ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TUJUAN HIDUP


__ADS_3

Pintu mobil terbuka, Tika masuk kembali saat sambil membawa minuman. Di dalam mobil Genta masih duduk memijit pelipisnya.


"Kenapa Om? kepalanya pusing, minun dulu." Tika menyerahkan air minum ke tangan Genta.


"Kenapa kamu mencium aku?"


"Coba saja searching, mungkin ketemu jawabannya." Senyuman Tika terlihat, meneguk minumannya.


"Kamu sedang mempermainkan aku?" minuman Tika dirampas.


Kepala Tika geleng-geleng, dirinya tidak mempermainkan siapapun. Semuanya berjalan sesuai naluri wanita dewasa.


Genta menutup wajahnya, menarik napas panjang, mengatur perasaannya untuk membuat Tika mengerti apa yang dirinya rasakan.


"Besok Tika ada janji bersama Andre,"


Pukulan di setir mobil terdengar, tatapan Genta langsung tajam dan gelap. Mata Tika berkedip-kedip meletakkan ponselnya.


"Coba saja jika berani pergi, itu akan menjadi hari terakhir kamu melihat Andre."


Bibir Tika langsung monyong, merasa heran dengan Genta yang suka mengancam dan mengatur dirinya.


"Kamu tahu tidak betapa sulitnya aku mengatur perasaannya ini?" tangan Genta mengusap dadanya.


"Mana Tika tahu, Om tidak pernah mengatakan apapun." Wajah Tika berpaling ke arah lain.


Genta tersenyum, mencengkram kuat setir mobil. Baru saja Genta ingin mengatakan perasaannya, tapi Tika sudah menyebut nama Andre yang membuat hatinya sakit.


Tika tidak tahu betapa sulitnya bagi Genta mengutarakan perasaannya yang pertama kali dirinya rasakan. Mengakui dan mengucapkan bukan hal yang sulit, tapi untuk komitmen atas ucapannya bukan hal yang mudah.


Genta bukan hanya harus bicara dengan Tika, tapi banyak pihak yang harus dirinya hadapi, terutama kedua orang tua Tika.


"Om bicara santai saja,"


"Bagaimana aku bisa santai? ini bukan aku Tika yang mudah emosi, tidak bisa kontrol diri, bahkan bermalam-malam tidak tidur hanya karena memikirkan wanita. Ini gila." Genta mengambil coklat yang Tika makan, dirinya bicara serius, tapi Tika asik mengemil.


"Terus apa yang bisa Tika lakukan?" kedua pundak Tika terangkat, keningnya berkerut ikutan binggung.

__ADS_1


Suasana langsung hening, mata Genta menatap dingin membuat Tika tertunduk diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria aneh dihadapannya.


"Berapa usia kamu Tika?" mata Genta terpejam melihat Tika menunjukkan dua hari, sambil digoyangkan.


"Dua tahun, dua belas tahun, dua puluh tahun, dua puluh dua, atau dua ratus tahun?" Genta menahan tawa melihat Tika cemberut.


"Dua puluh tahun, Tika sudah dewasa sekarang." Senyuman Tika terlihat bangga dengan dirinya sendiri.


"Apa yang kamu inginkan diusia sekarang? apa yang belum kamu capai di masa muda?" Genta bicara santai, duduk tenang menatap Tika yang sedang berpikir.


Kepala Tika menggeleng, sejak kecil dirinya tidak punya impian, tujuan, ataupun apapun yang ingin dicapai. Sejak kehilangan Adiknya juga Mamanya Tika hanya memiliki satu keinginan bisa menangkap orang-orang yang terlibat dalam kasus Adiknya.


Sekarang semuanya sudah berakhir, Melly akan merasakan jeruji besi dan kehilangan semua kemewahannya.


"Aku masih ingin melihat Melly menderita, dan merasakan hukuman yang setimpal. Pulang dari sini, Tika ingin menemui Mora dengan rasa bangga jika keadilan sudah terungkap." Senyuman Tika terlihat, menunjukkan foto mengemaskan Adiknya.


"Jangan sedih, hati aku sakit melihat kamu menangis." Tangan Genta mengusap mata Tika, sejak Tika kecil Genta tidak pernah melihatnya bersedih.


"Sekarang Tika punya keinginan lagi,"


"Apa?"


"Menjadi dewasa bukan untuk bersenang-senang, tapi waktunya menentukan masa depan. Niat hati kamu busuk sekali Tika." Satu jari telunjuk Genta, mengetuk kening Tika.


Tangan Tika mengepal ingin menonjok Genta, dirinya memang sudah lama tidak bertarung karena terlalu sibuk mengejar Melly.


Sejak kecil Genta juga kehilangan impian, tujuan, juga alasan untuk menjalani hidupnya. Hanya ada satu hal yang mengganjal hatinya, sesuatu yang terlupakan. Genta hanya ingin mengingat sebuah moments yang terbayang dipikirnya, namun dirinya tidak memahaminya.


Setelah dua puluh tahun, Genta mengingatnya. Ingatan yang hilang soal Adiknya. Hal yang menyakitkan, namun membuat Genta memiliki alasan melanjutkan masa depannya.


"Sekarang apa impian Om?"


"Menikah ... aku ingin memiliki keluarga. Menikah bukan sesuatu yang selalu baik, aku tahu itu, pasti akan ada rasa bosan, kecewa, selisih paham, pertengkaran, dan tidak semuanya akan indah. Namun aku ingin melewatkan, dengan seseorang yang aku percaya bisa berjalan bersama melewatinya." Senyuman Genta terlihat menatap Tika yang terlihat kaget dengan ucapan Genta.


Melihat respon Tika membuat Genta sadar, jika dirinya berubah. Apapun yang terjadi dengan hidup orang, Genta tidak ingin tahu dan terlibat. Bertemu Tika, kehidupan Genta berubah dan terasa asing.


"Aku tidak seperti ini sebelum bertemu kamu, ini terasa aneh. Sebenarnya ini aku yang asli, atau yang dulu?"

__ADS_1


"Om bahagia yang mana? sekarang atau dulu?"


"Sekarang ... aku merasa ada tawa, canda, kecewa, emosi, kemarin ada moments indah, hari ini ada bahagia, meksipun besoknya ada air mata. Aku bahkan memiliki bayangan besok aku harus seperti ini, besok ada moments ini. Aku menanti setiap hari dengan tujuan."


Senyuman Tika terlihat, menyentuh kepala Genta sambil mengusap-usap lembut seperti menyentuh anak kecil.


"Jalani yang membuat bahagia, sekarang Om tua sudah dewasa." Tawa kecil Tika terdengar.


"Emh ... aku dewasa karena kamu. Dunia aku jauh lebih indah karena kehadiran kamu. Masih ingat tujuh tahun yang lalu." Genta menutup mulutnya, memalingkan wajahnya hampir mengungkap saat Tika dan Genta bertengkar.


Kepala Tika mengangguk, dirinya mengingat kejadian hampir tujuh tahun yang lalu. Pertemuan pertama, pertengkaran pertama, dan dendam pertama, juga menjadi ikatan pertama.


"Om saat itu masih muda, sangat pendiam, dingin sekali mengalahkan es, Tika pernah mendengar Om bicara sepatah katapun." Tika menutup wajahnya mengingat pria sialan yang mengambil kartu kuncinya.


Setiap bertemu Tika hanya bisa menatap punggung Genta berbalik, melangkah pergi, berdiri dan berlalu dari pandangannya.


"Kenapa dulu Om tidak pernah duduk?"


"Kenapa dulu kamu tidak bisa diam? di atas pohon, melompati meja, memanjat pagar, menghancurkan mobil, membunuh segerombolan ayam, menghancurkan kendaraan orang, perempuan nakal." Genta menyentuh dagu Tika yang sudah cemberut.


"Itu bukan Tika!"


"Benarkah? siapa yang membuat kantor polisi heboh, saat tubuh kamu bermandikan lumpur, kamu ingin memenjarakan anjing karena membuat kamu jatuh padahal kamu yang salah melempar anjing menggunakan batu. Bagi aku dulu kamu wanita yang mengerikan. " Tawa Genta terdengar, mengingat Tika kecil yang luar biasa nakalnya.


Tidak bisa Genta bayangkan, gadis kecil yang selalu bertengkar, membuat masalah, bahkan setiap hari ke kantor polisi membuat Altha dan Aliya hampir gila. Tetapi dia juga yang membuat Genta jatuh cinta.


"Om, lupakan saja Tika yang dulu."


"Kenapa? aku menyukainya."


"Malu," wajah Tika meringis ingin menangis.


"Aku menyadari satu hal Tika, kamu sudah menganggu pikiran aku sejak pertama kita bertemu. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat, tertawa bersama kamu selain aku."


"Maksudnya Om?"


"Aku mencintai kamu, dan akan mengatakan ini kepada orang tua kamu. Satu hal lagi, hilangkan tujuan busuk kamu untuk bergonta-ganti pacar, karena itu tidak akan pernah terjadi. Paham." Mata Genta menatap mata Tika yang hanya bisa diam tidak percaya dengan pendengarannya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2