
Tatapan Altha tajam, meminta Alina keluar. Perlahan Alin melangkah mendekati Altha yang terlihat sedang marah.
Tanpa menyapa, Alin langsung ingin melangkah keluar ruangan kerja. Dia tidak tahu ingin bicara apa kepada Altha yang memiliki banyak masalah.
"Apapun yang kamu lakukan di rumah ini aku pasti tahu, jadi jangan sembunyikan apapun." Altha bisa melakukan dengan caranya.
"Aku hanya ingin melindungi anak-anak."
"Aku tahu kamu tidak percaya hukum, tapi kita bukan tuhan yang bisa menyingkirkan orang-orang hanya karena dirugikan." Alt meminta Alina meninggalkan dunia kejahatan.
Sejujurnya berat bagi Altha menerima kepergian Mora, tapi dia masih mencoba berpikir menggunakan logika dan menyelidiki kasus Mora agar hatinya tenang.
"Bagaimanapun aku tetap salah, seandainya aku tidak membawa mereka pergi mungkin putrimu baik-baik saja." Alin meminta maaf soal kasus Mora.
Altha menarik nafas panjang, dia tahu Alina hanya membunuh orang jahat salah satunya keluarganya sendiri dan para asistennya.
Penderitaan Alina yang diasingkan, dan tidak dipedulikan oleh siapapun membuat menjadi orang jahat, sampai sekarang Alin selalu menyingkirkan orang-orang yang menyakitinya.
"Kamu tahu soal perawat itu, dia orang jahat dan membuka praktek ilegal. Memasukkan ke dalam penjara sama saja kamu mengumpulkan para penjahat menjadi satu." Alin tertawa pelan, meskipun ada di penjara, tapi bawahan mereka masih berkeliaran di luar.
Altha hanya menganggukkan kepalanya, tujuan hidupnya menjadi detektif hanya untuk menemukan pembunuh orangtuanya, tapi sekarang Altha akan menjalankan tugasnya untuk menyingkirkan orang-orang jahat seperti mereka. Meskipun kejahatan tidak akan ada habisnya.
Alina tersenyum, langsung melangkah pergi meninggalkan Altha. Adiknya Aliya mendapatkan lelaki terbaik.
Alt masih duduk di ruang kerjanya, membuka laci dan mengambil foto istrinya. Sejujurnya Alt tidak sekuat ini, dia hanya ingin kuat sampai Aliya kembali kepadanya.
Tanpa terasa Altha tertidur, memeluk foto pernikahan dengan Aliya dan berharap bahagia akan segera menghampiri mereka.
Di lantai bawah Citra sudah bersiap untuk pergi, menatap Alina yang menemuinya sambil tersenyum licik.
"Apa lagi yang akan kamu lakukan?" Alin tidak pernah menyangka jika Altha akan muncul dan mengacaukan semuanya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia."
Alina tertawa, mengingatkan Citra kembali apa yang terjadi kepada keluarganya soal pembantai.
Sebenarnya Alina berencana untuk membuat ayah Citra cacat, dan perawat yang beraninya hampir beberapa kali menyakiti Tika.
__ADS_1
Citra tidak tahu, jika wanita yang merawatnya wanita licik, dia ingin menggunakan Citra hanya sebagai uji coba obat terlarang yang akan segera mereka edarkan.
"Jika kamu tidak percaya, silahkan tes hasilnya. Pasti kamu positif menggunakan obat terlarang." Alin tersenyum membuka pintu, dan mempersilahkan Citra keluar.
Tangan Alina berdada, sungguh kasihan nasib Tika dan Juna. Mama yang seharusnya pasang badan melindungi, tapi matanya sudah buta karena harta.
"Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, dan memilih keluarga seperti apa. Ma Pa, Alina dan Aliya siap hidup sederhana asalkan Mama dan Papa selalu ada untuk kita berdua, dan mencintai kita dan melihat kita berdua tumbuh dewasa." Alina meneteskan air matanya, mencengkram kuat lengannya bekas tembak sampai mengeluarkan darah.
Harapan Alina hanya sebatas mendapatkan cinta, tapi dia tidak memiliki. Mimpi indahnya tidak pernah menjadi kenyataan.
Dirinya hanyalah seorang penjahat, sampai kapanpun Alina akan terus berada di dunia kejahatan.
Sampai matahari terbit Alina masih duduk di depan rumah, setelah ini dirinya tidak tahu ingin menuju ke mana.
"Mami, Tika hari ini sekolah." Suara Atika berteriak mencari Maminya.
"Tika, jangan teriak-teriak sayang. Ayo Papi bantu siap-siap." Alt tersenyum menggendong putrinya untuk bersiap ke sekolah.
Altha juga mengantar kedua anaknya pergi ke sekolah, sepanjang perjalanan suasana hening. Tika yang biasanya heboh mendadak pendiam.
Altha menceritakan secara pelan kepada keduanya soal Mama mereka yang sudah pergi, bahkan Altha mengungkap tidak mengizinkan kedua anaknya untuk bertemu lagi.
"Tika, maafkan Papi. Mungkin saat ini lebih baik kita berpisah dari Mama, tapi saat kalian sudah besar dan mengerti Papi akan mengizinkan. Seburuk apapun hubungan kami, kalian tetap anak Mama." Alt langsung memeluk erat putrinya yang menahan tangisannya.
"Mama tidak pamitan lagi sama Tika, kenapa Mama tidak sayang Tika ya Pi?" air mata Atika menetes membasahi pipinya.
"Maafkan Papi Tika."
Arjuna hanya diam saja, meminta izin untuk keluar dan masuk lebih dulu ke kelasnya. Altha menatap Juna yang terlihat lebih dewasa dan berusaha memahami apapun yang terjadi.
"Juna, maafkan Papi."
Senyuman Juna terlihat, langsung memeluk Altha erat. Dia tidak pernah kecewa dengan keputusan Papinya, apa yang terjadi itu yang terbaik.
"Pi, ayo berjuang lagi. Juna akan menjadi sahabat papi hingga besar nanti." Pintu mobil terbuka, Juna langsung melangkah ke dalam sekolahnya.
Atika juga tersenyum, melihat coklat milik Maminya yang disembunyikan di mobil Papinya langsung meminta izin untuk memakannya.
__ADS_1
"Pi, pulang sekolah nanti minta Mami yang jemput. Kita ingin pergi main sebentar saja " Kedua tangan Tika memohon, tersenyum setelah mendapat izin.
"Jangan dihabiskan coklatnya, nanti Mami marah." Altha mengambil kembali coklat, meletakan kembali pada tempatnya.
Atika tersenyum, Papinya benar. Jika Maminya tahu pasti mengomel membuat gendang telinga mereka pecah.
***
Mobil Alina tiba di sekolah, melihat Atika yang sudah menunggunya. Tatapan Alin tajam, menarik kuncir rambut Tika pelan, memarahi Tika yang asik mengobrol dengan anak laki-laki.
"Mami, membuat malu Tika saja."
"Kamu masih kecil, tidak boleh." Alin terus menarik rambut Tika membuat keduanya bertengkar sejalan-jalan menuju mobil.
Tika memarahi Alina, jika dulu Maminya selalu mengizinkan dirinya dekat dengan semua temannya. Bahkan Maminya makan bersama pacarnya.
"Pacar? kamu masih kecil punya pacar? gila."
"Tika tidak gila tahu, mami yang gila." Bibir Tika monyong, meminta rambutnya dilepaskan.
Langkah Tika terhenti saat melihat seorang wanita berdiri di depannya sambil berjongkok, dan merentangkan tangannya.
Alin masih mengomeli Tika yang masih kecil sudah cinta-cintaan, dirinya saja tidak mempunyai teman laki-laki.
"Mami." Tika langsung berlari kencang, memeluk erat Mami yang sudah lama ditunggunya.
"Mami, mami Tika pulang." Suara tangisan Tika terdengar, memeluk erat Maminya meluapkan kesedihannya.
Alina masih terdiam melihat Tika yang tertawa, berputar menari saat dia tahu Maminya akhirnya menempati janji untuk menjemputnya sepulang sekolah.
"Ye Mami Tika pulang, ayo kita masuk mobil Mami." Senyuman Tika menghilang langsung memeluk erat.
"Mi, Dede Mora sudah pergi jauh. Kita tidak bisa bertemu lagi."
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1