ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERITA DUKA


__ADS_3

Mobil Atika berhenti di restoran mewah milik sahabatnya, libur kuliah Shin berada di restoran untuk mengembangkan resep masakan, juga kuenya.


Suara Ria dan Isel terdengar, langsung berlari kencang masuk ke restoran untuk bertemu Shin. Aliya dan Diana juga ikut untuk bersantai di salon.


"Ingin makan atau nyalon?" Shin tersenyum melihat keluarga sudah datang untuk bersantai.


"Hari ini kita ada acara liburan, kamu bersiap-siap." Diana tersenyum melihat Shin yang bertambah cantik.


"Wow, baiklah. Kak Di dan Mami duduk dulu." Shin meminta pegawainya membawakan makanan.


"Isel maunya kak Shin yang masak." Kedua tangan Isel memohon.


"Oke princess, Tika kamu masuk duluan." Shin tersenyum langsung kembali ke dapur.


Atika melangkah naik ke lantai tiga, apartemen pribadi Shin hasil kerja kerasnya selama dua tahun.


Senyuman Tika terlihat, menatap foto dirinya dan Shin beberapa tahun yang lalu, mereka sudah merayakan empat kali ulang tahun bersama.


Tangan Tika membuka lemari, langsung masuk ke dalamnya yang menjadi pintu rahasia ke ruangan pribadi Tika.


Tarikan nafas Tika terdengar, merasa bahagia bisa melihat ruangan pribadi setelah sekian lama.


"Bagaimana? kamu menyukainya." Shin melangkah masuk ke dalam ruangan.


Atika langsung terkejut, menepuk pundak Shin yang tidak bisa memberikan kode jika ingin masuk.


"Tidak ada yang bisa masuk ruangan ini, kecuali kita berdua." Shin mengingatkan Tika, jika dia sendiri yang membuat peraturan.


"Aku tahu, tapi kaget saja." Tika menghidupkan komputernya.


"Untuk apa kamu melakukan ini Tik? kehidupan di zaman sekarang terlalu santai, kenapa kamu sangat penasaran dengan pasar gelap?" Shin duduk tidak mengerti dengan Atika.


"Ada sesuatu yang ingin aku selidiki." Tika meminta Shin bersiap-siap untuk pergi.


Kedua alis Shin terangkat, langsung mengambil koper. Tika sudah mengeluarkan beberapa baju dari lemari, alat make up Shin juga dimasukkan ke tempat make up.


"Ayo berangkat." Tika membuka pintu, langsung ke lantai satu.


Suara heboh terdengar, Ria dan Isel selalu bertengkar. Di dan Al sudah lelah menasihati, dua anak masih egois ingin menang.


"Makan dulu Atika." Al meletakan makanan kesukaan Tika.


"Bungkus saja Mami, Papi sudah menunggu." Tika meminta minum, memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Cepat Ria makannya, Papi sudah ada di bandara." Al memasukkan makanan ke dalam mulut Ria.


Ocehan Ria terdengar, makan saja harus cepat-cepat, makanan belum masuk ke perutnya.


Selesai makan semuanya bersiap untuk ke bandara,. Tika yang membawa mobil, Shin duduk di sampingnya sambil menyuap Tika makan.


"Kemapuan memasak kamu bertambah Shin?"


"Harus, kita berjalan maju, bukan jalan di tempat." Senyuman Shin terlihat.


"Kakak Shin jangan senyum terus, cantik tidak gila iya." Isel memakan coklat membuat giginya penuh coklat.


Suara tawa Tika terdengar, Isel punya nyawa berlapis jika soal mengejek orang. Suka menjatuhkan kepercayaan diri.


"Kita ingin ke mana mami?" Shin menoleh ke kursi belakang.


Mendengar pertanyaan Shin, Isel memukul kepalanya mengatai Shin bodoh. Jadwal keberangkatan mereka untuk pulang ke rumah kakek neneknya sudah dijadwalkan sejak lama.


Kakek Ken sakit keras, seluruh keluarga berangkat untuk menjenguk Kakek Ken.


"Kita ke rumah Opa Ken." Shin menunjukkan foto Opa dan Oma.


"Kita juga ingin bertemu kakaknya Ria, soalnya kak Juna sudah lama tidak pulang." Ria bersemangat untuk bertemu kakaknya.


Mobil tiba di bandara, semuanya langsung keluar. Berjalan ke arah keluarga yang sudah menunggu.


Shin menarik kopernya, binggung melihat Mam Jes sudah menangis sesenggukan. Kepala Calvin juga tertunduk.


Gemal memeluk Mamanya, tangan Dimas juga merangkul Calvin yang sedang berduka. Belum sempat mereka datang, kabar duka sudah tiba.


"Ada apa?" Al menatap Altha yang diam.


"Kakek Ken sudah meninggal, beberapa menit yang lalu Hendrik memberikan kabar."


Rencana menjenguk, sekaligus liburan berubah menjadi kunjungan duka. Calvin meminta semuanya langsung ke jalur jet pribadi.


Al meminta Ria dan Isel tidak bertengkar, ataupun bercanda. Kepala keduanya mengangguk.


Semuanya duduk tenang, Isel duduk bersama Tika dan Shin, Iin bersama Altha, Gion bersama Anggun. Diana menenangkan Mam Jes, Gemal juga duduk bersama Papanya.


Ria duduk bersama Dean dan Juan di paling belakang, Ria menutup mulutnya sambil bernyanyi. Isel yang bersama Tika tidak bisa diam, dirinya tidak nyaman tanpa bersuara.


"Kak Tika, mau duduk bersama kak Ria."

__ADS_1


"Nanti kalian bermain, bertengkar." Tika melarangnya.


Tatapan Isel tajam, langsung memikul Tika. menendang kursi langsung melangkah pergi ke belakang.


Shin dan Tika juga pindah ke belakang, melihat Isel yang bermain bersama Ria. Juan sudah menatap tajam barulah keduanya diam.


"Kakek tidak menunggu kita lagi Di, padahal kemarin dia masih ingin bertahan untuk bertemu dengan Isel, Iin dan Gion." Mam Jes menangis dalam pelukan Diana.


"Iya ma, sabar." Di mengusap punggung Mam Jes.


Suara barang berjatuhan terdengar, pramugari langsung melihat. Aliya menatap tajam, Isel bertengkar dengan Ria.


Suara tawa Calvin terdengar, meminta keluarga santai saja. Jangan ada yang menangisi Papanya yang sudah tenang, tugas sebagai anak cucu mengantarkan ke peristirahatan terakhir.


Senyuman Calvin terlihat, menatap cucunya Ian yang sangat pengertian. Membawakan tisu mengusap punggung menyemangati kakeknya.


Calvin memeluk cucu lelaki, bersyukur setidaknya Papanya sudah melihat anak-anak Gemal selama tiga tahun.


"Jangan sedih, Ian juga sedih." Air mata Ian menetes, suara tangisannya terdengar, Gion langsung mendekati adiknya.


"Ian jangan menangis, ada apa? kasih tahu kakak." Gion terlihat Khawatir jika adik keduanya sudah menangis.


Melihat dua cucu lelaki, Calvin langsung memeluk erat. Dirinya baik-baik saja, sudah mengikhlaskan kepergian Papanya, meksipun sebenernya mengejutkan.


Tatapan Calvin melihat Isel yang jalan merayap, mengejek Ria. Saat semua orang diam, dia masih aktif sendirian tidak bisa diam.


"Kakak kenapa?" Isel langsung berjalan mendekat, mengusap punggung Ian.


"Peluk kakek Isel." Calvin memangku ketiga cucunya.


Melihat Calvin lebih kuat, semuanya tenang. Meksipun rasa kehilangan pasti sangat besar, apalagi tidak sempat bertemu.


Gemal mengambil Isel yang sudah tertidur, Ian juga sama sudah memejamkan matanya. Gemal masih mengkhawatirkan Papanya.


"Pa, yakin baik-baik saja. Maafkan Gemal yang tidak tahu banyak hal soal Kakek, tapi Gemal yakin Kakek sangat luar biasa." Air mata Gemal mengalir.


"Kamu hampir gila melihat Diana hilang, begitulah Papa. Kakek orang yang sangat kuat, menarik Papa untuk bangkit sampai bisa menemukan kamu." Calvin mengusap air mata di pipi Putranya.


"Terima kasih Kakek, Gemal belum sempat mengatakannya. Pertemuan kita terlalu singkat hingga kematian pemisahnya." Mata Gemal terpejam.


Calvin meminta Gemal berhenti menangis, karena sudah waktunya merelakan, mengikhlaskan apa yang memang bukan milik mereka.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2