
Pintu terbuka, Diana menatap Putrinya yang terbaring lemas. Masih ada darah di mulutnya, Shin sudah membersihkan busa yang keluar dari mulut Isel.
Kedua tangan Di mengepal, matanya langsung merah melihat putri kesayangannya terluka sampai mengeluarkan darah.
"Minggir." Di berjalan memegang pergelangan tangan Isel.
Gemal juga tiba, langsung naik ke atas tempat tidur melihat Putrinya terbaring tanpa suara.
"Sayang, Isel. Buka mata kamu, Isel. Katakan pada Papa bagian mana yang sakit?" kedua tangan Gemal mengangkat tubuh Isel yang lemah.
"Siapa yang melakukan ini kepada Putriku?" air mata Gemal menetes, memeluk Isel lembut.
"Kita larikan Isel ke rumah sakit sekarang." Di berjalan lebih dulu, tangannya masih mengepal kuat. Bersumpah di dalam hatinya, jika dia akan kembali membunuh siapapun yang mencelakai Putrinya.
Gemal menggendong Isel, melangkah keluar hotel diikuti oleh semuanya. Bukan hanya Gemal dan Diana yang hancur melihat kondisi Isel, seluruh keluarga sama terpukul melihat si kecil tidak sadarkan diri.
"Tahan semua orang yang masuk ke hotel, tidak peduli status dan jabatannya." Genta menatap Isel yang tubuhnya membiru.
"Jangan Genta, selesaikan acara sampai besok. Jangan mengecewakan rencana awal, lanjutkan acara ini sampai akhir. Isel pasti baik-baik saja, dan aku akan menemukan siapapun yang melakukan ini pada Putriku. Sekalipun dia bersembunyi di bawah tanah, akan aku temukan." Di meneteskan air matanya berjalan lebih dulu menuju mobil.
Altha meminta Shin, Juna pergi ke rumah sakit. Genta, dan Tika juga keluarga Altha akan tetap di hotel sampai acara selesai.
"Jun, kabari selalu Papa perkembangan Isel." Alt menatap Shin yang fokus di sebuah buku.
"Dimas, sebaiknya kamu dan Anggun yang ke rumah sakit, aku dan Jes akan tetep di sini untuk mewakili keluarga Genta. Kabari Kami setiap saat." Papa Calvin meminta Hendrik juga mengecek kondisi Isel.
"Ada apa dengan Isel?" Aliya melangkah terburu-buru saat mengetahui Isel terluka.
"Kemungkinan Isel keracunan, tapi anehnya kita semua aman." Alt menatap Aliya yang sudah berderai air mata.
__ADS_1
Manusia seperti apa yang tega menyakiti anak sekecil Isel, dia sedang aktif dan selalu membuat heboh. Siapapun pelakunya dia sedang mencari kematian.
Dari kejauhan Dina berdiri bersama Hana, sudah mendapatkan kabar soal Isel. Jantung Dina berdegup kencang karena sasaran langsung mencari celaka.
Menyakiti Isel sama saja mengibarkan bendera perang kepada keluarga besar Leondra, dia cucu perempuan utama yang sangat dicintai.
Diana psikopat gila tidak mungkin diam saja, dia bisa berubah menjadi iblis kembali untuk menemukan pelaku yang melukai Putrinya.
"Kasian Isel, semoga dia diberikan kesembuhan juga kembali ceria." Ana mengusap air matanya mendoakan Isel agar kembali ke tengah keluarganya.
Di perjalanan, Shin masih fokus di depan buku yang sedang dibacanya. Begitupun dengan Hendrik yang menatap layar tablet.
"Shin, ini racun pelumpuh. Obat apa yang kamu berikan kepada Isel?"
"Hanya menghentikan penyebaran, jika sampai racun sampai ke otak, Isel dalam keadaan buruk. Aku harap kita segera mengetahui bagian tubuh Isel yang terkena racun." Shin menatap Juna yang mencengkram setir mobil.
"Bukannya, racun ini hanya mematikan bagian kita orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak peluang terbesarnya kecil?" Rindi menatap Shin yang mengangguk, begitupun dengan Hendrik yang setuju ucapan istrinya.
"Isel muntah darah sampai berbusa, aku takut dia pendarahan." Shin menundukkan kepalanya.
"Itu tidak akan terjadi, tidak akan." Juna menatap Shin yang menangis tidak bisa menahan dirinya lagi yang sangat mengkhawatirkan Isel.
Tangan Juna menepuk pundak Shin, meminta tenang karena ada Diana dan Gemal yang sedang hancur setidaknya mereka harus terlihat normal.
"Jangan khawatir, di sini ada aku, Kak Hendrik juga Mama Diana yang tidak akan membiarkan Isel celaka." Juna tersenyum menenangkan Shin.
"Obat apa saja yang kamu racik untuk Isel?" Hendrik membaca buku medis Shin yang sangat luar biasa isinya.
Shin mengirimkan pesan, Hendrik tersenyum mengagumi kecerdasan Shin soal medis apalagi jika berurusan dengan racun.
__ADS_1
"Juna, nanti kamu baca pesan yang aku kirimkan." Hendrik mengembalikan buku kepada Shin.
Kepala Juna hanya mengangguk, mempercepat laju mobilnya karena mobil yang membawa Isel memberikan isyarat bahaya hingga beberapa jalan ditutup agar laju mobil bisa cepat.
"Maafkan Shin yang bisa membantu sampai di sini, tolong selamat Isel." Kedua tangan Shin menutup matanya.
Shin menatap langit, memohon agar Isel dikembalikan kepada mereka. Tidak akan ada yang tahu hidup dan mati seseorang, tapi Shin terus berdoa agar kebahagiaan keluarga tidak dirampas dengan rasa kehilangan.
"Ya Allah, saat kedua orang tua Shin diambil aku rela, engkau jadikan aku yatim piatu dan dipisahkan dari saudara, aku terima. Disakiti hati dan fisik secara habis-habisan aku nikmati, apapun ujian yang dulu aku lewati aku terima dan jalani. Di uji lagi dengan kepergian Mama Citra, hati Shin hancur untuk kehilangan sekian kalian. Kali ini saja, aku Mohon sekali ini jangan biarkan keluarga Leondra kehilangan si kecil yang selalu membuat kami tertawa." Kedua tangan Shin menadah, memohon agar satu kali saja doanya dijabah.
Shin menggenggam tangan Shin, tangisan keduanya pecah. Jika keluarga Leondra berduka, hancur hati mereka semua apalagi kehilangan malaikat kecil yang selalu heboh sendiri.
"Isel pasti bangun, Shin jangan menangis. Hati Rindi sakit." Tangisan Rindi seseguk memikirkan kondisi Isel.
Mobil tiba di rumah sakit, Juna dan Hendrik berlari kencang untuk membawa Isel dalam ruangan khusus. Pundak Diana ditahan agar tetap di luar.
"Biarkan aku masuk Juna! aku ingin menemani dan melihat Putriku. Jika aku hanya menunggunya di luar, kemungkinan aku bisa membunuh orang. Jangan biarkan aku lepas kendali. Aku harus mengobati putriku, harus menyelamatkannya agar tangan ini tidak berdarah lagi. Isel harus selamat agar pelakunya tidak mati." Diana tersenyum mengusap wajah Putrinya.
Hendrik menepuk pundak Juna, membiarkan Diana ikut bergabung. Keselamatan Isel menjadi prioritas mereka.
Gemal duduk sambil menggenggam tangan, hatinya hancur melihat kondisi Putrinya. Shin menepuk tangan Gemal untuk kuat.
"Isel pasti baik-baik saja, dia gadis kecilku yang kuat. Shin, Isel harus bangun, aku bisa gila jika kehilangan dia." Gemal meremas dadanya yang terasa sesak.
Kepala Shin mengangguk, mengusap punggung kakaknya yang biasa ceria, sekarang berderai air mata.
Gemal hanya dua kali menangis demi putrinya, saat Isel dilahirkan dan saat ini Putrinya terbaring tidak berdaya.
"Ayo bangun sayang, Papa rindu Isel. Jangan terlalu lama diam Nak. Papa juga ingin menemani Isel." Gemal menatap ruangan Isel yang tertutup rapat.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira