
Langkah kaki Aliya memasuki perusahaan AT grup, kening Al berkerut karena perusahaan tidak seperti bayangannya.
Aliya berpikir kantornya besar, karyawannya banyak, gedung bertingkat-tingkat, tapi kenyataannya hanya perusahaan kecil dan memiliki karyawan yang terbatas.
"Sungguh aneh, perusahaan ini memiliki aset yang besar, pemasukan juga sangat fantastis, tapi kenapa bangunannya sangat jelek." Al mengaruk kepalanya, tidak ada yang istimewa dari depan kantor, lebih mirip pasar swalayan.
"Aliya." Susan tersenyum melihat Al yang berdiri di depan perusahaan.
"San, kenapa kamu di sini?" Al merangkul Susan yang tersenyum merangkul balik Aliya.
Senyuman keduanya terlihat, karena sejak kelulusan tidak pernah bertemu. Susan mempertanyakan kedatangan Al, menyangka jika Aliya juga karyawan di AT grup.
"Kamu kerja di sini San?"
"Iya, aku menjadi OG di sini masih kontrak." Susan tersenyum mengakui pekerjaan.
"Kantor jelek gini ada OG juga?" Al menghela nafasnya.
Susan memukul mulut Al pelan, memintanya menarik ucapan soal perusahan yang jelek. Susan membawa Aliya masuk ke dalam melihat isi dari perusahaan yang di dalamnya ada gedung lain.
Mata Aliya terbelalak, karena AT grup berada di depan bangunan tua yang di gunakan sebagai tempat karyawan untuk bersantai di jam istirahat.
"Perusahaan ini salah satu perusahaan terbesar ketiga di kota ini, tapi sepertinya ada masalah di bagian pabrik sudah menjadi perbincangan hangat." Susan terkejut, meminta maaf karena harus segera pergi mengantarkan makanan kepada atasannya.
Al melambaikan tangannya, langsung melangkah masuk ke dalam lift menuju ruangan pimpinan perusahaan yang mengurus dan mengawasi segala sesuatu di kantor.
Altha memilih meninggalkan perusahaan demi cita-citanya, padahal dia bisa menjadi Milioner muda yang memiliki banyak uang.
Pintu ruangan terbuka setelah Al mengetuk pintu, melihat seorang pria paruh baya yang keheranan melihat wanita yang membuat janji dengannya ternyata anak muda.
"Aku datang tidak ingin banyak basa-basi, aku membutuhkan laporan soal saham perusahaan."
"Siapa kamu? apa wewenang kamu meminta melihat rahasia perusahaan?"
Al menyerahkan sebuah map, tanpa banyak bertanya beberapa laporan soal keuangan dan para pemegang saham terungkap.
Sambil melihat seluruh isi laporan, Al juga menceritakan soal masalah perusahaan yang sebentar lagi akan ada pemeriksaan.
Kasus penangkapan, pemindahan pabrik juga soal saham yang berpindah tangan akan menjadi pertanyaan menjebak, Aliya menjelaskan semuanya.
"Turuti semua yang aku katakan, kamu harus bisa menjaga perusahaan ini. Hilangkan nama Citra dari daftar pemegang saham yang digantikan oleh Arjuna." Al menyerahkan sebuah flashdisk.
__ADS_1
"Kamu siapa?"
"Seseorang yang tidak penting, tapi kamu akan berterima kasih kepada ku karena menyelamatkan perusahaan ini, Altha memilih pekerjaan mulianya, mengorbankan perusahaan." Al tidak ingin pihak perusahaan menyalahkan Altha, karena pelakunya orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Kenapa harus atas nama Arjuna? Citra ibu kandungnya."
"Aku tahu, jangan tanyakan alasannya. Pemegang saham terbesar di sini Altha, Arjuna dan Al, tapi keutungan saham Al harus dikembalikan untuk kepentingan umum. Aku akan mengawasi perusahan ini, jadi jangan main-main." Al melangkah pergi setelah menyelesaikan masalah perusahan.
"Apa kamu istri muda Altha?"
Aliya tidak memberikan jawaban langsung melangkah pergi untuk menjemput putrinya yang sudah pulang sekolah, Al tersenyum menepuk kepalanya sendiri.
"Jika hari ini aku mati tidak ada penyesalan lagi." Al tersenyum melihat sekolah Tika.
Dari kejauhan Aliya melihat Tika keluar, Al juga langsung keluar mobil menghentikan langkahnya melihat Citra juga datang menjemput Tika.
"Sayang." Citra tersenyum memanggil Tika.
Tatapan Tika terarah kepada Aliya, senyuman Maminya terlihat melangkah pergi kembali ke mobilnya setelah melihat Tika bersama Mamanya.
"Mami." Tika melepaskan tangannya dari Citra langsung berlari ke arah Aliya sambil tersenyum lebar.
"Atika." Citra melihat putrinya pergi meninggalkannya.
"Tika hari ini pulang bersama Mama ya? Mami masih ada pekerjaan."
"Tidak mau, Tika ikut Mami kerja."
"Atika, hari ini kita main bersama dengan Mora. Mama akan membelikan apapun yang Tika inginkan." Senyuman Citra terlihat, mengusap kepala putrinya menahan kesedihan.
Melihat ketulusan mamanya akhirnya Tika menurut, langsung mencium tangan Aliya melangkah pergi bersama Mamanya.
"Aku sudah meminta izin kepada Altha untuk membawa anak-anak, besok mereka libur sekolah dan menginap bersamaku." Citra langsung pergi tanpa menoleh ke arah Aliya.
***
Di kantor polisi Dimas sudah memukul meja bekali-kali, wanita yang interogasinya tidak memberikan informasi yang menguntungkan, seseorang yang datang tidak dikenali.
Altha menatap Roby yang masih duduk diam, meminta polisi melepaskan Roby karena tidak ada sedikitpun bukti jika dia terlibat.
"Kamu yakin tidak tahu apapun?"
__ADS_1
"Iya, aku bekerja di sekolah tingkat atas. Aku tidak ingin mengambil alih bisnis Daddy sejak dia menikah lagi, memilih tinggal sendirian." Roby baru kembali setelah satu tahun yang lalu saat dia mengalami kecelakaan.
Altha meminta kerja sama Roby, kemungkinan hotel, bahkan rumah mewah mereka akan diselidiki.
Dimas melangkah mendekati Roby, membiarkannya pergi. Tatapan Roby terlihat sekali terpukulnya, ada luka besar yang tidak diungkapkan.
"Kita kehilangan Hariz Dim."
"Soal Hariz ada sangkut pautnya dengan Aliya." Dimas berbisik pelan, langsung meminta Altha mengikutinya untuk mencari keberadaan Aliya.
Banyak mobil kepolisian yang melaju pergi, kantor kejaksaan juga sudah heboh melakukan tugas mereka untuk mengecek perusahaan king dan AT grup.
"Saham perusahaan mungkin akan hancur, aku harap AT grup bisa bertahan." Al meminta maaf di dalam hatinya karena mengecewakan Ayahnya.
"Tidak mungkin, AT grup akan semakin besar dengan kasus ini." Dimas tersenyum melihat Altha yang terlihat binggung.
Dimas merangkul Altha, jika ingin menemukan keberadaan Hariz mereka harus menjatuhkan Aliya. Altha semakin binggung kenapa wanita muda yang bertahun-tahun tidak lulus sekolah bisa menyelamatkan seorang Hariz.
"Altha, kamu pikir Aliya gadis bodoh. Dia sudah lebih dari lima kali nekat mati dengan alasan coba-coba."
"Oh, tidak bodoh tapi gila." Kepala Altha menggeleng masuk ke dalam mobil untuk mencari keberadaan Aliya.
Dimas tertawa melihat Altha, dia belum kenal baik siapa Aliya. Gadis muda yang Altha remehkan bisa melakukan banyak hal.
"Kamu masih ingat kasus pelecehan anak di bawah umur satu tahun yang lalu?"
"Em, aku yang menangani kasusnya, dia tertembak di kaki sampai amputasi, beberapa bulan yang lalu mati bunuh diri." Al menatap Dimas yang tertawa seperti orang gila.
"Aliya terlibat di kasus itu, kakinya tidak tertembak, tetapi Aliya yang melukainya bahkan membuat cacat harta berharganya sampai hampir mati."
"Maksudnya harta lelaki?"
"Ya,"
"Siapa Aliya sebenarnya? dia banyak terlibat di banyak kasus, gadis muda pengacau."
"Al seorang ...."
"Apa? jangan membuat penasaran."
"Aliya hacker wanita yang kita kejar Lima tahun yang lalu." Dimas tersenyum melihat keterkejutan Altha.
__ADS_1
***