
Wajah Genta meringis sakit memakai bajunya yang dibantu oleh Tika, senyuman Tika terlihat menggoda Genta yang memalingkan wajahnya.
"Yang, nanti malam pertama giliran Tika yang meringis keenakan?"
Tangan Genta mengetuk kening Tika, pikirannya terlalu dewasa sehingga sudah berpikir jauh ke depan.
"Kenapa sudah siap-siap pulang?" Mam Jes yang baru datang membawakan sarapan, meminta putranya tetap di rumah sakit.
Pelukan Genta lembut, mengusap punggung Mamanya, memastikan jika dirinya baik-baik saja. Tidak ada yang harus dikhawatirkan, Genta ingin beristirahat di rumah melihat persiapan untuk acara pernikahannya.
"Mama sudah membawakan kamu sarapan, makan dulu. Di mana adik kamu?"
"Masih istirahat di ruangan Juna,"
"Kenapa dia di ruangan Juna? di sini ada ruangan Papa dan juga Kak Di. Kenapa harus ruangan Juna?" Diana menatap Aliya yang tersenyum melihat saudara kembarnya yang seperti mulai curiga.
Diana mengikuti Aliya keluar kamar, menarik tangan Al soal Arjuna dan Hana. Di tahu keluarga kecewa, tapi Hana wanita baik yang cocok untuk Juna.
"Ada apa ini Al?"
"Juna membatalkan lamaran kepada Hana, dia membatalkannya sebelum identitas Dina terbongkar." Al bicara pelan, tidak ingin ada yang menyebarkan gosip soal Hana.
"Kenapa? apa Juna dan Shin berpacaran? bagaimana kisah mereka ini? Shin Juna, Tika dan Genta." Diana memijit pelipisnya yang pusing memikirkannya.
Al hanya tersenyum, Diana pusing begitupun dengan Aliya saat pertama kali mencurigai anaknya. Kali ini Aliya tidak ingin ikut campur, pertama kalinya Juna ingin berjuang sendiri untuk memilih masa depannya.
"Mereka belum berpacaran, Juna mungkin menunggu sampai pernikahan Tika. Kak, Shin juga wanita yang baik untuk Juna. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, hanya saja ipar menikahi ipar." Senyuman Aliya terlihat mencoba memahami Putranya.
Dari kejauhan Aliya dan Diana melihat Shin berjalan bersama Juna sambil tertawa, senyuman lepas Shin terlihat sangat lebar. Senyuman yang jarang sekali ditujukkan, Juna juga membiarkan Shin menjahilinya bahkan menganggu hidupnya.
"Aku pertama kalinya melihat Shin tertawa seperti itu, cinta memang aneh. Kenapa harus berkeliling di sekitar?" Di menepuk jidatnya terheran-heran dengan takdir.
__ADS_1
"Cie pacaran, Aunty suka Ay Jun. Isel juga tahu." Senyuman Isel terlihat lebar, memanjat kaki Juna meminta naik di pundak.
"Sel ini rumah sakit, bukan pantai." Shin menarik baju Isel untuk turun.
"Pantai ... Isel mau pergi. Ay Jun, ayo kita berangkat." Ciuman Isel mendarat di pipi sambil memeluk leher Juna.
Suara teriakan terdengar, Ria berlari kencang menarik Isel turun menendangnya menjauhi Juna. Pelukan Ria erat, tidak mengizinkan Kakaknya dimiliki oleh siapapun.
"Kamu sudah besar Ria, mengalah saja." Juan menggendong Isel yang sudah menangis kuat.
Arjuna hanya tersenyum mengusap kepala Ria, meminta Isel diam. Keduanya tidak boleh digendong, Juna menggandeng dua wanita paling berisik, Juan juga berjalan mmengadeng Isel.
"Mama, Isel datang." Langkah Isel berlari terdengar, jungkir balik membuat Aliya teriak kaget takut patah leher.
"Kenapa kamu menyusul?"
Pintu ruangan Genta terbuka, Isel berlari masuk naik ke atas ranjang melihat Genta sedang sarapan untuk meminum obat.
"Uncle masih sakit? kenapa kita sering sekali masuk rumah sakit?"
"Menjauh atau menghindar, bukannya itu pengecut Uncle. Isel tidak ingin melakukannya, sebaik apapun kita jika orang tidak suka maka selalu salah." Senyuman Isel terlihat mengusap punggung Genta agar cepat sembuh.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? kenapa juga Isel tidak sekolah?"
"Pertama ini hari libur, kedua guru Isel melarang sekolah lagi. Dia bilang kamu tidak sekolah juga tetap kaya, jangan menganggu pelajar lain." Kedua tangan Isel memegang dagunya, menatap Genta yang tersenyum kecil.
"Kamu nakal lagi?"
Kepala Isel menggeleng, dia diam juga tetap salah apalagi memang membuat salah. Isel binggung kenapa orang luar tidak mengerti dirinya. Kakek neneknya selalu memaklumi, Papanya tidak pernah memaksa, tapi orang luar selalu membuatnya terlihat buruk.
"Jangan salahkan orang luar, itu karena masa lalu yang memang buruk. Kamu nakal sekali mirip Kakak kamu, mirip Mami kamu, mirip saudara kamu. Hal itu akan terus terjadi, mereka yang sejak awal tahu jika kita hanya pengacau." Ria mengerutkan keningnya duduk di samping Genta yang hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bagi Ria dia tidak perlu terlihat baik, memiliki seorang Kakak yang jenius, dokter termuda, Papi yang mengabdi terhadap negara, Maminya yang memiliki banyak bisnis, satu-satunya yang orang tahu Atika pembuat masalah. Padahal orang luar tidak tahu jika Tika juga memiliki kecerdasan, dan memiliki kemampuan teknologi.
"Kenapa semua orang menilai seperti itu Kak? kenapa Kak Genta mencintai Kak Tika?"
Tangan Genta mengusap kepala Ria, ada banyak hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bersama puluhan tahun belum tentu saling mengenal, dan begitulah kebalikannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk saling memahami.
"Jangan merasa asing hanya karena kamu memiliki kelebihan, jangan terlihat sombong saat kamu mempunyai kemampuan. Nilai baik tidak dihitung oleh waktu cepat atau lambatnya, semua itu dinilai dari ketulusan hati bagaimana orang menilai kita." Genta menatap Isel yang sedang berpikir keras.
Belajar memahami perasaan dan pikiran seseorang sangat sulit, sekian ribu manusia memiliki karakter yang berbeda meksipun ada sedikit kesamaan.
"Guru yang mengatakan Isel sudah kaya dia hanya tahu kamu anak orang kaya, tapi Uncle yakin ada guru lain yang mengatakan kamu akan sukses jika giat belajar, orang tua kamu akan bangga jika kamu berprestasi. Apa yang membuat Isel malas sekolah. Jangan menyerah hanya karena nilai seseorang, kamu tidak harus marah apalagi memukul." Senyuman Isel terlihat memeluk Genta sangat erat.
"Besok Isel sekolah lagi, ada teman yang mengatakan Isel baik. Baik jika tidak nakal." Tawa Isel dan Genta terdengar, ucapan Isel memang tidak ada yang benar.
"Kak Gen, lalu bagaimana dengan Ria?"
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa belajar dan memahami apapun, bukan karena Ria bodoh. Semuanya tidak menyukai Ria, beberapa hari yang lalu guru menyita semua make up Ria, sedangkan yang lainnya tidak. Pantas jika Ria marah."
"Kamu sudah cantik tanpa make up, tinggalkan semuanya. Berpenampilan menarik tidak harus penuh riasan. Bukannya Isel memiliki mimpi, jangan gunakan kemampuan dan emosi. Berikan senyuman untuk memanjat naik, dan meninggalkan mereka tetap di bawah. Satu lagi, rangkul orang-orang yang membantu saat sulit." Jempol Genta terlihat menyemangati.
Kepala Ria mengangguk, hanya Papinya dan Genta yang mensupport mimpinya untuk menjadi artis terkenal.
Semua orang hanya diam sarapan, membiarkan Genta mengurus dua pengacau. Gemal dan Diana tidak mampu menasihati Isel, hanya Genta yang di turuti.
"Uncle, ayo kita ke pantai. Isel ingin refreshing." Wajah memelas terlihat, diikuti oleh Ria yang juga ingin pergi.
"Oke, nanti sore kita pergi bertiga,"
Shin dan Tika menunjuk tangan, mulutnya penuh tidak bisa bicara hanya menunjukkan tangan ingin ikut.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira