
Jadwal kerja Diana kembali padat, begitupun dengan Gemal yang sulit untuk bertemu.
Di juga merasa tidak bebas karena ada Calvin di rumah sakit, belum lagi Alber yang masih mendekatinya.
"Diana, kamu baru selesai operasi?" Senyuman Alber terlihat, langkahnya langsung berhenti saat melihat Calvin.
Kepala Diana dan Alber menunduk, menyapa pimpinan rumah sakit yang bergelar doktor.
"Dokter Diana, kamu ikut aku."
Jantung Diana langsung berdegup kencang, melangkah di belakang Calvin yang jalannya sangat cepat.
"Tolong jangan salah paham, aku sudah selalu meminta Alber menjauh, tapi dia masih belum menyerah." Di menghela nafasnya.
"Saya tidak ingin tahu." Calvin tidak pernah mencampurkan masalah pribadi dan perkejaan.
Selama ada di rumah sakit, Diana dan Calvin sama-sama dokter. Dan apapun yang mereka bicarakan hanya sebatas rumah sakit.
Diana menelan ludah pahit, melihat latar besar di depannya. Calvin menjelaskan sesuatu soal pasien dan meminta solusi Diana.
Di mencoba memperhatikan kembali, langsung menjelaskan tindakan yang harus mereka ambil.
Operasi juga sulit, karena rawan pendarahan. Jika sampai pendarahan, pasien pasti meninggal di meja operasi.
"Kenapa kamu langsung memutuskan Di? dia memiliki keluarga."
"Setiap dokter memiliki cara kerja masing-masing, dan tidak terkecuali aku." Diana tidak terbiasa banyak basa-basi, dia hanya membicarakan fakta.
Jika harapan hidup kecil, Diana tidak ingin terbebani untuk memaksa dirinya melawan takdir untuk memutuskan siapa yang hidup dan siapa yang mati.
"Setiap dokter pasti akan berusaha sebaik mungkin, tapi dokter bukan Tuhan."
"Kamu boleh keluar."
Diana mengerutkan keningnya, hanya membahas hal sekecil dan sesimpel. Semua dokter pasti bisa menjawabnya.
Melihat Diana keluar Calvin hanya tersenyum, dirinya bertingkah kekanakan hanya untuk menjauhkan Alber dari Diana.
"Kapan keluarga Dirgantara meminta lamaran?"
Senyuman Diana terlihat, langsung melangkah pergi dari pintu. Calon Papa mertuanya unik, menunjukkan perhatian tetapi sangat gengsi.
Suara langkah kaki terdengar, beberapa dokter berlarian karena ada kecelakaan beruntun yang menyebabkan banyak korban.
__ADS_1
Di langsung berlari melihat Gemal penuh darah, menggendong anak kecil mendekati Diana yang masih terdiam.
Gemal mejelaskan kondisi anak yang dia gendong, meminta Diana segera melakukan operasi.
Di langsung membawa anak kecil, tidak melihat wajah Gemal sana sekali langsung melakukan perawatan.
"Suster jaga anak ini." Diana langsung keluar menghubungi Gemal, tetapi tidak ada jawaban.
Gemal meninggalkan pesan, mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Diana tidak harus mengkhawatirkannya.
Di bernafas lega, cukup dengan pesan hatinya bisa lebih tenang dan bisa fokus bekerja.
Sekarang Diana merasakan perbedaan antara dirinya dan Gemal, bisa saja pasien yang datang lelaki yang dia cintai.
Melihat pekerjaan Gemal yang mencari maut, sedangkan pekerjaan Diana mencoba menyelamatkan dari maut.
"Kamu pasti akan membuat aku khawatir, tapi jangan takut karena aku akan mengobati setiap luka sekecil apapun." Senyuman Diana terlihat.
***
Motor Gemal tiba di kantor polisi, langsung berlari kencang ke dalam ruangan interogasi. Pukulan Gemal melayang tidak peduli dengan CCTV yang hidup.
Gemal ditarik keluar, membiarkan tim lain yang bertugas. Karena aksi kejar-kejaran, sebuah bus kecelakaan dan membuat banyak korban.
Dimas meminta Gemal masuk ruangannya, melihat pemuda pemarah yang masih belum berubah dengan emosinya yang sangat tinggi.
"Hanya untuk menangkap satu orang kita membahayakan banyak orang. Ini tidak adil." Suara Gemal memukul meja terdengar kuat.
"Kamu harus percaya dengan nasib baik tidak berpihak, tugas kita hanya menghentikan kejahatan." Tangan Dimas menepuk pundak Gemal langsung melangkah pergi.
Mata Gemal terpejam, membuka bajunya yang penuh darah. Karena kasus dilanjutkan anggota lain, Gemal memilih tidur untuk melepaskan kesalahannya.
Dimas tersenyum mendapatkan laporan soal kerja tim yang kompak, pinta Dimas hanya satu setiap anggota harus melindungi Gemal yang emosian dan sering lepas kendali.
"Pak, kali ini Gemal terlihat serius. Dia sendang marah gara-gara melihat pacarnya bersama pria lain."
Dimas langsung kaget, bisa-bisanya Gemal membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan yang bisa membahayakannya.
"Gemal." Emosi Dimas ikut naik menatap Gemal tidur.
Senyuman Gemal terlihat, mengabaikan panggilan Dimas. Dia sengaja ke ruangan Dimas yang ada AC.
"Bersihkan dulu darah di badan kamu?" Tisu basah di lempar ke wajah Gemal.
__ADS_1
Suara omelan Dimas masih tidak Gemal hiraukan, akhirnya terpaksa Dimas yang membersihkan darah di leher dan wajah Gemal.
"Kapan kamu berencana melamar? jadi pria jangan cemburuan. Jika wanita sudah cinta, dia pasti mencari dan membuat pertempuran mulut."
Senyuman Gemal terlihat, dia bukan tipe pencemburu, hanya posesif. Gemal hanya kesal dengan dirinya sendiri yang mudah emosi.
"Katanya kamu melihat Diana bersama pria lain?"
Kepala Gemal menggeleng, dia hanya bercanda agar anggota lain tidak tegang dan panik. Sehingga harus ada humor sedikit.
Tendangan Dimas mendarat, sehari saja Gemal tidak bisa serius. Saat orang lain ketakutan Gemal tertawa.
"Pak, hari aku melihat Diana ketakutan. Dia sepertinya mulai sadar pekerjaan aku dan Dia berbeda." Mata Gemal tajam, rasa mengantuk sudah hilang.
Tawa kecil Dimas terdengar, jangankan Diana Anggun saja masih sering menangis jika Dimas pulang dan luka sedikit saja.
Jangankan Dimas, Altha yang sudah terlatih dan belum pernah gagal dalam misi saja masih bisa terluka, respon Aliya pasti mengamuk.
"Jangan muncul dalam keadaan penuh darah, dan usahakan jangan terluka."
"Daddy sudah menerima aku sebagai menantu, kita sudah bekerja cukup lama dan Daddy pasti tahu betapa baiknya Gemal." Kedua alis Gemal terangkat menggoda Dimas.
"Ini di kantor jangan kurang ajar, aku atasan kamu. Selama kita bekerja sama, tidak ada satupun sisi baik kamu. Jika Diana tidak mencintai, sudah lama dia aku nikahkan." Tangan Dimas menunjuk ke arah pintu, meminta Gemal keluar.
Suara tawa Gemal terdengar, sekian banyak kebaikannya tidak ada satu kali saja mendapatkan pujian.
Altha membuka pintu, langsung melihat Gemal yang penuh darah. Kecelakaan beruntun tidak memakan korban jiwa, tapi banyak yang terluka.
"Kerja bagus Gemal, tapi kenapa kamu memukul tahanan?"
"Oh, kesal saja melihat anak kecil penuh darah hanya karena keegoisan orang dewasa."
"Malam ini bersiaplah, ada pengintaian di beberapa titik."
Gemal langsung kaget, batal lagi acara makan malam yang Gemal rencanakan. Padahal rencananya ingin melamar dan meminta jawaban Diana, untuk kesiapan menikah.
"Aku saja yang menggantikan Gemal." Dimas menatap wajah kecewa Gemal.
Penolakan Gemal langsung terdengar, dia tidak ingin Dimas turun lagi, karena dia sudah tua dan tidak berkewajiban mengintai.
Pukulan di atas meja terdengar, Dimas merasa terhina dikatakan tua yang tidak bertenaga lagi. Gemal sudah berlari keluar.
"Mertua dan menantu kerjaan bertengkar." Altha geleng-geleng kepala.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira