ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERPISAH


__ADS_3

Mobil Gemal tiba di rumah Shin, langkah Gemal berlari terdengar langsung masuk tanpa permisi lagi. Mata Gemal langsung melihat Diana yang duduk bersama Tika dan Shin.


Shin menyiapkan makanan, mempersilahkan Gemal untuk duduk dan bicara berdua. Kepala Diana masih tertunduk, takut jika Gemal akan memukulnya, karena terlihat dari tatapan, dan tangannya yang mengepal.


Tika dan Shin langsung naik ke lantai dua, duduk di tangga untuk memperhatikan saja karena tahu jika Gemal sedang marah.


Sesaat Gemal diam, menarik nafas panjang lalu mengembuskan perlahan. Mendekati Diana yang tangannya gemetaran, meremas kedua yang terasa dingin.


Gemal langsung berlutut dihadapan Di, menyentuh tangan yang gemetaran, mengusap pelan agar Diana tidak takut dan cemas.


Air mata Diana menetes, begitupun dengan Gemal yang diam sambil menutup matanya menahan air mata.


"Kamu mencintai aku tidak? aku tidak akan marah apalagi memukul. Janji dan sumpah yang sudah aku ucapkan kepada Daddy dan Mommy." Kepala Gemal tertunduk di lutut Diana.


Melihat Diana menghilang rasanya Gemal ingin menghancurkan dunia, banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Hilang, atau diculik, mungkin juga kecelakaan, atau sengaja meninggalkannya.


"Kepala aku ingin pecah, karena memikirkan kamu. Jika ingin melihat aku gila, mungkin dengan kamu menghilang saja aku bisa gila." Air mata Gemal masih mengalir di pipinya.


"Maafkan Diana, Di tidak bermaksud meninggalkan."


"Jika ingin menenangkan diri, ingin aku pergi ataupun kamu tidak ingin melihat wajah aku lagi. Apapun keinginan kamu akan aku kabulkan, tapi tidak dengan menghilang tanpa kabar." Gemal mengigit bibir bawahnya, merasakan hancur hatinya.


Kepala Diana menggeleng, dirinya tidak pernah berpikir seperti yang Gemal katakan. Secara tiba-tiba saja, Di merasa dengan menghilang bisa membuatnya tenang.


Kesedihan terlihat sekali di wajah Gemal, hatinya terasa hancur berkeping-keping, rasa sakitnya pertama kali Gemal rasakan.


Sudah banyak luka dalam hidup Gemal, tapi ditinggalkan Diana yang paling menyakitkan. Kehancuran hatinya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ayang, maafkan Diana."


"Iya, aku maafkan. Melihat kamu baik-baik saja sudah lebih dari cukup. Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri. Cinta aku terlalu besar dan berlebihan, sampai terlalu takut kehilangan." Senyuman Gemal terlihat, langsung berdiri meminta Diana menjaga dirinya, juga kandungannya.


Keputusan Diana selalu benar, dan Gemal yang salah. Saat Di ingin berpisah, Gemal akan menurutinya.


"Aku pulang dulu, kamu jaga diri di sini." Gemal mengusap air matanya.


Langkah kaki Gemal terdengar, langsung melangkah pergi meninggalkan kediaman keluarga Shin.

__ADS_1


Diana hanya diam menjadi patung, air matanya menetes melihat Gemal tidak balik lagi. Benar-benar memutuskan untuk membiarkan menenangkan diri.


Mobil Dimas juga tiba, Anggun langsung keluar untuk menemui Diana. Menatap Di yang duduk seorang diri sambil memakan buah-buahan.


"Sayang, kamu baik-baik saja." Anggun menangis memeluk Diana.


Dimas sudah mendengar penjelasan Gemal, baru saja panggilan mati. Dimas tahu Gemal kecewa, tapi tidak ingin menyalahkan Diana.


Calvin dan Jessi juga datang, air mata Jessi menetes, mencium wajah Diana merasakan khawatir.


Al dan Altha yang mendapatkan kabar juga datang, tidak menyangka Diana sengaja pergi bahkan berencana tidak memberitahu siapapun.


Tidak memikirkan perasaan orang yang mencarinya hampir gila semua, bahkan banjir air mata.


"Keterlaluan sekali kak Diana, jika tidak ingin tolak saja, bukan membuat semua orang menggila." Al mengusap air matanya, karena sama seperti Gemal sangat ketakutan semalaman gagal menemukan Di.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Paling penting Diana dalam keadaan baik, sudah kita lupakan yang berlalu." Calvin menatap kondisi Diana yang terlihat sedih dan terpukul.


Nada bicara Calvin sangat pelan, meminta Diana tenang. Tidak ada yang marah kepadanya, hanya khawatir juga takut Diana terluka. Melihat Di baik-baik saja, semuanya lega dan bisa tenang.


Dimas langsung memeluk Putrinya, meminta Diana menenangkan pikirannya, tidak terlalu cemas dengan kondisi kandungan.


"Maafkan Diana Daddy, Di selalu membuat masalah. Maafkan Di, dan anak-anak Di." Tangisan Diana terdengar, mengusap perutnya.


Ciuman Anggun bekali-kali di tangan Di, rasanya Anggun tidak bisa menghirup nafas saat tahu Diana menghilang. Tidak bisa menahan air matanya yang menyimpan rasa takut.


"Daddy, kak Gem ingin berpisah. Bagaimana nasib Di dan anak kami? Kak Gem ingin menceraikan Diana." Kedua tangan Di meremas kepalanya.


Teriakan Diana langsung histeris, menendang meja di depannya sampai pecah berhamburan. Teriak semua orang terdengar langsung melangkah menjauh.


Hanya Dimas yang tidak melangkah menjauh sedikitpun, memeluk erat Diana, memintanya berhenti menarik rambut.


"Tarik nafas Diana, cengkraman tangan Diana sangat kuat terhadap rambutnya. Giginya menggigit pundak Daddy-nya sampai berdarah.


Calvin langsung menahan tangan Diana, begitupun dengan Altha yang langsung menahan kaki Diana yang mengamuk.


"Tenang Nak, kamu masih punya Daddy yang akan melindungi kamu." Dimas menangis melihat Alina kembali.

__ADS_1


Hanya karena kata putus, Diana yang Dimas bentuk bertahun-tahun lamanya langsung hilang.


Seandainya Gemal tahu betapa sulitnya Dimas menggenggam Alina sampai berubah menjadi gadis baik dan penyayang.


Tangisan Anggun langsung histeris, melihat Putrinya yang kembali teriak-teriak sama seperti dulu jika dirinya terluka.


Tangisan Aliya dan Mam Jes juga terdengar, tidak tega melihat Diana yang mengigit bibirnya sendiri sampai berdarah.


Mam Jes langsung menghubungi Gemal, meminta segera kembali karena Diana sedang mengamuk histeris.


Dari lantai atas Tika dan Shin berpelukan sambil menangis, menyalahkan diri mereka karena sudah mengatakan keberadaan Diana.


"Calvin, lakukan sesuatu sebelum Diana semakin histeris." Dimas masih memeluk erat, agar Diana tidak mengamuk.


"Jessi, ambilkan suntikan penenang dalam mobil."


Mam Jes langsung berlari ke arah mobilnya, mencari obat-obatan yang selalu dibawa suaminya. Daripada lama Jessi langsung mengambil semua obat-obatan, menatap kaget mobil Gemal yang sudah menabrak pagar.


Langkah Gemal berlari sangat kencang, melihat kondisi Diana yang dipegang erat oleh tiga orang. Mam Jes langsung menyerahkan obat penenang.


"Jangan disuntik nanti pendarahan, twins bisa terluka." Shin langsung berteriak kuat.


Calvin langsung berteriak, ragu ingin menyuntik Diana. Gemal langsung mengambil suntikan, dan membuangnya. Tangan Gemal menahan mulut Diana, tapi langsung digigit sangat kuat.


"Aku sangat mencintai kamu Di, apalagi anak kita. Jika boleh ditukar, nyawa aku berikan." Gemal menakup wajah Diana.


Perlahan Diana jatuh pingsan, Dimas langsung melepaskan Di. Menarik lengan Gemal sampai melemparkan ke lantai.


Tangan Dimas sudah terangkat ingin memukul Gemal, Anggun berteriak histeris meminta suaminya berhenti.


"Kamu ingin bercerai dengan Di? hanya karena masalah ini." Dimas menurunkan tangannya.


"Mustahil Daddy, bagaimana caranya Gemal hidup tanpa Diana? tidak mungkin aku ingin bercerai." Gemal menundukkan kepalanya.


Dimas melihat darah di pundak Gemal, langsung mengecek lengan yang terluka.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2