ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RUMIT


__ADS_3

Pintu terbuka otomatis, Genta mengunakan kartu Tika untuk bisa menembus masuk. Bahkan rela kebut-kebutan di jalan demi bisa mengambil kunci.


Tangan Shin ditarik, langsung membuang suntikan. Dina sudah jatuh pingsan mengalami shock dan ketakutan.


Tika menatap Shin yang masih banyak pikiran, langkah Tika mendekat membisikkan sesuatu. Mereka tidak boleh mencelakai Dina sampai mengetahui tujuannya ingin masuk ke dalam keluarga.


Kepala Shin mengangguk, menyetujui ucapan Tika. Lebih baik mereka percaya agar bisa menemukan kebenaran yang dalam lagi, setidaknya sudah membuatnya ketakutan dengan menyiksa orang suruhannya.


"Bawa mereka semua ke rumah sakit, Genta minta polisi mengawasi." Papa Calvin juga masuk menatap para wanita yang sudah berdiri diam.


Gemal memeluk istrinya, tidak berani marah apalagi menegur. Altha hanya geleng-geleng melihat Aliya, tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali, tapi senyuman lebar merasa bangga.


"Kamu tahu tangan sangat berharga bagi seorang Dokter, kenapa dilukai?" Papa Calvin mengusap kepala Diana.


Tangisan Diana kembali terdengar, Mam Jes memeluk sambil mengusap punggung menantunya yang masih merasa marah dengan kondisi Putrinya.


"Maafkan Di yang mencoret nama baik keluarga, aku masih orang yang sama bisa menyakiti dan membunuh. Terlahir menjadi seorang penjahat, tidak akan mengubah menjadi orang baik." Di menutup wajahnya, menangis kuat.


"Penjahat tidak ada yang menangis, kamu hanya seorang ibu yang terluka. Apa yang kamu lakukan sudah benar, ini pembalasan yang setimpal, dan mereka akan terluka lebih dari ini." Papa Calvin tersenyum mendukung menantunya yang tidak bisa menahan amarahnya.


Suara Ana menangis juga terdengar, meminta tolong membawa Dina ke rumah sakit. Juna langsung menenangkan Ana yang ketakutan karena pertama kalinya dia melihat kekerasan di depan matanya.


"Bagaimana caranya Kak Ana bergabung dengan keluarga kami? keluarga kami keras dan bertarung mainan kami, Tika ragu jika Kakak pantas mendampingi Kak Juna." Senyuman Tika terlihat, menatap Ana yang masih banjir air mata.


Suara Altha terdengar meminta Tika menjaga ucapannya, bisa saja Tika salah maka dia sudah menzolimi orang yang tidak bersalah.


"Sudahlah, sebaiknya kita ke rumah sakit. Di sana hanya ada Anggun dan Dimas yang menjaga si kembar." Mam Jes meminta Rindi mengikutinya.


Semua berjalan ke rumah sakit, meninggal Tika dan Shin juga Ria yang masih berdiri di atas balkon hotel.


"Bagaimana Ria? kamu takut." Tika merangkul Adiknya yang tersenyum lebar.


"Ria sangat ketakutan, tapi ini menyenangkan. " Ria tersenyum menatap Shin dan Tika yang menatap ke atas langit.


Satu hal yang membuat Ria penasaran kenapa tidak menyakini Dina pertama kali, setelah pesuruhnya terluka barulah dia diserang.


"Itu hanya ancaman Ria, sejak awal kita tidak berniat membunuh dia. Jika Dina memang pelakunya dia akan ketakutan, jika bukan Dini akan keluar." Shin menatap Tika yang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kak Dina memang ada kembaran?"


Kepala Shin mengangguk, dia tahu jika Dina ada kembaran, tapi membutuhkan penyelidikan lebih lama.


"Kembaran Dina tidak terdaftar sama sekali, dia seperti sudah mati." Tika mengacak rambutnya karena tidak bisa menemukan kembaran Dina.


"Bisa jadi dia memang sudah mati Tik, Dina hidup dalam dua indentitas. Dina yang baik, dan Dini yang jahat. Aku hanya penasaran, kenapa dia mendekati keluarga ini?"


"Entahlah, mungkin ucapan Rindi benar ada dendam lama. Dia mencari kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan karena aku, kamu dan Mami Al mulai mencurigainya." Helaan napas Tika pajang, masih harus fokus kepada Isel yang bisa-bisanya minum racun.


Kedua tangan Ria bertepuk kuat, dia mengagumi kecerdasan Dina. Dia memukuli dirinya sendiri seakan-akan dia teraniaya oleh Dini. Secara tidak langsung dia menjadi nama Dini kambing hitam.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk menjenguk Isel,"


Ketiga wanita melangkah pergi, berjalan beriringan dengan pikiran masingmasing. Shin yang tiba-tiba memikirkan Juna yang terlihat kecewa kepadanya karena melarikan diri dari rumah sakit.


Tika yang memikirkan soal Dini yang hidup tanpa identitas, membuat Tika binggung cara menyelidikinya sedangkan dirinya akan segera menikah.


Hanya Ria yang tersenyum, dia sedang memikirkan makanan di restoran yang baru saja dia dapatkan kupon karena untuk antri juga membutuhkan waktu berjam, itu juga belum tentu kebagian.


"Mampir ke restoran ini dulu sebentar. Ria ingin mengambil pesanan." Tawa Ria terdengar melihat Tika yang menyetir mobil.


Mobil tiba di restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh hotel, Ria hanya keluar bersama Tika meninggalkan Shin sendirian di mobil.


Mata Shin terbelalak besar melihat seorang wanita berlari tanpa alas kaki, tangannya masih ada bekas darah, dan yang membuat Shin terkejut tas ditangannya milik Dina.


Pintu mobil terbuka, Shin langsung berlari kencang ke arah jalan. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Shin yang berlari di pinggir jalan.


"Awas Shin," tubuh Shin terpental bersama seorang pria yang bekerja di restorannya.


"Kejar wanita itu bodoh." Shin menatap wanita yang masuk ke dalam mobil yang berniat menabraknya.


"Bu, tolong bawa saya ke rumah sakit. Tangan berdarah, ibu harus bertanggung jawab." Rengekan terdengar menunjukkan lukanya.


"Sialan, kamu tidak akan mati dengan luka itu." Shin menatap sinis karyawan restoran yang terus meringis.


Shin mengucapkan terima kasih, berlari kembali ke restoran meninggalkan karyawannya yang melambai-lambai tangan.

__ADS_1


"Ibu Shin cantik, tapi sayang tidak bisa dimiliki. Dia terlalu sempurna untuk orang miskin seperti aku,"


Di mobil Tika sudah panik, melihat Shin berjalan dari kejauhan. Kaki Shin juga berdarah membuat Tika cemas.


"Kamu dari mana?"


"Ayo kita ke rumah sakit,"


"Kak Shin terluka." Ria menunjuk kaki sambil memakan es krim.


Ketiga langsung berjalan ke rumah sakit, Shin diam sepanjang jalan karena belum sempat melihat Plat mobil. Shin sangat yakin dia salah satu komplotan Dina yang betugas diluar hotel.


Sesampainya di rumah sakit, Shin bertemu kembali dengan karyawannya yang tertawa melihat Shin menuju rumah sakit.


"Bu, kenapa di sini?"


Shin mengabaikan begitu saja, berjalan ke dalam mengikuti Tika dan Ria yang berjalan lebih dulu.


Di depan ruangan Isel sudah ramai, pembicara keluarga juga serius membicarakan kondisi Isel.


Banyaknya orang yang berkumpul tidak ada yang memperhatikan Gion dan Ian yang terlihat binggung.


"Aunty, katakan kepada Ian sebenarnya apa yang terjadi?" Ian memeluk pinggang Shin meminta jawaban.


"Astaghfirullah Al azim, Ibu Shin sudah punya anak?"


"Mau aku patahkan leher kamu?"


Senyuman terlihat meminta maaf karena bersikap lancang, karyawan Shin berlutut menempelkan plester ke luka Shin agar tidak terlihat.


Tika mengerutkan keningnya melihat Juna yang menatap tajam, langkah Juna juga terhenti melihat seorang pria berlutut di hadapan Shin.


"Masalah Dina rumit, ternyata masih rumit kisah cinta kami." Suara Tika tertawa terdengar.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2