ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENDUKUNG


__ADS_3

Diana melangkah ke kamarnya sambil menatap putrinya yang berjalan di sampingnya. Di berjongkok, memegang pundak Isel.


"Sel, kamu tidak boleh menceritakan kepada siapapun atas apa yang kamu lihat. Pertengkaran Kak Tika dan Kak Gem tidak boleh diketahui siapapun?" Di menganggukkan kepalanya meminta persetujuan Putrinya.


"Iya Mama, Kak Tika serem kalau marah." Isel nyegir menunjukkan giginya.


Diana masih tidak percaya dengan Isel, dia mengenal Putrinya yang cerewet dan mulutnya bisa membocorkan kepada seluruh orang.


"Kamu tidak boleh mengatakan apapun yang kamu dengar dan lihat, apapun itu." Di menegaskan kembali.


"Iya Mama, tidak boleh mengatakan apapun yang Isel lihat."


"Dengar juga,"


"Baiklah Mama. Bisa bantu Isel, lihatlah cacing di perut meminta makan, buatkan susu ya Mama." Wajah Isel memelas.


Diana memberikan jari kelingkingnya, meminta Isel berjanji akan menepati janji untuk tidak membocorkan kepada siapapun. Isel langsung menyambut dengan penuh keyakinan.


Langkah kaki Isel bersemangat mengikuti Diana ke dapur untuk membuatkannya susu, sambil berjalan joget-joget di belakang Diana.


"Sel, apa yang diributkan Uncle Genta?"


"Isel tidak tahu,"


Diana tersenyum melihat Putrinya yang berjalan mengikuti gaya pinguin, nada bicara juga seperti anak-anak baru belajar bicara.


"Sel, kenapa kamu tidak bisa berhenti minum susu?"


"Mama kenapa tidak berhenti minum air putih?"


"Itu kebutuhan, kamu juga harus banyak minum air."


"Sama susu juga kebutuhan, gaya hidup sehat dengan makan 4 sehat lima sempurna, dan ada susu di dalamnya. Jadi Isel bisa sehat dengan minum susu."


Diana menepuk jidat, anaknya tidak pernah kalah berdebat ada saja jawabannya yang tidak bisa Di bantah lagi.


"Berarti mulai besok berhenti memakan es krim." Di tersenyum menyerahkan susu botol.


Kepala Isel menggeleng, dia akan terus memakan es krim sampai tidak ada lagi yang membuatnya. Isel berpikir jika dirinya membantu pembuat es krim dengan membeli dan memakannya.


"Mama tahu kenapa es krim di jual?"


"Tidak tahu, memangnya kenapa?"


"Es krim enak, dan juga kita membantu perekonomian pabrik es krim. Mama juga harus tahu di mana ada penjual maka ada pembeli. Isel benar tidak?"

__ADS_1


"Capek Mama Isel, cepat masuk kamar." Di membuka pintu melihat suaminya yang masih sibuk mengerjakan sesuatu..


"Kenapa lama sekali Di?"


"Tanya anakmu,"


Isel naik ke atas ranjang, menghabiskan susunya. Matanya juga sudah sayu menahan ngantuk.


Diana duduk di samping suaminya yang masih fokus di tumpukan kertas juga laptopnya.


"Kak Gem, Tika dan Genta pacaran." Di menghela napasnya.


Gemal langsung menghentikan aktivitas, menatap kaget istrinya yang terlihat binggung. Gemal sudah menduga jika Genta mencintai Tika.


"Bagaimana jika Altha tahu? dia tidak mungkin setuju."


Gemal sepemikiran dengan istrinya, sudah tahu watak Altha yang sangat posesif kepada kedua Putrinya. Tika masih terlalu muda, sedangkan Genta sudah memikirkan masa depan.


Menaklukkan hati Altha tidak mungkin mudah, belum lagi sikap keras Tika yang belum dewasa. Hubungan keduanya akan rumit, dan melibatkan dua keluarga.


"Dari mana kamu tahu sayang?"


"Diana mendengar dan melihat secara langsung jika keduanya bertengkar karena foto Genta bertemu wanita di perpustakaan, tahu sendiri bagaimana watak Tika?"


"Dia pasti mencari pria untuk membalas Genta, petaka itu sayang. Kita dulu tidak seperti itu." Gemal geleng-geleng kepala.


"Aku akan bicara dengan Genta." Gemal melangkah keluar kamar menuju kamar adiknya.


Dari jauh Gemal sudah bisa melihat Genta yang berjalan ingin keluar rumah, langsung memanggil dan menghentikannya.


"Mau ke mana? kamu tahu ini jam berapa?"


"Ada apa kak?"


"Orang tua bertanya itu dijawab, bukan bertanya balik." Gemal menatap dingin adik lelakinya.


"Genta ingin ke ruangan latihan." Genta berjalan bersama Gemal menuju ruangan pertarungan.


Gemal duduk bersama Genta, mempertanyakan kebenaran apa yang Di katakan. Ingin mendengar langsung dari Genta.


"Banyak wanita, kenapa harus Tika? Kak Hendrik memilih Rindi yang setengah gila, sekarang kamu juga memiliki wanita dari dalam keluarga kita. Kamu sudah memikirkan resikonya?" Gemal menyilang tangannya di dada.


Keheningan malam semakin hening dengan sikap Genta yang memilih diam, Gemal masih setia menunggu Adiknya memberanikan diri untuk bicara.


"Apa aku tidak akan mendapatkan restu?"

__ADS_1


"Itu masalah kesekian, masalah utamanya Tika masih muda Genta. Tidak mungkin dia siap hanya setia kepada kamu." Gemal menaikkan nadanya.


"Apa salahnya Kak? dia muda usia. Pikirannya sudah dewasa, dan Genta percaya Tika bisa menjaga hubungan kami."


"Apa yang kalian jaga? lalu apa yang kalian ributkan? kepercayaan penting dalam hubungan, saling terbuka juga penting bukan hanya buka baju, namun pikiran." Gemal langsung tertawa, memukul kepala Genta yang menangapi serius.


Gemal menyadari jika Genta sudah memegang komitmen dan mempercayai perasaannya, jika dia mencintai dan memilih wanitanya.


Gemal juga pernah muda, tahu rasanya jatuh cinta yang muncul kepada wanita yang sebenarnya tidak mungkin dirinya pacari, tapi siapa yang tahu soal hati, dia memilih pasangan sendiri.


"Apa yang kamu lakukan jika tidak direstui?"


"Apa alasan keseriusan aku tidak disetujui?"


"Genta, aku tahu kamu serius. Altha bukan pria yang mudah kamu taklukan." Gemal menatap sinis.


"Apa Daddy Dimas mudah ditaklukkan? Kak Gem mengambil Putri semata wayangnya."


Gemal mengerutkan keningnya, ucapan Genta memang ada benarnya. Masalahnya Diana wanita dewasa yang memang sudah waktunya menikah, berbeda dengan Atika yang masih terlalu muda.


"Muda itu di bawah umur Kak, jika Papinya Tika tidak setuju setidaknya alasan harus bisa Genta terima. Apa dia tidak menyukai asal-usul Genta? tidak menyukai perkejaan, kepribadian, sikap, tindakan, dan cara berperilaku Genta? apa dia tidak setuju karena usia Tika?" Genta mengusap wajahnya, jika karena usia Genta siap menunggu sampai kapan waktu yang tepat untuk Tika menikah sesuai keinginan kedua orangtuanya.


Gemal bertepuk tangan, mengakui keberanian Adiknya untuk setia menunggu dan tetap mempertahankan hubungan.


"Kak Gemal mendukung kamu, tapi jika ditolak jangan menangis."


"Masalah hubungan hanya satu, kamu sulit menyatukan pikiran masing-masing."


"Jangan dipikirkan, wanita memang sulit dipahami. Menjadi laki-laki cukup mengalah saja, wanita akan diam saat merasakan rindu." Gemal menepuk pundak Genta kuat, mata kedua menatap ring.


Sudah lama Gemal tidak bertarung, apalagi melawan adik lelakinya. Genta belum siap, namun sudah mendapatkan pukulan kuat menghantam wajahnya.


"Kak Gemal, ini licik." Genta memegang darah dari hidungnya.


Pertarungan terjadi, Gemal tidak memberikan kesempatan untuk Genta melawannya. Genta memiliki keraguan menyakiti Kakaknya, tapi tubuhnya dipukuli tanpa ampun.


"Kamu tidak ingin memukul aku Gen? takut kepada Diana atau Isel."


"Dua-duanya pasti mengamuk jika aku membuat Kak Gemal babak belur." Genta memegang bibirnya yang pecah.


Gemal beranjak pergi meninggalkan, mengetuk kamar Tika hanya meniggalkan kertas.


Tika membuka pintu, tidak melihat siapapun hanya secarik kertas mengatakan Genta bertarung di ring.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2