
Mobil melaju pergi, Citra membiarkan Altha sendirian. Roby merasa tidak enak hati melihat Alt yang berdiri diam dengan tatapan kecewa.
Air mata Citra menetes, masih ada cinta untuk lelaki yang bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.
Sekuat mungkin Citra sudah berusaha bertahan, tapi keadaan semakin memburuk. Hati juga tidak bisa menerima melihat Altha bersama wanita lain.
"Maafkan aku Alt, dari dulu sampai sekarang diriku terlalu egois, belum dewasa sama sekali. Kamu lelaki hebat yang selalu bertahan." Citra memejamkan matanya, bergumam dalam hati merasakan penyesalan.
Roby hanya diam saja, menunggu Citra mengatakan kebenarannya.
"Citra, ada hubungan apa kamu dan Altha? apa mungkin dia?" suara Roby sangat pelan, tidak ingin menilai sembarang orang.
Citra mengakui jika Altha mantan suaminya, dia lelaki yang sangat Citra cintai. Pernikahan mereka hancur, karena Hariz yang membuat dirinya hamil anak Roby.
"Aku menginginkan anakku."
Wajah Citra langsung terkejut, menggelengkan kepalanya untuk tidak mengusik kehidupan Mora bersama Altha.
Jika Hariz sampai tahu, dia bisa menyingkirkan Mora. Pilihan terbaik Citra dan Roby membiarkan Mora bahagia bersama Altha.
"Jangan pernah mendekati dia Roby, jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu kepada Mora."
Selama Altha belum mengetahui jika Mora bukan anak kandungnya tidak ada yang perlu Citra dan Roby lakukan, tidak ada yang bisa menyentuh putrinya selama ada dalam lindungan Altha.
Roby tetap akan berjuang untuk mendapatkan hak asuh Mora, bahkan sudah mempersiapkan pengacara Pribadi.
"Apa alasan? dia anak kamu hasil perselingkuhan kita? Altha bukan orang sembarang. Jangan main-main kamu." Suara Citra mulai meninggi, menatap kesal dengan sikap keras lelaki disampingnya.
Mobil berhenti, Roby memijit pelipisnya. Kepalanya rasanya ingin pecah, hidupnya menjadi rumit ulah ayahnya yang egois.
Citra meminta Roby menjalankan hidup seperti biasanya, jika ada waktu Citra berjanji akan membawa Mora untuk bertemu Ayahnya.
Pintu mobil terbuka, Citra menahan tangan Roby yang ingin melangkah pergi.
"Ada satu cara agar kita bisa membawa Mora?"
"Apa?"
"Menikah, jika kita menikah hak asuh Mora bisa kita perebutan tanpa mengungkit masa lalu." Tatapan Citra tajam, melepaskan Roby yang menutup pintu.
Mobil melaju kembali, sepanjang jalan Roby berpikir jika ucapan Citra ada benarnya. Selama Altha tidak tahu, maka mereka bisa mendapatkan Mora, sekalipun Altha tahu dia tidak bisa memiliki putrinya.
***
Bibir Aliya monyong, melangkah berjalan kaki sambil mendengarkan pembicaraan dua orang yang sudah dia sadap.
__ADS_1
Senyuman Al terlihat, merasa kasihan kepada Altha yang semakin berusaha untuk baik, maka semakin disakiti.
"Kak Aliya, ingin pergi ke mana?" suara teriakan Helen menggema membuat Al melepaskan earphone di telinganya.
"Hanya jalan-jalan saja, kamu dari mana?" Al tersenyum melangkah bersama.
Senyuman Helen terlihat, dia sedang berkeliling mencari pekerjaan. Al melihat lengan Elen biru karena mendapatkan perlakuan kasar dari atasan sebelumnya.
"Kamu berencana bekerja apa?"
"Apa saja? asalkan bos-nya tidak kasar dan bisa menghargai."
Aliya merangkul Helen, menawarkan untuk menjadi baby sister anak usia satu tahun. Al tahu jika Helen sangat menyukai anak kecil, selalu menjaga adiknya yang banyak dan masih kecil-kecil.
Dengan bersemangat, Elen menyetujui dan bersedia bekerja siang dan malam selama bisa menghasilkan uang.
Langkah Aliya dan Helen terhenti saat melihat selembaran sekolahan mereka, ada rasa kangen sekolah.
"Sekolah kita sekarang sepi, pak Roby sudah mengundurkan diri."
Al menatap kaget, karena kasus yang diakibatkan Hariz putranya kehilangan pekerjaan yang dia impikan hanya karena keegoisan orang tua.
Senyuman Helen terlihat saat mereka memasuki sebuah cafe, lebih terkejut lagi saat mengetahui jika pelayan cafe teman mereka sendiri.
"Udin, kamu kerja di sini?" Al menatap kaget.
"Kuli payah?" Elen tertawa, melambaikan tangannya melihat Susan yang baru saja muncul setelah pulang bekerja.
"Aduh duh, encok pinggang." Wajah Susan terlihat tersakiti.
"Din pesan makanan dan minuman kesukaan kita." Al meminta teman-temannya makan terlebih dahulu untuk menambah tenaga.
Makan dan minuman sudah siap, Al langsung menyantap dengan lahap, meminta teman-temannya jangan ragu untuk makan.
"Kak Al punya uang untuk membayar?"
"Tidak ada." Al tersenyum melihat Susan dan Helen mengeluarkan makanan mereka.
Suara tawa terdengar, Aliya mengeluarkan sebuah kartu yang bisa membayar apapun yang mereka makan.
Selesai makan mereka pamitan dengan Udin, Al juga mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah, langsung melangkah pergi bersama Helen dan Susan.
Suara teriak Udin terdengar, mengucapkan terima kasih kepada Aliya yang memberikan tips untuk dirinya.
Mobil Aliya melaju dengan kecepatan sedang, mendengarkan cerita Susan soal perusahan. Aliya juga meminta Susan mengawasi orang-orang yang mencurigakan, segera melapor kepadanya.
__ADS_1
"San, Len sebenarnya aku mempunyai satu rahasia. Kalian jangan memberitahu siapapun?" Al menatap kedua temannya yang menatap serius.
"Aku sudah menikah."
"Oh menikah."
Al mengerutkan keningnya, teman-temannya tidak ada yang terkejut. Mereka tidak mempercayai Aliya yang bisa berbagi rahasia.
Selama mengenal Aliya, dia tidak pernah berbagi hal pribadi. Apalagi mengakui jika sudah menikah.
"Aku serius, lelaki yang aku nikahi polisi yang menahan kita."
"Kak Al halunya tinggi sekali." Helen memukul lengan Al yang berteriak meminta untuk percaya.
"Demi apa kak?"
"Demi Allah, langit dan bumi, hewan, tumbuhan berserta kawan-kawan. Aku meminta Helen menjadi Baby sister anak tiri. Al serius, kalian ingin melihat buktinya." Aliya langsung mengambil ponsel menunjukkan foto pernikahannya.
Susan dan Helen melotot, sungguh tidak bisa dipercaya Aliya sungguh menikahi seorang polisi yang menahan mereka.
"Perusahaan tempat kamu bekerja, itu milik keluarga Altha, tetapi dia tidak ikut campur kamu awasi perusahaan." Senyuman Al terlihat, Susan binggung cara mengawasi, karena dirinya tidak memiliki jabatan apapun.
Al meminta Susan jangan khawatir, dia akan memberikan posisi yang baik. Namun Susan tetap sebagai OG, ada beberapa orang yang mengetahui siapa Susan.
"Kita seperti sedang bermain detektif." Susan mengikut apapun perintah Aliya.
"Mungkin ini memang permainan, aku tidak bisa bekerja sendiri."
Al juga meminta Helen menjaga ketat Amora, dia akan dalam bahaya jika tidak dalam pengawasan.
Helen menyanggupi, Al tidak mungkin menikah tanpa alasan. Mereka tidak ingin tahu detail alasan Aliya, cukup digaji saja sudah lebih dari cukup.
Ponsel Aliya berbunyi, Al langsung menjawab panggilan video dari Tika yang marah-marah. Melaporkan pengasuhnya yang tidak becus.
Senyuman Aliya terlihat, akan segera pulang. Tika hanya mencari alasan saja, karena bosan sendirian.
"Dia putri kedua Altha, dan ada satu putra yang sangat dingin. Tika anak yang ceria, juga sangat dewasa jika kepepet." Al tersenyum berharap Susan dan Helen bisa membantunya.
Jika Roby dan Citra menyusun rencana untuk mendapatkan Mora dengan pernikahan, Al akan mempertahankan Mora dengan caranya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1
VOTE HADIAHNYA DITUNGGU