
Teriak Aliya menggema membuat Altha menarik nafas panjang, menyisir rambut panjang yang sudah bergulung menjadi satu.
"Papi, rambut Tika juga tidak bisa di sisir." Bibir Atika monyong, kepalanya sakit karena dijambak Juna yang kesulitan menyisirnya.
"Minta tolong Aunty Helen." Alt masih sibuk menarik rambut Al.
"Tidak mau."
Altha angkat tangan, mendorong Aliya dan Atika untuk pergi lagi ke salon. Memotong rambut keduanya yang sangat kusut.
"Potong rambut kalian berdua, sekalian ganti warna rambutnya, aku tidak suka melihatnya." Alt menarik dua wanita keluar rumah membuat Arjuna dan Helen tertawa.
Aliya dan Atika terpaksa pergi ke salon untuk memperbaiki rambutnya kembali, Altha sudah menyerah melihat keduanya teriak-teriak.
Tatapan Alt terarah kepada Helen yang mengejek Aliya, keduanya terlihat sangat akrab meskipun usia berbeda.
"Elen, boleh saya bertanya. Bagaimana menurut kamu sikap sifat Aliya?" Altha duduk menatap pengasuh Amora yang juga menjaga Atika.
Senyuman Elen terlihat, Aliya wanita pertama yang mengerti perasaan orang lain. Dia tidak mudah marah dan sangat pintar mengendalikan emosi.
Al bukan hanya teman ataupun kakak bagi Helen dan keluarganya, dia penyelematan. Saat semua orang menutup mata, dan Al yang mengulurkan tangan.
Biaya sekolah Elen, Aliya yang membayar. Bahkan uang susu adiknya Aliya juga yang membantu.
Siapapun yang menghina, Al orang pertama yang maju untuk membela, dia sosok ibu dan ayah bagi sahabatnya.
"Kak Al bukan hanya baik kepada Elen, tetapi teman-teman yang lain juga. Kak Al selalu berkata manfaat aku selama masih bisa kalian manfaatkan, jangan ragu untuk bersenang-senang bersamaku, tapi jika ingin pergi dan berkhianat pamitan dulu agar dia tidak merasa ditinggalkan." Elen tersenyum merasa sangat beruntung bisa mengenal sosok Aliya.
"Apa Al banyak melakukan kejahatan?"
"Kejahatan atau kenakalan?" Elen tidak tahu bedanya.
Meksipun Aliya anak yang ceria, dia memiliki banyak rahasia terutama soal kejahatan atau kenakalannya.
Tidak ada yang ingin bertanya, karena Aliya memiliki kehidupan pribadi yang tidak bisa dicerna oleh orang biasa seperti Elen, tapi yang pasti Aliya memiliki hati yang baik.
"Apapun yang kak Al lakukan hanya untuk bertahan, menolong, menghentikan, dan memberikan hukuman. Sisanya Elen tidak tahu."
__ADS_1
Altha menganggukkan kepalanya, mempertanyakan kepada Elen mungkin Al pernah bercerita soal masa lalunya atau orang-orang yang membekas di ingatannya.
"Kak Al tidak pernah bercerita soal hari kemarin apalagi masa lalu, kami hanya membicarakan hari ini dan besok." Elen langsung pamit ke belakang, dia tidak enak jika Al melihat dirinya mengobrol bersama suaminya.
"Kamu yakin tidak berbohong?"
"Terserah tuan ingin menganggapnya apa, tapi yang pasti Elen sudah menjawab."
Altha kembali ke kamarnya, membuka kembali laporan soal kasus pembantaian keluarga Aliya.
Sebuah email masuk, laporan dari kepolisian yang menangani kasus lima belas tahun yang lalu.
"Wow, ada dua puluh dua orang yang meninggal." Altha sungguh tidak percaya.
Di area rumah yang jauh dari keramaian, sebuah keluarga yang jarang beradaptasi dengan orang luar, tapi memiliki banyak karyawan yang menetap di sana.
Ada lima asisten rumah tangga, tiga supir, tiga perawat kebun, juga anak-anak kecil yang tinggal di sana juga meninggal ditempat.
Dua pengasuh, sepasang suami-istri, satu wanita yang diduga istri muda, dan dua anak dari istri muda.
"Ini aneh sekali, dalam satu ruangan ada pertengkaran. Kenapa korban bisa ditemukan di satu tempat, jika ada yang mati di sana seharusnya mereka melarikan diri, tetapi kenapa tetap diam." Altha menatap tajam sangat penasaran.
"Lalu ini apa? kenapa tanpa penyelidikan detail sudah ditutup? siapa pelaku pembunuhan? kenapa tidak ada senjata yang ditemukan?" Altha menutup berkas dalam keadaan pusing.
Terlalu banyak teka-teki yang baru pertama kali Altha pecahkan, ada orang lain yang selamat selain Aliya.
"Senjata apa yang dia gunakan?" Altha mengambil senjatanya, mengeluarkan isi peluru yang paling banyak bisa menyimpan dua puluh peluru, tapi korban ada dua puluh dua, berarti ada dua senjata.
"Senjata yang digunakan lebih dari satu."
"Apa yang lebih dari satu? ada orang lain yang selamat selain aku? siapa?" Aliya menatap Altha tajam.
"Kamu yang di sana apa mungkin ada orang lain selain kamu?" Altha tersenyum melihat rambut Aliya yang sudah dipotong sebahu.
"Siapa dia?" Aliya memejamkan matanya mencoba mengingat apa yang dia lihat.
"Al, coba kamu jujur sama aku agar kita bisa menangkap pelakunya. Terlalu banyak keanehan di sini." Alt menunjukkan para korban yang Aliya sendiri belum pernah melihatnya.
__ADS_1
Kepala Aliya menggeleng, dia tidak terlalu dekat dengan asisten rumah tangga selain pengasuh. Asisten tinggal di paviliun, Al dan kakaknya dilarang keluar kamar bahkan sekolah saja di rumah.
"Ada orang asing yang datang ke rumah kalian?"
"Tidak, kita sekolah Mama yang mengajari. Mama seorang dosen, dia yang mengawasi kami. Kata Mama kita anak yang berbeda sehingga tidak boleh keluar." Al melihat kakaknya yang juga menjadi korban.
Altha menatap tajam, dia meminta Aliya berhenti bercerita melihat wajah Aliya yang sangat sedih, tetapi tidak bisa menangis.
"Kakak, Aliya hidup sendirian. Siapa yang membunuh keluarga kita? apa Aliya pelakunya?" Al menundukkan kepalanya, menggenggam kuat tangannya merasakan marah.
Altha langsung memeluk erat, mengusap punggung Aliya memintanya untuk tenang dan melupakannya jika sangat menyakitkan.
"Bagus tidak rambut Al?" Aliya melepaskan pelukannya langsung berputar-putar menunjukkan rambut baru.
"Em, cantik. Dasar perempuan aneh." Altha menatap wajah Aliya yang menutupi kesedihannya dengan tawa.
Suara pintu terbuka terdengar, Altha langsung tertawa melihat Atika yang rambutnya pendek terlihat sangat cantik.
"Cantiknya anak Papi." Altha memeluk Atika yang menyukai rambutnya.
Senyuman Aliya terlihat, menatap gambar kakaknya. Perasaan Aliya tidak enak soal Kakaknya. Bahkan dirinya tidak pernah tahu apa yang terjadi kepada kakaknya.
"Alina, dia kakak Aliya." Al tersenyum melihat Altha yang membalik gambar Alina.
Atika langsung berlari keluar, meninggalkan Altha dan Aliya yang binggung ingin melakukan apa.
"Berhentilah menyelidiki kami, ini berbahaya Altha. Dia sudah kembali setelah lima belas tahun, dia datang untuk membunuh aku yang hanya hidup sendirian." Al meremas semua yang Altha kumpulkan, mematikan komputer dan printer agar Altha berhenti.
"Besok aku akan pergi ke sana? paviliun yang kamu maksud tidak pernah terlihat Aliya."
"Ada, Al sering melihatnya dari kamar Al."
"Baiklah, besok akan aku pastikan." Altha membuang kertas yang Al remas ke tempat sampah.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1