhan Juna melihat seorang wanita yang pergi menjauh menggunakan sepeda, Juna gagal mengembalikannya.


"Langsung ke bandara saja Pak," ucap Juna pelan.


Arjuna menatap sepeda, ingin melihat pemilik dari buku. Saat wajahnya terlihat, ada panggilan di ponsel Juna.


Saat Juna menoleh lagi, wanita pemilik buku sudah tidak terlihat lagi keberadaannya. Juna menatap buku yang berharga untuknya.


Sesampainya di bandara, Juna langsung ke tempat penitipan barang. Menyerahkan buku agar dikembalikan kepada pemiliknya.


"Pemiliknya sempat melaporkan kehilangan, anda bisa menghubungi nomor ini."


"Apa dia wanita berambut pendek, tinggi, berkulit putih." Juna meninggalkan bukunya dan akan menghubungi pemiliknya untuk mengambil.


Arjuna langsung melangkah pergi, karena sudah waktunya dirinya kembali untuk meneruskan pendidikannya.


***


Suara langkah Shin berlari, menatap Tika yang sudah bersiap-siap ke rumah sakit untuk menjenguk Diana dan anaknya.

__ADS_1


"Kamu tidak sekolah Tika?"


"Kak Diana melahirkan, ayo ikut ke rumah sakit." Suara Tika berteriak terdengar memanggil Ria yang masih mengantuk, melangkah malas.


Juan dan Dean kesulitan menggendongnya, membawa ke dalam mobil. Tanpa banyak gerakan, Ria lanjut tidur. Tika dan Shin juga langsung masuk.


Atika mendapatkan kabar dari Maminya, jika baby twins sudah lahir dalam keadaan sehat begitupun dengan Diana yang hanya membutuhkan pemulihan.


Sesampainya di rumah sakit, Tika menarik tangan adiknya untuk segera berlari ke arah kamar. Supir yang mengantar hanya geleng-geleng melihat kehebohan di pagi hari.


"Cepat Ria, ini anak merepotkan sekali." Tika memukul punggung adiknya yang masih memejamkan mata.


"Kalian pergi saja duluan, jangan menarik tangan Ria." Tatapan mata tajam, langsung duduk di ruang tunggu lanjut tidur.


Pintu kamar diketuk, Tika masuk sebesar Shin, Juan dan Dean yang menjenguk Diana langsung.


Senyuman Di terlihat menatap adik lelakinya yang menangis, merasa takut Kakaknya dalam keadaan buruk.


"Kakak," panggil Dean.


"Kak Di baik-baik saja, laki-laki tidak boleh cengeng." Di mengusap kepala adiknya.


Tika dan Shin juga langsung mendekat, tersenyum melihat Diana berhasil melahirkan meskipun prematur.


"Terima kasih Shin, berkat kalian semua kak Di bisa bertahan." Senyuman Diana terlihat, menggenggam tangan Tika yang sudah meneteskan air matanya.


Sebenarnya Tika sangat ketakutan, setiap hari berdoa meminta keselamatan. Allah mendengar doanya, bisa melihat Diana melahirkan.


"Di mana baby kak Di?" Tika tidak melihat keberadaan bayi.


"Tidak ada di sini, mereka masih dirawat khusus." Diana mengusap air mata Tika.


Juan tersenyum melihat Diana, mengucapkan selamat atas kelahiran dua baby boy. Sekarang mereka memiliki banyak bayi laki-laki, ada Yendri, Devan tambah dua lagi.


"Ada baby girl, cucu perempuan pertama wanita." Diana tersenyum melihat Juan yang kaget.


"Ada perempuan juga? bertambah lagi beban untuk diawasi." Juan menepuk jidatnya.


Diana hanya bisa tersenyum, Juan kewalahan ada perempuan, apalagi dirinya mempunyai adik perempuan dan Kakak perempuan.


Baginya wanita merepotkan, dan harus dijaga sangat ketat. Apalagi jika sudah remaja seperti kakaknya Tika.

__ADS_1


"Di mana Ria?" Di tidak melihat makhluk cerewet.


Tika menghela nafasnya, adik perempuan yang selalu bangun kesiangan dan tidurnya seperti orang mati. Tika meninggalkan Ria di ruang tunggu karena masih tidur.


Aliya yang mendengar langsung mengucapkan istighfar, putri bungsunya sangat luar biasa bisa tidur sembarang tempat.


Pintu terbuka, Ria berteriak langsung menendang kursi. Duduk dilantai sambil menangis karena mendapatkan teguran dari Altha.


"Ria mengantuk diganggu terus, memangnya kenapa jika kak Di melahirkan? Ria tidak bisa menggendong bayi apalagi menggendong kak Di." Tangisan Ria terdengar, masih memejamkan matanya.


Diana ingin sekali tertawa, tetapi perutnya masih sakit. Ucapan Ria tidak salah jika dirinya tidak salah.


Masih banyak hari lain untuk dirinya melihat bayi, tidak harus menganggu tidurnya.


Aliya memukul mulut Ria pelan, memintanya pulang ke rumah. Tidur sepuasnya, tidak membuat keributan di rumah sakit.


"Tadi dipaksa ke rumah sakit, sekarang diminta pulang." Ria langsung berdiri ingin pulang.


Kakinya tersandung kursi langsung jatuh telentang, Altha langsung mengucap istighfar. Tubuh Ria diangkat, tangisannya semakin pecah saat kepalanya terasa geger otak.


"Senjata makan tuan." Aliya menggelengkan kepalanya.


Altha membawa Putrinya keluar kamar, mencoba mendiamkannya agar tenang dan mengatakan kondisi kepalanya.


"Mami, gendong." Ria berteriak.


"Al sepertinya Ria tidak menyukai ada saingan?" Anggun menatap Al yang menganggukkan kepalanya.


Al sudah menduganya, Ria tidak menyukai mempunyai saingan perempuan. Jika ada wanita lain, kasih sayang untuk dirinya pasti terbagi-bagi membuatnya iri.


"Kenapa marah-marah? ingin Mami masukkan lagi ke dalam perut?" Al menggendong putri nakalnya yang terlihat sedih.


"Ria, kasih sayang kita kepada kamu sangat besar. Jangan takut rasa sayang kita berkurang, tapi keluarga yang sebenarnya takut jika Ria cepat dewasa pasti akan sibuk dan mulai lupa waktu." Di meminta Ria mendekatinya.


Tangisan Ria terdengar, tidur di samping Diana sambil memeluk. Meminta Di tidak melupakan dirinya meksipun sudah ada teman baru.


"Di mana dedek bayinya? masih di perut. Kenapa perut kak Diana mengecil?" Ria ingin mengusap perut, tapi ditahan oleh Aliya.


"Ada sayang, temui kak Gem yang menangis takut ditinggal istri, tapi tidak balik-balik menjaga anaknya." Di langsung cemberut merasakan cemburu kepada anaknya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2