
Di dalam ruangan Juna terdengar ribut, Tika ingin masuk namun tangannya ditahan oleh Isel yang menangis meminta susunya.
"Kenapa di sini? pulang ke rumah kamu." Tika melangkah masuk ke dalam ruangan kakaknya.
Tika teriak kaget melihat Shin menangis karena Shin luka, menolak untuk diobati. Tika memeluk lembut merasa cemas dan khawatir.
"Kenapa ini? katakan siapa yang melakukannya? cari mati dia." Suara Tika meninggi mengecek tubuh Shin banyak membiru.
"Gigi aku patah Tik, lihat ompong." Shin membuka mulutnya, gigi dalamnya patah ulah Rindi.
Kepala Juna tertunduk sudah tertawa melihat Shin yang selalu membahas giginya. Tika juga ingin tertawa, tapi lebih merasa marah melihat kondisi Shin.
"Ompong di dalam, abaikan saja. Siapa pelakunya?"
"Rindi,"
"Kamu kalah dengan Rindi? kenapa bisa?"
Shin memegang wajahnya, bertarung dengan Rindi membuat Shin takut. Dia ingin memukul dan menendang perut, tapi impian Rindi ingin menjadi Ibu, Shin tidak ingin terjadi sesuatu.
Kecelakaan kakinya, takut patah tulang begitupun bagian tubuh lainnya. Jika memukul kepala, bisa saja Rindi gegar otak.
"Kamu bisa peduli kepada Rindi, jika bertarung dengan Tika tidak pakai hati. Rindi bukan lawan yang imbang sekarang, jangan ladenin lagi dia." Tika menatap wajah Shin yang hampir babak belur.
"Lihat mulut kamu Shin,"
"Mulut dia bau kak, percaya sama Tika." Tangan Tika menutup hidungnya.
Juna melihat gigi Shin yang patah, memintanya memeriksa ke dokter gigi untuk mencabutnya. Darah dari mulut juga sudah di hentikan.
Langkah Tika mundur, memperhatikan Shin dan Juna yang terlihat akur. Jika Shin memiliki perasaan tidak mungkin terlihat santai dengan Kakaknya.
Di samping Tika ada Isel juga yang menatap dua insan yang sibuk membahas gigi, Isel menjadi saksi perasaan Shin kepada Juna.
"Sel, apa menurut kamu mereka cocok?"
__ADS_1
"Iya, mereka jodoh. Isel lebih suka Aunty Shin daripada Tante Ana,"
"Kenapa? apa kak Tika tidak cocok dengan Om tua?"
Kepala Isel terduduk, dia menyukai hubungan Tika dan Genta, tapi Isel juga menyukai hubungan Juna dan Shin.
Tika melangkah keluar, menarik tangan Isel untuk menjelaskan kepadanya soal kecocokan Tika dan Genta atau Shin dan Juna.
"Bantu Kak Tika membuktikan jika Shik mencintai Kak Juna? jika iya, berarti Shin mengenal Kak Juna lebih dulu daripada Tika." Helaan napas Tika terdengar, hatinya gelisah dengan hubungan pernikahannya.
Tanpa Tika sadari ada Aliya yang mendengar pembicaraannya, Isel tersenyum menunjuk ke arah Al.
"Isel, jangan bicarakan kepada siapapun soal apa yang kamu ketahui. Janji sama Mami,"
"Iya Mi, Isel akan menjaga harga diri Aunty Shin." Isel berjalan pulang dan berjanji tidak akan mengungkap kepada siapapun.
"Tika, kamu ikut Mami." Al melangkah ke kamarnya yang diikuti oleh Tika.
Al menatap putrinya yang sudah meneteskan air mata, selama ini Tika hanya berbohong tidak mengetahui perasaan Shin, lebih tepatnya Tika membohongi perasaannya sendiri jika dugaannya salah, tapi dengan lancang dia berani mencintai kakak sahabatnya.
"Bagaimana ini Mami? bagaimana kelanjutan hubungan kami? Tika tidak ingin kehilangan Shin, tidak mungkin sanggup. Dia sahabat Tika satu-satunya, kita pernah berjanji akan meninggalkan cinta demi persahabatan. Lalu ini apa Mi?"
Al sudah memperlihatkan perubahan Juna yang ragu dengan hubungannya dengan Ana, tapi Juna juga tidak menolak perasaannya yang lebih nyaman bersama Shin.
Apa yang Shin lakukan tidak salah, dia memiliki cara tersendiri menyembunyikan perasaan, dan Al mengakui kehebatan hati Shin yang mampu bertahan dengan kebenaran jika Juna memiliki calon tunangan.
"Tika tidak bisa menikah Kak Genta,"
"Kenapa? hubungan Juna DNA dan Shin tidak ada hubungannya dengan kalian. Mereka berdua yang pengecut, satunya memiliki tersakiti, dan satunya lagi tidak menyadari." Al ingin melihat sampai mana Shin sanggup, dan sampai mana Juna menyadari perasaannya.
"Mi, ini bukan masalah perasaan. Jika kamu sampai menikah, maka tidak ada harapan bagi mereka." Tika menangis histeris memeluk kaki Aliya.
"Kenapa tidak? kamu dan Juna yang kandung, bukan Shin dan Juna. Mami peringatan kamu, urus hubungan kamu sendiri, biarkan mereka mengurus urusan mereka." Al tidak bisa memihak Shin karena Ana juga wanita pilihannya, dan tidak bisa merusak hubungannya dengan Helen hanya karena Juna dan Ana.
Al menyerahkan kepada takdir, dan membiarkan Juna mengurus sendiri perasaan, siapapun yang akhirnya menjadi pilihan Juna, Aliya akan menerimanya.
__ADS_1
"Jika Kak Juna bersama Ana, Shin pasti patah hati. Tika tidak bisa terima itu!"
"Itu resiko Tika, memilih mencintai maka siap patah hati. Kamu ingin melakukan apa? mengatakan kepada Juna soal perasaan Shin, atau meminta Shin mengakui perasaannya. Pertama semua akan baik jika Juna mencintai, jika tidak harga diri Shin jatuh. Kedua keluarga kita tidak mungkin nyaman, terutama hubungan kamu dan Genta." Al meminta Tika memilih diam, demi kebaikan keduanya.
Tidak ada yang perlu Tika khawatirkan, selama Aliya hidup akan dia pastikan putra dan putrinya menemukan cinta sejatinya.
Al meminta Tika terus maju untuk mempertahankan hubungannya, dan soal Shin. Al akan mengawasi keduanya, sampai sejauh mana hingga Aliya harus turun tangan.
"Mami, Tika tidak ingin persahabatan ini berakhir karena rasa sakit hati. Tika tidak bisa kehilangan Shin mami,"
"Itu tidak akan terjadi, kamu percaya sama mami. Kita ikuti saja mainan Shin. Ucapan Isel benar, demi harga diri. Cukup kita berdua yang tidak punya harga diri yang mengejar laki-laki." Al tersenyum menatap Tika yang juga tersenyum.
"Itu Mami, bukan Tika." Tawa Atika terdengar, memeluk erat Maminya yang selalu menjadi penenang hatinya.
"Bagaimana persiapan lamarannya?"
Tika jauh lebih baik, dia sedang gelisah karena memikirkan lelaki yang Shin cintai. Tika mencemaskan jika dia kakaknya, dan mendengar ucapan Maminya barulah Atika tenang.
"Shin mencintai seseorang?"
"Iya Mi, seseorang yang dia temukan di masa mudanya. Apa dia Kak Juna? atau pria lain?"
"Cari tahu, kita harus menemukan laki-laki itu. Jika kita salah soal perasaan Shin, dan Juna yang memiliki perasaan bisa patah hati anakku." Al meminta cerita detail soal lelaki yang Shin cintai.
"Jadi Mami belum yakin soal kak Juna dan Shin?"
"Kamu setiap hari bersama Shin juga tidak tahu, apalagi Mami?"
Al dan Tika berdebat soal dugaan mereka yang akhirnya membingungkan. Jika Tika tidak mengatakan soal lelaki yang Shin cintai di masa muda Al tidak mungkin binggung.
"Sudah cukup Tika, Mami bisa keriputan memikirkannya. Terserah saja, apapun yang terjadi, putraku tidak boleh patah hati." Al membuka pintu kepanasan berdebat dengan Tika.
"Terus, Mami tega melihat Shik patah hati?"
"Sudahlah Tika, Mami bisa gila." Al mengumpat kasar membuat Tika kaget.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira