ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TAKUT MENYUKAI


__ADS_3

Pintu terbuka, Mam Jes tersenyum melihat Gemal dan Diana sudah duduk di pinggir ranjang. Wajah Gemal sangat terlihat masih linglung.


"Kenapa kamu di sini?" Gemal menatap Diana yang mengerutkan keningnya.


Diana berdiri, menginjak kaki Gemal sangat kuat sampai meringis kesakitan, menarik tangan Diana sampai duduk di pangkuan.


"Sakit Di."


"Sakit, ini baru sakit." Diana menjambak-jambak rambut Gemal, meneriakinya untuk sadar dan bangun.


Tatapan Gemal langsung tajam, membanting Diana ke atas ranjang. Mam Jes langsung teriak histeris melihat Gemal dan Diana bertengkar.


"Gemal, lepaskan Diana." Mam Jes menarik punggung putranya.


Diana kesakitan, karena kedua tangannya dikunci sedangkan Gemal ada di atasnya.


"Sialan kamu Gemal!" Diana mengigit kuat leher.


"Astaga, perempuan rabies." Gemal berusaha melepaskan diri.


Pintu kembali terbuka, Calvin langsung meminta Diana dan Gemal agar berhenti bergulat menjadi satu sampai mam Jes menangis.


"Kalian berdua bisa tidak jangan bertengkar di atas ranjang." Calvin menarik Gemal menjauh.


Mam Jes menangis langsung memeluk Diana, dia ingin memukul Gemal tapi tidak tega, menangis tidak membuat keduanya berhenti.


"Gemal jahat."


"Diana baik-baik saja mam." Di tersenyum memeluk agar berhenti menangis.


"Gila kamu Gem, wanita kamu lawan."


"Wanita apa yang bisa membuat leher berdarah." Tangan Gemal menyentuh darah di lehernya.


Kening Gemal berkerut melihat kamarnya sudah hancur dan berantakan, mainan tersebar di segala arah.


Calvin juga sama kagetnya, menatap Diana dan Gemal yang bertengkar sampai menghancurkan isi kamar.


"Kalian berdua sedang bertengkar? kenapa mengorbankan sekitar." Kepala Calvin gelang-gelang.


"Bukan Gem yang melakukannya."


Diana langsung melangkah keluar, diikuti oleh Gemal yang meminta Diana merapikan kamarnya yang sudah hancur.


"Di, Diana. Berhenti." Gemal menarik tangannya.


"Apa? kamu masih ingin bertengkar?" Di melotot melihat leher Gemal yang merah.


"Tangguh jawab." Gemal menunjuk lehernya yang terluka.


Diana tersenyum sinis, apa yang terjadi bukan kesalahan Diana, Gemal yang memulai lebih dulu karena lancang memeluknya.


Kening Gemal berkerut, dia memang memeluk Diana tapi hanya di dalam mimpinya. Jika nyata Gemal juga akan menolak.

__ADS_1


"Kamu memeluk dalam mimpi jidatmu, aku nyata Gemal."


"Tapi kamu suka di dalam pelukan aku?" Mata Gemal melotot menantang Diana.


Tendangan kuat menghantam perut Gemal sampai jungkir balik jatuh di lantai, Gemal meringis kesakitan melihat Diana yang main kasar.


Suara teriakan Gemal terdengar, Diana selalu saja ingin menang dan menyakiti lebih dulu.


"Apa kalian berdua ingin dinikahkan?" Calvin menghela nafasnya.


"Tidak!" Gemal dan Diana menjawab secara bersamaan.


Di langsung pamit pulang, Gemal juga langsung melangkah ke kamarnya merasa kesal dengan Diana.


Tatapan Gemal melihat lantai ada setetes darah, langsung berlari kencang menuruni tangga sambil memanggil Diana.


Tatapan semua orang binggung, melihat Gemal yang berlari keluar untuk menghentikan Diana yang memutuskan untuk ke rumah sakit.


"Kamu terluka Di?" Gemal berkeliling mengecek Diana yang berdarah.


"Aku baik-baik saja." Di menunjukkan kedua tangannya yang tidak ada luka.


"Di dalam kamar ada darah."


"Kamu mimisan bodoh." Tangan Diana mengusap hidung, membersihkan darah yang keluar dari hidung.


Dimas dan Anggun masih terdiam, melihat Diana dan Gemal dari balik jendela. Jessi tersenyum manis menyukai hubungan keduanya yang saling mengkhawatirkan.


"Tidak bisakah mereka segera dinikahkan, aku ingin menggendong cucu." Mam Jes tersenyum melihat Anggun.


Calvin mempersilahkan Dimas dan Altha untuk makan bersama, membiarkan dua anak muda dengan urusan mereka.


Di meja makan sudah tenang, anak-anak sudah makan dan memutuskan untuk menonton tv. Nenek Chika melihat Jessi yang tersenyum bahagia.


"Gemal sudah bangun?"


"Sudah Mi, lagi sayang-sayangan."


"Ada apa? Gemal dan Diana kalian biarkan berduaan. Lebih baik dinikahkan."


"Pa, lebih baik kita makan jangan membicarakan hubungan yang menjadi urusan Diana dan Gemal. Jika Gemal serius, dia harus membicarakan dengan kedua orang tua Diana, karena mereka yang menjalani bukan kita. Berhenti untuk menjodohkan." Tatapan Calvin dingin, meminta maaf kepada Dimas.


Senyuman Dimas terlihat, meminta maaf juga karena sikap Diana yang kasar memukuli Gemal.


Jessi langsung tertawa, tatapan suaminya langsung membuatnya diam dan menutup mulut.


"Diana memukul Gemal, kisah cinta mereka unik. Kita pertama bertemu juga karena aku menampar kamu?" Jessi tersenyum melihat suaminya.


"Anggun juga, aku kira dia penjahat dan akhirnya dipukuli banyak orang." Senyuman Anggun terlihat menatap suaminya.


"Aliya beda lagi, aku memaksa Altha menikahi aku." Al tersenyum tanpa rasa bersalah.


Jessi langsung menatap Aliya binggung, dia menjebak Altha seorang polisi, sedangkan Aliya masih siswa yang belum lulus sekolah.

__ADS_1


"Maminya Tika tiga tahun tidak naik kelas."


"Wow, lambat sekali. Pasti kerjaannya tawuran." Calvin menggelengkan kepalanya.


"Uncle benar, Maminya Tika selalu bertarung." Tatapan Tika melihat Papinya yang nyengir.


Jessi bertepuk tangan, Aliya dan Diana sama-sama hebat dalam bela diri. Dirinya menyukai wanita kuat.


"Mami Tika hebat bela diri, tapi tidak pernah memukul Papi. Mami sayang Papi juga kita berempat. Kalau kak Di, Tika juga sering dipukul, Dean juga selalu menangis karena kak Diana banting." Ekspresi Tika manis sekali memuji Maminya.


"Tidak masalah, Diana banting saja Gemal. Jika mereka punya anak, Mam Jes yang menjaga anaknya. Diana sama Gemal teruskan saja saling membanting." Senyuman Jessi terlihat, mengusap kepala Tika yang sangat cantik.


"Habiskan makanan kamu Jessi." Calvin menatap sinis istrinya yang banyak bicara.


Suara langkah kaki Diana terdengar, mengambil kain dan air tanpa bertanya kepada pemilik rumah.


"Untuk apa sayang, kamu membanting Gemal lagi. Lanjutkan saja."


Calvin meletakan sendok makannya, menarik telinga istrinya yang mulutnya tidak punya rem. Ada tamu di rumah, tapi tidak bicara sopan.


Dimas dan Altha tersenyum, Calvin dan Jessi sama seperti mereka memiliki Istri yang cerewet dan tidak bisa diam.


"Maafkan cara bicara Jessi yang membuat tidak nyaman." Calvin meminta istrinya diam.


"Tika suka dengan Mam Jes."


"Mam Jes juga suka sama kamu, kamu ingin menginap tidak. Aku juga harus menyiapkan kamar untuk Diana, Tika, dan Ria. Dean dan Juan ingin menginap tidak ya?" Jessi meminta maid membersikan seluruh kamar tamu.


Aliya dan Anggun kebingungan cara menolak, menatap suami masing-masing yang memberikan senyuman.


"Ye, malam ini kita semua menginap di rumah kak Gemal." Tika berlari mengabari adik-adiknya.


"Terima kasih, aku bahagia melihat banyak orang di rumah ini. Rasanya aku merasakan kehidupan kembali." Jessi mengusap matanya, menahan air mata.


Aliya mengusap punggung, tersenyum melihat Jes sehat dan bahagia juga membuat mereka semua bahagia.


Diana masih sibuk menghentikan mimisan Gemal, dan keduanya akur di ruang tamu. Gemal juga hanya diam menatap wajah Diana.


"Sejak kapan kamu sering mimisan?"


"Entahlah, aku tidak menyadarinya."


"Gemal, kamu bahagia."


"Lumayan, tapi aku masih memiliki ketakutan Di " Gemal mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Aku takut menyukai seseorang, dan takut kehilangan dia." Tatapan Gemal melihat Ria yang berlarian.


"Siapa dia? kamu memiliki banyak wanita tidak heran lagi. Jika ada wanita yang tidak bisa kamu dapatkan pastinya aku. Benar tidak?" Diana tersenyum menyentuh hidung Gemal.


Gemal langsung tertawa, menutup wajahnya yang merasa malu dengan ucapan Diana.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2