
Di luar mobil Genta memaafkan Pria tua yang buru-buru pergi ke rumah sakit karena anaknya kecelakaan. Genta hanya memperingati untuk berhati-hati agar tidak membahayakan siapapun termasuk diri sendiri.
"Bapak ingin saya antar ke rumah sakit?"
"Tidak Nak, maafkan Bapak. Mobil kamu juga rusak."
"Tidak masalah, hati-hati di jalan. Kita pamit dulu." Genta dan keluarga kembali ke mobil masing-masing.
Di dalam mobil Genta, Ria sudah kesulitan menelan ludah. Genta berjalan beriringan bersama Juan yang pastinya akan satu mobil.
"Mampus kamu Ria, Juan masuk mobil ini. Makanya mulut itu dijaga." Atika tertawa lepas mengejek Adiknya yang garuk-garuk kepala.
"Ria pindah mobil Kak Juna saja,"
"Ay Jun mobilnya di depan bersama Mam Jes dan Papa, Daddy dan Mommy. Mobil belakang hanya Kak Gemal, satu mobil sama Papi Altha." Shin mengejek Ria karena mobil belakang penuh, kecuali ingin satu mobil dengan Rindi dan anak-anak.
Ria pindah tempat duduk belakang, Genta dan Juan masuk mobil. Tatapan Juan langsung tajam melihat adik bungsunya. Teriakan Ria sampai terdengar ke mobil belakang.
"Kamu tahu tidak Ria siapa Dajjal?"
"Emh ... setidaknya dia bukan artis." Ria memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela.
Tika dan Shin memilih diam, Ria sangat takut dengan Juan. Dia tidak berani bermanja-manja apalagi main-main dengan Kakaknya yang sangat disiplin, ketat, juga hobi ceramah. Berbeda dengan Juna, Ria lebih dekat dengannya dan apapun yang Ria inginkan selalu Juna kabulkan.
"Apa aku terlihat becanda, ucapan kamu bisa menjadi doa juga bumerang bagi diri kamu sendiri juga orang terdekat kamu." Suara pelan Juan terdengar, tidak ada nada marah sama sekali namun terlihat tegas.
"Iya maaf, Ria keceplosan." Kepala Ria tertunduk menahan air matanya.
"Kak Juan tidak marah, tapi kamu sudah dewasa. Pahami ucapan baik dan buruk, mencaci maki pria tua yang kamu tidak tahu ujian hidupnya seberat apa?"
"Bukan urusan Ria Kak, bapak itu salah." Tangisan Ria terdengar, Tika langsung memeluknya.
"Jangan menangis, ingat maskara luntur." Atika berbisik pelan, meminta Juan berhenti ceramah. Ria tidak akan pernah berubah, mulutnya sudah lancar bicara kasar karena terlalu manja.
__ADS_1
Melihat sikap Juan yang berwibawa membuat Genta kagum, orang tua yang sangat hebat bisa mengajari Juan hak baik dan bisa dirinya terapkan.
"Kak Shin maaf ya, jilbabnya dipakai. Kita ingin ziarah bukan ke salon." Senyuman Juan terlihat menatap Shin yang tercengang kaget.
Dua wanita di sebelah Shin tertawa, mengejek Shin yang mendapatkan teguran halus dari Juanda Rahendra pria paling risih jika ada yang salah.
Shin memakai jilbabnya kembali, rambutnya masih terlihat membuat Tika menjambak. Juan akan menegurnya lagi jika belum diperbaiki.
"Kita sampai," Genta berhenti di tempat jual bunga yang. berdekatan dengan makam.
Pintu mobil di buka, Mam Jes khawatir mendengar kabar jika mobil Genta disenggol pengendara lain.
"Ria, kamu baik-baik saja? kenapa menangis?" Juna memeluk adik perempuannya yang menunjuk ke arah Juan.
Arjuna sudah paham, jika Juan sudah menegur Adiknya, pasti Ria akan menangis karena menjadi solusi terakhir agar berhenti ditegur.
"Tika, kamu baik-baik saja?" Juna menggenggam tangan Tika yang tersenyum manis.
Kepala Tika mengangguk, mengikuti Genta ke tempat beli bunga. Shin masih di dalam mobil memperhatikan makam yang ada di sampingnya.
Air mata Shin masih tertahan, menguatkan dirinya sendiri untuk menunjukkan kepada Mama dan Papanya jika dirinya wanita tangguh.
"Shin, jangan berusaha untuk kuat. Kamu bisa meluapkan kesedihan. Selain berdoa di hati, air mata juga bisa melepaskan beban." Juna mengulurkan tangannya meminta Shin keluar mobil.
Melihat ekspresi wajah Shin, Juna mengerti hati Shin sedang sedih. Sama Juna juga merasakan kesedihan setiap kali ke makam Adiknya Amora. Rasa rindu, terlalu dalam sehingga menyesakkan.
"Pilihlah bunga yang kamu sukai,"
Shin berjalan mencari bunga, seadanya Juna tahu hal yang dia paling sukai hanya bisa hidup bersama Juna. Jika Shin mengatakannya, dirinya mendapatkan bunga kuburan.
Langkah Shin terhenti melihat bunga yang ada di depan matanya, sesuatu yang indah namun akan menua dan akhirnya rusak.
"Bunga apa ini Ay Jun?"
__ADS_1
"Bunga krisan, Krisan putih melambangkan kesedihan. Bunga ini sering ditemukan di kuburan dan dibawa oleh orang-orang yang sedang memberikan penghormatan kepada orang yang sudah meninggal." Juna meminta Shin memilih bunga yang lebih bagus dari apa yang ditanyakan.
"Aku menginginkannya,"
Senyuman Shin terlihat, memegang bunga pilihan berjalan ke arah makam. Shin tidak pernah tahu di mana letak pemakaman orangtuanya.
"Sayang, kamu harus bahagia saat pulang dari sini. Tinggalkan semua kesedihan di tempat ini." Mam Jes mengusap wajah cantik Shin.
Genta menggenggam tangan Shin, berjalan berdua menuju tempat peristirahatan kedua orangtuanya. Genta merasa dirinya yang paling rapuh, menahan air matanya agar Adiknya juga kuat.
"Assalamualaikum, Mama dan Papa, Genta minta maaf karena jarang berkunjung, dan baru sekarang datang. Genta membawa kejutan untuk Mama dan Papa." Kepala Genta menoleh ke arah lain, mengusap pipinya.
"Mama, Papa, aku datang. Maafkan Shin yang baru datang setelah dua puluh tahun. Mama bahagia? Papa mengenali Shin?" senyuman Shin terlihat, berjongkok memberikan bunga pilihannya.
"Ma, bunga ini melambangkan kesedihan. Shin datang membawa kesedihan karena tidak bisa melihat Mama dan Papa, tapi Shin juga bahagia karena banyak orang baik di sisi Shin." Tawa kecil terdengar, tangan Shin mengusap nisan yang ada di sisinya.
Aliya dan Diana melangkah pergi, hati keduanya hancur karena tidak tahu rasanya bersyukur memiliki orang tua. Al sedih karena tidak pernah memeluk Ibu kandungannya, Diana juga merasakan hancur mendengar tawa Shin, karena Diana belum bisa memaafkan Mamanya, bahkan masa lalunya.
"Kenapa sayang?" Altha memeluk istrinya yang sudah menangis sesenggukan.
Gemal juga memeluk istrinya, mengusap punggung Diana yang tidak bisa menahan kesedihannya.
"Di, juga ingin memanggil Mama dan Papa, tapi di dalam lubuk hati terdalam, sakit Kak." Diana duduk lemas.
"Mama kenapa? jangan sedih. Isel juga sedih tahu, Isel tidak nakal duduk baik-baik sama Papa dan Kak Rindi, tapi kenapa Mama menangis?" Isel meneteskan air matanya, mengusap air mata Diana.
"Isel sayang Mama tidak?"
"Sayang, Isel sayang sekali sama Mama. Maafkan Isel Mama."
"Aku berharap mendapatkan hukuman akan masa lalu, tapi melihat kamu. Kenapa kebaikan menghampiri orang jahat seperti Mama. Kamu anugerah terindah Nak." Di menatap Gemal yang mengusap air matanya nanti dilihat oleh Ian dan Gion yang ada di mobil.
"Mama tidak jahat, Mama itu dunianya Isel." Pelukan Isel sangat erat, Aliya juga memeluk Diana dan Isel yang sangat menyentuh.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira