
Di dalam apartemennya Citra duduk di dalam kegelapan, perasaan masih campur aduk penuh rasa takut.
Orang yang menculiknya pasti memiliki tujuan, dia sengaja menculik Citra bukan untuk membunuh, tapi sengaja untuk meminta Aliya datang.
"Kenapa kamu belum tidur?" Roby berjalan mendekat dan duduk di samping Citra.
Citra mempertanyakan soal keluarga Aliya, Roby hanya menggeleng dan tidak tahu apapun soal keluarga Al.
Meskipun Aliya selalu membuat masalah, dia salah satu anak yang menyembunyikan identitas dia, juga keluarganya lebih tepatnya Al tidak punya keluarga.
"Kenapa kamu selalu mengusik hidup Al?"
Tatapan Citra langsung tajam, dia tidak pernah mengusik hidup siapapun apalagi Aliya, tapi Al sendiri yang selalu mengusik hidupnya.
Roby mengusap dada, Citra sudah dewasa tetapi pikirannya masih kekanakan. Dia bahkan menghubungi Aliya di tengah malam hanya untuk mengetahui hubungan Al dan Altha.
"Jangan ganggu rumah tangga orang Citra, kembalikan ponsel aku." Tangan Roby mengulur langsung melangkah pergi ke kamar.
Citra mengikuti Roby yang mencium Mora, mengusap wajah si kecil yang tidur nyenyak.
"Roby, kamu tahu aku tidak mencintai kamu? jujur sekarang aku menyesal, apalagi melihat Altha dan Aliya yang tidur bersama." Kepala Citra terasa pusing, dia tidak tahu dengan tindakannya.
Rasa cemburu terus datang, dan membuat hati Citra hancur. Kenangan lamanya bersama Altha kembali, dan saat itu mereka sangat bahagia.
Pelukan hangat Roby terasa, mengusap punggung Citra memintanya untuk tidak mengusik Altha, karena akan terus menyakiti perasaan Citra.
Cara satu-satunya untuk melupakan masa lalu, tidak pernah mencari tahu ataupun ingin tahu soalnya. Roby sadar dirinya tidak ada arti di mata Citra, tapi setidaknya demi anak mereka.
"Citra, belajarlah untuk mengikhlaskan segalanya dan kita jalani bahtera rumah tangga."
Mendengar ucapan Roby Citra langsung melangkah ke ruangan kerjanya, dirinya sangat takut dan gelisah soal nyawa dibayar nyawa.
Sebuah map terbuka, Citra menatap kasus kecelakaan keluarga Altha yang disembunyikan, juga kasus pembantai keluarga Aliya.
"Kenapa harus aku yang bertanggung jawab? aku tidak tahu apapun soal ini." Kepala Citra terbentur di atas meja.
Teringat kembali kejadian belasan tahun yang lalu, Citra pulang telat bersama Altha dan sebelum masuk rumah Citra melihat pertengkaran Ayah dan ibunya.
Keduanya bertengkar hebat soal kasus pembantaian, satu keluarga di singkirkan oleh satu anak kecil, dan tidak menyisakan satu orangpun selain orang gila.
__ADS_1
Pertengkaran terjadi karena kesalahan ibunya Citra yang meminta sahabatnya untuk meninggalkan istrinya yang gila, akhirnya pembantaian terjadi.
Ayah Citra menyalahkan istrinya, dan ingin kasus ditutup, jika sampai terbongkar oleh publik kemungkinan bisnis mereka akan hancur, dan juga mereka akan terlibat karena merekomendasikan untuk cerai.
Ayah Citra datang ke kediaman Aliya hanya untuk mengantar keluarga baru yang sudah menikah, tapi pertengkaran terjadi hanya bisa melihat dari luar dan secara cepat semuanya terjadi.
Demi menutupi kasus, ibunya Citra juga mengatakan jika Mama Altha sudah mendekati detik-detik kematian, setelah dia mati rencana akan dilakukan.
Ayah Citra tidak terima dengan sikap istrinya yang terus mencintai lelaki beristri, lebih buruknya lagi hadirnya tidak pernah dihargai sebagai suami, hanya karena istri lebih berkuasa dari suami.
Pukulan kuat di atas meja, Citra tahu jika Ayahnya yang membunuh keluarga Altha agar istrinya tidak berpaling.
"Kenapa aku yang menanggung dosa kalian? dan aku mencintai Altha, tapi jika Altha tahu dia akan semakin benci." Citra membuang Map coklat sampai berhamburan.
Citra langsung memungutinya, membakarnya satu-persatu. Tidak boleh meninggalkan bukti sedikitpun, karena Altha tidak boleh tahu.
"Siapa yang ingin balas dendam? aku tidak takut." Citra membuang semua bukti keterlibatan keluarga terhadap status Altha dan Aliya yatim piatu.
Apa yang terjadi konflik orang dewasa, Citra tidak tahu apapun. Dia tidak ingin menanggung dosa orang tuanya.
***
"Mami, Tika punya kado untuk Mami." Suara teriakan dan lompat-lompat terdengar.
Aliya sangat bersemangat dan langsung membukanya, melihat sebuah kutek kuku yang sangat bagus. Tika tahu jika Al sedang mengoleksi pewarna kuku, dan ingin membagikan hobinya.
"Mami kita sharing ya, punya mami juga punya Tika." Senyuman busuk Tika terlihat.
Aliya langsung kaget, jadi hadiahnya bukan hanya untuk Aliya, tetapi Tika juga menginginkan seluruh koleksi pewarna kukunya.
Melihat wajah memelas Tika akhirnya Aliya menganggukkan kepalanya mengizinkan Tika untuk memakainya, dengan syarat tidak boleh pecah, menutup harus rapat agar tidak kering, dan juga tidak boleh meletakan sembarang harus rapi seperti semula.
Kepala Tika mengangguk, berjanji tidak akan merusak koleksi maminya.
Arjuna yang mendengar hanya bisa geleng-geleng kepala, orang koleksi mobil, tas, jam bermerek, tapi Aliya mengoleksi pewarna kuku.
Juna menyerahkan kadonya, Al tersenyum manis mencium Juna yang sudah marah-marah.
Tika langsung semangat membuka kado, sedangkan Aliya masih menjahili Juna.
__ADS_1
"Wow, cantik sekali jam tangannya. Tika juga mau." Tika memeluk sebuah kotak kecil.
Juna menarik kadonya, memberikan kepada Aliya karena isinya bukan jam. Aliya langsung tersenyum manis melihat sebuah kalung cantik untuk dirinya.
"Terima kasih Juna, Atika. Terima kasih sayang." Al mencium kening Juna dan Tika yang tersenyum.
"Tika boleh pinjam tidak Mami?"
Al langsung melotot, memeluk kalungnya, tidak mengizinkan Tika menyentuh kado ulang tahunnya.
Altha melihat pertengkaran Juna, Tika dan Aliya dari lantai atas. Kepala Altha menggeleng, pagi-pagi sudah ribut bahkan tidur juga tidak tenang.
"Atika, tidak boleh seperti itu." Altha menuruni tangga melihat Tika dan Aliya berlari memeluknya.
"Ayang, mana kado Al?"
"Em ... em tidak ada." Altha tertawa melihat Aliya marah.
Senyuman Altha terlihat menatap Aliya yang memeluknya, memaksa meminta kado ditambah lagi Atika yang teriak-teriak meminta belikan kalung baru.
Altha meminta keduanya diam, dia akan membelikan saat hari libur. Kalung kembar untuk Atika dan Aliya.
Suara Tika dan Al tertawa terdengar, langsung memeluk Altha mencium pipinya. Al mengecup bibir suaminya membuat Tika melotot.
"Papi Tika juga mau di cium." Bibir Tika monyong kesal.
"Dasar iri." Aliya memeluk Altha yang langsung menggendong Tika.
Pagi-pagi Juna sudah memijit kepalanya melihat tingkah Atika dan Aliya yang rusuh, juga penuh canda dan tawa.
Al menatap kalung pemberian Arjuna, sangat cantik dan indah. Ternyata Juna sangat romantis dan lembut melihat dari caranya memberikan hadiah.
"Juna, ini kado terindah dan akan selalu Mami bawa ke manapun."
"Jika pergi membawa uang Mami, bukan kalung." Juna tersenyum hanya menggeleng kepalanya meminta Aliya menyiapkan mereka sarapan, jangan hanya teriak-teriak.
Al memeluk Juna dari belakang, siap melakukan tugasnya sebagai ibu.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara