ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RUSUH


__ADS_3

Suara Hendrik berteriak terdengar mengagetkan Juna dan Genta yang ada di parkiran mobil.


"Bawa tiga wanita di dalam pulang, otak ketiganya sudah kotor membicarakan hubungan dewasa." Tatapan mata Hendrik tajam, satu tangannya menunjuk ke arah tempat duduk Rindi.


"Maaf Juna masih polos, Kak Genta saja." Arjuna memalingkan wajahnya, mengecek kembali ponselnya.


Suara tawa dan teriakan kejar-kejaran terlihat dari luar, Shin sudah berlari kencang meninggalkan Tika dan Rindi yang melompati beberapa meja untuk melarikan diri.


"Ada apa?" Genta langsung menarik tangan Shin, memeluk erat.


Tika dan Rindi berlari kencang melewati semua orang, tangan Rindi ditarik oleh Hendrik agar berhenti, Juna juga langsung berlari mengejar Tika agar berhenti membuat masalah.


Tawa Shin langsung terdengar, berlari mengejar Tika yang larinya paling kencang tanpa tujuan. Melihat Shin dan Tika berlari, Rindi juga ikut-ikutan berlari.


"Ada apa dengan tiga wanita ini?" Hendrik ingin pergi namun dipanggil oleh pelayan.


Tatapan Hendrik dan Genta bertemu, senyuman Genta terlihat, berlari ke arah Tika yang sudah tertawa bersama Shin.


Setelah membayar denda juga kekacauan di dalam restoran, Hendrik mendekati para wanita yang masih saja ribut. Suara Rindi menangis sudah terdengar, Shin dan Tika hanya cekikikan tertawa.


"Ini sudah malam sebaiknya kita pulang,"


"Tidak mau, Rindi tidak mau pulang." Tangisan Rindi semakin besar.


"Sudah membuat kacau di dalam, sekarang ingin membuat masalah di luar juga. Kamu sudah dewasa, Kenapa menangis?" kepala Hendrik ingin pecah melihat tingkah Rindi yang menangis.


"Bukan Rindi Ayang, Shin yang mulai duluan. Mereka berdua sengaja menganggu Rindi, dua wanita ini gila." Tangan Rindi menunjuk Shin dan Tika yang sudah mengangkat kedua bahunya.


Tangisan Rindi semakin kuat, memeluk Hendrik memintanya memarahi Tika dan Shin. Jika tidak dimarah, maka pilih tidur di jalan.


"Ada apa Tika? Arshinta. Kalian berdua yang normal jangan membuat masalah, ini sudah hampir jam dua belas malam." Tatapan Hendrik tajam, meminta dua wanita mengalah.


"Tika tidak tahu apapun? Shin yang menjahili Rindi." Tika menatap Shin yang sudah melotot.


"Bukan Shin, Rindi yang gila ketawa dan nangis tidak jelas. Mereka berdua yang dari tadi bicara Fulgar. Shin tidak tahu apapun." Bibir Shin monyong, tidak ingin disalahkan.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Tangan Hendrik mengusap kepala Rindi yang masih belum diam.


Di depan mobil Juna dan Genta duduk santai sambil minum susu hangat, mengemil makanan sambil mengobrol santai.

__ADS_1


"Tiga wanita bertengkar, kalian berdua santai di sini?"


Senyuman Genta terlihat, meminta maaf kepada Hendrik yang terlihat kesal karena pertama kalinya Hendrik keluar rumah tanpa bekerja.


"Kenapa senyum? kita pulang sekarang." Suara Hendrik meninggi.


Juna dan Genta saling pandang, tiga mobil rusak semua ulah Rindi, Tika dan Shin yang bertarung. Tidak ada mobil yang bisa hidup, maka tidak punya pilihan selain menginap.


Mulut Hendrik menganga, kehabisan kata-kata melihat tiga mobil tersusun sudah hancur, bahkan mesinnya lepas semua. Empat ban pecah semua.


"Sabar Kak," Genta mengusap punggung Hendrik yang langsung ikutan duduk.


"Kalian tahu berapa umur aku sekarang?"


Kepala Juna tertunduk, begitupun dengan Genta yang menghitung jarinya. Usia Genta saja sudah dua puluh enam tahun, apalagi Hendrik yang seumuran dengan Aliya dan Diana.


"Setidaknya kepala empat Kak?" Genta bergeser duduknya mendekati Juna sebelum Hendrik mengamuk.


"Tidak lucu Genta, cari hotel sekarang. Pinggang, punggung, pundak, betis, paha, lengan, bahkan kepala aku sakit semua." Pukulan kuat menghantam mobil.


Kepala Genta, Juna dan Hendrik melihat ke arah tiga wanita yang sudah tertawa bersama, berlarian berebut kembang api yang tidak tahu mereka dapatkan dari mana.


"Ya Allah tolong jauhkan aku dari tiga wanita ini!" Hendrik berteriak di dalam hatinya.


"Aku rasa dunia memang benar-benar hancur, jika mereka semua kumpul." Genta merinding ngeri.


"Keluarga apa sebenarnya mereka? wanita tapi tingkah lakunya mirip singa." Tangan Hendrik mengusap dadanya, merasa cemas.


Sesampainya di hotel, Rindi memaksa untuk tidur bersama Hendrik. Dia tidak ingin sendiri, dan tidak ingin tidur bersama Tika dan Shin.


"Tika tidur bersama Juna saja, Shin bersama Ayang Genta. Berarti Rindi bersama Ayang Hen."


"Pintar sekali kamu, kita semua tidur di luar!" Hendrik berteriak, lupa dengan statusnya.


"Kamu tidak takut Rin seperti Irish, nanti ukuranya besar kamu tidak ada yang menolong." Tika memeluk Shin yang sudah mencubit perut Tika.


Sesaat Rindi terdiam, menggelengkan kepalanya jika percaya kepada Hendrik tidak mungkin menyakitinya.


"Irish saja masih hidup meksipun dimasukkan benda besar, mulutnya juga tetap seksi meksipun ...."

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan?" Hendrik menutup mulut Rindi.


"Bicara punya Ayang, soalnya Rindi belum tahu besar atau kecil."


Kepala Juna dan Genta sudah tertunduk, tidak nyaman dengan pembicaraan ukuran yang Rindi dan Hendrik bicarakan.


Tika dan Shin sudah berpelukan, menahan tawa melihat tingkah laku Rindi yang mempermalukan Hendrik.


"Kita ke kamar duluan." Shin menarik tangan Rindi dan Tika.


"Aku belum melihat ukuran,"


"Perempuan gila, jangan lupa nanti kamu foto kita juga mau melihatnya." Tika sudah tertawa lepas.


"Shin tidak tertarik Tika, kenapa kamu suka sekali bicara hal itu?" Shin merinding meminta Tika berhenti membahasnya.


Sesaat Rindi diam, duduk dipinggir ranjang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tika dan Shin saling pandang dan binggung.


"Ada apa Rin?"


"Kamu mencintai dia, tapi dia tidak mencintai kamu. Aku melihatnya menatap foto wanita lain." Rindi menatap Shin yang tidak paham ucapan Rindi.


"Kamu mengenal suami halu Shin?" Tika duduk di samping Rindi yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tidak menatap sedih, ucapan Rindi selalu benar. Hubungan Shin dan pria yang dicintainya tidak bisa dipaksakan karena ada wanita lain di hatinya.


"Kamu tidak perlu membicarakannya,"


"Aku mengatakannya agar kamu melupakannya, dia mencintai wanita lain." Rindi menatap tajam, menahan diri agar tidak menyebut pria yang dirinya bicarakan.


"Jika dia mencintai orang lain, lepaskan saja Shin. Tidak ada gunanya kamu menunggu." Tika juga merasakan hal yang sama mencintai tapi tidak dicintai.


Melepaskan memang menyakitkan, namun bertahan juga belum tentu bisa membuat bahagia. Masih banyak orang yang beruntung, dan jodoh sudah ada sejak lahir.


"Aku tidak berharap bisa bersama dia, tapi bukan berarti aku bisa melupakannya." Kepala Shin tertunduk tidak ingin membahasnya lagi.


"Aku tidak bohong, jika dia mencintai wanita lain. Dan kamu akan kecewa." Rindi berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya mengikuti Tika.


Kepala Shin tertunduk, memikirkan Juna yang ternyata memiliki wanita dihatinya. Dan Shin hanya bisa mengagumi dan menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2