
Tatapan Juna melihat langit yang cerah, Gemal juga melihat ke bawah mengawasi sekolah Juna yang dijaga ketat.
Arjuna meminta Gemal melihat ke arah kiri, menggunakan teropong. Kening Gemal berkerut, Juna anak yang sangat pintar.
"Ada beberapa orang yang mengawasi Juna, mereka tersebar di beberapa tempat. Kejadian ini sudah berlangsung hampir lima tahun." Senyuman Juna terlihat sangat santai.
"Kamu tidak takut?"
"Kenapa harus takut? mereka tidak akan bisa menyentuh aku. Apa yang mereka inginkan belum tentu keberadaannya, terkadang ada guru, anak kecil, nenek, kakek, orang lumpuh, cacat banyak jenis penyamar yang mendekati." Tatapan Juna melihat ke arah parkiran dan bisa mengenali mobil Diana yang terparkir.
Sejak kecil Arjuna sudah dilatih kepekaannya, kedewasaan, mental dan kejiwaannya. Meksipun dirinya tidak pernah mengatakan langsung, tidak mendengar langsung bisa mengetahui apa yang disembunyikan orang tuanya.
"Saat Juna kecil, Mama dan Papa bercerai, lalu Papa menikahi lagi, Mama juga menikah lagi. Adik bungsu Juna meninggal, seseorang meninggal bunuh diri di depan Juna." Senyuman Juna terlihat menceritakan kepada Gemal bahkan dia ditusuk, juga hampir mati di dalam kobaran api.
Papi dam Mami Juna tidak pernah mengungkit apapun, tapi semuanya Juna jadikan pelajaran hidupnya.
"Kamu trauma, menyalahkan keadaan."
"Awalnya aku menyalahkan Papi yang tidak bisa bertahan, tapi seiring waktu Juna mengerti Papi berhak bahagia. Mami Juna juga memiliki cinta yang sangat besar, dan Juna bersyukur untuk itu meskipun Mama Juna di penjara." Kepala Juna menoleh ke arah Gemal yang terkejut.
Gemal mengingat sosok Citra yang sangat cerdik, kepintaran Citra turun kepada Juna yang bisa memahami banyak hal.
"Saat ini Juna tidak memiliki ketakutan, meksipun selalu diawasi."
"Kenapa? apa karena kamu merasa hebat?"
"Tidak ada orang hebat di dunia ini, satu Juna punya sang pencipta, dua Juna punya keluarga, dan yang ketiga Juna mempercayai diri sendiri jika bisa mandiri." Tangan Juna melambai melihat Maminya sudah ngos-ngosan.
Aliya langsung memeluk Juna erat, mengecek seluruh bagian tubuh putranya yang kemungkinan terluka.
Al langsung berlutut menggenggam tangan putranya yang menyimpan sesuatu yang sangat besar.
"Kenapa Juna melakukan ini kepada Mami?"
"Sorry Mi, Juna baik-baik saja, selama ini mereka tidak menyentuh Juna." Arjuna langsung duduk di depan Maminya yang meneteskan air matanya.
Al menakup wajah Juna, memperingati Juna jika wanita yang mengawasinya seorang psikopat. Mereka bisa mencelakai tanpa berpikir.
"Mami, kak Di juga mantan psikopat." Juna menatap Diana yang melotot tajam seakan-akan ingin melemparnya dari atas gedung.
__ADS_1
"Mami kamu juga psikopat." Di mengejek Juna yang menggelengkan kepalanya.
"Kalian keluarga psikopat?" Gemal menatap Aliya dan Diana bergiliran.
Aliya dan Diana melayang pukulan, Gemal langsung terduduk memegang perutnya yang sakitnya ingin merenggut nyawanya.
"Astaghfirullah Al azim, Gemal masih sakit." Al meringis melihat ekspresi Gemal yang menahan sakit.
Diana langsung menyentuh perut Gemal, meminta maaf karena kelepasan langsung memukul.
"Kalian memang saudara kembar, sama-sama mematikan." Gemal menatap Juna yang tersenyum.
Tatapan Gemal langsung tajam, Aliya juga sama tajamnya, Diana juga melihat dengan ekspresi menyeramkan.
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa berhamburan meninggalkan sekolahan. Gemal melihat di bawah sudah hampir sepi, dan melihat seorang wanita berdiri di depan mereka.
Aliya langsung melindungi Juna, Diana juga menjaga Juna agar tidak tersentuh. Jika ada yang menyakitinya sama saja mengantarkan nyawa.
"Hai Gracia, kamu mengambil kehidupanku, tanpa rasa bersalah masih bisa tertawa bahagia." Tatapan tajam sampai mata memerah melihat Diana dan Aliya.
Diana tersenyum sinis, dia tidak punya waktu untuk menangisi nasib orang lain, dirinya terlalu sibuk untuk menyempurnakan diri sendiri.
"Bukan aku yang membuang kamu, tapi keluarga kamu."
Tangan Diana langsung mengepal kuat, emosi Diana langsung naik jika mengungkit kematian Diana kecil.
"Kamu yang membunuh dia?"
Senyuman sinis terlihat, sengaja memancing emosi Diana agar terjadi keributan karena orang yang Gracia inginkan Arjuna.
Tangan Juna langsung menggenggam tangan Di, memintanya untuk tenang dan tidak kehilangan kendali.
"Apa kamu berharap aku menangis?" Kepala Diana menggeleng karena bagi Di yang lalu biarlah ada di belakang, apapun yang terjadi sekarang tidak bisa menghidupkan Diana kecil kembali.
Aliya tertawa kecil, Gracia cukup memiliki keberanian mendekati Arjuna saat ada Aliya dan Diana.
"Kamu mendekati singa betina Gracia, tidak akan ada yang melangkah mundur. Kami berdua sudah pernah berada di tekanan berat sampai membuat gila, buang jauh-jauh basa-basi kamu." Al tidak tertarik mendengar ocehan Gracia yang mencari kesempatan untuk mendekati anaknya.
Tatapan Gracia melihat Arjuna yang ada di belakang Aliya, meminta Juna mengembalikan apa yang bukan miliknya.
__ADS_1
Al dan Diana saling pandang, Juna masih diam tidak mengatakan apapun. Melihat tanggapan Juna membuat Gracia marah.
Puluhan pria berbadan besar masuk, Gracia memerintahkan untuk membawa Juna kepadanya sekalipun harus membunuh Aliya, Diana dan Gemal.
Jantung Aliya langsung lemas, rasanya dia ingin menghilang saja saat melihat kurcacinya bermunculan.
Diana juga sama lemesnya, ekspresi Diana terlihat tenang, tapi jantungnya berdegup kencang.
"Assalamualaikum teman-teman?" Ria tersenyum menunjukkan giginya yang ompong.
"Mami dan kak Di kenapa di sini?" Tika kebingungan melihat Maminya ada di sekolah kakaknya.
"Mami lihat giginya Ria sudah ompong, Ria menangis air mata karena kehilangan gigi, tapi guru Ria bilang anak kecil sudah biasa hilang gigi, nanti diganti gigi yang lebih kuat." Ria berjalan menunjukkan giginya ke semua orang tanpa rasa takut.
"Kak Di, Dean kenapa tidak ompong? Dean juga ingin ganti gigi yang kuat." Suara Dean merengek terdengar.
Diana rasanya berhenti bernafas, menelan air ludah saja kesulitan karena anak-anak datang di waktu yang tidak tepat.
"Kak Di, Ria ingin ganti gigi seperti drakula boleh?"
"Kamu ingin menjadi vampir?" tatapan Dean penasaran melihat gigi Ria.
Tika menatap Gracia, dan para bawahannya yang terlihat sangat menyeramkan. Tangan Tika ditarik untuk menjauh.
"Kedatangan kita tidak tepat, ayo kita pulang saja adik-adik." Tika mengandeng Dean dan Ria.
"Tidak mau, kak Juan juga belum datang." Ria melipat tangannya di dada langsung cemberut.
Pintu terbuka kembali, Juan masuk menatap kakaknya Juna yang masih terlihat tenang.
"Kak Juna, ini giginya Ria patah." Juan menyerahkan ke tangan kakaknya.
Gracia mendekati Diana, meminta segera bertindak jika tidak anak-anak akan terluka.
"Juna, di mana gelang yang kamu sembunyikan lima tahun yang lalu?" Di meminta Juna menyerahkan.
Arjuna menatap Gemal yang masih terlihat santai saja, memberikan senyuman manisnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit