ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERTUSUK


__ADS_3

Anggun juga sangat gelisah melihat lampu hidup mati, apalagi suaminya keluar sendiri. Dika menatap Anggun meminta mendekat.


"Ada apa lagi ini?" Anggun melihat ke arah rumah Aliya yang lampunya sudah hidup.


Dika mendapatkan panggilan dari Dimas untuk membawa Anggun keluar rumah, begitupun dengan Aliya dan anak-anaknya.


Beberapa rumah yang di awasi, penghuninya langsung keluar semua, pihak keamanan mengumumkan ada tiga buronan yang melarikan diri, dan sedang dalam pengejaran.


Anggun keluar bersama Dika, melihat Aliya juga keluar bersama kedua anaknya. Berdiri di tengah jalanan bersama tetangga lain.


Dika langsung menggendong Tika, memintanya untuk tenang dan tidak takut apapun.


Banyak polisi yang menggunakan baju lengkap berlarian melindungi orang-orang yang rumahnya digeledah.


Dimas mendekati Aliya, memerintah banyak polisi masuk rumah Altha untuk diperiksa detail.


"Ada apa kak Dimas?" Al menatap binggung.


Dimas menceritakan jika Ayahnya Citra melarikan diri bersama lima tahanan, dua dari mereka berhasil ditangkap.


"Apa dia datang ke sini sengaja untuk menyakiti kami?" Al memeluk Juna agar berdiri dekat dengannya.


Dimas belum mengetahui motifnya, tapi nekat menembus keamanan yang sangat ketat tidak ada tujuan lain kecuali balas dendam.


"Siapa yang tertembak?" Anggun mendekati suaminya.


Altha yang melepaskan tembakan, baru dua orang yang berhasil ditahan, dan ayahnya Citra masih bersembunyi di antara salah satu rumah elit.


Lebih dari lima rumah sudah digeledah habis-habisan, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan pria paru baya yang sangat berbahaya.


Tatapan Dimas tajam melihat ke arah beberapa polisi menemukan pakaian serba hitam, langsung melangkah masuk ke rumah Altha.


Dimas langsung masuk bagasi mobil, meminta semuanya mengecek area mobil dan tidak meninggalkan lokasi.


"Pak, salah satu rekan kita terluka."


Dimas menghubungi Altha, salah satu anggota polisi terluka tusuk di belakang rumah Altha dan sudah dipastikan jika sekarang Ayahnya Citra sudah menyamar menjadi salah satu anggota polisi.


Karena baju anggota yang terluka sudah menghilang, Dimas meminta Alt segera meninggalkan kedua pelaku.


Altha berlari kencang kembali, meminta polisi lain yang menggantikan dirinya.


Mendengar kabar posisi terakhir Ayahnya Citra ada di rumah Altha, karena tujuan mereka ingin membunuh Alt yang memenjarakan mereka.

__ADS_1


Aliya dan Anggun saling pandang, banyak polisi yang berlari ke arah mereka langsung masuk ke rumah.


"Mami awas." Juna berdiri di depan Aliya sambil memeluk Maminya.


Tatapan semua orang fokus ke rumah Altha, saat Al tiba langsung melihat Aliya yang tersenyum mengatakan jika dia baik-baik saja.


"Papi, dia orangnya yang masuk rumah kita?" Juna menunjuk ke arah salah satu polisi yang melintasi Maminya.


Juna mengenali tinggi badan, postur tubuh dan cara berjalan dari pelaku. Altha langsung mengejar salah satu anggota yang berlari kencang.


Sebuah mobil mewah berhenti, seorang wanita langsung keluar mobil dan menghadang pelaku.


"Kamu masih hidup, dan datang untuk mengacau?" Diana menatap tajam, melihat tangan ayah Citra yang memegang pisau kecil penuh darah.


Tanpa menunggu jawaban, Diana langsung diserang. Hanya sekali pukul Alina berhasil menjatuhkan pelaku.


"Kalian tidak akan bahagia, karena adik kamu sudah aku tusuk padahal dia sedang hamil besar." Suara tawa terdengar.


Diana melayangkan pukulan tepat di kepala sampai tidak sadarkan diri. Altha menarik Diana untuk tidak memukul lagi.


"Aliya." Di langsung berlari kencang, bahkan melewati Dimas yang memanggilnya.


Al meringis menahan sakit perutnya, dan rasa sakitnya bekali-kali lipat, tapi kondisi masih kejar-kejaran tidak mungkin dia mengacau.


Diana berteriak kuat membuat Aliya dan Anggun kebingungan, pelukan Alina tepat ke Juna yang sudah tidak sadarkan diri.


Aliya langsung berteriak histeris melihat putranya pingsan dalam pelukan Diana, Dika langsung membawa pergi Tika agar tidak melihat secara langsung.


"Juna bangun, jangan tutup mata kamu." Diana menyentuh perut Juna yang penuh darah, bahkan baju putihnya sudah berubah merah.


Al langsung terduduk, menyentuh perut Juna sambil menangis histeris.


"Sayang, bangun Nak. Arjuna dengarkan Mami." Al menyentuh wajah putranya langsung memeluk erat Juna.


Anggun juga langsung terhentak duduk, melihat Juna banjir darah.


Altha langsung mendekat, menggendong putranya yang sudah hilang kesadaran, meminta Diana segera mengeluarkan mobil.


"Dimas, jaga Al. Aku akan membawa Juna ke rumah sakit." Altha langsung meminta Diana segera membawa mobil.


Alt tidak peduli secepat apa Di membawa mobil, pokoknya Alt ingin Juna segera ditangani oleh medis.


Jarak rumah sakit yang tidak terlalu jauh membuat Di lebih mudah sampai, langsung memanggil dokter untuk menangani.

__ADS_1


Altha membuka baju Juna, melihat luka tusuk di atas perutnya dan memastikan dalamnya tusukan.


Alt meminta dokter mengoperasi Juna, karena dia mengalami pendarahan. Diana juga melihat luka tusuk langsung menatap Altha.


Karena masih tengah malam, tidak ada dokter yang bisa secepatnya datang. Tapi belum selesai perawat bicara, Salsa sudah datang bersama seorang dokter.


"Arjuna, aku pikir yang tertusuk Aliya." Salsa kaget melihat banyaknya darah.


Dokter meminta Juna dibawa ke ruang operasi, karena dokter terbatas Salsa ikut masuk, Diana juga memaksa untuk masuk menunjukkan identitasnya sebagai mahasiswa kedokteran.


Operasi dilakukan secara dadakan, bersama dokter yang berbeda bidang dan belum memiliki banyak pengalaman.


Aliya sampai rumah sakit bersama Dimas, langsung memeluk Altha sangat erat. Alt berusaha untuk menenangkan istrinya yang terus menangis menyalakan dirinya.


"Aliya, aku percaya Juna baik-baik saja. Kamu sendiri yang selalu mengatakan dia anak yang kuat." Alt mengusap air mata istrinya.


Dimas juga meneteskan air matanya, tidak tega melihat Aliya dan Altha menangis menunggu putra mereka yang sedang di operasi.


"Aliya, apa yang mengalir di kaki kamu?" Dimas berteriak kaget.


Aliya sudah basah air dan darah, bahkan mengalir di lantai.


"Astaghfirullah Al azim, air ketuban sudah pecah." Altha langsung panik, karena Salsa ada di ruangan operasi Juna.


"Aku baik-baik saja, Juna." Aliya masih menangis memanggil putranya, tidak merasakan sakit perutnya.


Dimas mencari perawat untuk membantu Aliya melahirkan, apalagi bayi yang harus dilahirkan kembar resikonya besar.


"Aliya, fokus dulu ke kandungan kamu. Ini ingin melahirkan." Altha meminta istrinya duduk.


"Tidak, Al belum ingin melahirkan. Al ingin melihat Juna."


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Altha merangkul Al untuk ke ruangan bersalin, tapi terus menolak karena Aliya ingin menunggu Juna sadar.


"Ini sebenernya ingin melahirkan atau tidak?" Dimas ikutan binggung.


Altha diam sesaat, menarik nafas buang nafas menenangkan pikirannya yang kacau, karena ada Juna, Aliya, dan kedua anaknya menjadi taruhan, setidaknya Altha harus normal.


Tangan Al memegang perutnya, melihat ke arah kakinya yang penuh darah dan air ketuban.


"Tolong, tunggu sampai kakak kalian baik-baik saja." Al menetes air matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2