ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERUSIR


__ADS_3

Di dalam kamar Tika sudah menunggu Genta, baju yang dikenakan juga sangat seksi untuk malam pertama.


Shin sudah diungsikan ke rumah Mamanya, hanya Genta dan Tika berduaan tanpa ada yang menganggu.


Pintu kamar terbuka, Genta berjalan pelan masih memiliki banyak pertanyaan soal hubungan Juna. Genta masih tidak percaya jika adanya cinta diantara keduanya.


Pelukan erat terasa, kedua tangan Tika tergantung di leher. Senyuman Genta terlihat memeluk pinggang istrinya mengusap punggung yang sudah terekspos.


"Maafkan aku kemarin tidak pulang, terima kasih sudah mengerti." Pelukan lembut terasa.


Kepala Tika mengangguk, dia sangat mengerti pekerjaan suaminya dan tidak terlalu mempermasalahkan kesibukannya meksipun tidak bisa Tika pungkiri dirinya merasa kesal.


"Aku mandi dulu sayang, gerah." Genta berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Tika yang sudah cemberut.


"Pria satu ini tidak tergoda sama sekali, tidak menunjukkan ekspresi mengagumi keseksian Tika." Tubuh Tika berputar-putar di depan kaca melihat tubuhnya yang trawangan menunjukkan tubuh yang indah.


Mata Tika sampai mengantuk menunggu Genta keluar dari kamar mandi, matanya yang sayu langsung terbelalak melihat tubuh tanpa baju.


Rambut Genta yang basah dikeringkan, Tika mengigit bibir bawahnya menyaksikan tubuh sempurna suaminya. Rasanya Tika sedang menonton film dewasa mengangumi ketampanan suaminya.


Genta melempar handuk ke arah wajah Tika yang cengengesan tersenyum dengan pikiran liarnya.


"Malam ini kita tidur lebih awal, aku sedikit lelah." Genta naik ke atas tempat tidur memejamkan matanya.


"Bagaimana dengan malam pertama kita? bukannya kita harus bercinta terlebih dahulu." Tatapan sinis terlihat meminta Genta bangun.


"Mata kamu saja masih sayu Tik, sini aku peluk." Tangan ditarik untuk masuk ke dalam pelukan.


"Tidak mau, Tika ingin bercinta. Aku ingin merasakan hubungan suami istri di video," ucap Tika tanpa rasa malu sedikitpun.


Helaan napas Genta terdengar, memeluk lembut istrinya. Genta meminta maaf karena dia belum bisa konsentrasi karena masih memikirkan soal pelarian Dina.


Kecupan Tika mendarat di bibir suaminya, meminta menyingkirkan Dina dari otaknya, cukup Tika seorang. Tidak ada balasan dari Genta, hanya senyum kecil.


Mata keduanya terpejam, Tika memulai lebih dulu karena menunggu Genta mulai membuatnya bisa jamuran karena tidak disentuh.


Bibir keduanya bersentuhan, tangan Tika menyentuh dada mengigit pelan leher jenjang suaminya.


"Ayang, kenapa tidak menyentuh Tika?"


"Aku ... aku canggung dan ini rasanya asing," bulu kuduk Genta berdiri mengusap lehernya.


"Ayang malu kepada istri sendiri, apa tidak menggoda sama sekali? haruskah aku tanpa busana." Tika menunjuk tubuhnya yang sangat indah.

__ADS_1


Senyuman Genta terlihat, dia mengakui tubuh Tika sangat indah. Namun Genta belum pernah menyentuh, dan takut ada rasa tidak nyaman.


"Untuk apa kita menikah jika masih tidak ingin bersentuhan?"


"Tunggu sebentar aku jawab telepon dulu." Genta turun dari ranjang membawa ponselnya.


Baju Genta ditarik oleh Tika, bajunya sampai robek. Tika menarik rambut Genta yang teriak kesakitan.


Tubuh Genta terlentang, Tika berada di atasnya. Tangan Genta masih sempat melihat ponselnya langsung menjawab panggilan. Genta tidak bisa berbicara karena mulutnya bersentuhan dengan istrinya.


"Tika tunggu sebentar,"


"Satu dua tiga ... lima." Tika menciumi bibir suaminya.


"Atika, aku mengatakan tunggu! aku sedang bicara hal penting." Genta membalik tubuh Tika sampai berada di bawah.


Tendangan Tika menghantam tubuh Genta sampai terlempar ke bawah tempat tidur. Genta meringis kesakitan memegang perutnya karena ditendang kuat.


Panggilan langsung dimatikan, Genta berdiri melihat istrinya yang ingin mengajak berperang.


Bantal guling dilempar ke arah wajah, Genta masih bisa menghindar. Handphone Tika juga melayang langsung ditangkap oleh Genta.


"Tika berhenti, apa yang kamu lakukan?"


Tidak ingin babak belur, Genta langsung berlari keluar kamar dalam keadaan acak-acakan bajunya juga sampai robek.


Tanpa sengaja Juna juga ada di rumah, berjalan pelan dari lantai atas melihat Genta yang dipukuli.


"Aku pergi dulu Gen,"


"Tunggu Juna, kenapa kamu dari lantai atas? apa ada hal penting?"


Arjuna menunjukkan barang yang dia bawa dari kamarnya, helaan napas Juna terdengar melihat kondisi Genta.


"Dia bukan kucing mengemaskan, tapi kucing garong." Juna tersenyum melihat Genta menutupi tubuhnya dengan baju sobek.


Suara pintu ditendang terdengar, Tika melempar bantal guling ke luar, mengenai kepala Genta.


"Sayang, kenapa mengamuk? aku hanya menjawab panggilan saja." Genta mengetuk pintu meminta dibuka.


Kepala Juna geleng-geleng, Genta terusir dari kamarnya. Kondisi juga memprihatinkan karena baju sobek rambut acak-acakan.


"Juna, kamu ingin pergi ke mana?"

__ADS_1


"Malam ini Juna balik apartment, ada operasi yang cukup lama untuk besok." Juna pamit pergi menutup pintu pelan.


Panggilan Genta terdengar, ingin meminta waktu Juna untuk mengobrol. Ada beberapa hal yang ingin Genta pertanyaan agar hatinya tidak gelisah lagi, juga pikirannya tidak berpikir hal buruk.


Mendengar adik iparnya ingin bicara Juna mengiyakan. Ada hal penting juga yang ingin Juna bicarakan empat mata.


"Kamu ingin minum apa? maaf ya kamu angkat kaki dari sini. Aku juga meminta izin membiarkan Shin tinggal bersama kami." Juna membawa minuman yang Juna inginkan.


Genta akan mengembalikan uang Juna untuk ganti ruginya, dan tidak melarang kapanpun Juna ingin menginap.


"Sudahlah Kak Gen, jangan memikirkan soal mengembalikan uang. Kita keluarga, tidak harus berhitung. Apapun keputusan Kak Gen soal rumah ini Juna tidak punya hak ambil suara." Senyuman Juna terlihat, meneguk minuman.


Tangan Genta merapikan rambutnya, sesekali membicarakan soal Dina yang membuat Juna harus melamar Ana.


Dina wanita yang sangat licik, dia menggunakan pakaiannya untuk bersandiwara dan membuat orang kasihan.


"Kak Genta harus berhati-hati jika dia terkenal licik,"


"Ya, aku harus segera membawanya kembali ke dalam penjara. Berlama-lama di luar terlalu berbahaya untuk banyak orang." Perasaan Genta belum tenang jika Dina belum ditemukan.


Sepengetahuan Genta, Dina tidak memiliki komplotan hanya orang-orang yang di bayar sesuai yang diinginkan.


"Jun, kenapa kamu membatalkan pertunangan? aku mendengar karena ada wanita yang kamu sukai?" Genta tidak mewajibkan Juna menjawab, dia hanya penasaran.


Kepala Juna mengangguk, ucapan seluruh keluarga benar. Juna menyukai seseorang yang akan membingungkan semua orang.


"Dipercepat saja Jun, perkenalkan dia dengan keluarga kita,"


"Semua orang mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya." Juna tersenyum tidak ragu sama sekali menjawab rasa penasaran Genta.


"Siapa?"


"Kak Genta jangan jantungan,"


"Kenapa aku jantungan? tidak mungkin dia ...."


"Dia memang Shin Kak, aku menyukai Shin meskipun belum diungkapkan, dan aku belum tahu perasaan Shin,"


Genta terdiam, masih mengatur jantungnya yang hampir benar-benar jantungan. Juna tidak berusaha menyembunyikan, bahkan membuat Genta terdiam seribu bahasa.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2