ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ISTRI


__ADS_3

Helaan napas Juna terdengar melihat Genta yang kebingungan sendiri untuk masuk ke dalam apartemennya.


"Bagaimana Kak Genta bisa tidak tahu sandi sendiri?" Juna menggelengkan kepalanya melihat Genta yang mempersilahkan masuk.


"Ada seseorang yang jahil menganti sandi." Genta menutup pintu kembali, setelah berhasil membukanya.


Mata Juna berkeliling melihat sekitar apartemen Genta yang sangat rapi, Genta hanya duduk menatap punggung Juna. Arjuna diam-diam tanpa pergerakan mengetahui lebih banyak dari dirinya.


"Jun, sejak kapan kamu tahu jika Li juga terlibat?"


"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu." Kepala Juna geleng-geleng karena memang dia tidak tahu menahu siapa pelaku dan apa tujuan.


Mendengar nada dingin Juna, tawa pelan Genta terdengar. Kedatangan Juna pasti ada alasannya sehingga sampai berkunjung ke apartemen.


"Tidak ada banyak orang yang tahu apartemen ini, bagaimana kamu bisa datang?"


Arjuna duduk di sofa, menatap benda yang tertanam di dalam tubuh Shin. Dugaannya Juna sudah tertanam sejak Shin kecil. Tatapan Genta tajam melihat kearah benda yang menyakiti adiknya sejak kecil.


"Kak Gen, Juna tidak ingin ikut campur, tapi apa benar Liana terlibat?"


Genta melempar Juna menggunakan bantal sofa, pertanyaan Juna membuat Genta merasa lucu karena terlalu cuek dengan sekitarnya.


Senyuman Juna terlihat, keberadaan Liana sebenarnya memang dipergunakan untuk mengawasi Genta. Sejak pertama tinggal di kediaman Leondra, Juna memperhatikan tindakan Li yang selalu mengikuti Genta hingga dewasa.


Kedatangan Li mengobati Citra hanyalah alasan saja, Juna tahu jika Li tidak tertarik dengan apapun kecuali Genta. Namun Lian meminta mengawasi Citra yang mungkin lebih dekat juga seluruh keluarga.


Hubungan Shin dan Leondra di luar rencana, karena Lian ingin menghacurkan Shin sama seperti hancurnya hidup seseorang yang tidak Juna ketahui orangnya.


"Kamu mengetahui sejak lama, tapi membuka pintu untuk Liana?"


"Bukan soal mengetahui atau Juna menerima keberadaan Li, menolak tanpa alasan sesuatu yang mencurigakan. Liana memang bisa mengawasi kita semua, tapi Juna juga bisa mengawasi dia dari jarak dekat." Keberadaan Genta dan pergerakan Li memang sudah Juna awasi.


"Kenapa kamu begitu peduli? padahal kehidupan kamu sudah sibuk. Alasan tidak mungkin karena Shin." Genta tersenyum, memahami cara pikir Juna yang sangat santai.

__ADS_1


Tatapan mata Juna fokus ke arah foto keluarga Genta, Juna tidak mengenal siapa Shin dan tidak ingin tahu jalan hidupnya yang rumit. Alasan Juna ikut campur buka karena kekurangan pekerjaan, tapi demi Tika yang terobsesi dengan Melly.


Rasa sayang Juna kepada Tika, membuatnya tidak bisa bersikap keras hingga membatasi pergerakan Tika. Semakin dirinya keras, makin sulit menjaga dan mengatur Tika.


"Cepat selesaikan kasus ini Kak, agar Tika juga berhenti dan mulai meniti hidupnya. Jika masalah ini tidak berakhir, Atika juga tidak akan berhenti." Juna bicara sangat serius karena dia tahu siapa adiknya yang memiliki sikap keras.


"Kamu tahu jika Tika agen Lin yang sangat terkenal di beberapa negara, dia orang yang selalu memberikan jalan untuk beberapa aparat." Genta memperhatikan sekitar, hanya bicara pelan tidak ingin rahasia Tika terbongkar.


Arjuna menganggukkan kepalanya, dirinya mengetahuinya jika adiknya memiliki kemampuan di teknologi, bahkan bisa meretas apapun yang dia inginkan.


Tidak ada yang tahu rahasia Tika, bahkan Diana sekalipun yang menjadi guru pribadinya.


"Kak, rahasia soal Juna yang mengetahui ini. Kak Genta terus maju untuk membuktikan pelaku penculikan Shin, dan kejahatan Lian berserta kawan-kawan." Juna berdiri, dia akan mengawasi dari kejauhan karena tidak ingin Tika mengetahui pergerakan Juna.


Senyuman Genta terlihat, berjabatan tangan dengan Juna yang sangat dikaguminya. Arjuna yang pertama mengetahui hubungannya dengan Shin, dan bisa menjaga rahasia, sekarang tanpa sepengetahuan siapapun Juna mengamankan alat yang tertanam di tubuh Shin.


"Jun, terima kasih,"


"Ucapan nanti saja, jika berhasil. Satu hal lagi Kak, hasil tes sebelumnya ...."


Hanya Juna yang berhasil karena dilakukan sendiri tanpa ada yang tahu, bahkan Genta sendiri tidak tahu tepat waktunya.


"Mereka jahat, aku sangat penasaran alasan mereka menyiksa adikku." Genta melangkah bersama Juna untuk pergi pulang ke rumah.


Di perjalanan Juna dan Genta hanya membicarakan kondisi Genta yang sempat mengalami drop, Juna memastikan jika Genta baik-baik saja jika dia menghindari beberapa hal yang membuat trauma kembali.


Pembahasan selama di dalam apartemen seakan-akan tidak pernah diketahui keduanya, Genta tersenyum kagum untuk kesekian kalinya kepada pria muda, cerdas dan berbakat seperti Juna yang bisa bekerja sama dalam hal rahasia.


Sesampainya di kediaman keluarga, satu mobil mewah melewati mobil Juna dengan kecepatan tinggi. Genta hanya bisa geleng-geleng melihat Tika membawa mobil seperti pembalap.


Dua mobil berhenti, Juna dan Genta keluar mobil, diikuti oleh Shin, Atika, Rindi dan Mama Citra yang tersenyum lebar menatap Juna.


Langkah Genta langsung mundur saat melihat Rindi tersenyum malu-malu, mengulum bibirnya memeluk lengan Citra.

__ADS_1


"Apa ini?" Genta langsung berlari keluar dari parkiran rumah Juna, langsung menuju pulang ke rumah Gemal yang bisa dilewati hanya dengan berjalan kaki.


Melihat Genta berlari tanpa permisi, Juna binggung. Lebih binggung lagi, saat wanita yang bersama Mamanya menatap malu-malu.


Tika sudah menutup wajahnya menahan tawa, melangkah masuk ke dalam rumahnya sebelum Kakaknya mengamuk karena membawa wanita gila dalam hidupnya.


Senyuman lenyap dari wajah Shin, hanya terlihat tatapan kesal dan ingin sekali memukul kepala Rindi.


"Hai, Ayang." Rindi mengulurkan tangannya kepada Juna yang mengerutkan keningnya.


Juna menatap Mamanya, langsung melangkah masuk mengabaikan Rindi yang masih menunggu Juna menyambut tangannya.


"Ayang, jangan tinggalkan Rindi." Rindi berlari ke dalam rumah, mengejar Juna yang sudah memeluk Maminya.


Melihat Aliya yang mengusap wajah Putranya, Rindi langsung mengambil vas bunga ingin melempar kepala Aliya karena memeluk suami barunya.


Belum sempat Rindi melangkah mendekat, tembakan dari jarak jauh menghantam dadanya. Rindi melihat seorang anak kecil mengarahkan senjata mainan.


"Kakak sudah mati, ayo jatuh." Isel memaksa Rindi untuk berguling.


Senyuman Rindi terlihat, langsung berguling dilantai membuat Aliya dan Arjuna kebingungan. Al sudah pusing mempunyai keponakan nakal, ditambah lagi wanita aneh yang berpura-pura mati karena ditembak.


"Siapa dia Juna?"


"Tidak tahu, teman Isel mungkin. Sama-sama aneh." Juna merangkul Maminya untuk mengabaikan.


Tawa Citra pecah, menggendong Isel yang sangat mengemaskan. Dia selalu berkeliling dari rumah satu ke tempat lainnya hanya untuk mencari lawan. Kedua Kakaknya sibuk belajar, sedangkan Isel sibuk berperang.


"Nama Kakak siapa?"


"Rindi, istrinya Arjuna." Rindi berkenalan dengan Isel yang menatap sinis.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2