ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
INGIN MENIKAH


__ADS_3

Sudah paya Shin mencoba mengingat nama-nama keluarganya, bahkan dia tidak tahu siapa dirinya. Shin hanya mengenal Juna dan langsung tahu jika mereka sangat dekat.


"Kamu tidak ingat aku?"


"Tika, nama kamu Tik itik,"


"Sialan, kita bersama sejak muda. Bagaimana bisa kamu melupakan sahabat yang susah senang bersama, makan bersama, tidur dan melakukan segalanya bersama. Bagaimana bisa kamu melupakan aku Shin?"


Kepala Shin geleng-geleng, dia merasa masih muda dan cantik hanya Tika saja yang sudah tua. Shin juga tidak ingin hidup susah bersama Tika, apa lagi makan dan tidur bersama.


"Aku tidak suka Tika, tapi aku suka cowok ganteng itu." Tangan Shin menunjuk ke arah Genta yang mendekat sambil tersenyum manis.


Genta memeluk Shin, langsung disambut. Pelukan Shin sangat erat, bahkan mencium wajah Genta yang tampan dan bau tubuhnya wangi.


"Gantengnya,"


"Aku Kakak kamu Shin,"


"Kakak lagi, tadi sudah ada Kakak. Kenapa Kakak Shin ganteng semua." Senyuman manis Shin terlihat sambil tertawa cekikikan.


"Dia suami aku bodoh!"


Shin melihat ke arah Tika, menatap Genta dan Tika bergiliran. Shin masih tidak percaya jika kakaknya memilih wanita galak dan selalu bermain tangan.


Melihat semua orang berkumpul membuat Shin senang, dia merasa bahagia dikelilingi oleh Mama dan Papa, Kakak, sahabat, keponakan, juga lelaki tampan suaminya.


"Kenapa kamu mengingat Juna?" Aliya menatap Shin lembut.


"Dia suamiku,"


Pintu terbuka Juna masuk bersama Diana, menunjukkan hasil tes kepada Papa Calvin yang menghela napasnya saat melihat hasil pemeriksaan.


"Kamu siapa? kenapa berdua dengan suami Shin?"


"Dia Kakak ipar kamu?" Al menahan tawa melihat Shin memarahi Diana.


"Oh, kenapa banyak sekali iparnya? kalian kembar." Shin menundukkan kepalanya takut melihat mata Diana yang sangat tajam.


Helaan napas Papa Calvin terdengar, memejamkan matanya melihat kondisi Shin. Benturan kepalanya cukup parah sehingga kemungkinan kondisi Shin sama seperti Rindi.

__ADS_1


Dia membutuhkan seseorang yang bisa mengawasinya, meskipun Shin terlihat baik-baik saja hal buruk bisa saja terjadi.


"Aku akan menyediakan dokter khusus untuk mengawasinya, di rumah juga ada aku dan Diana yang akan menjaga."


"Juna rasa itu bukan solusi, Kak Di punya kesibukan dengan keluarganya. Papa Calvin juga tidak bisa menetap lama." Juna mendekati Shin yang secara tiba-tiba langsung melamun.


"Lalu apa solusinya Juna?" Altha menatap putranya yang secara terang-terangan menunjukkan kepeduliannya .


Suasana kamar rawat mendadak hening, menunggu jawaban dari Juna yang tersenyum tulus kepada Shin.


"Aku akan menikahi Shin, aku akan menjaganya sampai kembali seperti Shin yang kita kenal." Juna menatap Shin yang memeluknya, memejamkan matanya meremas kepalanya merasakan sakit.


Tidak ada jawaban, hanya wajah terkejut dan seakan tidak percaya dengan apa yang Juna katakan.


Mata Shin terpejam saat Juna memasukkan suntikan obat ke dalam infus. Pelan-pelan Juna meletakkan kepala Shin di bantal.


"Sebenarnya apa yang terjadi di hotel Juna? kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu?"


Senyuman Juna terlihat, penjelasan yang pernah dia katakan tidak akan diulangi lagi. Menikahi Shin solusi terbaik agar Juna bisa mengawasinya.


"Aku tahu kamu mencintai Shin, tapi kondisi ini tidak dijadikan alasan Jun. Bagaimana jika Shin keberatan?"


"Juna pernikahan bukan hanya soal cinta, pikiran masa depan kalian berdua. Bukan Papi tidak setuju, tapi ini terlalu cepat." Altha baru saja melepaskan Putrinya, dan sekarang Putranya juga.


"Aku setuju dengan Juna, daripada kita menunggu lama kesembuhan Shin tanpa kepastian. Ingat ataupun tidak bukan hal yang penting, intinya rumah tangga mereka bahagia. Contohnya Kak Hendrik menikahi tanpa cinta, dan sekarang menanti buah hati." Gemal percaya kepada Juna dengan ketulusan.


Bukan hanya Hendrik sebagai contoh, Altha dan Aliya juga menikah tanpa cinta dan berakhir bahagia.


Selama tujuan Juna ingin menjaga, melindungi dan membahagiakan maka tidak ada yang salah.


Ucapan Gemal mendapatkan dukungan dari Diana, Aliya juga setuju jika menikahkan Juna dan Shin.


"Bagaimana dengan Papa dan Mama?"


"Kenapa cepat sekali?" Mam Jes mengusap air matanya.


"Bagaimana dengan kamu Altha?" Papa Calvin menunggu persetujuan atau penolakan.


"Bagaimana dengan kamu Tika dan Genta?" Papi Altha melihat Tika yang hanya diam biasanya paling heboh.

__ADS_1


Kepala Aliya mengangguk, dia menyetujui keputusan kakaknya. Alt menatap menantunya yang masih diam karena binggung.


Pernikahan Tika dan Genta masih seumur jagung, dan dibuat binggung dengan pernikahan ipar. Genta paham Adiknya membutuhkan seseorang yang bisa mengawasinya, dan mengobati Shin.


"Genta sebenarnya menolak, tapi apa yang dikatakan Juna ada benarnya. Apa suatu hari kamu akan meninggal Shin? jika tidak sesuai harapan kamu?"


"Pertanyaan apa itu? aku yang mencintai Shin, semuanya akan berakhir jika dia yang meninggalkan aku." Juna tersenyum menatap wajah Shin yang sudah terlelap tidur.


Permintaan terakhir Juna yang cukup mengejutkan semua orang, dia menginginkan pernikahan sederhana hanya keluarga inti. Setelah Shin sembuh dan mengingat mereka semua, barulah ada pesta perayaan.


Konsentrasi Juna hanya ingin fokus kesembuhan Shin, setelah semuanya membaik maka keluarga boleh merayakannya.


"Bagaimana jika Shin ingat semuanya meminta bercerai?" Di menutup mulutnya yang keceplosan.


"Apa ada alasan seorang wanita menolak Juna?"


Suara tawa terdengar, ucapan Juna pertama kalinya di dengar dengan penuh percaya diri mengakui jika dirinya tampan dan mempesona.


Permintaan Juna dituruti, tidak ada pesta atau perasaan apapun. Hanya pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga inti.


Aliya akan mengurus surat menyurat pernikahan, dan setelah semuanya selesai barulah pernikahan sudah dilangsungkan.


"Mi, tolong dipercepat prosesnya. Jika bisa dalam hitungan hari kami sudah menikah." Juna melangkah keluar, meminta keluarga pulang agar tidak menggangu istirahat Shin.


"Kenapa Juna terburu-buru sekali?" Mam Jes menatap suaminya.


"Juna belum menyatakan perasaannya, tapi Shin sudah hilang ingatan. Juna buru-buru karena takut Shin ingat dan menolak dirinya." Gemal yakin sekali jika Juna takut jika perasaannya di tolak sehingga memilih langsung menikah.


"Gen, kamu pulang dulu, Papa dan Mama yang jaga di sini. Kasihan Tika juga membutuhkan istirahat." Papa Calvin menepuk pundak Genta.


Tika menolak untuk pulang, dia ingin berada di sisi Shin meksipun tidak diingat. Dulu mereka tidak pernah terpisahkan, tapi sekarang terlupakan.


Apa yang menimpa Shin juga luka bagi Tika, dia tidak berani bermesraan lagi dengan suaminya karena merasa bersalah sudah berbohong.


Tika ingin Shin mengingat semuanya, dan mengatakan apa yang terjadi. Reza mengakui hubungannya dengan Shin, tapi Tika masih tidak percaya jika terjadi sesuatu. Kesedihan di mata Reza seperti seseorang yang tidak memiliki harapan lagi.


"Cepat ingat Shin, masa depan rumah tangga aku ada di kamu. Genta tidak menyukai kebohongan apalagi menyembunyikan sesuatu." Tika menggenggam tangan Shin berharap mereka berdua akan bahagia tanpa saling menyakiti.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2