ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

Selesai mandi dan makan Altha meminta Aliya menemuinya di ruang kerja, ada Dimas dan Anggun yang sedang membahas soal kasus Sita.


Yandi juga sudah mengirim seseorang untuk mengawasi Mamanya Sita yang kemungkinan juga dalam bahaya, karena dia melakukan segala cara agar putrinya mendapatkan keadilan.


Anggun melihat ke arah ponselnya, melihat rekaman ulang soal penyiksaan Sita membuat hati Anggun sakit.


"Jangan dilihat jika menyakitkan." Dimas mengambil ponsel dan mematikan rekaman.


"Dia tidak beruntung, dan kebahagiaan tidak menghampirinya di kehidupan saat ini." Anggun menghela nafasnya, menatap Dimas yang hanya tersenyum menatap pengacara cantik dihadapannya.


Dimas tidak menyukai sikap Anggun yang lembut, tidak mengerti apa alasan ingin menjadi seorang pengacara. Selain lembut, cengeng, Anggun juga memiliki perasaan yang mudah tersentuh.


"Seorang pengacara harus tanggung, karena memiliki tugas untuk membela kebenaran." Dimas kecewa saat Anggun menerima perintah untuk membela Wadi, sedangkan Anggun tahu bertapa buruknya sikap kliennya.


Seorang pengacara yang sudah memiliki gelar mendapatkan hak penuh, tidak boleh takut dengan siapapun baik menggunakan alasan apapun.


"Kamu bahagia dengan pekerjaan ini?"


"Iya." Anggun tersenyum, dia bahagia saat bisa membela kaum lemah, atau meringankan hukuman untuk orang-orang yang terpaksa melakukan kejahatan.


Namun ada saatnya Anggun juga sedih saat kalah di persidangan, apalagi jika berurusan dengan wanita tua dan anak-anak.


"Apa yang dilakukan Anggun mulia Dimas, menjadi yang lembut meskipun memiliki tugas yang berat." Yandi tersenyum menyemangati Anggun.


Tangan Dimas langsung memukul Yandi yang menatap calon istrinya, Aliya merangkul Dimas dan mengejeknya yang sekarang posesif sekali juga cemburuan.


Altha berdehem melihat Aliya yang merangkul Dimas, Yandi langsung tertawa melihat dua pasangan yang saling cemburuan.


Alt dan Dimas sama saja, posesif juga cemburuan. Meksipun Alt tahu kedekatan Dimas dan istrinya tetap tidak suka Al terlalu dekat.


"Kenapa Ayang?" Al tersenyum melihat wajah suaminya.


"Jauhi Dimas sayang, jaga perasaan Anggun yang mengejar cinta Dimas bertahun-tahun, tapi belum mendapatkan keputusan untuk menikah." Altha menatap Anggun yang tertawa membenarkan ucapan Altha jika dirinya masih diminta menunggu.


Dimas menatap sinis, menggenggam tangan Anggun mempertanyakan kapan Anggun menginginkan dirinya sudah siap.


"Kamu ingin pesta sebesar apapun akan aku sediakan, karena Altha yang membayarnya." Dimas menatap Alt yang kaget.

__ADS_1


Dimas menagih janji Altha, dia akan menjadi sponsor jika Dimas menikah. Sebenarnya Alt yang memiliki tugas menjadi mata-mata di bandar obat terlarang, dan Dimas menggantikannya.


Aliya menatap suaminya yang tersenyum membenarkan ucapan Dimas soal janji untuk membiayai modal menikah, dan menyerahkan satu rumahnya untuk Dimas.


"Aku tidak menginginkan pesta, cukup sah di mata hukum dan negara. Aku tidak memiliki keluarga yang bisa mengurus semuanya, cukup nikahin aku secara terhormat." Anggun tersenyum melihat Dimas yang hanya bisa terdiam, karena Anggun memang wanita sederhana yang tidak ingin menyusahkan orang lain.


"Aku hanya bercanda, Altha tidak perlu membayarnya."


"Meskipun, kita bisa membagikan sedikit riski untuk anak yatim-piatu sebagai rasa syukur." Pesta tidak menjamin keharmonisan, Anggun tidak ingin diadakan pesta besar.


Yandi mengetuk meja, tidak mengerti apa tujuannya berada di antara dua pasangan yang dimabuk cinta.


"Kapan kita bahas soal kasus Sita? apa kalian masih ingin membicarakan pernikahan?" Yandi ingin pamit pulang, dia tidak ingin mendengarkan pembicaraan pasnagan, karena dia belum memiliki pasangan.


Dimas melempar Yandi dengan buku, bagaimana bisa memiliki pacar jika sibuk bekerja dan tidak ingin mencari wanita.


"Dim, apa bedanya sama kamu yang tidak bisa didekati oleh wanita?"


"Itu dulu Altha, sekarang sudah beda." Dimas tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.


Yandi langsung ingin melangkah pergi, Alt menatap tajam memintanya untuk duduk kembali dan membahas rencana mereka.


Keselamatan anak-anak jauh lebih penting, Altha akan menyelesaikan masalah secepat mungkin dan segera menyusul.


Al menatap Altha, dirinya sebenarnya tidak ingin ikut campur apa rencana Altha, tapi jika menyangkut anak-anak Al harus tahu segalanya.


"Ayang, menangkap Wadi hal yang mudah." Aliya menatap Altha dan Dimas yang menggelengkan kepalanya.


"Sayang, soal Wadi memang mudah, tapi sebelum kita menangkap buntut, kita temukan dulu letak kepalanya." Al menghentikan ucapannya saat Helen datang membawa makanan dan minuman.


Setelah meletakkan Elen ingin melangkah pergi, tapi langsung menatap Aliya yang mengerutkan kening meminta Helen keluar.


"Kenapa harus menangkap kepala? nanti digigit bagaimana." Elen membayangkan seekor ular.


"Hei, anak kecil. Kamu ingin menangkap ular di bagian ekor, tapi dia bisa memutar badannya lalu mengigit. Kamu mati sebelum menangkap." Yandi menatap tajam, jika ingin menangkap maka pegang kepalanya.


Aliya meminta Helen keluar, urusan akan panjang soal buntut dan kepala. Otak Helen sangat lemot.

__ADS_1


Altha melanjutkan ucapannya setelah Helen pergi, sebelum menangkap Wadi Alt harus menemukan orang-orang yang melindunginya.


Percuma saja mengungkap kejahatan Wadi, cepat atau lambat pasti akan bebas dan melakukan tindakan buruk lainnya.


"Bagaimana soal Citra? dia juga terlibat Alt. Apa kamu akan berbaik hati lagi?" Dimas menatap tajam.


Altha tersenyum tipis, dia akan menangkap Citra dan membuatnya membayar semua kejahatannya yang merugikan orang lain.


Al masih diam melihat rekaman kekerasan terhadap Sita, berkali-kali rekaman diulang ditempat yang sama.


Altha menggenggam tangan Aliya memintanya berhenti, dan kali ini Altha meminta Al hanya fokus menjaga anak-anak dan tidak ikut campur.


"Sedang ada pesta." Al mengulang lagi dan lagi.


Anggun langsung mengambil earphone yang Aliya gunakan, mendengarkan apa yang Al putar berkali-kali agar lebih jelas.


"Kamu benar Al, saat penganiayaan ada acara pesta." Anggun menghela nafas panjang, sangat yakin jika seluruh pelaku sedang mengadakan pesta.


"Kematian Sita bukan karena penganiayaan, tapi pelecehan. Sialan." Yandi menggenggam tangannya kuat menahan marah.


"Ayang, Al ingin bergabung dalam misi ini. Please." Al memelas menggunakan cara Tika yang suka memohon.


Alt mengambil earphone, mendengarkan suara sayup-sayup musik berdentum dan suara banyak orang yang tidak jelas.


Tatapan Altha melihat Dimas, dirinya hanya takut Citra berbuat nekad menyakiti anaknya.


"Alt, izinkan saja Al bergabung. Cepat selesai lebih baik, lagian Citra tidak mungkin menyakiti anak kandungnya." Dimas menatap balik Altha yang masih ragu.


Anggun bersedia menjaga anak-anak, saat matahari terbit Altha dan tim harus sudah kembali.


Al tersenyum memeluk Anggun, dirinya juga akan memperketat keamanan rumah.


"Bagaimana menurut kamu Yan?"


"Emh, aku ragu. Tapi tidak ada salahnya kita percepat penangkapan."


Aliya tersenyum, dia ingin membuat Citra mendekam di penjara juga tidak akan bebas dengan mudah.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2