ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SUAMI TIDAK PEKA


__ADS_3

Tidak ingin membuang-buang waktu Juna langsung meminta istrinya tes, meksipun Shin menolak takut kecewa.


Setelah Juna memohon barulah Shin menurut. Dia melakukan tes menggunakan beberapa tes pack, keduanya deg-degan menunggu hasilnya.


"Apa hasilnya?" Tika langsung masuk melihat ke beberapa tes pack.


Teriakan Juna terdengar, memeluk istrinya erat. Bahkan sampai terharu jika dirinya bukan hanya menjadi Uncle, tapi calon Ayah juga.


Shin menangis di dalam pelukan Genta, sedangkan Tika menyusun tes pack miliknya bersama dengan Shin.


"Ini punya Tika, ini punya Shin. Foto dulu sebelum baby lahir." Senyuman Tika terlihat lebar.


Keempat terlalu bahagia, melakukan foto bersama secara gilir- giliran. Tidak menyadari jika ada sepasang suami-istri yang sedang memperhatikan.


Senyuman Dika dan Salsa terlihat, melangkah pulang karena tidak ingin menganggu kebahagiaan yang sedang dirasakan.


Juna tidak sabar lagi menunggu pagi, Shin dan Tika langsung naik ke atas tempat tidur berpelukan karena keesokan harinya akan melihat kondisi baby di perut.


"Sayang, aku tidur di mana?" Genta menatap ranjang.


"Ayang, tidur bersama Kak Juna saja." Tika mengeratkan pelukannya.


Terpaksa Genta dan Juna tidur di bawah menggunakan kasur, keduanya tersenyum membiarkan para istri bahagia.


"Aku akan cuti bekerja selama sembilan bulan,"


"Memangnya bisa Kak Gen?"


"Mungkin tidak, tapi dicoba saja." Genta tertawa kecil membayangkan anaknya.


"Mencoba untuk menjadi pengangguran." Juna tertawa kecil melihat Genta yang terlalu bahagia.


Semalaman Genta dan Juna tidak bisa tidur, keduanya menonton televisi, makan, dan melakukan banyak hal karena sedang menunggu matahari terbit.


Di dalam kamar Shin terbangun, berjalan ke kamar mandi melihat perutnya yang membuncit.


"Astaga, kenapa Mami tidak menyadari kehadiran kamu? memiliki Papi sudah membuat Mami lupa segalanya, sampai tidak tahu ada kamu." Senyuman Shin terlihat, mengusap perutnya penuh kasih sayang.


Tidak pernah terpikirkan oleh Shin jika dia akan menjadi Mami muda, memiliki Juna segalanya, tapi memiliki anak dari Juna impian terbesar Shin.


"Nanti kamu mirip Papi atau Mami?"


"Kira-kira berapa bulan? perut kamu sudah terlihat sekali. Dedek di dalam makan terus?" Tika mengusap perut buncit Shin.


"Mungkin tiga bulanan Tika, sejak menikah aku tidak halangan lagi. Bagaimana aku bisa tidak menyadari selama itu?"


"Maklum saja, kita terlalu bahagia. Kamu dan Kak Juna tidak memiliki rencana, hanya mengikuti jalan hidup dengan penuh hal bai. Ini kejutannya." Senyuman Tika terlihat, menyentuh perutnya.


"Kira-kira kamu berapa bulan ya Tik?"

__ADS_1


Kepala Tika menggeleng, dia tidak tahu pastinya. Mungkin dua bulanan, Tika masih binggung sebelum Dokter memastikan.


Pagi-pagi Shin sudah sibuk di dapur, membuat makanan yang ingin Tika makan agar bayinya sehat karena melihat tubuh Tika yang kurang sehat.


"Terima kasih Shin, kamu sudah makan?" Tika kaget melihat makanan khusus untuk Shin.


"Ay, kita langsung ke rumah Uncle Dika, memastikan baby." Juna duduk di samping Istrinya.


"Matahari saja baru muncul, kak Jun." Tika tersenyum melihat suaminya yang membawakan minum.


"Kita terlalu bersemangat." Genta menatap Juan yang datang membawakan makanan sehat.


Tika langsung mengambil lebih dulu, Shin yang melihatnya hampir menangis. Juan langsung memberikan satu wadah lagi karena tahu pasti akan bertengkar.


"Enak, Tika suka. Adik tampan Kak Tika memang yang terbaik.


"Kalau enak habiskan ya Kak biar sehat, Juan pulang dulu soalnya ingin bersiap ke sekolah." Juan melangkah pulang setelah pamitan.


Senyuman Genta terlihat, memberikan uang jajan kepada Juan Menitipkan uang juga untuk Ria, Dean dan Devan yang mulai pindah sekolah.


"Juan tampan sekali, lebih tampan dari kamu Jun,"


"Ay Jun paling tampan," Shin menimpali.


Selesai sarapan dua pasang suami istri sudah berdiri di depan rumah Dika yang sudah lama kosong, tapi masih terawat.


"Kenapa Dad?"


"Ini ada dua bumil yang mau kontrol,"


"Kenapa ke sini? kalian harus ke rumah sakit. Aunty datangnya siang," Salsa sengaja membuat keempatnya menunggu.


"Aunty." Jawaban serempak keempatnya membuat Dika dan Salsa tertawa puas.


Dika meminta duduk, memukul punggung Juna yang bisa telat tahu kondisi istrinya. Terlalu bahagia menjadi pengantin baru sampai lupa jika sudah ada yang jadi.


"Namanya juga tidak menyadari Uncle, jika bisa Juna ingin tahu cepat,"


"Keluarga kita semua yang menikah cepat memiliki anak, setelah langsung stop." Dika menatap Juna dan Genta yang saling tatap.


"Kenapa?"


"Pertama tidak tahan mengidam, kedua terlalu lama libur." Senyuman Dika terlihat, hanya dirinya yang berani memiliki dua anak.


Tika membenarkan ucapan Dika, Maminya yang paling lama karena menikah berkali-kali. Setelah saling mencintai, Ria dan Juan langsung jadi.


Begitupun dengan Dimas dan Anggun, Dean langsung muncul. Dikarenakan keduanya sama-sama sibuk, tidak ingin Dean kekurangan kasih sayang akhirnya distop.


"Papi Altha yang lebih dulu mengajari satu kali saja, dia enak langsung dua. Kak Dimas punya anak tunggal, tapi yang mewarisi hartanya cucu perempuan satu-satunya. Kasian nasib Dean punya keponakan model Isel." Tawa semua orang terdengar, pusing jika Isel sudah muncul.

__ADS_1


"Kak Gemal bagaimana?"


"Dia lebih cepat lagi, langsung dapat tiga. Tetapi perjuangan mendapatkan ketiganya banjir air mata." Salsa meletakkan kue untuk dua bumil.


Pembicaraan di lanjutkan di rumah sakit, Aliya dan Diana juga ikut mendampingi. Mam Jes hanya menunggu kabar baik karena tidak bisa meninggalkan Rindi yang memiliki bayi.


Di dalam ruangan penuh, mengingatkan Salsa saat kehamilan Diana yang selalu ramai apalagi Gemal yang heboh.


"Siapa yang ingin periksa dulu?"


"Tika saja, aku ingin tahu berapa usia kandungannya. Aunty pastikan juga jika baby baik-baik saja, soalnya Tika susah makan." Shin terlihat sedih melebihi Tika yang punya badan.


Senyuman Salsa terlihat, meminta Tika berbaring. Genta langsung mendekat melihat bayi yang nampak.


"Kecilnya anak Papa?"


"Iya Tik, dia kecil sekali. Kamu usahakan makan, dia sudah menunjukan mata, hidung di dalam sana." Salsa kesal melihat Tika yang tidak menyadari kehamilannya sehingga langsung melihat janin yang sudah tumbuh lebih dari sepuluh minggu.


Air mata Shin menetes, langsung menangis membuat semua orang binggung. Genta langsung memeluk istrinya yang menangis sampai seseguk.


"Kenapa Shin?"


"Sakit, kaki Shin sakit diinjak Kak Genta." Tangisan semakin menyayat hati, Juna menahan tawa melihat istrinya yang sedih.


Aliya memukul punggung Genta, menahan tawa sambil memarahi agar Shin berhenti menangis. Jika mereka tertawa pasti semakin histeris.


Dokter Salsa, menasihati Tika untuk terus mengikuti sarannya agar baby tumbuh dengan baik.


Pemeriksaan kandungan Shin yang sangat baik, kondisi bayi sehat dan sudah lebih nampak jelas karena memasuki usia dua belas minggu.


"Kalian berempat kehilangan moments trimester pertama, sebenarnya itu yang paling sulit." Salsa menatap Genta dan Juna.


"Pantas saja, aku sering mual setiap bangun tidur aku pikir maag,"


"Sama Jun, bahkan di kantor suka mual karena bau parfum." Genta menepuk kening, dia berpikir hanya butuh istirahat.


"Suami-suami tidak peka," Salsa memberikan vitamin untuk Tika dan Shin.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


jangan vote dan hadiah di sini karena Minggu depan tamat.


Maaf nanti bakal aku percepat, dan tidak bisa up banyak. Dikarenakan banyak NOVEL lain yang update bulan ini.


***

__ADS_1


__ADS_2