
Mata Gemal terpejam menunggu di ruangan operasi, tangannya sampai dingin hanya bisa membantu doa untuk anak dan istrinya.
Anggun dan Mam Jes saling menggenggam, air mata tidak ada yang menetes lagi. Sudah berserah diri untuk kepada yang maha mengetahui apa akhir dari perjuangan Diana.
Dimas hanya duduk di lantai, menundukkan kepalanya berdoa di dalam hati memohon keselamatan untuk Putrinya.
Dika duduk jauh sambil menggendong bayi kecilnya, Calvin bahkan melepaskannya jaket untuk menyelimuti Dev yang harus menunggu Bundanya.
Suara langkah kaki Aliya dan Altha terdengar, langsung duduk di samping Dika. Al mengambil Dev yang masih bayi kecil, membawanya mendekati ruangan operasi.
Lampu operasi hidup, semuanya langsung berdiri. Salsa sudah siap melakukan operasi sesar, tapi secara tiba-tiba lampu langsung mati.
Calvin menggelengkan kepalanya, baru lima belas menit sudah dihentikan. Melihat wajah panik Calvin langsung meneteskan air mata semua.
Anggun langsung menangis, membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sama sekali. Calvin juga sampai meneteskan air matanya, berbalik badan jika Diana dan anaknya gagal dalam operasi.
"Pa, bagaimana keadaan Diana?" Mam Jes menarik lengan suaminya.
"Dia baik-baik saja Ma, Diana sedang berjuang. Nanti dia akan keluar bersama twins." Gemal memegang pintu, menunggu istri dan anaknya keluar.
Senyuman Gemal terlihat, bicara sendiri seakan-akan sendang menyemangati Diana. Mam Jes ingin menyentuh pundak anaknya, tapi mengurungkan niatnya.
Lampu hidup kembali, Calvin langsung menoleh. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan, pertama kalinya terjadi.
Di dalam ruangan operasi tangan asisten Salsa gemetar, Salsa memintanya tenang. Jika memang takut, Salsa meminta asistennya keluar, daripada menganggu konsentrasinya.
"Apa yang kamu takutkan? fokus bantu Dokter Salsa." Juna masih menatap Diana.
"Kita mulai sekarang Juna, aku mempercayai kemampuan kamu karena rekomendasi dari Dokter Hendrik, bantu aku menyelesaikan ini dalam dua puluh menit." Salsa menatap Juna yang memberikan tempat.
Sayatan menyentuh perut Diana sampai ke rahim, Proses cukup lambat karena ada yang menganggu Salsa, juga memilih lebih berhati-hati.
Baru lima belas menit berlangsung, Salsa berteriak kuat. Juna mematikan lampu yang menunjukkan jika sedang ada operasi.
"Dokter, pendarahan." Asisten Diana langsung melangkah mundur.
Juna sudah mengetahui jika ada pendarahan, Diana sudah tidak sadarkan diri. Juna bertindak dengan caranya. Salsa menghidupkan lampu setelah liam menit.
Arjuna langsung terduduk di lantai, menatap tangannya. Salsa melanjutkan mengeluarkan bayi. Suara tangisan bayi pertama terdengar, asisten dokter langsung mendekat, menyambut bayi laki-laki yang penuh darah.
"Juna, periksa bayinya." Salsa mengeluarkan bayi kedua dengan tangisan yang lebih kecil.
Juna langsung membersikan darah dua bayi kecil yang menangis hanya sebentar, kondisi bayi prematur cukup bagus untuk anak pertama.
__ADS_1
Tangan Juna memompa pelan bayi kedua yang detak jantungnya tidak terasa lagi, pelan-pelan tapi pasti sampai detak kembali.
Tatapan Juna menatap ke belakang, melihat asisten Salsa membawa satu bayi lagi yang tidak menangis sama sekali.
"Apa dia meninggal?"
"Saya mati rasa, tolong ambil bayi ini." Tangisan terdengar tidak tega melihat bayi ketiga yang dililit tali pusat.
"Kamu urus dua bayi ini." Juna membawa bayi terakhir.
Salsa menyelesaikan operasi, menatap Diana yang masih jatuh pingsan. Lutut Salsa melemas, hanya bisa duduk di bawah lantai.
Menyatakan operasi selesai, air mata Salsa tumpah. Hari paling menakutkan dalam hidupnya, operasi dini hari yang mengerikan.
Salsa mempertaruhkan nyawa sahabatnya, adiknya, mempertaruhkan jabatannya, juga mempertaruhkan nyawa tiga bayi.
Awalnya Salsa hampir menyerah, dan menganggap dirinya egois. Memaksa Diana untuk bertahan, padahal Salsa sangat tahu resikonya.
"Jika tidak ada Juna, mungkin kamu sudah pergi Di. Tidak salah aku menurunkan harga diri menghubungi Hendrik, ini balasan dia karena menolak cinta kamu. Mengirimkan Arjuna sebagai calon dokter terbaik." Salsa langsung berdiri, mengusap air matanya.
Salsa melihat keluarga yang sudah menunggu dengan banjir air mata, Salsa tidak bisa menahan air matanya.
"Gemal masuklah, Dokter Calvin juga boleh masuk." Salsa menatap Gemal yang berlari masuk.
Tangan Calvin menyentuh denyut nadi Diana, langsung mengucap Alhamdulillah. Air mata Calvin juga tidak bisa ditahan, langsung memeluk Gemal yang sangat mengkhawatirkan istrinya.
"Bagaimana kondisi Diana?" Calvin mengusap air matanya.
"Dia dalam keadaan baik, maafkan Salsa yang tidak bisa menahan air mata, tidak bisa profesional sebagai dokter." Salsa menutup matanya
Gemal mencium tangan Diana, mengecup wajah istrinya. Wajah Diana basah air mata Gemal.
"Terima kasih Di, jangan pernah meninggalkan aku." Gemal mencium lama kening Diana.
"Bagaimana kondisi bayi?" rasa penasaran Calvin lebih besar dari Gemal yang memprioritaskan istrinya.
"Bayi pertama selamat, bayi kedua lemah, bayi ketiga meninggal." Salsa meminta maaf.
"Ada tiga bayi?" Gemal langsung menoleh.
Salsa meminta Gemal mendekat untuk melihat kondisi bayinya, di dalam tabung Gemal melihat satu bayi yang bergerak, satunya masih diam meskipun nafasnya normal.
"Di mana bayi ketiga? apa jenis kelamin mereka?"
__ADS_1
"Di sini kakek, bayi pertama dan kedua laki-laki dan yang ketiga queen keluarga Leondra dan Dirgantara. Cucu perempuan satu-satunya." Juna tersenyum memasukkan bayi ketiga ke dalam tabung inkubator.
Salsa kaget karena bayi ketiga sudah tidak bernafas, tapi kondisinya membaik meskipun harus melakukan perawatan khusus.
"Dia hanya tidur Salsa." Di membuka matanya sambil tersenyum.
Gemal langsung berlari mendekati Diana, mencium istrinya. Gemal tersenyum melihat Diana sudah bangun, meskipun masih lemas.
"Aku berhasil melahirkan mereka, penerus generasi keenam ada tiga. Diana pikir ada dua, ternyata tiga." Di meneteskan air matanya.
Kepala Gemal mengangguk, istrinya sangat hebat. berhasil melahirkan ketiga buah hati mereka dalam keadaan selamat.
Suara tangisan bayi kedua terdengar, Salsa mengecek suhunya. Calvin juga mengecek kondisi bayi.
"Mereka prematur Salsa, tetapi ukuran mereka cukup besar mencapai satu kilo sembilan." Calvin menatap binggung.
"Benar, tapi aku sudah memprediksinya. Mereka mengambil seluruh makanan Diana, ada yang lebih mengejutkan lagi, mereka terlihat normal." Tatapan Salsa melihat bayi ketiga yang mengeluarkan lidahnya, terlihat sangat cantik.
Gedoran pintu terdengar, Dimas sudah tidak tahan lagi untuk melihat putrinya. Rasanya dunianya runtuh lama menunggu tanpa kepastian.
Calvin tersenyum, membiarkan Salsa yang bicara. Calvin tersenyum lebar mengagumi kecantikan cucu perempuannya.
"Juna, kenapa kamu ada di sini?"
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada Uncel." Juna menyerahkan buku, dia mendapatkan di bandara saat seorang wanita menjatuhkannya.
Calvin membuka buku, ada sebuah kasus yang tertulis. Kasus yang sama dengan Diana, proses operasi untuk menghentikan pendarahan, dan melakukan operasi bersamaan.
Keberhasilan 50% dan Juna membuktikannya. Atas bantuan Hendrik, mereka berhasil menyelamatkan Diana juga ketiga bayi.
***
follow Ig Vhiaazaira
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote juga
***
4bab dulu ya, lanjut besok.
***
__ADS_1