
Suara langkah kaki Tika terdengar memasuki ruangan kantornya, melihat seorang pria yang duduk di sofa ruangan.
Melihat Tika sudah tiba, Genta mengangkat kepalanya, berdiri mendekati Tika yang ada di depannya.
"Kamu tahu penyebab Shin buta?" nada bicara Genta sangat pelan.
"Kamu tahu siapa pelakunya?" Tika balik bertanya.
Mata Genta tertutup sesaat, langsung berjalan melewati Tika yang menyadari jika Genta sedang menahan emosi.
Genta berdiri di depan jendela, melihat ke arah luar. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Genta, hatinya sedang dalam keadaan hancur.
Mendengar Shin mengalami kebutaan karena ulahnya yang tidak bertindak sama sekali, Genta gagal menjaga adiknya.
"Kebutaan Shin bukan karena pengeroyokan kemarin, ada masalah lain." Tika berjalan mendekati Genta yang kecewa kepadanya.
Atika mejelaskan jika kebutaan Shin karena racun yang sudah mengendap di dalam tubuhnya, saat pertama mengetahui dari Kakaknya Juna Tika sangat terkejut.
Obat yang Shin konsumsi baru beberapa bulan, dan saat pertama bertemu di luar negeri Tika tidak melihatnya membawa obat, atau meminum obat apapun.
"Aku yakin ada orang yang ingin membunuh Shin secara perlahan, tetapi siapa yang bisa mendekati dia?" tangan Tika memijit pelipisnya, mencoba berpikir.
"Bagaimana kondisi Shin sekarang? kenapa kamu menutupinya dari aku?" tatapan Genta masih tajam.
Tika menatap wajah Genta, bukan dirinya yang mengambil keputusan untuk merahasiakan soal kondisi Shin.
Shin sendiri yang memohon agar Genta tidak tahu, dia tidak ingin banyak orang yang mengkhawatirkannya.
"Aku tahu kamu mencintai Shin, tapi masalah ini tidak sesederhana yang Om pikirkan." Tika mengambil langkah mundur, jaraknya dan Genta terlalu dekat.
"Hubungan aku dan Shin bukan cinta antara pria dan wanita, aku tidak tertarik dengan cinta seperti itu." Helaan napas Genta terdengar, mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
Kening Tika berkerut, ucapan Kakaknya sebelumnya benar. Genta bukan sosok pria yang mudah membuka hatinya.
"Lalu apa tujuan Om mendekati Shin?"
__ADS_1
"Aku belum bisa menjawab karena tidak ada hasil yang membenarkan perkiraan aku. Seakan-akan ada orang yang menutupinya, tidak ingin kebenaran terungkap." Genta langsung melangkah ingin pergi.
Tangan Tika menarik pergelangan tangan Genta, tanpa Genta jelaskan Tika tahu jika Genta masih menyelidiki soal Irish.
Wanita yang mereka duga Maminya Shin, sebelum Genta menemui Irish seharusnya mencari tahu soal siapa pemilik rumah terlebih dahulu.
"Kita bisa bekerja sama untuk menangkap mereka, Om bisa mempercayai Tika."
"Masalahnya tidak semudah itu Tika, saya tidak ingin membahayakan orang lain. Kamu jangan terlalu ikut campur." Senyuman kecil Genta terlihat, meminta Tika mengawasi Shin dan menjaganya.
"Aku tahu jika Shin sebenernya tawanan di dalam rumah mewah yang sudah hancur, dia sebenarnya bayi yang baru lahir dan disingkirkan dari keluarganya. Om tua yakin tidak membutuhkan Tika." Senyuman Tika licik, dirinya dan Genta saling membutuhkan satu sama lain.
Tatapan Genta kaget, ternyata Tika juga tahu jika Shin sebenarnya seorang tawanan. Dia bayi yang hilang, dan diasingkan dari keluarganya.
"Darimana kamu tahu Tika? identitas Shin sangat bersih, dia ...."
"Dia memiliki dua identitas, Arshinta yang sebenarnya meninggal dua puluh tahun yang lalu, dia bukan Arshinta yang asli hanya menggantikan anak yang berusia tujuh tahun." Tika meminta Genta duduk, jika ingin tahu lebih detail.
Kedua tangan Genta mengacak-acak rambutnya, Tika ternyata tidak main-main untuk membalas dendam kepada Irish.
Genta berpikir hanya dirinya yang tahu jika Shin memiliki identitas lain yang dia sendiri tidak tahu apapun soal kehidupan masa kecilnya.
Ayahnya murka, dan tidak bisa melepaskan Putrinya begitu saja yang meninggal secara tragis. Dua orang berkuasa mulai saling menjatuhkan, hingga akhirnya bayi mungil ada di rumah mengerikan yang penuh dendam.
"Tika hanya binggung satu hal, kenapa kita tidak bisa mengungkap dari mana asal Shin? Tidak ada sebab penyebab, dia langsung masuk ke dalam kehidupan mafia." Tika masih kebingungan memecah siapa identitas asli Shin.
"Ketua mafia yang kamu bicarakan baru saja meninggal, wanita yang kamu sebut masih hidup sebenarnya ada di sekitar Shin, tapi aku belum menemukannya."
Wajah Tika langsung terkejut, gelas minum yang dipegang juga langsung jatuh pecah berhamburan.
"Apa maksudnya Om?"
"Kamu pasti mengerti Tika, Shin tidak dibutuhkan lagi, Arshinta yang asli akan segera mengambil posisinya. Aku harus menemukan dia dan melihat wajahnya." Genta menunjukkan sesuatu, jika ketua yang mereka bicarakan meninggal tiga bulan yang lalu.
"Apa konflik mereka?"
__ADS_1
Kepala Genta menggeleng, dia belum tahu pastinya. Untuk mengetahui jawabannya, Genta akan menemukan Shin yang asli.
Tika mencoba berpikir, Shin tidak dekat dengan siapapun selain Atika, tidak mungkin ada orang asing yang bisa dengan mudah masuk ke dalam kehidupan Shin.
"Siapa orang yang dekat dengan Shin?"
"Jangan terlalu berpikir keras, kamu awasi Shin dan aku akan menemukan dia." Genta langsung berdiri, pamitan kepada Tika untuk menjenguk Shin terlebih dahulu.
"Tunggu, apa lukanya tidak sakit?" Tika memegang tangan Genta yang memiliki luka besar yang belum diobati.
"Aku bisa mengobatinya nanti." Genta merapikan bajunya untuk menutupi luka.
"Om tua, jika ingin menang hal utama yang dilakukan kita harus sehat, dan kuat. Jika Om terluka, akhirnya tidak bisa melindungi siapapun." Tika menggulung baju panjang, melihat luka Genta yang darahnya sudah kering.
Pelan-pelan Tika mengobati, ekspresi Genta terlihat biasa saja. Tatapan Genta ke arah wajah Tika yang tenang.
Senyuman Genta terlihat, dia berpikir Tika hanya tahu membuat masalah karena terlahir dari keluarga berada, tapi dia salah. Tika memiliki sisi yang lembut.
Saat sedang bicara serius, Tika menjadi wanita yang bisa menjadi teman bicara untuk segala hal. Pembicaraan keduanya serius dan nyambung.
"Kenapa Om menatap Tika seperti itu?"
"Tidak, aku hanya berpikir kamu memiliki dua kepribadian. Ini pertama kalinya kita bisa bicara nyambung." Genta meringis, lukanya ditekan oleh Tika.
"Apa Om berpikir aku hanya biang masalah?" tawa Tika terdengar.
"Kenyataannya memang seperti itu, kamu selalu membuat aku dalam masalah." Genta merapikan bajunya.
"Hati-hati, nanti melihat sisi manis Tika bisa jatuh cinta. Aku wanita populer yang bisa menaklukan banyak lelaki." Wajah Tika mendekati Genta yang melangkah mundur.
"Aku bukan salah satu dari lelaki yang kamu bicarakan."
Tawa Tika terdengar, langsung mengambil tasnya untuk pergi ke rumah sakit menemui Shin.
Genta berjalan di di belakang Tika, tangan Genta mengukur tubuh Tika yang sudah lebih tinggi. Gadis kecil yang dulu benar-benar sudah dewasa, tumbuh menjadi wanita yang cantik.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira