
Perdebatan Tika dan Shin terdengar, keduanya membicarakan soal uang yang harus dikorbankan dalam misi.
Shin berkali-kali tarik nafas buang nafas, banyak pekerjaan tanpa bahaya, tapi Atika memilih jalan yang rumit dan bisa saja mengorbankan nyawa.
"Bantu aku, kita membutuhkan uang. Jika aku mengambil uang di rekening, Mami pasti tahu." Tangan Tika memohon.
"Aku mencari keberadaan kamu sampai lima negara, saat ditemukan kamu memeras. Uang yang kamu pertarungan bukan jumlah yang kecil Tik." Helaan nafas Shin terdengar.
Bibir Tika manyun, Shin tidak salah. Tetapi Tika harus tetap masuk, dirinya tidak ingin gagal untuk menjatuhkan para pengedar senjata.
"Ada satu cara, kita bisa tiba di sana sebagai koki. Aku mendapatkan tawaran, dan ini bisa dijadikan kesempatan." Shin menunjukkan undangan dari pengusaha yang terlibat kerjasama dengan kapal pesiar yang Tika ingin datangi.
Suara Tika lompat-lompat terdengar, Shin menggelengkan kepalanya melihat Tika yang semangat.
Shin sudah berjuang untuk hidup normal, tapi demi sahabatnya Shin rela turun kembali dan membahayakan hidupnya.
"Ayo kita bersiap-siap." Tika menarik tangan Shin.
Tangan Shin menahan, jika terjadi sesuatu di kapal Tika tidak boleh terekspos, dan Shin tidak boleh mati di tempat.
Atika tersenyum, ternyata Shin tahu apa yang harus dilakukan. Tika melakukan penyamaran, dan Shin yang akan melindungi namanya.
Jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, Tika harus menghilang atau mati di tempat, sedangkan Shin harus pergi dalam keadaan selamat, karena dirinya sudah cukup terkenal di beberapa negara, karena salah satu koki termuda.
"Aku tidak harus menjelaskan siapa aku? kamu sudah tahu apa yang terjadi." Tika memberikan jempolnya.
"Jawab satu pertanyaan aku, kamu bekerja dengan siapa?"
"Tidak ada, aku bekerja sendiri." Tika tersenyum manis.
Dirinya pernah mengatakan, jika usianya 17 tahun Tika akan mencari tahu sesuatu yang masih mengganjal hatinya, dan Tika sudah memulainya tiga tahun yang lalu.
"Siapa nama penyamaran kamu?"
"Alin, jika seseorang memberikan informasi harus melalui kode. Tidak ada yang mengetahui jika sebenernya aku hanyalah wanita biasa yang berkeliaran layaknya orang lain." Tika menunjukkan kode rahasianya yang hanya bisa diakses secara ilegal.
Tatapan Shin tajam, Tika wanita yang tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar turun ke pasar gelap.
__ADS_1
"Kali ini apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku harus menghentikan penyeludupan senjata."
Senyuman Shin terlihat, kapal pesiar yang aka. mereka datangi sebenarnya acara pesta pernikahan, tapi sengaja digunakan untuk penyeludupan.
Setelah siap, Tika dan Shin langsung berangkat ke lokasi. Mereka juga sudah membeli tiket untuk pulang, karena Aliya sudah mengamuk ulah Tika belum pulang.
"Mami masih tetap cerewet." Shin tersenyum.
"Ya, begitulah. Aku sangat merindukannya, kita harus selesaikan dengan cepat."
"Tik, kamu mendapatkan keuntungan tidak?"
Tawa Tika terdengar, menganggukkan kepalanya. Dirinya mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat, apalagi jika bertemu langsung dengan pimpinannya.
Tika tidak mengambil sepeserpun, tapi mengembalikannya kepada yang lebih membutuhkan.
Selama tiga tahun melakukannya, Tika tidak pernah merugikan orang lain. Dirinya hanya merugikan perusahaan-perusahaan yang mengambil jalur singkat.
Senyuman Tika terlihat, menggenggam tangan sahabatnya. Tika berjanji untuk selalu bersama dalam hal apapun.
"Tik, apa sebenarnya tujuan awal kamu? aku yakin bukan karena hobi." Shin tidak memaksa Tika untuk bercerita, karena setiap orang memiliki rahasia dalam hidupnya, begitupun dengan Shin yang menyimpan kehidupan kelam, dibalik kesuksesannya.
Air mata Tika menetes, langsung menepisnya berusaha menguatkan dirinya. Berat bagi Tika menceritakannya.
"Kamu tahu, aku mempunyai Mama kandung, sampai detik ini masih mendekam di penjara." Tika tidak bisa menahan air matanya.
Tangan Shin mengusap punggung sahabatnya, Shin tidak tahu jika Aliya bukan Mami kandung Tika, karena Shin tahu bertapa besarnya kasih sayang Mami Al.
"Saat aku kecil, Mama membakar aku dan kak Juna hidup-hidup. Meksipun hari itu aku tersenyum, tapi aku menyimpan sumpah dan dendam yang besar." Tika menghentikan laju mobilnya, langsung memukul setir mobil.
Shin meminta bertukar posisi, dirinya mengambil alih untuk menyetir, meminta Tika menenangkan diri.
Mengenal tidak sejak muda, Shin baru tahu jika Tika memiliki kenangan buruk dan menyakitkan.
"Ada orang lain dibalik kejahatan Mama kamu? dia masih berkeliaran." Shin meminta maaf jika dirinya banyak tanya.
__ADS_1
"Iya, aku yakin dia masih hidup. Dia juga yang membunuh adikku Amora, dan sengaja menjadikan seseorang kambing hitam." Tika mengusap air matanya yang tidak ingin berhenti keluar.
Bibir Tika bergetar, meksipun dirinya tidak akan memaafkan Mamanya yang memilih jalan kejahatan, setidaknya Tika ingin menyeretnya masuk penjara agar merasakan sakitnya berada dalam jeruji besi
Ada orang yang harus bertanggung jawab atas luka masa lalu Tika, dirinya sekarang sudah dewasa, dan akan menemukan pelaku utamanya.
Mobil yang Shin kendarai tiba, langsung segera menemui orang yang meminta bantuan Shin memimpin para koki untuk kepuasan tamu.
Setelah mendapatkan izin, Shin langsung kembali ke mobil meminta Tika mengikutinya dan segera menyamar.
"Tika, berikan aku sesuatu agar tidak menghawatirkan kamu?" Shin menyerahkan sebuah tas, yang berisikan uang.
Shin belum melakukan penarikan, dan hanya memiliki sedikit uang cas, bisa Tika gunakan untuk menemukan siapa saja orang yang berpengaruh terlibat.
"Terima kasih Shin, ada kamu di sini aku tidak takut." Atika memasangkan sebuah kalung yang bermata liontin kecil, juga sebuah benda kecil di tempel di dekat belakang telinga.
Kepala Shin mengangguk, membiarkan Tika pergi lebih dulu. Shin akan membantu Tika menemukan pelaku utama yang dirinya cari sampai bertekad masuk ke dalam bahaya.
Shin langsung masuk area dapur, ada banyak Koki yang sudah bersiap-siap di posisi masing-masing.
Semua orang menundukkan kepala saat melihat Shin, Koki terkenal yang memiliki restoran mewah dibeberapa negara, bahkan dia juga seorang sarjana.
Kecantikan Shin dikagumi banyak orang, masakannya juga tidak bisa dilupakan. Banyak pengusaha besar yang ingin bekerja sama, tapi Shin menolak. Dirinya menyukai kehidupan bebas, tanpa ada tekanan.
"Satu jam lagi makanan harus siap, lakukan bagian masing-masing. Aku tidak menerima kesalahan." Shin menunjuk ke arah jalan, jika terjadi sesuatu di dapur, keselamatan sangat penting.
"Kita ada di laut kakak, jika terjadi kebakaran langsung lompat saja."
"Aku harap kamu yang mati di sini." Shin tersenyum sinis langsung melihat makanan yang diinginkan.
Sikap dingin Shin terlihat, dirinya tidak mudah berkomunikasi. Apapun dilakukan sendiri, koki lain juga tidak berani bertanya, kecuali mendapatkan perintah.
***
Kenapa tidak pindah judul baru? proses kontrak lama, dan tayangnya lama. Aku putuskan tetap di sini.
***
__ADS_1