ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MAKAN MIE


__ADS_3

Suara sendok Tika beradu, dirinya binggung cara makan menggunakan sendok karena tangannya sakit jika digerakkan.


"Luka kamu terasa sakit?" Genta menghentikan makannya.


"Menurut Om? lihat tangan Tika lima jari lima juga lukanya, ini makanan panas bibir Tika juga perih." Tika memukul piring menggunakan sendok, meringis memegang bibirnya.


"Siapa yang minta makan mie? sudah tahu luka, tujuan pasti rumah sakit bukan makan mie di pinggir jalan." Suara Genta mengomel terdengar, beberapa orang memperhatikan keduanya.


Kepala Tika menunduk, menutupi wajahnya merasa malu melihat Genta marah-marah kepadanya. Bukannya mendapatkan moments romantis, tetapi diomeli.


"Dek, pacarnya luka diobati jangan marah." Seseorang yang duduk di meja yang berbeda menegur Genta.


Tatapan Genta langsung tajam, Tika menarik lengan Genta untuk duduk saja tidak harus meladeni ucapan orang lain.


"Pacar, jangan sok tahu." Genta langsung berjalan ke arah mobilnya.


"Om tua, bayar dulu." Atika mengumpat, mengambil uang langsung membayar makanan mereka.


Tika masuk ke dalam mobil, langsung membanting pintu sangat kuat. Tika kesal melihat Genta yang mudah marah hanya karena mendapatkan teguran.


Keduanya langsung berdebat, Genta menyalahkan Tika yang harus pergi jauh hanya untuk makan mie.


"Kamu terluka, makan di tempat seramai ini membuat orang berpikir aku menyakiti kamu." Genta memalingkan wajahnya dari Atika yang memukul lengannya.


"Dulu tempat ini tidak seramai ini, aku sering makan bersama Shin di sini. Pertama kali kami datang saat Kak Di hamil Twins, kita kelelahan lalu makan." Tika memalingkan wajahnya melihat beberapa orang berpasangan mulai berdatangan untuk hanya sekedar makan mie.


Tika hanya merindukan beberapa tempat yang meninggalkan kenangan, meskipun hanya makanan sederhana tapi sangat berarti bagi Tika.


Genta yang mendengar tidak enak hati, dirinya tidak tahu jika tempat makan yang jauh dari tempat tinggal sangat berarti bagi Tika.


"Dulu ini hanya warung makan biasa, aku dan Shin mendorong Kak Di menggunakan gerobak, karena dia lelah membawa ketiga anaknya." Tika tersenyum melihat arah jalan yang sudah memiliki banyak lampu.


Beberapa kali Tika dan Shin datang berkunjung hanya untuk makan, bercanda dan melepaskan rindu. Sudah tiga tahun Atika tidak datang berkunjung.


Semuanya sangat cepat berubah, tempat yang dulunya hanya dikunjungi oleh orang-orang yang berlalu lalang dari satu kota ke kota lain, tetapi sekarang menjadi tempat tongkrongan anak muda.


"Aku minta maaf,"


Senyuman Tika terlihat, Genta terlihat lucu saat merasa bersalah. Baru saja marah-marah dan langsung meminta maaf, lelaki yang jarang sekali Tika temukan.


Genta keluar dari mobilnya, berjalan ke arah tempat makan. Tika hanya memperhatikan, cukup lama Tika menunggu senyumannya terlihat lebar saat Genta datang membawa mie.

__ADS_1


"Kita makan di mobil saja, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian."


"Terima kasih Om tua, ini panas sekali." Tika mengipasi mie yang ada telurnya.


Tatapan Tika terpesona melihat pria dewasa di hadapannya yang sedang meniup mie agar Tika tidak kepanasan. Jantung Tika berdegup kencang, tersenyum malu-malu memperhatikan sikap lembut Genta.


"Ini, makanlah. Pelan-pelan, tangan kamu masih sakit." Genta menyerahkan mie yang sudah sedikit dingin, Tika langsung memegang pelan.


"Wow ... ini enak sekali." Tika memakan mie yang menjadi makanan favoritnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud lancang." Tangan Genta merapikan rambut Tika, meletakkan di belakang telinganya.


Suasana langsung hening, Tika makan dengan diam karena jantungnya sedang dalam keadaan tidak baik sama sekali.


Genta juga makan sambil memperhatikan ponselnya, ada sesuatu yang sedang diawasi. Tatapan Genta melihat ke arah mie yang dimakannya.


"Apa spesialnya?" gumam Genta sambil melihat ke arah luar.


Suara orang-orang bernyanyi bersama teman, kekasih, menghabiskan malam bersama untuk melepaskan penat sesaat.


"Om tua kenapa? iri dengan kehidupan mereka yang bebas, sedangkan Om teman saja tidak punya." Tika menahan tawa melihat ekspresi Genta yang menatap tajam.


Sepanjang perjalanan Tika hanya diam, bermain game di ponselnya. Genta juga hanya diam, fokus menyetir mobil agar segera sampai ke rumah.


"Tika, apa pantas aku mengantar semalam ini?" Genta melihat ke arah Tika yang sudah tidur.


Kedua tangan Genta terangkat, ingin sekali menjambak rambutnya karena selalu ditinggal tidur.


"Bagaimana ini? aku laporan sedang mengintai, tapi keluar bersama Tika. Sama saja mencari masalah." Kepala Genta membentur ke setir mobil.


Mobil Genta melaju pergi, tidak ingin mendapatkan Omelan dari Aliya apalagi jika Altha yang turun tangan belum lagi kondisi Tika banyak luka.


"Tika bangun, jangan membuat masalah untukku." Rambut Genta sudah acak-acakan, dirinya binggung harus membawa Tika ke mana?


Mobil Genta berhenti di apartemennya, pintu mobil dibuka. Genta berteriak meminta Tika bangun jika tidak ditinggal di mobil.


Mata Tika terbuka, lanjut tidur lagi. Tidak memperdulikan suara Genta yang mengancam dengan seribu alasan.


"Ya Allah, dosa apa yang aku perbuat? kenapa wanita satu ini selalu menyusahkan?" pelan-pelan Genta menggendong Tika untuk masuk ke apartemennya.


Sampai di dalam Genta menuliskan pesan, dirinya beranjak pergi tidak ingin apa yang terjadi saat di rumah lamanya terulang kembali.

__ADS_1


"Om, ingin pergi ke mana?" Tika membuka matanya.


"Aku ada perkejaan, beberapa kasus kejahatan belum selesai. Besok aku jemput kamu untuk menjenguk Shin."


Senyuman Tika terlihat, meminta Genta berhati-hati dan pulang dengan selamat. Tidak boleh terluka meksipun hanya sedikit.


Selimut ditarik, menutupi tubuh Tika yang sudah kembali ke alam mimpinya. Mata Genta melihat bibir Tika yang masih luka.


"Kamu selalu memancing emosi, tetapi cepat juga menurunkan amarah. Aku tidak mengerti makhluk apa yang menyerupai kamu?" Senyuman Genta terlihat manis menatap Tika yang menarik selimut.


"Om ganteng, meksipun sering marah. Ini lucu sekali." Suara Tika bergumam menghentikan langkah Genta.


Pintu tertutup, Genta hanya tertawa kecil. Di dalam mobilnya Genta melihat tas Tika tertinggal, mengambilnya untuk disimpan.


Sebuah flashdisk jatuh, Genta langsung mengambilnya dan merasa penasaran dengan isinya, tetapi jika dibuka sama saja Genta melakukan pencurian data.


"Apa isinya? kenapa aku penasaran sekali?" Kening Genta berkerut, masih menimang untuk melihat atau mengabaikannya.


Tatapan Genta tajam, melihat senjata yang Tika gunakan untuk menghentikan mobil saat terjadinya pengejaran.


"Ternyata Tika juga bisa membuat senjata, dia pasti memiliki izin. Siapa Tika sebenarnya? dia memiliki pengalaman dalam pengejar penjahat." Genta mengambil sebuah ballpoint yang ternyata peledak.


Genta tidak mengerti Tika ceroboh, atau sengaja membawa alat berbahaya. Tidak mungkin Altha dan Aliya tidak tahu jika Tika memiliki nama samaran Alin.


"Alin, Lin. Kenapa nama ini tidak asing. Aku pernah mendengar nama Agen Lin, di mana aku mendengarnya?" Mata Genta terpejam, berusaha mengingat kembali.


***


follow Ig Vhiaazaira


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya.


***


aku berniat tamat episode 300, tapi sepertinya pasti lebih. Tidak terasa panjang kali lebar ceritanya.


Awal bulan DENDAM ANAK TIRI UPDATE DI APK F i z z o


bacanya gratis, jadwal update cek di Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2