
Tangan Diana mengusap kepala dua gadis cantik di sisinya, kelelahan bersenang-senang Tika dan Shin tertidur di taksi.
Mendengar sedikit kisah Shin yang menyakitkan menyadarkan Diana tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah, bahkan seorang Tika sekalipun yang memiliki seorang Ayah yang sangat mencintainya, Ibu sambung yang tulus menyayanginya.
Meksipun mendapatkan segalanya, Tika memiliki luka masa kecil yang hanya dirinya yang mengetahui dalamnya luka.
"Kak Di ingin melihat kalian berdua tepat menjadi wanita kuat, tangguh, dan tidak keluar jalur." Di mencium kening Tika dan Shin yang masih terlelap.
Mobil tiba di kediaman, matahari juga sudah terbenam. Aliya sudah mondar-mandir di depan pagar, menunggu Tika pulang.
Altha membuka pintu taksi, melihat Putrinya yang masih tidur langsung menggendong Tika untuk pulang ke rumah.
Dari kejauhan, Diana melihat suaminya melangkah mendekati taksi, mimik wajah Gemal terlihat sangat sangat khawatir.
"Sayang kamu dari mana?" Gemal membuka pintu mobil.
Jari telunjuk Di ada di bibirnya, meminta Gemal mengendong Shin yang masih tidur untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
Gemal tidak memiliki banyak pertanyaan, langsung mengangkat tubuh Shin, kening Gemal langsung berkerut, memalingkan wajahnya melihat rok Shin yang sangat minim.
Senyuman Diana terlihat, membantu menutupi paha Shin yang terlihat. Di membuka pintu kamar tamu, membiarkan Gemal meletakkan Shin di atas tempat tidur.
"Tutup kakinya." Gemal langsung menarik selimut.
Langkah Gemal langsung keluar, meminta istrinya ikut keluar dan menjelaskan keberadaannya seharian sampai supir pribadi Di ke kantor polisi.
Diana menjelaskan semuanya dengan jujur, bahkan sempat menceritakan pertemuannya dengan Salsa soal kandungannya.
"Kenapa anak itu tidak diantarkan pulang? nanti orangtunya mencari keberadaannya." Gemal merangkul Di yang menunjukkan senyuman.
"Di tidak tahu rumahnya, tidak ada juga yang akan mencarinya." Di langsung melangkah ke kamar mandi untuk melepaskan penat, sekaligus membersihkan tubuhnya.
Helaan nafas Gemal terdengar, langsung mengambil ponselnya menghubungi Salsa, ingin mendengar langsung penjelasan Salsa soal ucapan Diana.
Tubuh Gemal langsung terjatuh di atas tempat tidur, matanya terpejam. Banyaknya ujian hidup, belum berat selain melihat perjuangan beberapa bulan mempertahankan kandungan Diana.
Hati Gemal yang sakit setiap harinya sedikit terobati mendengar ucapan Salsa yang meyakinkan jika anaknya bisa lahir.
__ADS_1
"Ayang kenapa?" Di duduk di pinggir ranjang, menepuk dada suaminya.
"Sakit, hati aku sakit Di." Mata Gemal terbuka, melihat istrinya yang meniup dan. menciumnya.
Usapan tangan Gemal pelan di perut buncit Di yang semakin membesar, kecupan pelan di kening Di juga tidak ada habisnya.
Suara teriakan dari luar terdengar, Gemal langsung spontan berdiri berlari keluar mendengar suara Mamanya yang berteriak kuat.
Mam Jes melihat Shin yang duduk santai di ruang makan, rambutnya basah belum disisir, menggunakan baju tank top juga celana pendek.
Area perut terlihat, paha terekspos sampai ke ujung kaki. Shin hanya tersenyum melihat Mam Jes menatap tubuhnya.
"Siapa kamu? tidak tahu sopan santun menggunakan baju minim." Tangan Mam Jes mengusap dadanya yang terkejut.
Calvin dan Gemal tiba bersamaan dan langsung berbalik badan, tidak sengaja melihat anak remaja yang sedang masa pertumbuhan seperti tidak menggunakan baju.
"Selamat malam semuanya, perkenalkan aku Shin," ucap Shin yang langsung berdiri.
Mam Jes menarik tangan Shin langsung meminumnya keluar, di dalam keluarganya tidak boleh ada seorang wanita yang menggunakan pakaian, tetapi seperti tanpa busana.
"Saya mohon pergi."
"Tolong pergi dari sini, kami tidak mengenal kamu." Mam Jes bicara sangat pelan.
Kepala Shin langsung mengangguk, menghela nafasnya langsung melangkah pergi meninggalkan rumah mewah Leondra saat malam hari.
Diana langsung keluar kamar setelah memakai baju, berkeliling mencari keberadaan orang-orang yang sempat berteriak.
"Ada apa Ma?"
"Ada seorang wanita menggunakan baju minim seperti tidak memakai baju." Mam Jes menjelaskan postur tubuhnya.
Calvin keluar dari kamarnya, meminta istrinya menggunakan selimut menutup tubuh Shin, tapi Jessi sudah mengusirnya.
"Kenapa diusir?"
"Papa suka melihat anak muda berpenampilan cantik, seksi. Apa maksudnya?" Mam Jes menatap tajam suaminya.
__ADS_1
"Gunakan baju ini sayang." Gemal berlarian membawa baju berukuran besar.
"Mama sudah mengusirnya, dan Shin tidak melakukan perlawanan ataupun menjelaskan. Dia menerima dimarah dan disalahkan." Di langsung melangkah ke kamar tamu, mengambil tas Shin juga bajunya yang masih lembab untuk mengembalikan.
Air mata Diana menetes, membayangkan Shin yang berjalan kaki tanpa baju tertutup, tidak memiliki uang juga tanpa tujuan.
Mam Jes langsung khawatir melihat Diana menangis, mengikuti langkah Di yang berjalan cepat keluar rumah.
"Di, apa Mama menyingung perasaan kamu?" M Jes langsung meminta maaf.
"Tidak Ma, Diana hanya sedih saja. Gadis kecil yang tidak diterima oleh orangtuanya, juga tidak diterima lingkungan bahkan dunia." Di memanggil Shin yang sudah ada di ujung jalan.
Melihat Diana, Shin langsung berlari untuk kembali ke tempat Diana. Mengambil bajunya dan langsung memakainya meskipun masih basah, dan mengambil tasnya.
"Shin pulang dulu kak Di." Senyuman manis masih terlihat, bahkan Diana tidak melihat wajah sedih dan air mata.
"Buka baju basah ini, gunakan selimut dan ganti baju baru di dalam rumah." Calvin langsung menutup tubuh Shin, meminta Diana membawanya masuk.
"Shin baik-baik saja, maafkan sikap lancang yang tidak tahu aturan keluarga kak Di." Shin mengembalikan selimut setelah memakai roknya, langsung melangkah pergi berjalan di kegelapan jalan.
Calvin menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang secara tiba-tiba memiliki sikap yang aneh, menghakimi anak kecil langsung menilainya bukan wanita baik-baik.
"Maafkan Mama," mam Jes menyesali tindakan berlebihannya.
"Minta maaf sama anak itu, kamu melukai hatinya. Kalian wanita, seandainya kita memiliki cucu wanita dan diperlakukan seperti tadi. Hancur tidak hati, karena kita tidak tahu sepuluh, dua puluh tahun ke depan nasib anak ini, dan luka hatinya tidak akan pernah sembuh. " Calvin langsung melangkah masuk, menggelengkan kepalanya.
Air mata Mam Jes menetes, langsung mengejar Shin yang sudah di depan gerbang menahan tangannya, meminta maaf, karena wajah Shin sangat cantik, Mam Jes hanya ingin menjaga rumah tangga anaknya, juga tidak membiarkan kehadiran orang ketiga seperti rumah tangganya.
Kepala Shin menggeleng, tidak mengerti ucapan Mam Jes. Apapun yang diucapkan Mam Jes tidak pernah menyakiti perasaan Shin, karena dirinya sudah terbiasa.
"Ayo masuk ke dalam, kamu haus biar Mama siapkan. Nanti gunakan baju yang sopan, sisir rambut lalu istirahat." Mam Jes menggandeng tangan Shin.
Senyuman Shin terlihat, langsung berlari mendekati Diana yang juga menunjukkan senyuman mempersilahkan Shin masuk.
***
Maafkan TYPE atau ada bacaan tidak sesuai, dan tertukarnya nama.
__ADS_1
Soalnya belum direvisi sampai akhir bulan, aku lagi bom update, dan baru revisi Tanggal satu April.
***