ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
LAUTAN


__ADS_3

Mobil yang mengantar Gemal berhenti di pelabuhan terbesar, Gemal membuka bajunya mendekati mobil Yandi.


"Gem, kamu yakin baik-baik saja. Lihat tubuh kamu masih dibalut perban, bahkan tangan masih berdarah bekas infus, kepala masih basah bekas jahitan." Yandi khawatir melihat kondisi Gemal.


"Jangan pikirkan aku, selama kaki masih bisa berjalan, tangan masih bisa menebak, Gemal tidak akan mundur. Ini kesempatan terakhir kita untuk menghentikan mereka." Tatapan Gemal tajam, langsung memainkan baju Anti peluru yang Yandi bawa.


Gemal menggunakan topi untuk menutupi luka kepalanya, dan membalut kakinya kuat, memasukan peluru ke senjatanya.


"Kenapa hanya satu peluru Gem?" Yandi menatap binggung.


Senyuman Gemal terlihat, dia tidak akan melepaskan tembakan jika tidak dalam keadaan darurat, dan kondisi darurat hanya muncul satu kali.


Tangan Yandi mengusap lengan Gemal, selain Dimas dan Altha yang sulit diatur dan hentikan muncul satu anak muda yang lebih keras dan tidak takut apapun.


Gemal langsung melangkah bersama Yandi, dugaan Gemal benar dia melihat Hendrik dan seorang wanita yang sangat cantik berjalan ke arah kapal bersandar.


"Dia Gracia?" tatapan Yandi tidak percaya, karena Gracia sangat dekat dengan Aliya karena Cia guru bahasa asing Juna.


"Kak Yandi mengenal dia?"


"Dia gurunya Juna, beberapa kali sering bertemu dengan istrinya pak Altha dan istri saya."


"Penyamaran yang sempurna." Gemal melihat sekitar tidak ada kapal yang akan bersandar.


Yandi mengerutkan keningnya, kepergian Hendrik dan Cia membingungkan karena tidak ada barang yang mereka bawa.


Gemal langsung tersenyum sinis, menunjuk ke arah perairan. Yandi tercengang melihat Gemal yang sangat cerdas.


"Mereka menggunakan kapal selam." Gemal melihat sebuah kapal selam berlabuh dan Hendrik diikuti oleh Cia langsung lompat.


Yandi ingin keluar persembunyian, tapi Gemal menahannya. Mereka tidak bisa mengantarkan nyawa dengan mudahnya.


"Kenapa Gem?"


"Kak Yandi ingin mati ditenggelamkan. Mereka akan berhenti di pertengahan sana, dan barang mereka ada di kapal besar. Gerakan tim untuk menyerang segala sisi sampai mereka tidak bisa melarikan diri." Tangan Gemal menyentuh dadanya.


Gemal langsung menghubungi Altha meminta bantuan kapal, dan mereka harus menghentikan satu kapal yang ada di tengah perairan yang kemungkinan digunakan untuk menyelundupkan barang.


Gemal langsung berlari ke arah seseorang yang melambaikan tangan dengan bendera hitam, senyuman Gemal terlihat.


"Innalilahi Gemal, kamu mirip penjahat. Apa yang kamu butuhkan sudah aku siapkan." Tatapan seorang wanita berseragam terlihat kesal.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan mentraktir kamu setelah misi ini selesai." Gemal memanggil Yandi untuk ikut dengannya.


"Hati-hati Gemal, harganya ratusan juta."


Gemal mengangkat tangannya, memberikan jempolnya langsung mendekati jetski langsung naik.


Yandi menggelengkan kepalanya, menggunakan jetski ke tengah laut sama saja cari mati. Tidak ada bedanya mendekati kapal selam.


"Kak Yandi ingin ikut tidak? atau tunggu pak Dimas dan Altha saja." Gemal sudah menggunakan baju pengaman bersiap berangkat.


"Ya Allah ini anak selalu menantang maut, jujur ya Gemal, aku lagi proses memiliki anak."


"Baiklah, tunggu saja kapal. Gemal pergi sendiri."


Yandi mengumpat kasar, langsung naik ke atas jetski. Menggunakan baju pengaman langsung memeluk pinggang Gemal yang meringis kesakitan.


Gemal menjalankan jetski, meksipun kecepatan tidak imbang dengan kapal, Gemal yakin dia bisa menghentikan kejahatan Hendrik sebelum ibunya semakin kecewa.


***


Persiapan keberangkatan Altha dan Dimas sudah lengkap, beberapa kapal diturunkan. Bahkan gabungan dengan tim angkatan laut untuk mengeledah kapal.


Dari kejauhan sudah bisa melihat kapal besar, tapi bukan kapal ilegal. Dimas cukup binggung alasan kapal legal berhenti di tengah lautan.


"Dia masih muda, aku saat muda juga pintar, peka dan gerak cepat." Alt tersenyum, tujuan mereka melindungi tim terutama Gemal yang memaksa pergi meskipun dia terluka.


"Sekarang, sudah bucin, lambat, selalu telat. Bahkan putra kamu lebih pintar sekarang." Dimas tertawa kecil.


Altha tersenyum sinis, bawahan yang berani menghina atasannya hanya Dimas. Alt memperhatikan pergerakan kapal yang terlihat cukup mencurigakan.


Semakin gelap langit, semakin heboh pergerakan kapal. Alt menatap ke atas langit yang sudah gelap.


"Mereka berpesta, padahal kita sedang main kejar-kejaran."


Dimas tersenyum melihat Altha mengumpat, mereka bekerja siang dan malam untuk menjaga keamanan tetapi orang lain bersenang-senang dengan merugikan orang lain.


Di dalam kapal besar sedang diadakan pesta, Hendrik dan Gracia berhasil pindah kapal dan meminta kapal segera berangkat meninggalkan negara yang memiliki banyak kejahatan.


Hendrik dan Gracia masuk ke dalam ruangan khusus, tersenyum menatap obat-obatan dan senjata mereka aman.


"Akhirnya obat ini sempurna, dan kita bisa semakin menguasai dunia medis." Cia tertawa sangat besar.

__ADS_1


"Aku akan menjadi dokter terbaik bergelar profesor. Banyak orang yang akan bertekuk lutut di bawah kaki." Hendrik bertepuk tangan, karena mereka berhasil mengambil copy file yang selama ini mereka cari.


Cia tersenyum melihat wajahnya di kaca, dia berpikir musuh terbesarnya Diana, tapi ternyata Di tidak sekuat dulu.


Suara tawa Cia terdengar, merasa puas bersenang-senang dan sudah waktunya dia pindah negara baru dan membuka bisnis baru.


"Aku tidak menyangka Gemal bisa menemukan keberadaan kita? bahkan kita dibuat tidak berkutik." Hendrik menatap tajam ke depan.


"Kamu benar, dia cukup lumayan membuat kewalahan, tapi demi menyelamatkan Alina, dia rela mati." Cia menggelengkan kepalanya, Gemal terlalu bodoh karena rela berkorban.


Beberapa kali Hendrik gagal ulah Gemal, dan membuatnya sangat murka ingin melihat kematian Gemal.


"Kalian bersaudara, tapi kenapa kamu membenci dia?" Cia menatap Hendrik tajam


"Dia bukan adik kandung aku, hanya anak yang dipungut di jembatan. Asal usulnya saja tidak jelas."


Kening Cia berkerut, Gemal melakukan segala cara agar bisa menyelamatkan ibu angkatnya, sedangkan Hendrik tidak peduli dengan ibu kandungnya.


Nasib Cia dan Hendrik sama, keluarga Cia mengasingkannya, dan menyempurnakan orang lain sedangkan ibunya Hendrik mencintai anak angkatannya dan membuang anak kandungnya.


"Kita tidak membutuhkan keluarga, karena hidup bebas lebih menantang." Cia menoleh ke arah lampu kapal yang semakin mendekat.


Hendrik langsung berdiri, kapal mereka sudah mendapatkan izin menyeberangi lautan, tapi kenapa masih ada pemeriksaan.


"Kapal siapa?" Cia meminta kapten kapal melihat siapa yang mengunjungi mereka.


Hendrik berjalan keluar, langkanya terhenti saat melihat seseorang dengan keadaan basah kuyup, wajahnya tertutupi pakaian basah.


"Kalian sudah dikepung." Gemal membuka topinya, tersenyum sinis melihat Hendrik yang melangkah mundur.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? seharusnya kamu mati karena suntikan beracun." Suara Hendrik meninggi, mengarahkan senjata.


"Jika aku mati, anggap saja arwah yang mengejar. Hidup dan mati aku tidak akan tenang, tanpa menangkap kalian!" Gemal berteriak kuat, menghela nafasnya.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya

__ADS_1


***


__ADS_2