
Aksi tembak terjadi, di pedesaan yang jauh dari keramaian ada markas terbesar yang dipimpin oleh seorang wanita.
Sejujurnya berat Altha menerimanya, jika Aliya terlibat dalam kejahatan yang sangat besar.
Pihak kepolisian sudah main kejar-kejaran untuk saling melumpuhkan, Alt juga tertembak di bagian lengannya.
Senjata Altha sudah ada di kepala seseorang, selama berhari-hari Alt melakukan pengejaran dan menemukan kebenaran yang menyakitkan.
"Di mana Al?"
"Kenapa kamu ada di sini? seharusnya kalian tidak datang." Suara tertawa terdengar, mengangkat tangan ke atas.
Mobil, ponsel Altha sudah disadap, tapi bukan Altha namanya jika dia tidak bisa melarikan diri dari pengawasan.
"Kamu hebat juga Altha, seharusnya aku tidak menganggap remeh."
Altha melayangkan pukulan, mempertanyakan keberadaan istrinya. Altha tahu jika istrinya terlibat, dan dia yang membuat keadaan kacau.
"Siapa yang kamu cari?"
"Oh, ternyata Alina masih hidup. Dugaan aku benar jika dia yang ada dibalik semua ini." Alt langsung berteriak kuat.
Dimas sampai binggung melihat Altha yang sedang marah, meminta bawahnya untuk mengurus tahanan.
Altha yakin Aliya dalam bahaya, karena Alina tidak ada di tempat persembunyian berarti dia sudah keluar dan melakukan kejahatan secara terang-terangan.
"Ada apa ini Alt?"
"Kamu masih ingat soal ucapan aku Aliya pimpinan komplotan ini, mereka bukan hanya melakukan kejahatan di satu kota bahkan ada di luar negeri. Dia bukan Aliya, tapi Alina." Altha langsung mengemudi dengan terburu-buru.
"Demi apapun ini Alina yang sudah mati." Dimas langsung memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada jaringan.
Perasaan Altha dan Dimas langsung khawatir memikirkan Aliya, dia sedang berjuang sendiri untuk melawan kakaknya sendiri.
Kode darurat Altha kirimkan, panggilan rahasia untuk meminta bantuan menjaga istrinya dan juga anak-anaknya.
"Ya Allah lindungilah istriku, aku tidak bisa bersama dia disaat paling menyakitkan baginya." Padangan Altha langsung memudar memejamkan matanya sesaat dan harus percaya kepada Aliya jika dia pasti baik-baik saja.
Surat kosong yang Al buang memiliki nama Alina di bagian bawahnya, seharusnya Altha sudah menyadarinya bukan menganggap itu hanyalah merek.
__ADS_1
Padangan Dimas langsung melihat ke belakang, ledakan besar terjadi di markas komplotan.
"Altha berhenti, balik lagi. Tim kita ada di sana Al." Dimas menghela nafasnya.
Altha memukul setir mobil, melihat ponsel rahasia sudah mendapatkan respon untuk menjamin keselamatan Aliya dan anak-anaknya.
Sekalipun Altha pulang dia membutuhkan waktu cukup lama, sedangkan tim yang di pimpin sedang dalam masalah.
Altha memutuskan untuk melihat keadaan tim, dan membawa semuanya keluar dalam keadaan hidup.
Tatapan Dimas cukup sedih melihat Altha, dia pasti sangat khawatir kepada keluarganya, tapi tidak bisa mengorbankan para bawahan yang mungkin juga memiliki keluarga.
"Alt, Aliya dan anak-anak pasti baik-baik saja." Dimas mengusap punggung sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.
Kepala Altha mengangguk, dia sangat percaya kepada Aliya. Istrinya akan bertahan dengan cara apapun sambil menunggunya pulang.
Meksipun Altha tidak bisa membohongi betapa takutnya dia kehilangan Aliya, dan tidak siap jika ditinggalkan seperti yang selalu Al katakan, jika suatu hari dia akan pergi.
***
Mobil yang Anggun kendarai berhasil menemukan keberadaan mobil Alina, Aliya langsung tuker posisi untuk kebut-kebutan menghentikan kakaknya.
"Bersiaplah hubungi rumah sakit kak."
"Al tangan kamu berdarah lagi." Cepat Anggun membalutnya, Aliya memang melupakan rasa sakitnya demi orang-orang yang dicintainya.
Aliya mendengar pesan suara dari Helen tentang kedua anaknya yang di rumah juga ketakutan, dan menunggu Aliya pulang.
"Sabar ya nak, Mami pasti pulang dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian." Al menarik nafas panjang, dan berusaha untuk tetap tersenyum.
Anggun hanya bisa meneteskan air matanya, sekarang gadis tujuh belas tahun yang pernah Anggun bela kasusnya di pengadilan sudah menjadi wanita dewasa dan sosok ibu yang luar biasa.
"Kak Anggun, jika ini nyawa terakhir Aliya jangan bawa aku ke rumah sakit kak, Al harus menemui Arjuna dan Tika terlebih dahulu, jikapun harus mati aku ikhlas." Tatapan mata Aliya tajam melihat mobil Alina.
"Tidak Al, kamu memiliki banyak nyawa seperti yang pernah kamu ucapkan. Aku percaya kamu masih memiliki sisa nyawa lagi." Anggun mengusap air matanya.
Suara tawa Aliya terdengar, Anggun satu-satunya orang yang selalu membenarkan tingkat halu Aliya.
Sejujurnya Aliya berbohong jika dia mempunyai banyak nyawa, punya satu saja Al kesulitan menjaganya. Dia hanya di hukum oleh takdir untuk merasakan sakit yang lebih dalam dan lama.
__ADS_1
"Kak Anggun tahu mimpi dan cita-cita Aliya hanya untuk bahagia, karena selama hidup Al belum mendapatkannya. Saat bersama Altha dan anak-anak Aliya bahagia kak, sangat bahagia. Mimpi indah sudah Aliya dapatkan." Mobil Aliya langsung berputar saat di depan mereka mengalami kecelakaan.
Belum berhenti mobil Aliya, dia sudah melompat terlebih dahulu membuat Anggun kaget.
Al berlari ke arah mobil Alina, masuk ke dalamnya secara paksa. Suara ledakan terdengar membuat banyak orang berhenti di jalanan.
Tatapan Aliya sayup melihat putrinya Mora penuh darah, langsung memeluknya erat dan mencium wajahnya.
"Jangan terluka Mora, Mami ada di sini sayang." Al langsung berdiri membawa Mora menjauh.
"Aliya, kamu baik-baik saja."
Kepala Aliya menggeleng, dia tidak mungkin baik melihat keadaan Mora yang sudah tidak sadarkan diri. Al hanya bisa memeluknya.
Anggun melihat sekitar, langsung membawa Mora dan Aliya yang harus dilarikan ke rumah sakit secepatnya.
Mereka tidak punya waktu untuk mengurus Roby dan Citra yang masih tergeletak di jalanan.
Al menyerahkan Mora kepada Anggun, memintanya untuk menjaga Mora dan melindunginya sebelum Altha kembali.
"Kak, Al akan menyembunyikan soal kecelakaan dari publik. Bahkan kepolisian tidak akan menemukan bukti apapun, kak Anggun fokus kepada Mora." Al langsung menyerahkan putrinya yang tidak tahu pasti keadaannya.
Darah mengalir di tubuh Al, tapi dia tidak merasakan sakitnya sama sekali. Al harus menemui kedua anaknya, karena Alina akan segera kembali.
Jika Aliya saja memiliki kekebalan tubuh yang kuat, apalagi Alina. Dia sudah biasa menyingkirkan banyak orang untuk kejahatannya.
Kenan langsung membantu Anggun ke rumah sakit, Dika bersama Aliya untuk menghapus rekaman kecelakaan.
Jika polisi tahu, Aliya yang akan tertangkap sebagai pelaku. Alina tidak terdaftar, dia sudah lama dianggap mati.
Al harus mempertanggungjawabkan kesalahan kakaknya, dia juga bisa mendapatkan masalah lebih besar lagi.
"Alina, aku akan membunuh kamu jika sampai anak-anak dalam bahaya, cukup Mora yang kamu libatkan, jangan pernah kamu menyentuh kedua anakku."
Suara panggilan masuk, tubuh Aliya melemah lagi. Dika menahan Al untuk bertahan, karena Al bisa mempercayai dirinya untuk tidak berkhianat.
"Kak Dika, orang kepercayaan Al berkhianat. Dia ada di sisi Alina."
"Al, aku tidak tahu siapa Alina, tapi aku akan menjaga kamu dan melindungi kamu. Kita sahabat Al, sahabat sejati tidak akan saling meninggalkan." Tangan Dika mengusap kepala Aliya, tapi mata Dika tidak berani melihat Al yang penuh darah.
__ADS_1
***