ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Sudah siang, Diana membuka matanya, memegang kepalanya yang masih pusing, mual dan tubuhnya rasanya remuk dan hancur.


Di mencoba mengingat apa yang terjadi setelah satu ronde, teriakan Diana menggema saat mengingat dia memaksa Gemal menyentuhnya bekali-kali.


"Diana, ada apa sayang?"


"Wanita itu bukan Di, tidak mungkin aku memaksa disentuh. Menjijikan." Di menutup wajahnya dengan bantal, langsung menangis sesenggukan.


Senyuman Gemal terlihat, mengusap kepala istrinya. Memeluk lembut, menenangkan Diana agar tidak terlalu memikirkannya.


"Di, kita berdua bukan soal aku dan kamu, tapi kita. Ada masanya suami yang minta, ada juga istri." Gemal mencium kening, langsung menggendong Diana untuk berendam air hangat.


"Diana malu." Tangan Di menutup dadanya.


"Aku sudah melihatnya, dan hanya aku yang boleh melihatnya." Gemal menurunkan Diana di dalam bathtub, menemaninya berendam.


Tangan Diana mengusap rambut suaminya yang masih basah, Di kaget saat mendengar cerita Gemal betapa banyaknya mereka melakukan hubungan dalam satu malam.


"Kamu selesaikan mandi, aku membersihkan tempat tidur yang sudah hancur dan ada bercak darah." Gemal mencium tangan, mengucapkan terima kasih, berjanji akan setia sehidup semati.


Di tertunduk malu, dugaan Diana salah soal perkiraannya. Gemal pria yang sangat dewasa, dan tidak menunjukkan sikap kekanakannya.


Bayangan Diana hanya akan ada keributan juga pertengkaran antara keduanya, tapi tidak pernah Diana sangka perlakuan Gemal meruntuhkan tembok pembatas yang selama ini sulit dihancurkan.


"Aku juga mencintai kamu, dan berjanji menjadi istri yang baik untuk kamu." Di mempercepat mandinya.


Diana meringis, merasakan sakit untuk berjalan. Tetapi masih melangkah keluar. Melihat Gemal menyingkirkan seprai, bahkan baju Diana juga sudah disiapkan.


"Kenapa tidak memanggil saja?"


"Jangan digendong, Diana baik-baik saja." Di langsung memeluk erat, Gemal menyambut pelukan erat.


Pesan masuk terdengar di handphone Diana, keluarga sedang makan bersama di restoran. Di dan Gemal tidak diwajibkan datang, karena keduanya pasti lelah berperang.


"Kita memang perang, tapi membuat Gemal junior." Tangan Gemal mengusap perut rata Diana.


Suara teriakan Gemal terdengar, mengacak rambutnya baru menyadari jika lehernya penuh tanda merah tidak beraturan. Langsung melihat Diana yang semalam menghisap lehernya tidak ada puasnya.


"Bukan Diana yang melakukannya, mungkin banyak semut di ranjang."


Tangan Diana ditarik, langsung diangkat duduk di atas meja rias. Gemal ingin menunjukkan gigitan semut yang Diana harus ketahui.

__ADS_1


Rambut Di disingkirkan, Gemal menghisap lehernya membuat Di memeluk erat pinggang. Suara menjijikan keluar dari mulutnya.


Kanan dan kiri Gemal tinggalkan jejak, handuk Diana diturunkan. Tanda merah juga tertinggal di atas dadanya yang putih mulus.


Mata Diana terpejam, tanpa keduanya sadari sudah berpindah di atas ranjang. Awalnya hanya ingin memberikan contoh gigitan semut, berakhir melakukan untuk kesekian kalinya.


"Gem, seandainya aku tidak bisa memberikan kamu keturunan, Papa Calvin meminta kamu menikah lagi, atau menyewa wanita untuk bayi tabung." Di menatap wajah suaminya yang masih terpejam, merasakan kepuasan bisa menyalurkan rasa nikmat.


"Kamu setuju tidak?"


"Tidak mau." Di memukul dada Gemal.


"Makanya, jangan dipertanyakan sayang. Jika belum diberikan keturunan, jangan salahkan wanita saja, mungkin lelaki yang bermasalah." Gemal langsung duduk, karena harus mandi lagi.


Diana masih belum puas dengan jawaban Gemal, dia masih ingin tahu jawaban pasti Gemal agar Diana yakin.


"Di, jika Papa menginginkannya maka dia saja yang menikah, jangan meminta aku. Dan satu hal lagi, jangan salahkan pasangan suami-istri, jika ingin kompline silahkan kepada yang maha kuasa." Kepala Gemal geleng-geleng, langsung masuk kamar mandi.


Diana langsung turun ranjang, menarik selimutnya berjalan pelan mengikuti Gemal yang sudah mengambil air bersih.


***


Acara makan siang keluarga terlihat heboh, Tika masih duduk menyendiri dengan tatapan marah.


"Kak Tika makan." Minuman Ria tumpah, Tika langsung menatap tajam.


"Maaf, nanti Ria bersihkan." Bibir Ria manyun, mengambil tisu membersihkan bekas minuman.


Saat Atika mode dingin membuat adik-adiknya ketakutan, air mata Ria menetes, mengelap kaki Tika yang terkena minuman.


"Atika, kamu mau makan apa?" Juna mengusap kepala Tika.


"Jangan sentuh Tika." Tepisan tangan mendarat, Tika langsung melangkah pergi.


Juna langsung mengejar adiknya yang terlihat sedang marah dengan seseorang, membiarkan Tika menunju kamar Diana dan Gemal.


"Kak Di buka, ada orang yang mengambil kunci Tika."


Pintu langsung terbuka, Gemal yang baru selesai mandi mengusap kepala Tika yang langsung nyelonong masuk.


Diana masih mengerikan rambutnya, menatap Tika yang marah-marah karena ada seseorang yang berbadan tinggi, menggunakan topi mengambil kunci digital miliknya.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan Tika, hanya kamu yang bisa menggunakannya, karena ada sidik jarinya." Di tersenyum, sudah siap untuk makan siang bersama.


Atika benafas lega, dia takut kartu akan disalahgunakan. Dan berbahaya jika sampai ketahuan Maminya.


"Ayo kita keluar." Gemal membuka pintu mempersilahkan Tika dan Diana keluar.


Di dalam lift Tika marah-marah, menceritakan pria tua yang dia temukan. Gemal sudah menahan tawa, menundukkan kepalanya menahan tawa.


Pria yang sedang Tika bicara, tepat di depan mereka memakai baju pelayan. Tugasnya melakukan penyamaran, dan menjaga Gemal dan keturunannya.


"Apa dia tampan?"


"Tidak, dia jelek. Bau ketek." Bibir Tika monyong.


Suara tawa terdengar, Diana dan Gemal sakit perut mentertawakan pria yang Tika ceritakan. Pria di depan Tika menggenggam erat tangannya menahan diri.


"Pria di depan kamu wangi tidak Tik?"


"Siapa? Bapak bersih-bersih ini. Kak Gem, namanya juga tukang bersih-bersih, sama seperti pria itu, busuk." Tika memalingkan wajahnya.


"Mulut kamu juga sama busuknya." Gumaman pelan terdengar.


Lift terbuka, Diana langsung keluar, merangkul Tika karena pahanya masih sakit hanya bisa berjalan pelan.


Gemal masih berhenti, menatap pengawalnya. Memperingati untuk berhati-hati jika berurusan dengan Atika.


Jangan meremehkan dia sebagai anak kecil, Tika hebat dalam bela diri, dia anak yang memiliki emosi tinggi.


Siapapun yang berurusan dengan Tika hidupnya tidak akan tenang, dan akan dia cari sampai ke manapun.


"Dia masih kecil Tuan?"


"Saat dia berusia empat tahunan, dibakar di dalam gedung dan keluar dari jalan tikus, baginya itu bukan menakutkan, tapi menyenangkan." Gemal meminta pengawalnya berusaha untuk tidak bertemu dengan Tika.


Tatapan mata Ria tajam, mendengar pembicaraan Gemal dan pengawalnya. Senyuman Gemal terlihat, langsung menggendong Ria.


Mata Ria masih melihat pria tinggi yang menggunakan baju pegawai hotel, tersenyum manis sambil mengedipkan matanya.


Diana sudah terduduk malu, menjadi ejekan Dika, karena saat sarapan Diana dan Gemal tidak turun sama sekali.


"Kak Dika jangan menggoda istriku seperti itu, nanti aku tidak dapat jatah lagi." Tawa Gemal terdengar, langsung memeluk istrinya yang semakin marah.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2