ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HILANG


__ADS_3

Tendangan Tika menghantam Dina yang sudah terguling, Ria juga berdiri memukuli Dina. Tika menyobek bajunya, mengikat luka tembak di tangannya.


Dua orang bergulat menjadi, suara tembakan terdengar di atas langit. Dina menendang perut Ria langsung terjun dari tebing belakang bangunan.


Tangan Ria bergelantung, berpegang kuat diantara rerumputan. Mendengar suara Dina terjatuh.


"Ria, kamu di mana?"


"Woy tangan aku yang kamu injak, buta!" Ria berteriak saat Tika menariknya ke atas.


Senter handphone dihidupkan, Tika dan Ria saling pandang melihat Dina terkapar sambil menunjukkan jati tengah kepada dua bersaudara.


Sekuat tenaga Dina berusaha berdiri ingin melangkah pergi, tersenyum melihat Tika meskipun banyak darah ditubuhnya.


"Sialan! Dina lolos Kak,"


"Biarkan saja dia tidak bisa lari jauh, cepat atau lambat dia mati di jalanan." Senyuman Tika terlihat, mengusap kepala Adiknya yang sangat luar biasa.


Tika bangga kepada Ria bisa menjaga dirinya sendiri, Tika hargai keputusan adiknya yang ingin hidup tanpa memperkenalkan siapa keluarganya karena semakin banyak orang yang tahu, semakin sulit juga pergaulan mereka.


Suara langkah kaki beberapa orang terdengar, kepala Genta geleng-geleng melihat Tika dan Ria berantakan.


Dari kejauhan Genta melihat Dina yang terseok-seok melarikan diri, beberapa polisi langsung turun ke bawah untuk mengejar Dina.


Rasa ingin marah Gemal langsung lenyap melihat tangan Istrinya terluka. Genta memeluk Tika merasa sangat khawatir.


"Kita ke rumah sakit sekarang, kenapa kamu selalu membuat aku khawatir?" wajah Genta terlihat panik saat tahu tangan Tika tertembak.


"Kamu ada luka tidak Ria?"


" Aniyo,"


Kening Genta berkerut, ada saja bahasa baru yang Tika ucapkan jangan sampai diketahui oleh Isel pasti ikut-ikutan.


"Bagaimana kondisi di dalam bangunan?"


Genta memastikan tidak ada satupun yang berhasil melarikan diri, dan mereka akan dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Soal Dina juga Genta pastikan tertangkap karena melihat kondisinya dia tidak mungkin bisa pergi jauh.

__ADS_1


Kedua tangan Genta merangkul Tika dan Ria untuk segera ke mobil dan melakukan pengobatan.


Sesampainya di mobil langka Tika terhenti, melihat banyak orang dibawa ke kantor polisi, tapi ada satu orang tidak terlihat batang hidungnya.


"Sayang masuk mobil, Ria kamu duduk di belakang." Pintu mobil Genta buka, mempersilahkan Ria masuk.


"Di mana Shin?" Tika mengecek beberapa mobil.


"Atika, kenapa lagi?"


"Di mana Shin Ayang? apa dia kembali lebih dulu?" Tangan Tika gemetar, menggelengkan kepalanya menghubungi Shin yang nomornya tidak aktif lagi.


Kening Genta berkerut, sejak pertama datang Genta tidak melihat keberadaan Shin. Bahkan tidak ada satu orangpun yang melihatnya, saat tiba sudah banyak orang yang terjatuh dan tergeletak tidak berdaya.


Tika berlari ke dalam ruangan, berteriak memanggil Shin yang tidak memberikan jawaban sama sekali.


Bukan hanya Tika yang mencari, Ria dan Genta dan anggota lainnya juga menyebar mengelilingi lokasi, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Shin.


"Ria, apa benar Shin ada di sini?"


"Iya kak, kita bertiga di sini." Air mata Ria menetes melihat Tika sudah mengamuk sambil menangis.


"Kenapa cincin ini bisa lepas? aku tidak bisa melacak keberadaan Shin." Teriakkan Tika terdengar memanggil Shin histeris.


Suara Genta meninggi, menarik Tika untuk ke rumah sakit karena tangannya semakin banyak mengeluarkan darah. Genta meminta lebih banyak balah bantuan untuk menemukan keberadaan Shin.


Perasaan Genta sangat mengkhawatirkan adiknya, dan juga mencemaskan kondisi istrinya yang sudah penuh darah.


"Kita ke rumah sakit, aku pasti menemukan Shin!"


"Ayang bagaimana ini? bagaimana jika Shin disakiti? tidak-tidak bagaimana mungkin itu boleh terjadi?"


"Sayang, kamu sangat mengenal baik Shin. Dia wanita yang kuat, mampu bertahan untuk menunggu kamu datang menemukannya." Tangan Genta lembut mengusap kepala Tika untuk menurut.


"Kita sebentar saja ke rumah sakit, Tika harus menemukan Shin secepatnya. Ayo cepat." Tika menarik tangan suaminya untuk segera ke rumah sakit.


Sepanjang jalan tangan dan kaki Tika masih gemetaran, perasaanya sakit karena tidak bisa menjaga Shin. Tika meninggalkan Shin bertahan sendirian, sehingga dia menghilang.


Tika tidak tahu siapa dalang penculikan Shin, dia juga mengetahui jika cincin yang Shin gunakan bukan cincin sembarang. Tika membuat khusus untuk Shin, sedangkan dirinya mengunakan anting.

__ADS_1


"Aku lawan kamu, jika sampai terjadi sesuatu aku tidak akan memberikan ampun." Tika mengambil ponselnya, meretas rekaman CCTV yang ada mobilnya.


Tidak banyak waktu untuk berdiam, orang yang mengetahui soal cincin Shin pasti juga seorang hacker. Tidak banyak orang yang bisa mengetahui teknologi rahasia para hackers.


Sesampainya di rumah sakit Tika dan Ria langsung masuk ruangan perawatan. Tika tidak merasakan sakit sama sekali saat peluru dikeluarkan dari lengannya.


"Yang, pergi cari Shin. Bawa cincin ini, cara agar Tika mengetahui keberadaan Ayang. Cincin ini tidak terlacak, tapi bisa terlepas dari jari Shin. Kemungkinan besar pelakunya hackers, temukan siapapun yang memiliki kemampuan teknologi selama dia berhubungan dengan Dina. Dan Tika pastikan pelakunya seorang wanita." Tika menggenggam tangan suaminya, meminta melakukan segala cara sekalipun mendapatkan informasi secara ilegal.


Tika tidak peduli soal hukum yang Genta patuhi, dia hanya menginginkan Shin kembali dalam keadaan hidup.


Kepala Genta mengangguk, mencium kening Tika meminta maaf karena tidak bisa menemaninya.


Air mata Tika menetes, melepaskan suaminya agar segera menemukan sahabatnya juga adiknya.


"Ria, hubungi Mami. Minta bantuan Mami dan Kak Diana untuk menemukan keberadaan Shin. Mereka juga berpengalaman soal melacak seseorang." Mata Tika terpejam karena obat bius mulai beraksi.


Tangan Ria mengusap kepala kakaknya, melihat jam yang sudah hampir subuh. Ria salut dengan arti persahabatan menurut kakaknya.


Ria mengambil alih untuk menghubungi keluarganya, siap menerima kemarahan Maminya karena dirinya kabur dari rumah.


Kesadaran Atika hilang, Ria langsung keluar ruangan untuk menunggu Maminya datang. Ria siap sekalipun dipukul.


Tidak membutuhkan waktu lama, Aliya muncul masih menggunakan baju tidur, memeluk Putrinya yang terlihat sangat berantakan juga penuh rasa khawatir.


"Di mana kak Tika?"


"Mami maafkan Ria,"


"Di mana kak Tika? kamu baik-baik saja. Mami hampir mati dibawa Papi kamu kebut-kebutan." Aliya berlari untuk melihat kondisi Tika.


Altha memeluk Ria erat, merangkulnya untuk melihat kondisi Tika yang baru selesai mengeluarkan peluru.


"Mami, temukan Shin. Tika tidak boleh meninggalkan dia, bagaimana cara Tika menghadapi suami Tika?"


"Tangkap Dina, jangan bawa dia ke kantor polisi. Kita sobek mulutnya agar bisa menemukan hackers itu." Al melarang Altha ikut campur karena Aliya akan melakukan dengan caranya.


Siapapun yang ikut campur akan berurusan dengan Aliya, hilangnya Shin sama saja seperti Aliya kehilangan Putrinya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2