
Diana langsung melepas infusnya, mengejar Gemal dan Daddy-nya yang sudah berhamburan mencari keberadaan Hendrik.
"Kak Dika di mana Salsa?"
"Bertemu kekasihnya mungkin, aku tidak ingin tahu." Dika menatap sinis.
Diana memukul punggung Dika, dokter Hendrik dan Salsa hanya teman seangkatan. Hendrik juga berbahaya, dan kemungkinan sudah membawa Salsa.
"Kenapa dia membawa Salsa?"
"Dokter Hendrik terobsesi kepada dokter Salsa, jika apa yang dia inginkan tidak tercapai, bisa saja dia mencelakai." Di melihat Gemal berlarian.
Dika dan Diana langsung berlari, melihat mobil Hendrik meninggalkan rumah sakit, Dika mengambil gelang tangan Salsa yang pernah Dika berikan terjatuh.
Gemal langsung ingin ke motor, tapi Diana berteriak meminta Dika dan Gemal masuk ke dalam mobilnya.
Dika langsung masuk, meminta Diana segera mengejar mobil, karena Hendrik membawa Salsa bersamanya.
Gemal menjalankan motornya, menolak satu mobil bersama Di langsung melaju lebih dulu mengejar Hendrik yang melarikan diri.
Aksi kejar-kejaran di jalanan antara dua mobil dan satu motor, Hendrik hanya tersenyum sinis mendekati motor Gemal membuatnya bekali-kali hampir jatuh.
"Dia ingin membuat polisi itu kecelakaan." Dika menatap Diana yang mempercepat laju mobilnya.
Gemal juga mempercepat laju motornya, melewati mobil Hendrik untuk menghindari pengendara jalan lain.
Kegilaan Hendrik tidak pernah memperdulikan nyawa siapapun, bersyukurnya jalanan tidak terlalu ramai karena sudah mulai malam.
"Gemal cari mati!" Diana melihat motor Gemal berputar arah.
Dika memejamkan matanya, satu mobil dan dari motor siap tabrak kambing demi menghentikan laju mobil.
Diana mempercepat laju mobilnya, melihat ada jembatan. Dia tidak mungkin menabrak mobil, karena ada Salsa di dalamnya, tapi membiarkan Gemal terluka juga bukan solusi.
Tangan Dika menarik setir mobil, Diana mengerem mobil dan melihat tabrakan di depan mereka.
Dika langsung keluar, berlari ke arah mobil melihat Hendrik keluar langsung menarik Salsa dan mengarahkan senjata.
Diana juga langsung berlari melihat Salsa menjadi tawanan, senyuman Salsa masih terlihat meminta Diana dan Dika tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Di melihat ke arah motor yang sudah hancur, Gemal tidak terlihat keberadaannya.
"Lebih baik kalian mundur, dan berhenti ikut campur."
__ADS_1
"Kamu sadar tidak, obsesi kamu sudah berbahaya." Di menatap tajam.
"Apa bedanya sama kamu? kita sama Diana. Kamu juga seorang pembunuh, sedangkan aku hanya menyalurkan kecerdasan untuk memajukan dunia medis." Hendrik tidak merasa salah.
Dia membuat obat siang malam untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak mudah bagi Hendrik bisa memasarkan obat yang berhasil dia ciptakan.
"Kamu juga mengakui kemampuan aku Di, dan juga pasti tahu kelebihan obat ini." Hendrik meminta Diana bekerja sama dengannya untuk menguasai dunia medis yang bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Diana tersenyum sinis, dia tahu kelebihannya tapi lebih banyak kekurangannya. Banyak nyawa yang akan melayang jika terus mengkonsumsi.
"Obat itu tidak bisa disempurnakan lagi, ada batasannya." Di meminta Hendrik memusnahkan sebelum kepolisian turun tangan.
Gemal berdiri dari bawah jembatan, dia hampir terjatuh dan bergantung di jembatan.
"Lalu bagaimana dengan Ibu? sampai saat ini belum ada perubahan." Gemal menatap tajam.
Hendrik menatap Gemal, tidak ada cara untuk menyembuhkan ibunya cepat atau lambat pasti akan mati.
Dika menatap Salsa yang ketakutan, Hendrik membawanya ke arah jembatan yang memiliki arus air sangat deras.
Diana dan Gemal maju mendekat, Salsa mengulurkan tangannya ke arah Dika merasakan dinginnya malam.
"Lepaskan Salsa." Dika mengulurkan tangannya.
Ada tiga mobil yang berhenti, beberapa orang berbadan besar keluar. Hendrik langsung tertawa.
Gemal meminta Diana mundur, kondisi Di masih terlalu lemah karena baru dirawat.
Beberapa orang langsung maju menyerang, Gemal langsung maju melawan. Dika juga langsung menyerang membantu Gemal.
Diana juga tidak bisa tinggal diam, langsung maju membantu keduanya yang tidak seimbang.
"Selamat tinggal." Hendrik menarik tangan Salsa yang memberontak melawan.
Dika mendapatkan pukulan saat melihat Salsa, menahan kaki Hendrik meskipun tubuhnya diinjak-injak.
Diana juga terjatuh, Gemal menarik Diana untuk menjauhi jika tidak sudah tertusuk pisau. Tangan Gemal meneteskan darah, menahan pisau.
Senjata diarahkan kepada Dika, Salsa langsung berlari memeluk Dika mempertaruhkan nyawanya. Gemal menghadang peluru.
Diana menatap Gemal yang berdiri tanpa mundur padahal darah sudah menetes, beberapa orang juga sudah berjatuhan.
"Menyerah Gemal!" Hendrik menatap tajam.
__ADS_1
"Tidak akan pernah, sudah aku katakan. Suatu hari aku akan menangkap kamu sebagai penjahat. Kamu harus dihentikan Hendrik." Gemal menolak tawaran apapun, sekalipun Hendrik menawarkan obat untuk ibunya.
Gemal tidak mudah dipermainkan, Diana sudah mengatakan jika belum ada penawar sehingga obat masih sangat berbahaya.
Tatapan Hendrik masih melihat Salsa, dia tidak ingin pergi tanpa Salsa. Jika tidak bisa memilikinya maka Dika juga tidak boleh.
Hendrik menembak ke arah Diana, Dika langsung mengecek keadaan adiknya yang meringis kesakitan.
Sebuah mobil mewah juga berhenti, Hendrik tersenyum sinis langsung langsung menarik tangan Salsa, tamparan kuat mendarat di wajah Hendrik.
Suara teriakan terdengar, Salsa terdorong ke bawah jembatan. Gemal, Diana dan Dika langsung teriak histeris.
Hendrik langsung masuk mobil, melarikan diri bersama seorang wanita yang baru saja tiba menjemputnya.
Suara dentuman air terdengar, Dika langsung ingin lompat ke bawah jembatan sambil memanggil Salsa.
"Diana, hubungan rumah sakit dan kepolisian, cari bantuan." Gemal langsung lompat ke dalam air.
Tangan Diana menahan Dika, melihat ke bawah yang gelap hanya disinari oleh cahaya bulan.
"Salsa tidak bisa berenang." Dika menetes air matanya, Diana sibuk mencari bantuan.
Dika melihat ke arah air, Gemal melambaikan tangannya. Dika langsung berlari kencang ke arah pinggir, tidak mempedulikan semak belukar, berbatuan atau bahaya apapun.
Diana hanya terdiam melihat dari atas, tersenyum kagum melihat pengorbanan Gemal.
"Ada berapa nyawa kamu sampai menghadang pisau, menepis peluru, terjun ke air dingin dan berarus." Di melihat ke arah bulan bintang.
Mobil Dimas tiba bersama Altha, melihat ke bawah jembatan langsung mengarahkan sinar ke bawah.
Dika sudah terjun ke air membantu Gemal mengangkat Salsa yang sudah jatuh pingsan, Altha meminta Diana juga turun untuk membantu Salsa.
"Diana apa yang kamu pikirkan?"
"Ini menyakitkan bagi Gemal Daddy, kakaknya kemungkinan besar sudah menciptakan obat berbahaya, ada sebagian orang-orang berpengaruh yang ada di sampingnya." Di menatap Dimas dan Altha jika kasus yang baru saja ditutup, memiliki sedikit bukti untuk dilanjutkan.
"Gemal punya saudara? dia hanya tinggal bersama ibunya." Dimas menatap Altha yang juga tidak tahu banyak soal Gemal.
Diana melihat Dika membawa Salsa ke atas, Diana memompa jantung mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuh Salsa.
Mata Salsa terbuka, langsung muntah mengeluarkan air dari mulutnya.
Gemal masih ada di bawah jembatan, melihat ke dalam air yang memperlihatkan cahaya bulan. Saat amarah menguasai, Gemal hanya diam menahan dirinya.
__ADS_1
.***
follow Ig Vhiaazaira