
Senyuman Al terlihat, menyiapkan makanan di atas meja yang dibeli oleh Juna. Al mendengarkan cerita Citra soal penyakitnya.
Sejujurnya Citra tidak terlalu memikirkan, dia hanya mengkhawatirkan Arjuna yang harus membuang-buang waktu untuk mengurusnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Al yakin Juna bisa menyembuhkan Mamanya, dia Dokter terbaik. Ayo semangat untuk sembuh." Al tersenyum mengusap tangan Citra.
Air mata Citra menetes, menyentuh tangan Aliya yang putih bersih juga sangat mulus. Citra meminta maaf setulus-tulusnya kepada Aliya, juga ucapan terima kasih sudah membesarkan kedua anaknya.
Citra menyesali semua perbuatannya, terutama sudah menyakiti kedua anaknya yang masih kecil. Selama berpuluh tahun di penjara, Citra mengutuk dirinya sendiri yang tega melihat mata Tika penuh amarah, disakiti.
Meksipun Putri kecilnya tersenyum, Citra tahu jika Putrinya marah besar bahkan menyimpan rasa sakit sangat dalam.
"Maafkan aku Al, bagaimana cara aku meminta maaf kepada anak-anakku? mereka seharusnya membenci dan melupakan aku." Tangisan Citra sangat menyayat hatinya.
"Aku tidak pernah membenci kamu, segala tindakan kita pasti ada konsekuensinya. Kamu sadar saja sudah menjadi hal baik, sekarang hanya proses memperbaikinya. Al ada di sini untuk menemani." Senyuman Al terlihat, merasa sedih melihat Citra yang hancur.
Aliya mengakui jika Citra memiliki wajah yang cantik, tubuh yang indah. Sekarang semuanya sudah hilang. Citra yang dulunya memiliki kepintaran dan kecantikan sudah berubah.
Hati Aliya juga hancur melihat kondisinya, dirinya juga terlibat atas kehancuran Citra. Meskipun dirinya bisa membesarkan Juna dan Tika penuh cinta, tapi tidak bisa mengantikan posisi Citra.
Al juga seorang Ibu, tahu rasanya mengandung, juga melahirkan. Betapa sulitnya membesarkan anak, sejak lahir hingga bisa makan sendiri.
Tidak bisa dibayangkan jika perjuangan seorang ibu, dibalas rasa sakit oleh anak.
"Juna anak yang baik, dia pemuda yang dewasa, juga penuh kasih sayang. Perlahan Juna akan bahagia bersama Kak Citra juga. Begitupun dengan Atika, meksipun berurusan dengan Tika akan lebih sulit." Al mengusap air matanya, Al sangat yakin Citra juga mengetahui karakter Tika.
Tidak ada yang bisa memahami Tika kapan dia marah, kecewa, sedih. Al bahkan tidak tahu kapan Putrinya memiliki banyak pikiran.
Tika tumbuh menjadi wanita yang kuat, dia pintar menyembunyikan perasaannya. Tidak ada yang bisa melihat Tika bersedih, dia selalu tertawa bahagia.
"Tika anak yang sangat ceria, pelan-pelan kita ketemu dengan Tika. Dia juga ada di rumah." Al memeluk Citra.
Meksipun membutuhkan waktu untuk akur, Al tidak akan membiarkan Putranya berjuang sendiri untuk menyembuhkan Citra.
"Terima kasih Aliya, Putra dan Putriku berada di tangan orang yang tepat."
"Kenapa tangan ini sekarang kasar? kenapa juga sekarang kurus sekali? Aliya sedih melihatnya, di mana Citra yang dulunya cantik?" Al mengipas wajahnya yang tidak bisa berhenti menangis.
"Kamu sekarang sudah bisa menangis Al?"
__ADS_1
"Iya, Kak Citra tidak tahu saja betapa nakalnya Putriku. Setiap hari membuat aku menangis, melihat kenakalannya." Al mengusap air matanya.
Suara Citra tertawa terdengar, berharap Aliya akan memperkenalkan Putri nakalnya kepada Citra.
Berbicara dengan Aliya membuat hati Citra bahagia, dirinya ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Jangan menyesal bertemu dengan Ria, bahkan biaya perawatan Ria juga sangat mahal." Al menepuk jidatnya.
"Dia sudah melakukan perawatan?" Citra tercengang kaget.
"Iya, dari mata, hidung, gigi, rambut, kuku semuanya dirawat oleh orang profesional. Jika ada semut yang menggigitnya harus ke Dokter kulit, jika tidak pasti mengamuk." Al menunjukkan foto Putrinya.
"Cantiknya Al, dia memiliki wajah cantik sekali. Senyumannya manis." Senyuman Citra terlihat mengangumi kecantikan Ria.
"Jangan tergoda dengan kecantikannya, dia wanita mengerikan." Al juga tertawa jika membayangkan Putrinya.
Altha dan Juna melihat keakraban Citra dan Aliya, bahkan Al juga membuat jadwal perawatan bersama Citra.
Al ingin Citra kembali seperti dulu, wanita cantik, elegan, juga pintar. Juna dan Tika harus bangga memiliki Mami dan Mama yang luar biasa.
"Sekarang Papi mengerti, kenapa Mami menjadi dunianya Juna?" senyuman Juna terlihat, dirinya sangat mencintai Maminya melebihi apapun.
Al langsung berdiri, melangkah mendekati Juna. Mengecek tubuhnya, takut jika Altha menyentuh Putranya.
"Aku tidak mungkin menyakiti putramu Al." Altha menatap kesal.
"Aliya hanya mewaspadai, ingin melihat perang dunia ke-3 coba sentuh anak-anakku." Al memeluk Juna yang hanya tersenyum mengusap punggung Maminya.
"Mami, Juna sudah membeli makanan. Kita makan siang bersama." Arjuna merangkul Al untuk makan.
Altha menolak, pamit untuk pulang. Aliya juga setuju dengan suaminya. Mereka harus pulang, karena pergi tanpa pamitan dengan anak-anak.
"Juna, malam ini pulang ke rumah untuk makan bersama. Atika juga baru pulang, sekalian pergi bersama Mama kamu." Altha langsung menepuk pundak Putranya, pamit pulang.
"Mami pulang ya sayang, I love you Juna, Kak Citra sampai bertemu nanti malam." Al langsung memeluk Citra.
"Terima kasih Papi, terima kasih. I love you to Mami, hati-hati di jalan." Juna mengantar sampai depan pintu.
Senyuman Aliya terlihat, melambaikan tangannya. Tersenyum menatap Citra yang juga melambaikan tangannya.
__ADS_1
Al menatap suaminya yang terlihat dingin, tapi sebenarnya memiliki hati yang hangat juga penuh kasih sayang.
Sepanjang perjalanan Al dan Altha hanya diam, Aliya ingin bicara, tapi tidak ingin menganggu keheningan suaminya.
"Al, apa Tika pernah membahas soal Mamanya?"
"Tidak pernah Ayang, Tika bersikap seakan lupa dengan Mamanya." Al juga tidak berani membicarakan jika tidak Tika yang bertanya.
Kekhwatiran Alt jika Tika tidak menerima Citra, begitupun dengan Aliya yang mencemaskan kondisi Tika jika bertemu Mamanya.
"Nanti, akan coba Aliya bahas sedikit." Al menggigit bibir bawahnya.
Sesampainya di rumah Al melihat mobil Tika juga baru sampai, senyuman Tika terlihat membuka pintu mobil untuk adiknya Ria yang baru pulang membeli makanan.
"Mami dari mana? menghilang pagi-pagi. Kita kelaparan." Ria menatap tajam Maminya, mencium tangan langsung melangkah masuk mengikuti Papinya.
Tika memeluk Aliya, mempertanyakan keberadaan Maminya yang menghilang dari pagi.
"Mami dari mana? tidak membawa apapun?" Tika mengerutkan keningnya.
"Sayang, kak Juna sudah pulang. Malam ini kita makan bersama, kamu tidak boleh ada janji keluar." Al merangkul Putrinya masuk.
Bibir Tika monyong, Maminya tidak mengajaknya untuk bertemu Kakaknya. Tika juga sangat merindukan Arjuna.
Al langsung ke kamarnya, mengambil bingkai foto Citra, Arjuna, Tika dan Amora. Al ingin menunjukkan kepada Tika, sudah waktunya Al melihat respon Putrinya.
"Tika, Mami tidak sengaja melihat kamu kecil, lucu sekali." Al menunjukkan kepada Tika.
Sesaat Atika terdiam, tatapannya melihat ke arah Aliya sambil menunjukkan senyuman manis.
"Mami, Tika malu. Foto ini jelek sekali." Tawa Tika terdengar, mengejek kakaknya juga dirinya yang jelek.
Suara teriakan Ria terdengar, Al langsung melangkah menemui Ria. Saat Aliya kembali menemui Tika, dirinya sudah pergi bersama bingkai foto.
"Tika ...." langkah Al terhenti, menatap tempat sampai. Foto yang dirinya berikan sudah disobek-sobek.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1