ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RESTU PERJODOHAN


__ADS_3

Keadaan mendadak tegang, hanya Genta satu-satunya yang tersenyum tenang. Masih bisa menghabiskan makanannya dengan santai.


"Genta ingin meminta maaf Om Alt, baru mengatakannya sekarang. Terlalu banyak hal yang dipertimbangkan, bukan karena tidak mempercayai perasaan hanya saja, aku ingin menjaga hubungan dua keluarga." Tatapan mata tenang, menatap mata Altha yang sangat tajam.


"Bicara apa kamu Gen? kita akhiri pembicaraan ini," Papa Calvin menatap Altha dan Genta yang saling tatap.


"Ini kebenarannya Pa, Genta sedang jujur di depan semua orang tanpa menutupi apapun. Dan Genta juga ingin mendengar pendapat Papa maupun Om Alt."


Gemal tersenyum menatap Genta yang tidak ada cemas sama sekali, dia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk jujur akan hubungannya.


"Sudah berapa lama? siapa saja yang tahu?" Alt mengambil air minum sesekali menatap Tika yang menundukkan kepalanya.


"Sudah beberapa bulan, sejak kita di luar negeri. Siapapun yang belum tahu, hari ini semuanya tahu." Senyuman Genta terlihat menatap Aliya yang juga tersenyum.


Altha tersenyum sambil geleng-geleng kepala, Alt angkat bicara tanpa menatap siapapun. Dia sangat menyukai Genta, baik dari sikap, akhlak juga cara kerjanya yang bertanggung jawab.


Alt sangat tahu pekerjaan yang Genta jalani, sebagai seorang detektif dia akan selalu dalam bahaya, mengambil resiko besar, jarang pulang, sibuk mengejar penjahat bahkan lebih banyak waktu bekerja daripada bersama keluarga.


Altha sudah merasakan baik buruknya dalam pekerjaan yang Genta jalani, saat menyukai seseorang mungkin indah namun Genta belum tahu singkatnya waktu untuk bersama.


"Kamu paham maksudnya Om Gen?"


"Papi, kenapa harus membawa pekerjaan?" Tika menatap Maminya, air matanya hampir menetes.


"Saya tahu Om, perkejaan yang Genta jalani memang berbahaya, tapi ini sudah menjadi tugas juga kewajiban sebagai aparat yang melindungi, menjaga, dan memberantas kejahatan." Genta masih tenang, tidak ada keraguan sama sekali melihat mata Altha.


"Bagaimana jika tidak setuju?"


"Papi," Al dan Tika menghela napas bersamaan.


Satu-persatu yang duduk di meja makan pergi, Shin melangkah lebih dulu bersama Diana, Anggun, disusul oleh Gemal dan Dimas.


Anak-anak juga beranjak pergi dari meja sebelah, meninggalkan ruangan makan yang hanya ada tujuh orang.


Aliya mengusap wajahnya, mendekati Altha yang langsung meminta Aliya diam. Juna menatap tajam Papinya yang bersikap dingin kepada Maminya yang tidak salah apapun.


"Kamu diam Aliya, Juna dan kamu Tika pergi dari sini." Tatapan Altha tajam, Juna langsung menarik tangan Tika pergi.

__ADS_1


Tangan Mam Jes menggenggam tangan Genta yang dingin, tersenyum menatap Putranya yang tidak diberikan kesempatan sama sekali.


"Jika Om tidak mengizinkan, Genta ingin tahu alasannya juga caranya agar aku tetap bisa bersama Tika." Genta mengeratkan genggamannya kepada Mamanya.


"Tika masih kecil, dia belum memahami cinta,"


"Dia sudah dewasa Om, Putri akan selalu menjadi anak kecil di mata seorang Ayah, tapi di mata Genta dia wanita dewasa." Tarikan napas Genta terdengar, menenangkan dirinya sendiri agar bisa kembali santai.


"Bagaimana jika kamu berada dalam dua pilihan menyelamatkan korban penyekapan, atau menemui istri kamu yang kecelakaan? ambil pilihan." Senyuman sinis Altha terlihat menantang Genta.


"Tergantung, posisi aku di mana?" Genggaman tangan Genta lepaskan, mengambil air minum dan menghabiskannya.


Pekerjaan dan rumah tangga sama-sama sebuah tanggung jawab, di dalam pekerjaan tanggung jawab menyelamatkan, dan di rumah tanggung jawab membahagiakan.


Jika Genta berada di sebuah pilihan antara melakukan tugasnya, dan dengan waktu yang bersamaan istrinya dalam musibah juga membutuhkannya.


"Kamu sedang bekerja, pasangan kamu dalam bahaya apa yang dilakukan?" Aliya menatap Altha yang mengerutkan keningnya.


"Menjalankan tugas," Genta menjawab pertanyaan Aliya yang membuat Aliya tersentak kaget.


"Gila! kamu mementingkan perkejaan daripada keluarga?"


"Astaghfirullah, jawaban yang sama dengan Altha. Setelah bertahun-tahun akhirnya aku mendengarnya lagi." Al menatap suaminya yang tersenyum.


"Bagaimana jika itu Papa? sedang mengobati pasien, lalu salah satu orang terdekat terkena musibah?" Mam Jes menatap suaminya.


"Dokter lain banyak Ma,"


Mam Jes mengusap dada, suaminya masih saja sama tidak akan meninggalkan pasiennya sekalipun istri atau anak-anak yang memintanya datang.


"Maafkan Genta Alt, dia lancang mencintai Putri kamu." Papa Calvin tersenyum.


"Genta tidak lancang, aku tulus. Jika karena Tika masih muda, aku siap menunggu." Genta meyakinkan Papanya.


"Mengertilah Genta, Papa sudah menjodohkan kamu dengan seseorang." Calvin menatap Genta yang tersentak kaget.


Suara kursi jatuh terdengar, Genta berdiri dari duduknya menatap Papa Calvin yang terlihat sangat serius. Mam Jes juga berdiri terlihat marah, tidak terima dengan keputusan sepihak.

__ADS_1


"Mama tidak setuju,"


"Papa tidak meminta pendapat Mama,"


Tatapan mata Mam Jes tajam, meminta Genta menolak. Tidak ada yang berhak memutuskan kebahagiaan Genta, kecuali dirinya sendiri. Mam Jes tidak peduli sebaik apa wanita pilihan keluarga Leondra, dia tidak akan pernah menerima menantu baru.


Dari luar ruangan makan semuanya mendengar soal perjodohan Genta, salah satunya Tika yang sudah meneteskan air mata.


Dia berpikir cintanya hanya perlu restu Papanya, tapi kenyataannya sudah hadir orang lain tanpa sepengetahuannya.


"Pa, Gemal juga tidak setuju. Kenapa menjodohkan tanpa bertanya?" Gemal menatap Papanya.


"Maafkan Genta Pa, tapi aku menolak. Aku tidak peduli jika hari ini, esok, satu tahun, lima tahun, bahkan seumur hidup aku akan tetap menunggu Tika. Membuka hati untuk sekarang saja susah, jika Papa menghargai Genta tolong terima keputusan itu." Tangan Genta mengangkat kursi pamitan keluar.


"Kamu dengar sendiri Altha, dia menolak perjodohan kita. Sudah aku katakan, mereka semua menolak yang namanya perjodohan." Tawa Papa Calvin terdengar, mengejek istrinya yang masih menatapnya marah.


Langkah kaki Genta terhenti, mencoba mencerna ucapan Papanya. Membalik badannya kembali, duduk di kursinya.


"Siapa wanita yang ingin dijodohkan dengan Genta?"


"Sudah batal, kamu menolaknya." Calvin menatap sinis putranya.


Suara Ria berlari terdengar napasnya ngos-ngosan, menarik Maminya untuk pulang.


"Mami ayo pulang dulu, Kak Tika ngamuk." Ria mendengar suara barang berjatuhan di kamar Kakaknya.


"Ini semua gara-gara kamu Altha, awas kamu ya." Aliya berlari pulang bersama Ria.


Di depan pintu kamar Juna sudah mengetuk pintu bersama Shin, meminta Tika berhenti mengacak-acak kamarnya.


"Tika, bicara dulu sama Kak Juna. Mengamuk seperti itu tidak akan meyelesaikan masalah." Juna menendang pintu kuat.


"Aku mencintai Papi, Tika sangat menyayangi Papi, tapi Tika juga mencintai Kak Gen, salah ya?" Tika menembak kaca sampai hancur semua.


Shin menutup telinganya, hati Shin ikutan sakit melihat kisah Tika dan Kakaknya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2