
Suara Atika sedang bermain bersama Al terdengar, Al mengecek ponselnya dan melihat sebuah rekaman video suara seorang wanita.
Al langsung mendengarkannya, sebuah perintah untuk Aliya melepaskan Hariz dan menghacurkan Citra.
Aliya tertawa lucu, Tika sampai binggung melihat Maminya. Al bernafas lega jika target mereka menghacurkan Citra, Al tidak perduli seperti apa mereka meremukkan keluarga baru Citra.
"Aku harus membawa Mora kembali ke rumah ini." Al menghubungi Roby, memintanya untuk mendengarkan jika Tika merindukan Mora, dan ingin tinggal sementara bersama Mora.
Roby memaklumi dan akan membicarakan dengan Citra dan akan mengabari Aliya, senyuman Al terlihat pasti ini tidak semudah yang Roby pikirkan.
Al menghubungi Dimas, mempertanyakan keberadaan Altha yang secara tiba-tiba nomornya tidak aktif.
Dimas juga tidak tahu keberadaan Altha, dia sudah pergi meninggalkan kantor cukup lama.
"Tika, kamu jangan keluar rumah dan tetap bersama kak Juna. Mami pergi sebentar." Al langsung mengecek lokasi mobil Altha.
"Kenapa Ayang Alt di sana?"
Aliya langsung melaju ke tempat mobil Altha berada, sebelum Al sampai Altha sudah menghubunginya jika dia ada di rumah dan mencari Al.
Ponsel Altha terjatuh dan baru selesai diperbaiki, Al mempertanyakan keberadaan mobil dan sungguh membuat Aliya terkejut.
[Ayang, Al pergi dulu ya. Hanya sebentar nanti Al hubungi lagi.] Aliya tetap meneruskan tujuan.
Sungguh Aliya tidak percaya, ada orang yang sudah mengubah sistem kerja jaringan Al. Mobil Altha tidak ada dibangunan kosong, jangankan mobil mungkin jaringan juga sulit.
Sebuah gedung bertingkat yang masih terlihat bagus, tapi sudah ditinggalkan oleh penghuninya.
Suara langkah kaki Al terdengar menaiki tangga, Al tidak banyak bicara karena dia tahu ada yang mengawasinya.
Sore sudah hampir berlalu, dan digantikan oleh kegelapan. Al berhenti sebentar melihat keindahan langit.
Sebuah tempat yang sangat tenang, Al menyukainya apa lagi bisa melihat matahari terbenam sangat jelas.
"Sebentar lagi malam, kalian tidak berniat menyalahkan lampu. Aku tidak menyukai bangunan gelap." Senyuman Aliya terlihat terus berjalan.
Satu-persatu satu lampu mulai hidup, tidak terlalu banyak penerangan untuk bangunan bertingkat yang kemungkinan bekas sebuah pabrik.
"Wow, lelah sekali menarik tangga. Kira-kira ada lima lantai." Al tersenyum melihat Citra sudah terikat di sebuah kursi.
__ADS_1
Al mencoba untuk tenang dan santai saat melihat Citra sudah menangis histeria, Al tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kamu ingin balas dendam?" Citra berteriak kuat mencaci Aliya.
Al mengaruk kepalanya, dia merasakan binggung dengan ucapan Citra yang menyalahkan dirinya.
"Kamu bicara sama aku? apa yang terjadi di sini?" Al melihat sekitar yang tidak ada orang satupun.
Air mata Citra terus menetes, menatap Al tajam meminta dilepaskan. Ada tiga anaknya yang tidak bisa dia tinggalkan.
"Apa yang kamu inginkan Aliya?"
"Tidak ada, aku juga tidak tahu apa yang terjadi."
"Kamu ingin balas dendam atas apa yang terjadi kepada keluarga kamu." Citra menggelengkan kepalanya, semuanya sudah terlambat.
Al semakin binggung, Citra mengetahui sesuatu soal keluarganya, bahkan Citra juga menyebut nama Altha.
Hari pembantaian yang terjadi bersamaan dengan kematian orang tua Altha, kecelakaan yang terjadi ada sangkut pautnya dengan pembantaian keluarga Aliya.
Tatapan mata Aliya tajam, dia masih belum mengerti. Ada apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu kamu membunuh ibunya Altha, dan ayah Altha yang menabrak kamu." Suara Citra berteriak sangat kuat.
"Apa buktinya? bukannya ibu dan ayah Altha meninggalkan kecelakaan? aku tidak akan mempercayai kamu?" Al langsung membebaskan Citra menariknya untuk segera keluar bersama.
Aliya pergi bersama Citra, seorang wanita tersenyum melihat dua wanita yang akan saling menjatuhkan, dan dia yang akan mendapatkan keuntungan.
"Percepat jalan kamu jika masih ingin hidup." Al menarik kuat Citra dan memasukannya ke dalam mobil.
Citra terus menangis, Al hanya bisa diam tidak paham siapa yang menculik Citra dan membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Siapa yang menculik kamu? ada masalah apa?" Al menatap tajam, mencekik Citra yang masih ketakutan.
"Ini semua bukan rencana kamu?" Citra juga binggung.
Al tertawa lucu, dirinya bukan pengecut yang menculik orang dan menghakiminya. Al jika ingin melenyapkan Citra tidak harus menculiknya.
"Kamu tidak mengenali mereka?" mobil Al berhenti di pinggir jalan.
__ADS_1
"Bagaimana aku tahu? jika hanya kamu musuh aku." Tatapan Citra tajam.
"Lebih baik kamu jangan banyak bicara Citra, aku bisa melenyapkan kamu. Dunia ini keras, mereka tidak butuh alasan untuk melenyapkan siapapun. Siapa musuh kamu?!" Al berteriak kuat.
Citra mencoba mengingat sesuatu, dia mendengar dengan jelas apa yang orang menculiknya katakan jika nyawa harus dibayar nyawa.
"Aku tidak pernah membunuh siapapun?"
"Lalu kenapa kamu mengungkit kejadian lima belas tahun yang lalu? ada apa antara keluarga aku dan Altha?" Al menatap tajam Citra yang kebingungan menjawab.
"Ayah kamu, ayah Altha dan mami aku sahabat dalam bisnis, mereka tiga orang yang memiliki kekuasaan."
"Terus, ke mana mereka saat pembantaian terjadi?" Al memukul setir mobilnya.
Citra tidak melihat langsung apa yang terjadi, tetapi dia mendengar jika ibu Al membunuh istri sahabat suaminya dengan racun, dan sekarat.
"Lalu siapa yang menabrak aku?" Al mengerutkan keningnya, jika lelaki yang ada di samping mobil Ayahnya Altha dan wanita cantik yang mendekatinya ibunya Citra.
"Ayah Al buru-buru menemui istrinya, langsung ingin melarikan ke rumah sakit tapi di jalan mereka mengalami kecelakaan." Citra menundukkan kepalanya.
Aliya masih belum bisa menerima baik apa yang Citra katakan, masih ada yang Citra tutupi dari apa yang terjadi.
"Altha tahu soal ini?"
"Dia dulu tahu, tapi saat ibunya meninggal Altha melupakannya. Antar aku pulang, jika kamu tidak percaya cari tahu sendiri." Kepala Citra rasanya sakit sekali.
Al masih penasaran kenapa Citra yang harus dibunuh, kenapa bukan Aliya. Sedikitpun Al tidak percaya ucapan Citra, dia akan menemukan orang yang ingin mengungkap kembali cerita lama mereka.
"Baiklah, lakukan sesuka hati kalian. Aliya ingin melihat hasil akhirnya siapa yang akan tersakiti. Nyawa dibayar nyawa, lumayan menantang." Al tersenyum sinis, menunggu serangan selajutnya.
Citra tidak mungkin berani macam-macam, dia sedang ketakutan. Meskipun Al belum mengerti apa yang terjadi, tetapi cepat atau lambat dia akan tahu.
"Lindungi nyawa kamu sendiri Citra, jika memang kita terlihat salah satu dari kita akan mati." Al tersenyum menatap Citra yang masih diam ketakutan.
Wajah Citra pucat, bekali-kali merinding. Al ingin tahu kejujuran Altha soal orangtunya. Siapa sebenarnya yang salah di sini? apa mungkin Aliya dan Altha akan menjadi musuh? atau mereka berdua korban dari kesalahan satu orang.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1