
Tatapan Shin melihat jam, meminta semua bersiap untuk menghidangkan makanan. Shin keluar lebih dulu, langsung melihat banyaknya tamu yang diundang.
Dari kejauhan Atika tersenyum menatap Shin yang cemas, Tika sedang bermain kartu dengan beberapa orang.
Shin meletakkan minuman di samping Tika, menatap uang Tika yang sudah banyak, selama satu jam bermain membuat uang bertambah berkali-kali lipat.
"Aku mengkhawatirkan kamu, tapi ternyata kamu bersenang-senang." Shin berbisik kepada Tika, langsung menjambak rambutnya dari belakang.
Beberapa pria menatap Shin yang menarik rambut Tika, wajah Tika meringis terlihat menahan sakit.
"Oh sorry ... I accidentally." Shin mengusap rambut Tika.
"Are you okay Lin?"
Kepala Tika mengangguk, menatap tajam Shin yang sudah melangkah pergi. Berjanji akan membalas Shin jika mereka sudah keluar.
Musik berdentum terdengar, pesta meriah diadakan secara besar-besaran. Seluruh tamu undangan bergoyang bersama pasangan, juga teman-temannya.
Tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat, hingga satu-persatu orang masuk ke kamar yang sudah disediakan.
Sudah hampir subuh, suara musik yang awalnya berdentum sangat kuat, sudah sunyi. Dan kapal hampir tiba di pelabuhan.
Tika tersenyum berada di kamarnya, melihat beberapa kamera yang sudah dirinya sebar dan melihat kejahatan yang sedang dilakukan.
Suara pintu terbuka membuat Tika kaget, Shin masuk ke kamar Tika, meminta berhati-hati.
"Ada apa?" Tika menatap Shin yang memberikan rekaman suara.
Cengkraman tangan Tika sangat kuat, suara wanita dengar beberapa tahun yang lalu kembali. Kemarahan Tika ada di puncaknya, wanita yang mengendalikan Mamanya bisa tertawa lepas.
"Kamu melihat wajah wanita ini?"
Shin mengangguk kepalanya, wanita yang tidak muda lagi, tubuhnya masih sangat bagus, gaya berpakaian elegan, dan kecantikan masih terpancar.
"Dia ada di sini."
"Terlambat Tika, ada sebuah kapal yang sudah menjemputnya. Mereka akan kembali ke sebuah negara, untuk melihat seseorang." Shin menceritakan apa yang dirinya dengar.
Tatapan mata Tika gelap, langsung keluar dari kamarnya. Menatap sebuah kapal yang sudah menjauh, teriakan Tika terdengar.
"Kenapa kamu belum tidur?" Penjaga mendekati Tika.
Kepala Tika langsung menoleh ke arah lain, tidak ada yang boleh melihat wajah aslinya. Shin yang melihat langsung mengambil topi, menutupi wajahnya dan melayangkan pukulan.
"Tika kembali ke kamar." Shin menarik tangan, memintanya untuk melakukan penyamaran kembali.
Tatapan Shin dan Tika melihat beberapa barang sudah dipindahkan, senyuman Tika terlihat langsung menghubungi kepolisian yang sudah diberikan sinyal sebelumnya.
__ADS_1
"Mereka tidak mungkin bisa lari?" Shin tersenyum.
Kepala Tika menggeleng, Shin salah besar. Meksipun rencana sudah rapi, namanya orang berkuasa ada saja jalan untuk melarikan diri.
Dugaan Tika benar saat kepolisian menghentikan, kapal langsung putar arah. Kemunculan kepolisian diketahui oleh pemimpin penyeludupan.
"Sialan, informasi bocor." Shin tidak percaya, polisi hanya bisa menembak tanpa tahu tujuan.
"Beginilah dunia kejahatan, mereka bergerak karena ada orang dalam yang melindungi." Tika langsung mengganti bajunya.
"Maksudnya kamu , aparat yang membocorkan informasi sampai kapal bisa putar arah?"
Kedua bahu Tika terangkat, dirinya harus pergi meninggalkan kapal dan bertemu kembali di tempat yang sudah mereka janjikan.
Kepala Shin mengangguk, di luar kamar sudah rusuh karena kapal tiba-tiba berlayar ke tengah. Shin melangkah ke area dapur melihat beberapa Koki sudah ditahan.
Mereka dijadikan tawanan, jalan yang Shin tunjukkan digunakan untuk tempat melarikan diri oleh pejabat yang ada di kapal.
Beberapa perahu karet sudah diturunkan untuk melarikan diri, jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di kapal.
Helaan nafas Shin terdengar, langsung menutupi wajahnya. Menghubungi Tika yang sudah bertarung di area Nahkoda kapal.
"Ada apa bodoh?"
"Mereka melarikan diri dari area dapur?"
"Bagaimana dengan barang-barang mereka?" Shin yakin tidak mungkin rela melepaskan dengan mudahnya.
Suara Tika mengumpat terdengar, pertanyaan Shin di waktu yang tidak tepat. Tika langsung melumpuhkan puluhan orang.
"Putar kembali kapal ke pelabuhan, jika tidak kamu mati." Tika mengarahkan senjatanya.
Tika langsung turun ke area dapur, melihat Shin yang sudah bertarung. Kapal sampai oleng, karena suara rusuh, juga lari-larian meminta pertolongan.
Gerakan Shin semakin cepat, Tika langsung masuk bergabung. Membantu Shin bertarung. Kepanikan terlihat, menatap dua wanita yang tidak kelihatan wajahnya.
Tika melepaskan jaketnya, menutupi tubuh Shin yang hanya menggunakan baju dalam yang memperlihatkan perutnya, demi tidak ada yang mengenalinya, Shin membuang bajunya di perapian.
"Kamu baik-baik saja"? Shin menatap bibir Tika yang tersenyum.
Suara tembakan terdengar, Tika dan Shin langsung berlindung. Suara teriakan terdengar meminta keduanya keluar.
"Aku tahu kamu agen Alin, hanya kamu satu-satunya yang bisa memiliki banyak sumber informasi, menjual dan membelinya." Teriakan menggema, mengarahkan senjata ke segala penjuru.
"Agen Alin hanya bekerja sendirian, sedangkan ini ada dua." Tatapan tajam seorang pria berbadan besar.
Lompatan Shin dari atas meja langsung menghantam kepala pria yang berbadan besar, sebuah senjata diarahkan kepada Shin. Tika langsung melempar pisau sampai senjata jatuh.
__ADS_1
Tubuh Shin terbangun, penutup wajahnya terbuka. Shin langsung mengurai rambut panjangnya untuk menutupi wajah.
Serangan cepat Tika langsung melawan dua orang yang berbadan besar, pukulan dan tendangan Tika mematikan.
Dua lawannya terjatuh, Tika mengambil pulpen menu, meninggalkan jejak dirinya yang ditandatangani oleh agen Alin.
Tika menatap Shin yang rambutnya terurai panjang, Shin langsung berlalu pergi, begitupun dengan Tika yang langsung melarikan diri.
Beberapa polisi berhasil sampai di kapal, langsung meminta semuanya duduk dan tenang. Seluruh penjahat ditahan, dan seluruh barang ilegal disita.
"Kamu baik-baik saja Nona?" Seorang polisi menatap Shin yang memegang tangannya penuh darah.
"Tolong saya pak, selamatkan saya." Tangisan Shin terdengar, memeluk tangannya.
"Ayo kita bantu pindah kapal, kamu harus segera diobati."
Senyuman Shin terlihat sinis, meninggalkan bajunya dan Tika yang sudah jatuh ke dalam air. Shin langsung dipindahkan ke kapal medis untuk diobati.
Identitas Shin langsung diketahui jika dirinya seorang Koki yang dipekerjakan, dan dengan mudah Shin diizinkan meninggalkan lokasi.
Saat tiba di pelabuhan, Shin mengimbas rambutnya, berjalan elegan mencium tangannya yang sengaja di gores.
"Tika, kamu berenang?" Shin tersenyum melihat Atika sudah ada di mobil mengganti bajunya.
"Aku bisa melarikan diri dengan mudah, dan ini bukan sesuatu yang sulit." Tika melemparkan baju baru.
Tatapan Tika melihat baju yang Shin gunakan, ternyata dia menggunakan baju dua lapis. Ada bekas luka di lengan, juga tangannya.
"Kamu terluka?"
"Ini hanya luka kecil, matahari sudah terbit kita harus segera ke bandara untuk pulang." Shin masuk ke dalam mobil.
Senyuman Tika terlihat, bekerja dengan sahabat memang sangat menyenangkan. Tika menyukai Shin masih sama seperti dulu.
"Kenapa kamu marah saat aku bertanya soal barang yang ada di kapal?" Shin masih kesal melihat Tika yang berteriak.
"Karena kamu bodoh, meksipun senjata dijadikan barang bukti, tetap bisa diambil kembali. Tugas aku hanya menangkap mengungkap, sisanya urusan mereka."
Shin menganggukkan kepalanya, meminta Tika mengembalikan uangnya, karena Tika menang banyak.
"Astaga Shin, bisa keluar hidup-hidup sudah bersyukur, masih saja memikirkan uang." Tika memejamkan matanya, menunjukkan koper di belakang.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1
done dua bab aja