
Infus dilepas, Shin berjalan melihat wajahnya yang polos tanpa polesan. Rambut panjangnya sudah hilang, dan terlihat pendek setelah dirapikan oleh suaminya.
Shin keluar ke arah balkon, menatap jauh ke depan. Secara diam-diam Shin lompat dan melangkah keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan Shin tidak tahu jika dirinya sudah pulang ke rumah orangtuanya.
Tanpa sengaja Shin mendegar pembicaraan maid jika Tika dan Genta sudah pisah rumah. Kedua berada diujung tanduk.
Genta marah besar sehingga ingin menceraikan istrinya, begitupun dengan Tika yang lebih dulu meminta ceria tanpa tahu apa penyebabnya.
Air mata Shin menetes, dirinya penyebab rumah tangga Kakaknya hancur. Dirinya pembawa masalah dalam keluarganya.
Shin mengendap pergi keluar rumah, dia memiliki jalan rahasia bersama Tika jika ingin melarikan diri. Langkah kaki Shin berjalan cukup jauh meninggalkan rumahnya tanpa membawa apapun kecuali topi untuk menutupi wajahnya.
Langkah Shin berhenti tepat di jembatan yang terkenal menjadi jembatan bunuh diri, Shin melihat air yang deras mengalir. Siapapun yang terjatuh, tidak mungkin bisa selamat karena tergulung oleh derasnya air.
Tatapan mata Shin melihat ke arah bawah, mengulurkan tangannya merasakan dinginnya air.
"Jatuh ke sana rasanya sangat dingin, aku rekomendasi mencari tempat mati yang lain. Jembatan ini terlalu bagus untuk menampung manusia lemah seperti kalian." Langkah seorang pemuda meninggalkan Shin begitu saja.
"Apa kamu berpikir aku sekotor itu?"
"Ya, orang yang putus asa sangat kotor tidak pantas mati di tempat yang indah." Suara meninggi terdengar, tapi langsung terkejut melihat wajah Shin yang membuka topinya.
Senyuman terlihat dari wajah pemuda yang sudah membuat Shin marah. Meminta maaf karena ucapannya sangat lancang.
"Kenapa rambut Kak Shin pendek? meksipun terlihat tetap cantik. Kenapa tidak rata? siapa yang merapikan rambut sejelek ini?"
"Ini bagus tahu! suami Shin yang merapikannya. Kenapa suka sekali menghina?" suara Shin berteriak sambil merapikan rambutnya.
Kepala Angga mengangguk, meminta maaf kepada Shin. Meralat kembali ucapan jika rambut Shin sangat bagus, dia terlihat jauh lebih cantik dengan rambut pendeknya.
Keduanya berdiri di jembatan menatap ke bawah jembatan, Angga memasangkan topi kepada Shin kembali agar tidak panas.
"Kenapa kamu di sini? kenapa juga tidak sekolah? bagaimana kondisi adik kamu?"
Angga menyerahkan sebuah amplop putih, dirinya tidak sekolah juga sudah mendapatkan izin untuk mengikuti audisi pemain film remaja.
__ADS_1
"Kondisi Anggrek sudah membaik Kak, dia menjalani operasi berkat bantuan Black card milik Kak Shin." Berkali-kali Angga mengucapkan terima kasih, suatu hari Angga pastikan dia akan mengganti biaya yang dihabiskan untuk pengobatan Adiknya.
"Adik kamu perempuan bukan laki-laki?"
"Memangnya ada laki-laki namanya Anggrek?" pertanyaan Angga cukup membuat Shin terdiam.
Pertemuan tanpa sengaja keduanya membuat Shin merasa lebih baik, bahkan Angga bisa menebak pikiran Shin yang sedang terluka.
"Kematian bukan akhir, kematian juga meninggalkan banyak luka dan masalah bagi yang hidup, apalagi matinya dengan memaksa. Angga tidak pantas menasihati, tapi bertahanlah." Angga berusaha menyemangati Shin yang sudah meneteskan air mata.
"Aku aib bagi keluarga, aku mempermalukan semua orang. Kak Shin penyebab masalah,"
"Siapa yang mengatakannya? Kak Shin hanya ber berspekulasi menurut pikiran sendiri." Tangan Angga mengaruk kepalanya.
"Bukan berspekulasi, tapi berasumsi sendiri." Shin menatap sinis Angga yang meminta maaf kembali.
Mendengar ocehan Angga yang mencoba menasihati membuat Shin kesal, kepalanya yang pusing semakin sakit karena pribahasa yang digunakan selalu salah. Angga tidak cocok menjadi seorang penasihat, dia lebih cocok memancing amarah.
Tidak ingin mendengar ocehan Angga, Shin langsung melangkah pergi menutup telinganya ingin pulang saja.
Suara Shin berteriak juga, meminta maaf karena dirinya penyebab kekacauan. Dia membuat semua orang susah hanya karena tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Shin merasa sedih melihat rumah tangga Tika, malu kepada semua orang, tapi Shin lebih terluka karena menyakiti lelaki yang dicintainya.
Dirinya ingin bersama Juna, tapi bukan dikasihani. Shin ingin dicintai, bukan hanya mencintai.
"Apa aku pantas dicintai setelah mencoret wajah keluarga, merusak kebahagiaan Ay Jun. Aku terlalu kotor untuk mereka yang terlalu baik." Teriakan Shin terdengar sambil menangis.
"Seharusnya Kak Shin merasa beruntung, memberikan yang terbaik kepada orang-orang baik yang menerima Kak Shin,"
"Diamlah, aku lagi sedih." Kedua tangan Shin mengusap wajahnya yan penuh air mata.
"Maafkan Angga Kak, langsung lompat saja, nanti aku rekam dan mengirimkan kepada suami Kakak karena istrinya bunuh diri karena rambutnya panjang sebelah, potongannya tidak rata." Belum terkena pukulan, Angga langsung berlari kencang mengejar Angga yang secara terang-terangan mengejek dirinya.
"Cari mati bocah satu ini!" teriakkan Shin terdengar kalah cepat larinya dengan Angga.
__ADS_1
"Ya sudah maaf, Angga salah. Besok syuting pertama Angga untuk film, nanti setelah tayang Kak Shin jangan lupa menontonnya. Jadi jangan mati dulu, izinkan aku membayar hutang meksipun dengan menyicil. Semangat Kak Shin." Teriakan Angga terdengar lanjut lari meninggalkan jembatan yang menjadi pemakaman Ayahnya.
Senyuman Shin terlihat langsung lari, tidak ingin bertemu hantu Ayahnya Angga. Nanti dia dijadikan teman karena air sangat dingin.
Keduanya mampir ke tempat makan pinggir jalan. Angga mencoba menghubungi Juna, sambil mendengarkan Shin yang menyebut nomor.
Tidak membutuhkan lama Angga menunggu, sebuah mobil mewah berhenti. Angga menatap Shin yang masih asik makan, tersenyum melihat Juna yang sangat cemas.
"Kakak suaminya Kak Shin?"
"Iya, di mana dia? apa yang terjadi?"
Angga menceritakan pertemuannya dengan Shin yang mirip orang gila, dia kabur dari rumah tanpa membawa uang apalagi ponsel. Angga juga mengarang cerita jika Shin ingin bunuh diri karena rambutnya yang panjang pendek tidak rata.
"Perasaan rambutnya sudah bagus?"
"Diperhatikan lagi Kak, mungkin belum semuanya rata." Angga dan Juna melihat Shin yang keluar sambil mengusap perutnya kekenyangan.
"Cantik bayar dulu,"
"Shin tidak punya uang, Angga bayar." Shin kaget melihat Juna sudah ada dihadapannya.
Pelukan Juna erat, mengusap punggung Shin. Jantung Juna rasanya berhenti berdetak saat tahu Shin melarikan diri dari rumah.
"Kenapa pergi tidak izin? nanti kita rapikan lagi rambutnya." Juna mengusap wajah Shin yang masih tertunduk.
"Ya sudah Kak, Angga pamit dulu." Kepala Angga menunduk pamit pulang.
"Hei kamu, nanti jadilah aktor yang baik, hasilkan banyak uang. Gunakan topi ini agar tidak ada yang mengenali kamu di tempat umum. Oke Blackat." Shin memberikan nama panggung untuk Angga memberikan topinya juga.
Senyuman Angga terlihat, dirinya berhutang Black card kepada Shin sehingga memiliki nama yang sangat jelek.
Juna merangkul Shin untuk pulang, dikarenakan semua orang sedang dalam perjalanan ke kantor polisi.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira