ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KASIH SAYANG


__ADS_3

Mendapatkan penghinaan dari Diana, Gemal langsung menyempatkan diri untuk pulang karena badannya sudah bau keringat.


Sesampainya di rumah Gemal melihat ibunya yang sedang membuat kue untuk dijual.


"Bu, berapa kali Gemal katakan berhentilah bekerja, Gaji Gemal sudah lebih dari cukup." Wajah Gemal langsung murung, tidak tega melihat ibunya berkerja.


"Ibu tahu nak, gaji kamu sudah sangat mencukupi kehidupan kita, tapi ibu merasa senang bisa bekerja. Uang gaji kamu ditabung untuk kamu menikah." Senyuman terlihat, menepuk pundak Gemal yang hanya tersenyum tipis.


Gemal langsung bergegas mandi, membersihkan tubuhnya yang sangat lelah bekerja siang malam.


Selesai mandi, hidung Gemal mencium bau masakan yang sangat enak. Alasan Gemal betah makan di rumah, karena masakan ibunya mengalahkan masakan restoran berbintang.


"Lapar, baunya sangat menggoda." Semangat Gemal langsung bangkit saat mencium aroma sedap.


"Kamu harus cepat menikah Gem, nanti istri kamu yang masak."


"Ibu berhentilah membahas menikah, Gemal masih muda dan belum berniat menikah." Tatapan Gemal langsung kesal.


Ibunya selalu saja membahas menikah, bahkan menjodohkan Gemal dengan anak gadis tetangga. Gemal sudah seperti barang yang selalu ditawarkan.


Sikap Gemal sangat baik kepada anak-anak dan wanita tua, tapi sangat dingin dan cuek kepada wanita yang meminta perhatiannya.


Gemal tahu diri soal status sosialnya, dia hanya orang biasa yang masih bersyukur bisa sekolah polisi dengan bekerja keras.


Melihat ibunya bekerja saja hatinya sakit, tapi begini hidup Gemal sejak kecil serba kekurangan.


Sejak Gem manjadi polisi ekonomi membaik, dan bisa melihat uang tabungan.


"Di mana motor kesayangan kamu Gem?"


"Masuk bengkel Bu, hancur motornya ulah wanita gila." Gem membayangkan Diana yang menyebalkan.


"Astaghfirullah Al azim nak, motor itu pemberian pak Dimas, kamu harus menjaganya." Ibu Dimas mengusap dadanya.


Gemal hanya tertawa kecil, seandainya ibunya tahu jika yang merusak motor Putri semata wayang Dimas.


"Ini uang hasil jualan ibu untuk memperbaiki motor." Uang ribuan yang dibungkus plastik diberikan kepada Gemal.


Kepala Gemal tertunduk merasa sedih, ibunya selalu memberikan apapun untuk dirinya.


"Bu, Gemal punya uang. Motornya juga tidak parah, hanya lecet sedikit." Uang dikembalikan.

__ADS_1


"Nak, gunakan uang kamu untuk makan enak dan bersenang bersama teman-teman kamu. Jangan pulang ke rumah bau keringat, berantakan, kotor, sekali-kali membawa calon mantu." Suara tawa ibu terdengar memeluk putra kesayangannya yang sudah dewasa dan mandiri.


Gemal juga memeluk ibunya, meminta ibunya tidak mengkhawatirkan dirinya karena Gemal pastikan suatu hari nanti akan membelikan ibunya rumah yang memiliki AC, membeli mobil agar ibunya bisa jalan-jalan.


"Sudah, kamu habiskan makanannya. Ibu ingin jualan kue dulu. Kamu jangan lupa sholat Gem, dan selalu bersyukur."


Kepala Gemal mengangguk, langsung menghabiskan makanannya dan merapikan bekas makannya.


Tatapan Gemal sedih melihat ke arah bingkai foto, karena seharusnya mereka sudah hidup enak jika kakaknya tidak melakukan kesalahan.


"Aku pasti akan membahagiakan ibu, kamu akan menyesal." Tatapan Gemal penuh kemarahan langsung bersiap untuk ke rumah sakit kembali.


Di perjalanan Gemal melihat kecelakaan, langsung keluar taksi untuk menolong korban kecelakaan dan langsung melarikan ke rumah sakit.


Setiap hari kehidupan Gemal dipenuhi kejahatan dan kekerasan, tangannya penuh darah baik darah orang ataupun dirinya sendiri.


Dari lantai atas rumah sakit Diana berdiri bersama Salsa melihat ke arah Gemal yang sangat tampan, tapi sayangnya dia masih ceroboh.


"Dia tampan ya Di, mengalahkan dokter Hendrik."


"Emh, tapi bagi Di yang tampan tetap dokter Hendrik, dan yang jelek kak Dika." Diana tertawa lucu sambil mengulum permen.


Diana melihat Gemal membersihkan bajunya yang tekena darah, mengibas rambutnya yang berkeringat.


Langkah dokter Hendrik terhenti saat menabrak Gemal, keduanya saling tatap dan terlihat cukup kaget.


Gemal menggenggam tangannya sangat kuat, melihat Hendrik yang berjalan tanpa mengatakan apapun.


Tatapan mata Gemal penuh kemarahan, bahkan urat ditangannya juga bermunculan menahan diri.


Diana yang memperhatikan binggung, Gemal memiliki tatapan mata yang tenang, tapi bertemu Hendrik terlihat seperti musuh.


"Apa mereka saling mengenal?"


"Jika mengenal seharusnya bertegur sapa." Salsa melihat Gemal melangkah pergi ke ruangan tahanan yang masih dalam perawatan.


Salsa langsung melangkah pergi karena ada janji bertemu dengan pasiennya, Diana juga langsung turun untuk menemui Gemal.


Langkah Diana langsung berhenti saat melihat Daddy-nya juga ada di rumah sakit. Langkah Di perlahan mundur agar tidak terkena masalah.


Suara barang berjatuhan terdengar, Hendrik langsung mencengkram kuat lengan Diana yang membuat barangnya berjatuhan.

__ADS_1


Dimas langsung menarik tangan Diana, mencengkram kuat leher Hendrik karena bersikap kasar terhadap wanita.


"Berani kamu menyakiti putriku, jika anak laki-lakiku yang disakiti masih aku maafkan, tapi jika putriku tidak ada ampun." Dimas menatap penuh amarah.


"Saya tidak bermaksud menyakiti Diana, niatnya hanya menahannya tapi cengkraman terlalu kuat." Hendrik melangkah pergi tanpa melihat Di dan Gemal.


Tatapan Dimas langsung tajam melihat Diana, mengecek lengan Di yang mungkin terluka.


"Daddy, Diana baik-baik saja." Di mengakui jika dia yang salah.


"Hati-hati Di, jika kamu terluka mommy bisa mengamuk."


Diana langsung tertawa, memeluk lengan Daddy-nya sangat manja. Melangkah bersama untuk mengecek kondisi pasien.


Gemal yang melihat hubungan anak dan ayah terlihat kagum, dibalik sikap kasar Diana dia seorang putri yang sangat manja dan disayangi.


Di dalam ruangan Dimas dan Gemal memperhatikan penjelasan Diana soal beberapa bagian luka yang mungkin digunakan untuk menyembunyikan sesuatu.


"Dari mana kamu tahu Di jika di bagian tubuhnya ada benda ini?"


"Dad, ini obat varian terbaru yang memiliki efek menghilangkan rasa sakit." Diana mengetahui jika obat yang dikonsumsi belum banyak diedarkan.


"Apa obat terbaru ini berbahaya?" Gemal menatap Diana serius.


"Tergantung, jika kamu lelah efeknya baik, tapi jika berlebihan sama seperti obat lain ketergantungan dan over dosis." Di menatap Gemal, melihat Daddy-nya yang menerima panggilan.


Diana sebenarnya memberikan vitamin biasa untuk mengetahui efeknya, tapi dugaan Di benar jika obat cukup berbahaya.


Diana melakukan penelitian di beberapa negara, dan sudah menemukan kasus yang sama jika ada beberapa orang over dosis karena obat variasi baru.


"Awalnya aku berpikir ini barang bukti seperti memori, ternyata salah. Dia mencuri obat ini menyembunyikan di tubuhnya bahkan tidak merasakan sakit saat menyayat daging." Di menatap pasiennya yang kondisinya mulai stabil.


Gemal langsung diam, menatap tersangka yang masih belum sadarkan diri.


"Apa bisa diatasi dengan rehabilitasi?"


"Entahlah, aku lebih percaya dia akan segera mati." Di belum menemukan pasien yang over dosis masih hidup.


Gemal cukup terkejut, Diana mengatakan pasien mulai stabil, tapi bisa juga langsung drop dan meninggal.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2