ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SALING SERANG


__ADS_3

Beberapa orang memperhatikan Shin bolak-balik dari lantai satu ke lantai dua, masuk dapur balik lagi ke lantai atas.


Pelayan restoran binggung melihat bosnya repot sendiri tanpa mengatakan apapun, Shin dengan kesibukannya yang tidak jelas.


"Permisi Kak, ada seseorang ingin bertemu,"


"Kalian layani saja, aku sibuk." Shin masih dengan aktivitasnya.


Beberapa pelayan tersenyum, menyiapkan makanan yang dipesan. Shin menatap pelayan yang membicarakan pria tampan yang mencari Shin juga memesan makanan.


"Siapa namanya?"


"Tunggu Nona bos kita kenalan dulu,"


"Biar aku saja yang ke sana, kalian sadar para wanita genit." Shin berjalan ke arah meja yang hanya ada satu pria yang memunggungi.


Senyuman Shin terlihat, dari jauh sudah tahu siapa yang datang ke restorannya. Sebelum menemuinya, Shin mencuci tangan dan menggenakan merapikan penampilannya.


"Dasar Nona bos genit,"


"Syirik saja, lebih baik kalian bekerja." Tatapan Shin membubarkan segerombolan pelayan restorannya.


Langkah kaki mendekati meja yang berada paling ujung, Shin menepuk pundak sambil tersenyum lebar.


"Kenapa Kak Juna ke sini?"


"Makan siang,"


Kursi ditarik, Shin duduk menatap Juna yang masih sibuk dengan tabletnya. Gunanya Shin dipanggil hanya menemani Juna berkerja, agar tidak ada yang mengganggunya.


Mata Shin sudah mengantuk, makanan Juna yang terhidang juga sudah dingin. Pekerjaan Juna belum ada tanda-tanda selesai.


"Ay, Shin mengantuk." Kepala Shin tumbang di atas meja.


"Aku masih menunggu Hana,"


"Kenapa Shin yang menemani?"


Belum sempat Juna menjawab, suara salam dari Hana terdengar. Tangan Shin melambai meminta Hana duduk, Shin bahkan tidak menolak sedikitpun menahan matanya yang ingin terpejam.


"Ada Shin juga, aku pikir kamu sendirian Jun," Ana duduk sambil tersenyum melihat Shin.


Satu kursi ditarik lagi, senyuman Dina terlihat menatap Juna yang mengalihkan pandangannya. Shin masih tidak menyadari keberadaan Dina, jika matanya mengantuk sulit di kontrol.

__ADS_1


Buku yang Juna bawa dipegang kuat karena Shin tidur memeluk tangan Juna. Ana hanya merasa lucu saja dengan tingkah Shin yang manja kepada Juna.


Tatapan mata Dina tidak suka sama sekali, merasa risih dengan keberadaan Shin yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Ana dan Juna.


"Maaf Jun, kita datangnya lama. Shin bahkan sampai tidur." Ana mengusap punggung Shin, membelai rambutnya yang lembut.


"Tangan kamu sakit tidak?" lepaskan saja kepalanya, daripada kamu kesakitan." Dina menyentuh tangan Juna, menariknya sampai kepala Shin terbentur.


Juna menepis tangan Dina, mengusap kepala Shin yang sakit namun tidak membangunkan tidurnya.


"Din, kepala Shin bisa sakit." Ana mengusap meminta maaf.


"Maaf An, aku tidak sengaja,"


Bibir atas Shin terangkat, mendengar suara Dina menyadari Shin yang sedang mengantuk berat.


Suara Ana dan Juna hampir tidak terdengar sama sekali hanya Dina yang terus berbicara menanyakan soal Juna yang kuliah kedokteran. Dina mengetahui banyak hal soal Juna dari Hana karena sering membicarakan kedekatan keduanya.


"Din, aku tidak pernah membicarakan Juna,"


"Sesekali ada Han, kamu sendiri yang mengatakan Juna anak yang pintar sejak kecil." Senyuman Dina terlihat menatap Juna yang mengambil minuman.


Kepala Shin terangkat, mengacak-acak rambutnya yang berantakan. Ana merapikan rambut Shin, menguncir bawah agar Shin tidak risih dengan rambutnya.


Dina diam saja, tidak merespon Shin sama sekali. Menanyakan makanan kesukaan Juna agar saat Ana sudah menjadi istri bisa masak kesukaannya.


"Kenapa menikah harus masak? apa gunanya asisten rumah tangga. Kak Juna terlalu sibuk hanya sekedar memikirkan makanan." Senyuman Shin terlihat mengejek.


"Aku bicara dengan Juna bukan kamu Shin,"


"Tanyakan saja kepada Shin, aku tahu semuanya. Kak Ana ingin tahu apa?"


Kepala Ana menggeleng, dia tidak ingin tahu apapun. Sikap seseorang akan berbeda di saat sudah menikah. Ana tidak harus bertanya, jika suami yang menghargai dia akan mengatakan dengan nada lembutnya bukan memaksa menyediakan apa yang diinginkan.


"Kak Ana saja tidak ingin tahu, kenapa kamu yang bertanya? Kak Juna pemakan segalanya, dia makan bukan menjilat." Tawa Shin terdengar, mengusap matanya yang mengantuk.


Senyuman kecil Juna terlihat, seseorang yang ingin berdebat dengan Shin tidak akan ada habisnya. Ada saja yang keluar dari mulut Shin, bukan kata-kata kasar namun membuat darah naik.


"Kak Dina tahu lagu yang liriknya, jangan cuma bisa ngomong kalau otak masih kosong, nilai orang paling pintar sudah kayak maha benar. Terlalu banyak bacot." Bibir Shin sudah maju menatap Dina yang tersenyum.


"Lagu apa itu? kami hanya tahu sholawat tidak mengetahui lagu-lagu barat. Etika dan cara kamu masih terjaga, pembicaraan kami juga hanya soal agama." Dina menjelaskan sesuatu membuat telinga Shin panas.


"Jarinya mengetik hobinya mengkritik, itulah Kak Dina. Ucapannya seperti busuknya sampah ... eh sorry, Kak Dina tidak mengerti bahaya gaul, perbanyak saja bersholawat."

__ADS_1


"Dina, kita bicarakan hal lain saja jangan membahas Juna terus. Lagian Juna tidak biasa banyak bicara,"


"Bagaimana Kak Jun bisa bicara? baru menyebut A, dia sudah di Z." Tangan Shin menunjuk ke arah Dina.


Juna menurunkan tangan Shin, meminta berhenti bicara. Shin lebih baik tidur agar tenang.


"Shin, kamu tidak menyukai saya."


"Tidak ada alasannya, aku hanya mengatakan apapun sesuka hatiku. Menjaga perasaan tidak pernah ada di dalam kamus Shin." Kedua alis Shin terangkat menantang Dina.


"Shin diamlah, lebih baik kita makan." Juna mengambilkan makanan untuk Shin agar diam.


Melihat perhatian Juna, tatapan Dina semakin kesal. Ana juga terlihat peduli dengan Shin, bahkan membersihkan tangan Shin yang tekena air.


"Selamat makan semuanya." Teriak Shin terdengar tangannya disiram kuah panas yang baru datang karena ulah Dina yang menyenggol pelayan.


Juna langsung menarik tangan Shin, menatap tajam pelayan. Ana langsung mengelap tangan Shin yang sudah merah.


Tawa Shin terdengar, mengepal satu tangannya. Dina belum tahu siapa dirinya, tanpa diketahui orang Shin bisa melenyapkannya.


"Kita ke rumah sakit saja,"


"Shin, kamu tunggu. Kak Juna mengambil obat." Juna berjalan ingin pergi.


Teriakkan Ana terdengar, dia juga tersiram sisa kuah karena terjatuh lantai yang licin. Dina langsung menolong Ana yang sudah duduk di lantai memegang lehernya yang panas.


"Shin, kamu keterlaluan. Candaan kamu tidak lucu." Dina berteriak meminta Juna membawa Ana ke rumah sakit.


Kedua pundak Shin berdiri, dia bahkan tidak menyentuh apapun. Dina pintar membalikkan fakta.


"Shin tidak salah, mungkin aku yang lalai." Ana berdiri dibantu oleh Juna yang juga mengkhawatirkannya.


Juna membantu Ana ke rumah sakit, Dina hanya tersenyum melihat Shin yang tertawa kecil melambaikan tangannya.


"Awas kamu Dina, hidup kamu tidak akan tenang." Shin berjalan penuh amarah.


"Nona, wanita itu ...."


"Biarkan saja, dia ingin tahu siapa aku." Shin tersenyum sinis.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2