ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
LAHIR BABY


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Tika tidak berani turun, dia takut jika turun anaknya ikutan jatuh. Rasa sakit yang Tika rasakan, dia lebih ke cemas memikirkan anaknya mungkin dalam bahaya.


Juna membuka mobil, menggendong Tika ke dalam ruangan persalinan. Salsa mengikuti dari belakang sambil berlari kecil, meminta Tika tenang.


"Kak anaknya Tika baik-baik saja kan?"


"Iya dek, dia pasti baik-baik saja, kamu tenang dan konsentrasi." Arjuna meletakkan Atika di atas ranjang, mengambil infus untuk segera dipasangkan.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Aliya dan Diana hampir jantungan. Altha juga sama langsung pulang bersama Genta yang masih di parkiran.


"Kenapa keluar rumah sudah tahu hamil tua?" Diana menatap ruangan yang masih tertutup.


"Di mana Tika Mi?" Genta sampai berkeringat langsung masuk ke dalam melihat istrinya sudah mengomel karena bukan sakit yang dirasakan, tapi anaknya mungkin sudah keluar.


"Kak, pegang tangan Tika." Juna melepaskan tangan Adiknya digantikan oleh Genta yang panik melihat istrinya yang cengar-cengir merasa bersalah karena jalan-jalan tanpa izin.


Dokter Salsa meminta Tika mendorong, bayi memang hampir keluar. Tidak membutuhkan waktu lama suara bayi langsung terdengar dengan tangisnya yang sangat besar. Tangan dan kakinya sudah bergerak lincah.


Senyuman Genta dan Tika terlihat menatap si kecil lahir ke dunia, suaranya menggema di dalam ruangan membuat Juna tertawa.


"Bayi perempuan, lahir sempurna." Salsa tersenyum menatap si kecil yang memiliki tanda lahir di telapak kakinya.


"Cantiknya." Juna tersenyum seperti melihat Isel saat kecil.


Air mata Tika menetes mengeratkan genggaman tangannya, Genta tersenyum mencium kening istrinya mengucapkan terima kasih karena sudah berjuang menjaga dan melahirkan putri kecil mereka.


"Dokter Salsa, keluarga tidak ada yang membawa baju bayi karena terlalu panik." Perawat menatap Salsa yang sudah tertawa.


"Yang, anak kita tidak punya baju?" Tika memukul lengan suaminya.


Ketukan pintu terdengar, Diana menyerahkan dua koper yang disiapkan oleh Juan dan Dean saat mengetahui Atika melahirkan.


Salsa terdiam menatap koper, seperti ada sesuatu yang mereka lupakan. Salsa mencoba mengingat apa yang terlupakan.


"Astaghfirullah Al azim, di mana Shin?" Salsa menatap Juna yang matanya terbelalak besar.


Diana dan Juna berlari keluar, melihat seluruh keluarga hampir kumpul semuanya. Bahkan Rindi dan Mam Jes juga sudah datang membawa Haidir yang masih tidur.


"Di mana Shin?" Diana menatap semua orang yang menggelengkan kepala.


"Bagaimana kondisi Tika dan bayinya Jun?" Altha memegang pergelangan Putranya.


"Baik Pi." Juna mencari Shin dulu.


"Ayang ... Shin buang air kecil di celana." Shin langsung duduk di lantai melihat banyak air berwarna kuning mengalir di kakinya diikuti oleh darah.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim, ketuban sudah pecah." Juna langsung berlari menggendong istrinya yang masih tersenyum manis memegang permen.


Anggrek yang membantu Shin berjalan takut melihat kondisi dua bumil, Juna membawa Shin ke dalam ruangan yang sama.


"Dok, ketuban Shin juga sudah pecah bahkan diikuti darah." Juna meminta siapapun infus juga stok darah untuk antisipasi.


"Apa yang kamu rasakan Shin?" Dokter Salsa menatap serius.


"Tidak ada, Shin tidak merasakan apapun seperti Tika." Tatapan Shin melihat ke arah tangisan bayi yang ditutupi hanya menggunakan gorden.


Dokter Salsa menyuntik sesuatu, meminta Juna tidak terlalu cemas mereka hanya mengkhawatirkan ketuban kering.


"Tika, anak kamu laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, baby girls." Suara Tika terdengar menjawab.


"Selamat ya Tik, jadi Mama yang ...."


"Melahirkan dulu Shin, nanti mengobrol." Genta menimpali meminta Shin fokus.


Tawa dokter Salsa terdengar, menepuk pundak Juna mendengar ocehan Shin yang masih mengomel.


Secara tiba-tiba Shin langsung meringis kesakitan, perutnya sakit serasa ingin mencabut nyawanya.


"Obat beraksi, bayi harus dikeluarkan secepatnya." Salsa kaget melihat Juna teriak karena Shin menjambak rambutnya.


"Shin yang sakit, Ayang tolong." Remasan tangan Shin sangat kuat.


Cengkraman di rambut Juna lepas, banyak rambut yang ada di tangannya. Juna mengusap kepala sambil merasakan sakit di tangannya yang diremas kuat.


Air mata Shin menetes, mengikuti instruksi Dokter Salsa yang harus mendorong bayinya. Kepala Shin menggeleng merasa tidak kuat lagi, dia kehabisan napas.


Di balik tirai air mata Tika juga menetes, memejamkan matanya sambil memeluk Putrinya mendoakan Shin dan anaknya selamat.


Genta juga melakukan hal yang sama, memohon perlindungan untuk adiknya. Berharap bayi lahir dengan selamat.


Suara tangisan bayi terdengar, Atika sampai kaget saat anaknya terkejut sambil menangis kuat. Kulitnya yang putih langsung merah.


Perawat mengambil bayi untuk menenangkannya, sedangkan satu bayi lagi sudah dibawa untuk dibersihkan.


Genta menyingkap tirai sedikit, melihat Shin yang terbaring lemas. Juna mengenggam tangan sambil mengusap kepala Istrinya pelan.


Keringat dan air mata masih mengalir, Juna sampai meneteskan air matanya. Perasaan Juna sangat mengkhawatirkan Istrinya, tapi berusaha terlihat baik.


"Shin, baby girl or boy?" Tika menatap sahabat yang masih menangis.

__ADS_1


"Alhamdulillah baby girl," Salsa yang menjawab.


Juna langsung menerima bayinya, mengadzani Putrinya yang terlihat cantik dengan lesung pipi kiri.


"Astaghfirullah, Genta lupa." Tangan Genta menepuk jidat karena lupa mengadzani Putrinya.


Suara tawa dan air mata terdengar, ada perasaan haru melihat dua bayi mungil yang launching ke dunia.


Shin memejamkan matanya untuk beristirahat karena kelelahan, begitupun dengan Tika yang sudah hampir tertidur.


Pintu ruangan terbuka, Salsa tersenyum melihat seluruh keluarga berdiri dengan wajah panik, cemas, bahagia, haru bercampur aduk.


"Baby girl lahir sempurna." Salsa tersenyum melihat para wanita berpelukan karena menyambut bayi perempuan.


Gemal mengerutkan keningnya, dua lagi muncul wanita, bersiap saja adanya kerusuhan bekali-kali lipat.


Juna dan Genta keluar membawa bayi yang sangat cantik, Aliya dan Mam Jes langsung menyambut dua bayi cantik yang akan dipindahkan ke ruangan rawat.


Diana celingak-celinguk menatap keduanya, mencari perbedaan dari dua bayi yang lahir beda dua puluh menit.


"Mereka kembar?"


"Tidak Kak, ini baby Tika dan ini baby Shin." Juna menatap dua bayi.


Semua orang langsung berkumpul melihat dua bayi beda Ayah dan Ibu, tapi wajahnya mirip hanya dibedakan lesung pipi kanan dan kiri.


"Kalian berdua request kembar?" Altha tertawa melihat dua cucunya yang cantik.


"Wajah mereka mirip, subhanallah." Aliya mencium bayi hampir meneteskan air mata.


Mata baby Shin terbuka, sangat mirip dengan Shin yang matanya hampir biru sedangkan baby Tika bermata coklat seperti Papanya.


"Om Tante, Anggrek minta maaf ya,"


"Kenapa?" Gemal menatap anak remaja yang terlihat binggung.


"Itu di mobil, Ria pingsan tidak bangun-bangun." Anggrek kebingungan melihat sahabatnya yang tidak bisa dibangunkan.


"Anak kurang ajar satu itu, orang cemas semua, dia pasti asik tidur." Aliya menyerah bayi kepada Diana.


Suara langkah kaki Ria terdengar, berdiri tegak diantara kedua lelaki yang akan melindunginya. Juan mengelap iler dari mulut Ria.


"Ria ada di sini Mami, lama tadi karena berdoa." Ria tersenyum menatap Dean yang mengusap wajah.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2